NovelToon NovelToon
Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Asrial

Dianggap tak berguna dan diperlakukan seperti pembantu, Laras akhirnya melancarkan pembalasan manis pada suami dan keluarga mertuanya.

Selama tiga tahun, mereka tidak pernah tahu bahwa fasilitas mewah yang mereka nikmati sebenarnya berasal dari bisnis rahasia Laras.

Malam saat mereka pulang merayakan kenaikan jabatan Bagas, Laras sudah menarik seluruh asetnya, menyisakan rumah kosong, gunung utang, dan surat cerai yang siap menghancurkan kesombongan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrial, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tagihan Bank Berdatangan

Angin malam berhembus makin kencang, membawa aroma sampah dari selokan yang tersumbat di depan kontrakan itu. Bagas berdiri di depan jendela, tangannya yang gemetar menyentuh kaca yang retak. Di luar, suara langkah kaki seseorang yang sedang berjalan terburu-buru terdengar samar di antara kebisingan kota. Ia menoleh saat mendengar suara pintu kayu yang didorong dengan paksa dari arah luar.

Seorang pria bertubuh tegap berpakaian seragam hitam masuk ke halaman kecil yang kotor itu. Di belakangnya, dua pria lain membawa tumpukan dokumen tebal. Itu adalah tim eksekutor dari firma hukum Pak Hendra. Laras mungkin tidak datang sendiri, tapi kehadirannya terasa nyata melalui kedatangan mereka yang dingin dan tanpa kompromi.

"Apakah ini tempat tinggal Bapak Bagas Pratama?" tanya pria yang berdiri paling depan dengan nada suara yang datar dan tidak menunjukkan rasa hormat.

Bagas menelan ludah, tenggorokannya terasa tercekat. Ia melirik Ibu Melati dan Siska yang tampak ketakutan di sudut ruangan. Ibunya bahkan sempat berusaha menyembunyikan cincin kawin yang tersisa di balik lipatan sarungnya.

"Iya, saya Bagas," jawab Bagas dengan suara serak. "Ada perlu apa lagi kalian datang ke sini? Bukankah semuanya sudah selesai tadi siang?"

Pria itu mengeluarkan sebuah surat resmi yang memiliki cap basah berwarna merah. Ia menyodorkannya ke arah Bagas tanpa banyak bicara.

"Kami datang bukan untuk bernegosiasi," ucap pria itu dengan tegas. "Kami datang untuk memastikan bahwa seluruh sisa properti yang masih tertahan di rumah lama, yang secara administratif masih atas nama klien kami, telah dikosongkan sepenuhnya hingga ke titik terakhir."

Ibu Melati bangkit dari lantai dengan kasar. Wajahnya memerah karena amarah yang tidak bisa lagi ia bendung.

"Kalian tidak bisa terus-terusan mengganggu kami!" teriak Ibu Melati sambil menunjuk ke arah dada pria itu. "Kami sudah tidak punya apa-apa lagi! Apakah Laras masih belum puas melihat kami menderita seperti tikus di lubang seperti ini?"

Pria itu menatap Ibu Melati dengan tatapan yang nyaris tidak berminat. Ia bahkan tidak berkedip saat jari telunjuk Ibu Melati hampir menyentuh kerah kemejanya.

"Ibu, saya hanya menjalankan tugas profesional," jawabnya tenang. "Jika ada barang milik Ibu yang masih tertinggal di rumah tersebut, dan barang itu terdaftar dalam inventaris aset klien kami, maka semuanya akan disita sebagai kompensasi atas kerugian selama tiga tahun terakhir."

Siska mulai menjerit histeris dan memeluk kaki Bagas. Ia merasa hidupnya telah berakhir karena semua pakaian bermereknya masih ada di rumah besar yang sekarang sudah dikuasai penuh oleh Laras.

"Kak, katakan pada mereka untuk berhenti!" rintih Siska di sela isak tangisnya. "Itu barang-barangku! Itu semua milikku! Kenapa dia begitu kejam pada kita?"

Bagas menatap adiknya dengan pandangan yang kosong. Ia tahu bahwa memohon pun tidak akan membuahkan hasil. Laras sudah bukan lagi wanita yang bisa dimanipulasi dengan air mata atau drama murahan.

"Lepaskan aku, Siska," kata Bagas pelan sambil mencoba melepaskan cengkeraman tangan adiknya. "Mereka tidak akan peduli. Kita sudah menandatangani surat itu dengan sadar."

Pria itu mengangguk kepada rekan-rekannya di luar. Tak lama kemudian, suara mesin truk pengangkut barang mulai menderu di depan kontrakan. Mereka mulai mengeluarkan beberapa kotak berisi sisa-sisa barang pribadi milik keluarga Bagas yang sempat terbawa saat pengusiran paksa beberapa jam lalu.

"Silakan periksa barang-barang kalian di sini," ujar pria itu sambil memberi isyarat agar kotak-kotak itu diturunkan ke tanah yang becek. "Pastikan semua yang bukan milik kalian ditinggalkan. Jika ditemukan barang milik klien kami di dalam kotak tersebut, kami berhak melakukan tindakan hukum lebih lanjut."

Ibu Melati dengan rakus mendekati kotak-kotak tersebut, membongkarnya dengan tangan gemetar. Ia mencari perhiasan atau uang tunai yang mungkin terselip, namun yang ia temukan hanyalah baju-baju lama yang sudah mulai memudar warnanya.

"Ini tidak mungkin!" teriak Ibu Melati sambil melemparkan sebuah baju ke tanah. "Mana barang-barang mahalku? Mana tas-tas kulit yang biasa kusembunyikan di balik lemari?"

Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terasa sangat menghina. Ia melipat tangannya di dada sambil memperhatikan kepanikan mereka.

"Barang-barang yang Ibu maksud sudah disita sebagai bagian dari penyelesaian utang," jawab pria itu dengan suara yang sengaja dikeraskan agar tetangga sekitar bisa mendengarnya. "Semua aset yang dibeli menggunakan dana perusahaan milik Nyonya Laras secara otomatis ditarik kembali karena terbukti merupakan hasil penggelapan."

Bagas hanya bisa mematung di ambang pintu, melihat ibunya yang kini tampak seperti seorang pemulung di depan barang-barang yang sudah tidak berharga. Ia merasa dunianya benar-benar sudah runtuh.

"Apakah kalian sudah selesai?" tanya Bagas dengan nada yang sangat lelah. "Jika sudah, silakan pergi dari sini. Kami butuh ketenangan."

Pria itu mengangguk pelan. "Tentu, Pak Bagas. Kami hanya melaksanakan perintah. Dan satu pesan terakhir dari Nyonya Laras, dia berharap kalian tidak perlu lagi menghubungi atau mencoba mencari tahu tentang kehidupan barunya."

Setelah mereka pergi, keheningan kembali menyelimuti kontrakan itu. Siska masih terisak di lantai, sementara Ibu Melati menatap tumpukan pakaian kusam itu dengan mata yang nyalang.

"Ini semua salahmu, Bagas!" maki Ibu Melati sambil memukul lengan putranya berulang kali. "Kalau saja kamu tidak menikahinya, kalau saja kamu lebih pintar mengelola uang itu, kita tidak akan berakhir seperti ini!"

Bagas tidak membalas. Ia berbalik dan masuk ke dalam ruangan yang sempit, meninggalkan pintu terbuka lebar. Ia mengabaikan ibunya yang masih mengoceh dan adiknya yang sedang meratap.

Di dalam ruangan yang remang-remang, Bagas duduk di atas kasur tipisnya. Ia menatap langit-langit kamar yang kotor, penuh dengan noda air hujan. Tidak ada lagi kenyamanan, tidak ada lagi kemewahan, dan yang lebih menyakitkan, tidak ada lagi orang yang mencintainya secara tulus.

Laras, wanita yang dulu selalu ia remehkan, kini benar-benar telah memutus tali penghubung mereka. Bagas akhirnya membaringkan tubuhnya yang lelah.

Ia menutup matanya, berusaha memaksakan diri untuk tidur agar bisa melupakan kenyataan pahit bahwa mulai besok, ia harus memulai hari sebagai seseorang yang harus berjuang keras demi sesuap nasi. Malam itu, di kontrakan yang pengap, keluarga yang dulu sombong itu akhirnya merasakan kehampaan yang paling nyata, sebuah karma yang datang dalam bentuk kesunyian yang mencekik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!