Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.
Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.
Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.
Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.
Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stella Lingga 11.
"Enggak usah repot-repot akting di depan gue," lanjut Lingga. Suaranya tidak ketus seperti Gibran, justru terdengar sangat jernih dan bebas dari penghakiman. "Gue liat semuanya di lapangan tadi. Dan gue juga liat gimana muka lo berubah pas lo jalan ke sini sendirian."
Tawa Stella terhenti di tenggorokan. Senyum di bibirnya perlahan memudar, menyisakan lengkungan tipis yang tampak dipaksakan sebelum akhirnya benar-benar hilang. Lorong GOR itu mendadak terasa sangat sunyi, hanya menyisakan sayup-sayup suara sorakan dari lapangan futsal di kejauhan.
Untuk pertama kalinya hari itu, Stella tidak bisa memasang topengnya kembali. Di hadapan Lingga yang asing—cowok yang terkenal irit bicara dan jarang bergaul dengan anak-anak kelasnya—pertahanannya mendadak terasa begitu rapuh.
Stella mengalihkan pandangan ke bawah. Rok abu-abunya sedikit terangkat, mengekspos lututnya yang lecet dan masih menyisakan bekas merah kebiruan akibat jatuh. Luka itu belum sembuh, sama seperti rasa sesak yang bergemuruh di dadanya sejak setengah jam yang lalu.
Tadi, Stella berdiri di pinggir lapangan dengan tenggorokan yang serak, meneriakkan nama Gibran paling keras di antara cewek-cewek lain. Dia membawa sebotol air mineral dingin dan handuk kecil, persis seperti tugas seorang pacar yang berbakti. Tapi begitu peluit akhir dibunyikan, Gibran bahkan tidak menoleh ke arahnya. Cowok itu malah menerima botol minum dari Clara, anak cheerleaders, dan tertawa lepas seolah eksistensi Stella di sana hanyalah angin lalu.
“Lo berisik, Stel,” kalimat Gibran setelah pertandingan tadi kembali terngiang. Menyakitkan, tapi Stella memilih tertawa saat itu, berpura-pura menganggapnya sebagai candaan.
"Luka lo belum diobatin?" Suara Lingga kembali memecah lamunan Stella. Cowok itu bersandar di dinding koridor dekat toilet, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana jeans nya.
Stella memaksakan sebuah kekehan, meski matanya mulai terasa panas. "Ah, ini? Cuma lecet dikit kok. Gak sakit sama sekali."
Lingga tidak menyahut. Dia hanya menatap Stella datar dengan sepasang matanya yang hitam legam. Tatapan itu tidak mengintimidasi, tapi entah kenapa membuat Stella merasa telanjang. Lingga tahu dia sedang berbohong. Lingga tahu cewek petakilan nan ceria yang dikenal satu sekolah ini sedang hancur di dalam.
"Gue..." Stella menelan ludah, tenggorokannya mendadak tercekat. Topeng cerianya benar-benar retak, runtuh tak bersisa di depan cowok yang bahkan jarang menyapanya di kelas. "Gue mau ke toilet bentar."
Stella melepas ransel kanvasnya dengan gerakan canggung, lalu menyodorkannya ke arah Lingga. "Titip bentar, ya? Jangan ditinggal. Kalau lo mau pergi, taruh aja di atas loker itu."
Lingga menatap tas itu, lalu menatap wajah Stella yang sudah memerah menahan tangis. Tanpa sepatah kata pun, tangan panjangnya terulur, menerima tali tas Stella. Dia hanya mengangguk pelan sekali dengan senyum tulus.
Sebuah persetujuan tanpa suara yang sangat berarti buat Stella saat itu.
Stella langsung berbalik dan setengah berlari masuk ke dalam toilet wanita.
Begitu pintu kayu itu tertutup dan dikunci dari dalam, pertahanan Stella runtuh total. Dia menyandarkan punggungnya di pintu, lalu perlahan merosot hingga terduduk di lantai keramik yang dingin. Stella menekuk lututnya, menyembunyikan wajahnya di sana, dan mulai menangis tanpa suara. bahunya berguncang hebat.
Dia lelah. Lelah harus selalu menjadi Stella yang heboh, Stella yang kebal meski diabaikan, dan Stella yang selalu tersenyum demi menjaga gengsi Gibran di depan teman-temannya. Kenapa untuk menyukai seseorang saja rasanya harus sepi dan sepedih ini?
Di luar toilet, Lingga masih berdiri di posisi yang sama. GOR ini memang terletak hanya beberapa ratus meter di belakang sekolah, biasanya dipakai untuk latihan tanding antar kelas kalau lapangan sekolah penuh.
Suara gemuruh dari lapangan utama masih terdengar, tapi fokus Lingga teralih pada suara isakan halus yang samar-samar lolos dari celah bawah pintu toilet.
Lingga menunduk, memandangi tas kanvas putih milik Stella yang kini berada di genggamannya. Tas itu penuh dengan gantungan kunci lucu dan coretan spidol warna-warni—sangat mencerminkan kepribadian pemiliknya yang ramai.
Namun, pemiliknya yang ramai itu sekarang sedang menangis sendirian di dalam sana.
Lingga menghela napas pendek. Dia meraba saku celana nya, mencari sesuatu.
Jemarinya menemukan sebuah kotak kecil yang tadi sempat dia beli di minimarket depan saat berniat membeli minuman kaleng. Kotak plester luka.
Lingga sudah menyiapkan plester ini karena tahu luka di kaki Stella belum mengering sepenuhnya.
Lingga mengeluarkan satu lembar plester dari dalam kotak. Plester itu berwarna hijau toska dengan motif gambar dinosaurus kecil yang menggemaskan—pilihan random yang dia ambil karena tidak ada plester polos di rak minimarket tadi.
Dengan gerakan pelan dan hati-hati, Lingga membuka ritsleting depan tas Stella yang sedikit terbuka. Dia menyelipkan plester bermotif dinosaurus itu ke bagian paling atas kantong dalam tas, posisi yang pasti akan langsung terlihat begitu Stella membuka tasnya nanti. Setelah itu, dia merapatkan kembali ritsletingnya seperti semula.
Hampir lima belas menit berlalu sampai akhirnya terdengar bunyi gerendel pintu diputar.
Stella keluar dengan wajah yang sudah jauh lebih tenang, meskipun sepasang matanya yang sembap dan hidungnya yang memerah tidak bisa berbohong. Dia sudah membasuh wajahnya dengan air, mencoba menghapus jejak-jejak kerapuhannya.
Begitu melihat Lingga masih setia berdiri di sana sambil memegang tasnya, Stella sempat tertegun. Dia mengira cowok se-cuek Lingga akan pergi dan meninggalkan tasnya teronggok di lantai.
"Makasih ya, Ling. Sorry lama," kata Stella, mencoba mengembalikan nada suaranya agar terdengar se-kasual mungkin, meskipun masih agak serak.
Lingga menyerahkan tas itu kembali ke pemiliknya. "Yuk."
"Eh?" Stella mengedipkan matanya bingung.
"Balik ke sekolah. Udah mau bel masuk jam pertama setelah istirahat," kata Lingga datar. Dia langsung berbalik dan berjalan mendahului Stella dengan langkah santai, kedua tangannya kembali masuk ke dalam saku jaket.
Stella memandangi punggung lebar Lingga yang bergerak menjauh.
Cowok itu aneh. Dia tahu rahasia Stella, dia melihat Stella menangis, tapi dia tidak bertanya apa-apa.
Dia tidak menaruh kasihan, tidak juga menghakimi. Dan entah kenapa, sikap cuek Lingga justru membuat perasaan Stella jauh lebih ringan daripada kata-kata penenangan mana pun.
Sambil berjalan menyusul Lingga, Stella menyampirkan tasnya ke bahu. Rasa penasaran membuatnya membuka sedikit ritsleting depan tas untuk mengambil Cermin kecil, berniat memeriksa apakah matanya terlalu kentara habis menangis.
Namun, gerakan tangan Stella mendadak terhenti saat jemarinya menyentuh selembar kertas bertekstur plastik di kantong depan tasnya.
Stella meraba benda itu, lalu menariknya keluar. Dahinya mengernyit saat melihat selembar plester luka bermotif dinosaurus hijau yang lucu kini berada di genggamannya. Dia yakin betul tadi pagi tidak ada plester ini di tasnya.
Stella langsung mendongak, menatap punggung Lingga yang sudah berjalan beberapa langkah di depannya.
"Lingga!" panggil Stella setengah berteriak.
Lingga menghentikan langkahnya, lalu menoleh sedikit ke belakang tanpa membalikkan badannya sepenuhnya. Alisnya terangkat sebelah, menanti apa yang akan dikatakan cewek itu.
Stella mengangkat plester dinosaurus itu tinggi-tinggi dengan senyuman kecil—kali ini, senyuman yang benar-benar tulus, bukan topeng. "Gue gak tahu lo suka koleksi barang ginian."
Lingga sempat terdiam selama dua detik. Tatapannya turun ke plester di tangan Stella, lalu kembali ke mata cewek itu. Sudut bibir cowok irit bicara itu berkedut sangat tipis, nyaris tak terlihat, sebelum dia kembali berbalik memunggungi Stella.
"Bukan punya gue. Tadi jatuh dari langit," sahut Lingga asal, lalu melanjutkan langkahnya menuju gerbang sekolah.
Stella tidak bisa menahan diri untuk tidak terkekeh geli. Dia menyimpan plester itu dengan hati-hati ke dalam saku rok seragamnya, berjanji akan memakainya nanti di kelas. Sambil mempercepat langkah kakinya untuk menyamai ritme jalan Lingga, Stella merasa lorong GOR yang tadinya terasa sunyi dan dingin, mendadak terasa sedikit lebih hangat.
......................
...****************...
Tbc,