NovelToon NovelToon
Jin Nyasar Di Desa Kertajaya

Jin Nyasar Di Desa Kertajaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Komedi
Popularitas:662
Nilai: 5
Nama Author: My Chubby

Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Belum Bayar Kosan

Sore hari di Desa Kertajaya ditandai dengan suara deru truk pengangkut gabah yang berhenti di halaman balai desa, disusul terik matahari yang mulai melunak di balik pucuk-pucuk pohon kelapa. Raka, Bayu, dan Dimas berdiri di dekat tumpukan karung goni berisi padi dengan keringat yang sudah membasahi punggung kaus mereka.

Pekerjaan sebagai buruh angkut dadakan yang ditawarkan Pak RT pagi tadi ternyata jauh lebih menguras tenaga daripada yang mereka bayangkan.

Setiap karung gabah seberat lima puluh kilogram terasa seperti membawa beban hidup berlapis tiga: mulai dari uang kos, tagihan token listrik, hingga harga diri sebagai pemuda yang menginjak usia pertengahan dua puluhan.

"Satu... dua... tiga... angkat!" teriak Raka memberi komando sambil menggendong karung gabah pertama ke atas bak truk.

Bayu di sampingnya terhuyung-huyung, wajahnya memerah menahan berat sambil menggerutu pelan.

"Sumpah ya, ini padi isinya apa sih? Kenapa beratnya melebihi beban pikiran waktu mikirin skripsi?"

Dimas yang bertugas menyusun karung di dalam bak truk hanya bisa tersenyum pasrah sambil mengatur napasnya. "Makanya, Bay, jangan suka meremehkan hasil bumi. Kalau karungnya ini bisa ngomong, dia pasti protes karena dinaikin sama orang-orang yang isi dompetnya lebih ringan dari angin."

Setelah dua jam berjibaku dengan debu padi dan peluh yang bercucuran, pekerjaan selesai. Pak RT mendatangi mereka sambil membawa selembar amplop cokelat tipis berisi upah harian yang sudah disepakati.

Raka menerima amplop itu dengan tangan sedikit gemetar, bukan karena kelelahan, tapi karena rasa haru yang luar biasa. Saat amplop dibuka dan isinya dihitung bertiga di teras balai desa, senyum lebar langsung terkembang di wajah mereka.

"Cukup!" seru Bayu girang, matanya berbinar menatap lembaran uang kertas di tangan Raka. "Ini cukup buat beli tiga porsi nasi ayam geprek porsi kuli, plus es teh manis jumbo!"

"Eits, jangan senang dulu, Menteri Keuangan," potong Raka cepat sambil melipat uang tersebut dan memasukkannya hati-hati ke dalam saku celana.

"Ingat prioritas utama kita. Uang ini memang hasil keringat kita, tapi separuhnya sudah diincar sama satu orang paling ditakuti di Desa Kertajaya."

Mendengar kata "itu", suasana hati mereka langsung turun beberapa derajat. Bu Ratna. Pemilik kos yang terkenal tidak punya kamus kata "maklum" untuk urusan tanggal jatuh tempo pembayaran.

Matahari mulai tenggelam ketika ketiganya berjalan kembali menuju kompleks kos dengan langkah gontai. Bayangan daster batik Bu Ratna dan tatapan matanya yang setajam silet sudah menari-nari di kepala mereka, seolah menyambut kepulangan tiga buruh kasar yang nasibnya berada di ujung tanduk.

Benar saja. Begitu mereka memasuki gerbang halaman kos, sosok Bu Ratna sudah berdiri berkacak pinggang di depan pintu kamar nomor empat, tepat di samping jemuran handuk milik Bayu. Wanita paruh baya itu menatap tajam ke arah Raka, Bayu, dan Dimas yang berjalan mendekat dengan gaya seperti terpidana hukuman gantung menuju tiang eksekusi.

"Bagus ya," suara Bu Ratna langsung menyambut sebelum kaki mereka menginjak teras. "Sore-sore baru pada pulang. Dari mana saja kalian? Ngamen keliling kampung pakai galon kosong?"

Raka mengambil langkah paling depan, memasang senyum paling sopan sedunia sambil mengangkat tangan sedikit sebagai tanda hormat. "Sore, Bu Ratna... Wah, kelihatannya hari ini cerah banget ya, Bu. Tambah awet muda saja pakai daster warna hijau lumut begini."

"Jangan coba-coba memuji daster saya, Raka!" potong Bu Ratna tanpa ampun, alisnya terangkat sebelah.

"Pujianmu tidak akan bisa menggeser tanggal jatuh tempo sewa kos yang sudah lewat tiga hari. Mana uangnya? Jangan bilang kalian seharian cuma peluh-peluh di balai desa tapi hasilnya nihil."

Bayu langsung bergerak sigap, berdiri di belakang Raka sambil berbisik pelan, "Rak, keluarkan amplop saktinya. Kalau tidak, kita malam ini tidur di pos ronda beneran."

Raka dengan berat hati merogoh saku celananya, mengeluarkan amplop cokelat hasil kerja keras mereka seharian mengangkat karung gabah, lalu menyerahkannya kepada Bu Ratna dengan kedua tangan layaknya abdi dalem menghadap raja.

"Ini, Bu... cicilan pembayaran uang kos untuk tahap pertama," kata Raka dengan suara setengah memohon. "Hasil kerja keras kami membanting tulang, memeras keringat, dan hampir encok di balai desa tadi sore."

Bu Ratna menerima amplop tersebut, membukanya dengan gerakan cepat, lalu menghitung lembaran uang di dalamnya di bawah cahaya lampu teras kos yang temaram. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang mencekam. Tiga pemuda itu menahan napas secara bersamaan, bahkan jantung Bayu rasanya sudah berdetak sampai ke tenggorokan.

Bu Ratna menghela napas, melipat kembali uang itu, lalu menyelipkannya ke dalam kantong daster batiknya. Wajahnya yang tadinya kaku perlahan melunak, meski garis ketegasannya tidak sepenuhnya hilang.

"Hmm... separuh dari total tunggakan lunas," kata Bu Ratna akhirnya. "Untuk sisanya, saya beri waktu dua hari lagi. Kalau sampai lewat, awas kalian ya!"

Mendengar kalimat itu, Raka, Bayu, dan Dimas spontan mengembuskan napas lega secara bersamaan, seolah beban satu ton baru saja diangkat dari pundak mereka.

"Siap, Bu! Terima kasih banyak kelonggarannya, Bu Ratna memang pemilik kos paling pengertian se-Kecamatan Kertajaya!" puji Bayu langsung mengambil kesempatan dalam kesempitan dengan nada hiperbolis.

Bu Ratna mendengus kecil, menggelengkan kepala melihat kelakuan ketiga penghuni kosnya itu. "Sudah sana, masuk! Jangan bikin ricuh malam-malam.

Jangan lupa sisa uangnya dicari yang halal, bukan malah main judi slot atau mencuri Setelah berkata demikian, Bu Ratna memutar badan dan masuk ke dalam kamar utamanya, meninggalkan Raka, Bayu, dan Dimas yang langsung terduduk lemas di lantai teras.

"Fiuh... selamat nyawa kita untuk dua hari ke depan," ucap Dimas sambil menyeka keringat di dahinya.

"Untung Bu Ratna masih punya hati nurani, meskipun bentuknya dibungkus daster batik."

"Tapi masalahnya, Dim," sahut Raka sambil merebahkan punggungnya menyandar ke dinding tembok teras, "kita baru bayar separuh. Dua hari lagi kita harus cari uang tambahan buat melunasi sisanya.

Kalau modal tenaga angkut gabah tadi cuma cukup buat bayar cicilan, kita butuh pekerjaan lain yang... yah, mungkin sedikit lebih menghasilkan."

Bayu menatap langit malam Desa Kertajaya yang mulai bertabur bintang tipis. Pikirannya melayang kembali ke obrolan pagi tadi di warung kopi Pak Jaya tentang bangunan tua milik keluarga almarhum Pak Harun di ujung dusun timur.

"Ngomong-ngomong soal cari uang tambahan..." kata Bayu pelan, memecah keheningan malam. "Tadi kan Bu Rini sempat bilang kalau rumah kosong di ujung dusun itu sering ada suara mondar-mandir dan pintunya gerak sendiri. Kalau misalnya benar di dalam sana ada barang-barang rongsokan berharga... atau kusen kayu jati tua yang tidak dijaga... gimana kalau besok kita ke sana?"

Raka menoleh ke arah Bayu, lalu beralih menatap Dimas. Gagasan tentang bangunan tua itu kembali mencuat di kepala mereka sebagai opsi paling masuk akal di tengah situasi dompet yang masih megap-megap meski sudah dicicil separuh.

Dimas menguap kecil, lalu mengangguk pelan. "Besok pagi kita cek ke sana. Cuma lihat-lihat dan pastikan apakah ada barang bekas yang bisa dijual. Kalau aman, kita ambil secukupnya buat bayar sisa utang kos."

Malam semakin larut di Desa Kertajaya. Di balik kesederhanaan kamar kos mereka, tiga pemuda itu merebahkan tubuh di atas kasur masing-masing, bersiap menyambut esok hari dengan rencana baru yang sama sekali tidak mereka duga akan mengubah jalan hidup mereka selamanya.

1
falea sezi
lanjut🤣 q kirim bunga
Putri Pinrang: Baik terimah kasih sudah koment😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!