NovelToon NovelToon
ASMARA DI HATIKU

ASMARA DI HATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"

Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.

Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.

Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.

PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 DI BAWAH LANGIT SORE KOTA JOGJA

Langit di atas kota Yogyakarta mulai memamerkan semburat warna lembayung yang menawan. Jingga kemerahan berbaur dengan warna ungu tipis di ufuk barat, menandakan bahwa sang surya telah bersiap kembali ke peraduannya.

Angin sore berhembus menyapu dedaunan pohon beringin di halaman SMA Budi Bangsa, membawa kesejukan setelah seharian kota ini dipanggang oleh terik matahari kemarau.

Di dekat gerbang sekolah, Wira melepaskan sandarannya dari pilar pagar besi.

Senyum kebanggaan di bibirnya belum juga pudar setelah menyaksikan bagaimana Asmara, sang gadis keraton yang selalu bertutur kata selembut sutra, baru saja "menjelma" menjadi dirinya demi mendisiplinkan seorang adik kelas di depan warung Bu Tejo.

Asmara berjalan menghampiri gerbang dengan langkah yang perlahan kembali normal.

Rona merah di wajah gadis itu belum sepenuhnya hilang, entah karena sisa adrenalin yang meledak saat memarahi adik kelas tadi, atau karena ia baru sadar bahwa Wira memperhatikan seluruh adegan tersebut dari kejauhan.

Wira menyambut langkah Asmara dengan sebuah tepuk tangan yang pelan dan ritmis, sengaja menggoda gadis itu.

"Gilaaa... Gue harus kasih standing ovation kayaknya buat penampilan lo barusan, Ra," puji Wira, nada suaranya sarat akan kejahilan, namun matanya memancarkan kekaguman yang tak ditutup-tutupi.

"Kalau Bude Ning lihat kelakuan lo tadi, gue yakin beliau bakal langsung pingsan di tempat."

Asmara mendengus pelan, menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan senyum salah tingkahnya.

Ia merapikan anak rambutnya yang tertiup angin, mencoba mengembalikan wibawanya yang sempat menguap.

"Jangan mulai deh, Wir," balas Asmara, suaranya sudah kembali menggunakan volume normal, meski ia masih mempertahankan panggilan 'lo-gue' yang kini menjadi bahasa rahasia di antara mereka.

"Gue cuma refleks. Habisnya anak itu ngeselin banget, udah salah malah nyolot sama orang tua."

"Iya, iya, Sang Ratu Abdi Dalem Keraton, hehehe..." kekeh Wira.

Pemuda itu lalu memindai jalanan di depan gerbang sekolah yang sudah mulai sepi. Hanya tersisa beberapa tukang becak yang sedang duduk bersantai menunggu penumpang.

"Lo pulang naik apa hari ini? Bawa sepeda ontel tua kesayangan lo itu?" tanya Wira.

Asmara menggeleng pelan. "Nggak. Rantai sepeda gue tadi pagi putus waktu mau berangkat. Jadi gue jalan kaki dari rumah."

Mendengar itu, alis Wira sedikit terangkat.

Sebuah kesempatan emas tiba-tiba terbuka di depan matanya.

"Kebetulan," Wira memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, memasang gaya santai andalannya.

"Pak Tris tadi nelpon gue. Katanya Kijang kapsulnya lagi ngadat, harus dibawa ke bengkel, jadi dia nggak bisa jemput gue sore ini. Bude Ning juga lagi ada acara arisan keluarga. Karena arah rumah kita searah ke Jeron Beteng... gimana kalau gue anterin lo pulang jalan kaki?"

Wira mengucapkan tawaran itu dengan nada yang sangat kasual, seolah mengajak teman laki-lakinya pergi ke warung kopi.

Namun di balik nada santai itu, jantung sang pemuda Bogor berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia menunggu jawaban gadis itu dengan harap-harap cemas.

Asmara terdiam.

Langkah kakinya yang hendak melewati gerbang terhenti.

Matanya menatap Wira, lalu beralih menatap jalanan aspal yang panjang.

Sebuah pergolakan hebat seketika terjadi di dalam dada Asmara.

Di satu sisi, bagian dari dirinya yang baru saja terbangun—bagian yang berani, blak-blakan, dan menginginkan kebebasan—berteriak keras menyuruhnya mengangguk dan mengiyakan tawaran itu. Berjalan kaki menyusuri sore di Jogja bersama Wira terdengar seperti sebuah petualangan kecil yang sangat menyenangkan.

Namun, di sisi lain, akar budaya dan aturan ketat yang telah membesarkannya selama enam belas tahun menahan lidahnya.

Asmara adalah putri seorang Abdi Dalem.

Selama hidupnya, ia tidak pernah sekali pun pulang sekolah diantar atau berjalan berdua dengan seorang laki-laki yang bukan anggota keluarganya.

Di lingkungan keraton dan Jeron Beteng, anak gadis yang pulang jalan berdua dengan teman laki-laki menjelang magrib masih sering menjadi bahan pergunjingan tetangga.

Asmara tidak ingin menodai nama baik orang tuanya.

Asmara menundukkan kepalanya, meremas tali tas ranselnya erat-erat. Rona merah di wajahnya kini berubah menjadi gurat rasa bersalah.

"Makasih banyak tawarannya, Wir," ucap Asmara akhirnya. Suaranya kembali melembut, bahasa begajulannya menghilang, digantikan oleh kesopanan khas dirinya.

"Tapi... maaf, sepertinya kita jalan sendiri-sendiri saja. Saya... saya belum pernah pulang jalan berdua sama teman cowok. Nanti kalau ada tetangga atau kenalan Romo yang lihat, rasanya kurang pantas."

Asmara menahan napas setelah mengucapkan penolakan itu.

Ia takut Wira akan tersinggung. Ia takut ego pemuda itu akan kembali terluka, atau Wira akan menganggapnya sebagai gadis kuno yang terlalu kaku.

Namun, ketakutan Asmara sama sekali tidak terbukti.

Wira yang sekarang bukanlah Wira di minggu pertama.

Pemuda itu tidak mencibir, tidak memaksa, dan tidak mengeluarkan nada meremehkan sedikit pun.

Wira hanya tersenyum maklum. Sebuah senyum yang sangat tulus, menunjukkan betapa ia kini sangat menghargai batas-batas nilai yang dipegang oleh gadis di depannya ini.

"Oh, oke-oke... Paham gue," jawab Wira dengan anggukan santai. Tidak ada kekecewaan yang kentara di wajahnya.

"Gue lupa kalau gue lagi berhadapan sama putri keraton. Ya udah, santai aja, Ra. Nggak usah merasa nggak enak gitu mukanya."

Asmara menghela napas lega, meski di sudut hatinya yang paling kecil, ada sebersit rasa sesal yang menyelinap.

"Maaf ya, Wir."

"Santai aja lah... Tapi berhubung jalan ke rumah Bude Ning sama ke rumah lo itu searah sampai ke perempatan beringin kembar, kita jalan bareng aja sampai sana. Gimana? Kalau udah sampai perempatan, baru kita pisah. Lo ambil jalan kiri ke rumah lo, gue lurus ke rumah Bude Ning. Nggak bakal ada tetangga lo yang curiga, kan?" tawar Wira mencari kompromi yang sangat masuk akal.

Mendengar ide itu, seulas senyum kembali merekah di wajah Asmara. Kompromi yang sempurna.

"Kalau sampai perempatan saja... boleh." jawab Asmara.

"Nah, gitu dong. Ayo jalan, keburu gelap," ajak Wira, memberikan gestur mempersilakan dengan tangannya.

Mereka berdua pun melangkah meninggalkan gerbang SMA Budi Bangsa, menyusuri trotoar yang dinaungi pepohonan rindang.

Keduanya berjalan bersisian, membiarkan jarak sekitar setengah meter membentang di antara mereka, menjaga kesopanan layaknya dua teman sekolah biasa.

Sore itu, suasana jalanan Jogja terasa begitu syahdu...

Suara deru motor sesekali diselingi oleh bunyi gemerincing lonceng andong yang melintas santai...

Angin memainkan daun-daun kering di trotoar...

Di bawah kanopi pepohonan yang mulai meremang, Wira dan Asmara mengobrol ringan.

Wira banyak bercerita tentang betapa encok pinggangnya setelah membantu Pak Anton memindahkan kardus-kardus di ruang BK tadi siang, yang langsung ditanggapi Asmara dengan tawa renyah dan ledekan bahwa otot Wira ternyata tidak sekuat yang dipamerkannya di lapangan basket.

Asmara juga bercerita tentang kepanitiaan Porseni yang akhirnya berjalan lancar setelah ia mendamprat Fajar di ruang OSIS waktu itu.

Mereka bertukar tawa...

Mereka bertukar cerita...

Dua kutub yang berbeda itu saling mengisi, menciptakan harmoni yang membuat langkah kaki mereka terasa sangat ringan.

Namun, sehebat apa pun sebuah obrolan, jalan raya selalu memiliki ujungnya.

Lima belas menit berjalan, mereka akhirnya tiba di sebuah perempatan besar yang menjadi batas kawasan Jeron Beteng.

Di tengah perempatan itu, berdiri dua pohon beringin kembar berukuran sedang. Di sinilah rute mereka harus terpecah.

Jalan ke arah kiri akan mengarah langsung ke gang rumah Asmara yang asri, sementara jalan lurus akan membawa Wira ke kompleks rumah klasik Bude Ning.

Langkah keduanya terhenti tepat di sudut trotoar perempatan tersebut.

Lampu-lampu jalan kota Jogja yang berwarna kuning temaram baru saja menyala secara serentak, menggantikan cahaya matahari yang telah sepenuhnya tenggelam di ufuk barat.

Cahaya kuning keemasan itu jatuh menerpa wajah mereka berdua, menciptakan bayang-bayang yang melukiskan raut wajah yang enggan berpisah.

"Nah, udah sampai di perbatasan negara nih," canda Wira, menunjuk ke arah jalan sebelah kiri. Ia memutar tubuhnya menghadap Asmara, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

"Lo belok kiri kan dari sini?"

Asmara mengangguk pelan. Senyum di bibirnya entah mengapa terasa sedikit kaku. Ada sesuatu di dalam dadanya yang menolak keras kenyataan bahwa obrolan menyenangkan mereka harus berakhir di sini, setidaknya untuk sore ini.

"Iya. Rumah gue tinggal masuk gang ketiga dari jalan ini," jawab Asmara.

Asmara menatap Wira, merasa ada sesuatu yang tertinggal, namun tak tahu apa itu.

"Gue... balik duluan ya, Wir. Makasih udah nemenin jalan sampai sini."

Wira tersenyum, menganggukkan kepalanya dengan sopan.

"Sama-sama, Tuan Putri Keraton... Hati-hati jalannya. Kalau ada anak kampung sebelah yang godain, praktikkin aja gaya lo yang tadi di depan kantin. Dijamin pada kocar-kacir."

Asmara terkekeh pelan. "Bisa aja lo. Ya udah. Lo juga hati-hati, Wir. Jangan mampir nyari ribut lagi di jalan."

"Aman. Gue udah jinak sekarang," balas Wira dengan kedipan sebelah mata yang sangat cepat, memicu desiran aneh di dada Asmara.

Mereka berdua terdiam sejenak, saling menatap di bawah lampu jalan yang temaram. Udara seolah berhenti bergerak.

Wira akhirnya memutuskan kontak mata itu lebih dulu, memutar tubuhnya menghadap jalan lurus.

"Gue duluan ya, Ra. Sampai ketemu besok di sekolah," pamit Wira, mengangkat tangan kanannya sekilas sebelum mulai melangkah pergi menjauh.

Asmara memutar tubuhnya ke arah kiri. Ia melangkah menapaki trotoar menuju arah rumahnya.

Satu langkah...

Dua langkah...

Tiga langkah...

Namun, di langkah keempat...

Kakinya mendadak terasa berat, seolah terpaku pada paving blok trotoar.

Asmara menghentikan langkahnya.

Jantungnya berdebar kencang, memompa darah dengan ritme yang tidak masuk akal.

Angin sore yang menuju malam Jogja berhembus, menerbangkan ujung rambutnya.

Gadis itu perlahan menoleh ke belakang, menatap ke arah persimpangan.

Di bawah deretan lampu kota yang kekuningan, ia melihat punggung tegap Wira yang semakin menjauh.

Pemuda itu berjalan santai, tas ranselnya menggantung di satu bahu.

Punggung itu...

Punggung yang dulunya begitu asing dan menakutkan, kini terlihat seperti...

SATU-SATUNYA TEMPAT YANG INGIN ASMARA TUJU.

Perasaan janggal yang luar biasa besar tiba-tiba merayap, meremas rongga dadanya.

Asmara melirik jam tangan hitam mungil di pergelangan tangan kirinya. Pukul setengah enam lewat lima belas menit.

Selama enam belas tahun hidupnya, jadwal ini adalah hukum alam yang tak pernah ia langgar.

Pukul setengah enam sore, Asmara Putri harus sudah tiba di rumah, mandi, membantu ibunya menyiapkan makan malam, lalu bersiap untuk salat magrib berjamaah bersama ayahnya. Hidupnya adalah sebuah garis lurus yang digambar menggunakan penggaris besi.

Sangat rapi.

Sangat teratur.

Sangat aman.

Dan... sangat membosankan.

Asmara kembali menatap punggung Wira yang kini sudah berjarak sekitar dua puluh meter darinya.

Pemuda itu adalah kebalikan dari hidupnya.

Wira adalah garis yang acak-acakan. Wira adalah warna-warni yang tumpah di luar kanvas.

Namun bersama pemuda itu, Asmara kini merasa benar-benar hidup.

Bersama Wira, Asmara berani berteriak.

Bersama Wira, Asmara berani menantang kakak kelas.

Sebuah bisikan liar tiba-tiba menggema di kepalanya.

.....

"Bagaimana rasanya... jika untuk sekali ini saja, aku menghapus garis lurus itu?"

.....

Asmara menelan ludah.

Rasa takut pada omelan orang tua beradu kuat dengan dorongan jiwa mudanya yang sedang meronta meminta kebebasan.

Ia ingin tahu bagaimana rasanya melanggar aturan.

Ia ingin tahu bagaimana rasanya menjadi remaja normal yang tidak memikul beban nama baik keraton setiap detiknya.

Ia ingin...

Ia sangat ingin sesekali merasakan pulang sekolah terlambat, demi menghabiskan waktu lebih lama dengan pemuda yang kini perlahan menghilang dari pandangannya.

Keputusan itu diambil dalam sepersekian detik.

Asmara memutar tubuhnya sepenuhnya.

Tanpa memedulikan tatapan heran seorang ibu penjual jamu yang sedang lewat, gadis berambut panjang itu mulai berlari.

Tas ranselnya terguncang-guncang di punggungnya.

Sepatu hitamnya berderap cepat menghantam trotoar.

Ia berlari menyusuri cahaya kuning lampu kota, mengejar "sang Matahari" yang hampir terbenam di ujung jalan.

"Wira!" panggil Asmara. Suaranya kalah oleh deru motor yang lewat.

Gadis itu menambah kecepatannya.

"Wira!!" teriaknya lebih keras.

Di depan sana, Wira yang samar-samar mendengar namanya dipanggil, menghentikan langkahnya.

Pemuda itu menoleh ke belakang. Matanya membelalak kaget saat melihat Asmara berlari ke arahnya dengan napas terengah-engah dan wajah yang memerah.

Wira refleks berbalik dan berjalan cepat menghampiri gadis itu.

"Ra? Ada apa? Lo ketinggalan barang?" tanya Wira panik saat Asmara akhirnya berhenti tepat di depannya.

Gadis itu membungkuk, memegangi kedua lututnya sambil mencoba mengatur napasnya yang putus-putus.

Asmara menggelengkan kepalanya.

Ia menegakkan tubuhnya, menatap Wira dengan sepasang mata bulat yang kini berkilat-kilat oleh adrenalin dan tekad yang bulat.

"Nggak," jawab Asmara, suaranya masih tersengal. "Gue nggak ketinggalan apa-apa."

Wira mengerutkan kening, kebingungan.

"Loh? Terus? Kenapa lo lari-lari nyusul gue? Ini udah mau magrib, Ra. Katanya lo takut dilihat tetangga kalau jalan sama gue."

Asmara menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan udara awal malam Jogja yang sejuk.

Ia menatap lurus ke dalam mata elang Wira...

Membuang jauh-jauh seluruh sisa wibawa dan aturan keraton yang mengikatnya.

"Gue... gue berubah pikiran," ucap Asmara mantap, matanya berbinar menantang.

"Selama hidup gue, gue selalu pulang jam setengah enam sore. Nggak pernah kurang, nggak pernah lebih."

Asmara melangkah sedikit lebih dekat, membiarkan aroma melatinya menyatu dengan aroma citrus dari parfum Wira.

"Gue pengen tahu rasanya jadi remaja biasa. Gue pengen... sesekali ngerasain gimana rasanya pulang sekolah telat... Sama lo... Berdua sama lo..."

Mendengar pengakuan yang begitu berani dan jujur dari bibir "Sang Bulan", Wira tertegun luar biasa.

Otaknya serasa berhenti berputar.

Pemuda yang biasanya selalu punya seribu jawaban tengil itu kini membeku layaknya patung es.

Wira menatap wajah Asmara yang bersimbah cahaya lampu jalan. Ia melihat keberanian di sana. Ia melihat seorang gadis yang rela mendobrak penjara emasnya sendiri, hanya untuk memperpanjang waktu kebersamaan mereka.

Sebuah senyum lebar—senyum paling tulus dan paling bahagia yang pernah Wira tunjukkan sejak ia tiba di kota ini—perlahan merekah di wajah tampannya. Rasa bangga dan haru meledak di dalam dadanya.

"Hahahaha... Lo yakin? Yakin, nih?" tanya Wira memastikan, suaranya melembut, mengalun berat menggoda.

"Pulang telat itu bahaya buat anak baik-baik kayak lo. Nanti Romo lo nyariin gimana?"

"Biarin! Nanti gue bilang habis ngerjain tugas kelompok dadakan," jawab Asmara enteng, sebuah kebohongan pertama yang ia ciptakan demi kebebasannya hari ini.

YA... KEBOHONGAN PERTAMA BAGI ASMARA...

DEMI MERASAKAN KEBEBASAN DARI SEGALA ATURAN!

"Lagian, kalau gue dimarahin, gue bakal salahin lo karena lo yang ngajakin gue pulang jalan kaki." kata Asmara meledek.

Wira tertawa lepas, tawa yang bergema di sudut jalanan Jogja yang temaram. "Gila-gila-gila!! Udah mulai pinter nyari kambing hitam ya lo sekarang, hah?! Ahahahaha..."

"Jadi gimana? Lo mau nemenin gue jadi anak nakal hari ini atau nggak?" tantang Asmara dengan sebelah alis terangkat, sepenuhnya mengadopsi gaya tengil Wira.

Wira menyeringai lebar. Ia membenarkan letak tas ransel di bahunya.

"Berhubung perut gue kebetulan lagi keroncongan habis beresin ruang BK... gimana kalau kita makan sore dulu? Di dekat Alun-alun Kidul ada angkringan langganan Pak Tris yang nasi kucingnya juara. Lo pernah makan di angkringan, Sang Tuan Putri?"

Asmara menggeleng pelan.

"Jangankan makan di angkringan, jajan di pinggir jalan aja gue jarang dibolehin sama Ibu." jawab Asmara jujur.

"Wah, ini nggak bisa dibiarin. Lo harus ngerasain kasta tertinggi kuliner malam Jogja," ucap Wira semangat. Ia menunjuk ke arah selatan. "Ayo. Malam ini, biar gue sendiri yang jadi pemandu wisata kuliner lo."

.....

.....

Mereka berdua kembali berjalan bersisian.

Namun kali ini, tidak ada lagi kecanggungan.

Tidak ada lagi rasa takut.

Langkah mereka seirama, berjalan menembus malam yang mulai merengkuh kota Yogyakarta.

Lima belas menit kemudian, mereka tiba di sebuah angkringan sederhana yang terpal birunya digelar di pinggir jalan, tak jauh dari keramaian Alun-alun Kidul.

Suasana di sana cukup ramai oleh mahasiswa, beberapa turis, dan warga lokal.

Aroma khas dari arang yang terbakar, wangi seduhan kopi, dan gurihnya sate usus yang sedang dipanggang langsung menyergap indra penciuman.

Lampu bohlam berwarna kuning yang menggantung di tengah gerobak kayu memberikan pencahayaan yang temaram namun terasa sangat hangat dan intim.

Wira mengambil alih kendali. Ia memesankan makanan untuk mereka berdua.

"Pak, sego kucing oseng tempenya empat, sate usus empat, sate telur puyuh dua, mendoan hangatnya lima ya. Minumnya es jeruk satu, teh kampul hangat satu."

Setelah memesan, Wira mengajak Asmara duduk di atas tikar pandan yang digelar melingkari meja kayu rendah di sebelah gerobak.

Wira dengan cekatan mengambil selembar tisu dan mengelapkan area tikar yang akan diduduki Asmara, memastikan tempat itu bersih.

"Silakan duduk, Tuan Putri," goda Wira, mempersilakan dengan gestur berlebihan.

Asmara tertawa kecil, melipat rok abunya dengan anggun, lalu duduk lesehan di atas tikar tersebut. Wira duduk di sebelahnya, membiarkan bahu mereka berjarak sangat dekat hingga Asmara bisa merasakan radiasi kehangatan dari tubuh pemuda itu.

Tak lama, pesanan mereka datang. Nasi kucing porsi kecil yang dibungkus kertas koran, deretan sate-satean yang menggiurkan, dan dua gelas minuman dihidangkan di depan mereka.

Asmara membuka bungkusan nasi kucingnya dengan hati-hati. Ia mengambil gigitan pertamanya. Rasa pedas manis dari oseng tempe dan gurihnya nasi seketika memanjakan lidahnya.

"Gimana? Enak kan?" tanya Wira, mulutnya sendiri sudah penuh dengan gigitan mendoan.

"Enak banget, Wir," jawab Asmara jujur, matanya berbinar. "Gue nggak nyangka makanan pinggir jalan bisa seenak ini."

"Makanya, hidup lo jangan lurus-lurus aja! Ngebosenin banget hidup kayak gitu! Kadang belok sedikit ke pinggir jalan itu perlu, biar lo tahu rasanya kebebasan," ucap Wira filosofis, meski mulutnya belepotan kecap.

Asmara tersenyum menatap Wira.

Di bawah cahaya lampu bohlam kuning angkringan, garis wajah pemuda itu terlihat jauh lebih tegas, lebih dewasa, namun memancarkan kedamaian yang tak pernah Asmara lihat sebelumnya.

Luka di sudut bibir Wira sudah lama sembuh, menyisakan senyum sempurna yang membuat dada Asmara berdebar kencang.

Saat Asmara sedang kesulitan membuka tusukan sate telur puyuh karena tangannya sedikit licin, Wira tanpa diminta mengambil alih sate tersebut.

Pemuda itu melepaskan telur puyuh dari tusuk bambunya menggunakan garpu, meletakkannya di atas bungkusan nasi Asmara, lalu meletakkan tusuknya di piring kosong.

Gerakan Wira sangat natural, dilakukan tanpa memikirkan apa pun, seolah merawat dan memperhatikan Asmara adalah sebuah insting bawaan.

Melihat perlakuan kecil yang sarat akan kelembutan perlindungan itu, hati Asmara luluh lantak.

Ia menyadari bahwa di balik sikap keras, bahasa kasar, dan penampilan begajulan pemuda ini, terdapat hati yang sangat peka dan tulus.

Wira mungkin tidak bisa berbahasa Jawa halus, ia mungkin tidak tahu tata krama keraton, tapi cara Wira menghargainya malam ini adalah bentuk penghormatan paling tinggi yang pernah Asmara rasakan.

Sementara itu, Wira yang tanpa sengaja menoleh, mendapati Asmara sedang menatapnya lekat-lekat. Mata bulat gadis itu memantulkan cahaya kuning lampu jalan, terlihat begitu indah, begitu jernih, dan begitu penuh damba.

Udara malam yang dingin mendadak terasa menghangat.

Suara petikan gitar dari seorang pengamen yang menyanyikan lagu Kla Project - Yogyakarta di ujung jalan mengalun syahdu, menjadi lagu latar yang menyempurnakan suasana.

Wira menelan ludah.

Ia membalas tatapan Asmara.

Di tengah riuhnya pembicaraan orang-orang di sekitar angkringan, mereka berdua seolah terperangkap dalam dimensi waktu yang berhenti berdetak.

Mereka terjebak dalam pesona satu sama lain.

Tidak ada kata yang diucapkan.

Tidak ada pengakuan cinta yang meluncur.

Namun, di bawah lampu kota Jogja malam itu, ditemani asap bakaran arang dan sederhana nya nasi kucing...

Sang Matahari dan Sang Bulan...

Mereka akhirnya menyadari bahwa mereka telah JATUH CINTA...

Jatuh cinta dengan cara yang paling dalam, paling gila, dan paling tak terduga dalam hidup keduanya.

1
Kesya Ohilitean
aku senang sekali kerana novel mau membantu aku untuk mehilakan sertes
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih banyak, Kak Kesya... 😍😍😍

Semoga Kakak selalu sehat, ya... Selalu bahagia juga buat Kak Kesya... 😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!