NovelToon NovelToon
Bertahan Hidup Sebagai Tuan Muda Sampah

Bertahan Hidup Sebagai Tuan Muda Sampah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:500
Nilai: 5
Nama Author: Nappzz

Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Tahta Sang Raja Jurang

Semakin jauh aku menuruni tangga batu spiral menuju lantai terbawah Tartarus, udara tidak lagi terasa dingin, melainkan mati.

Tidak ada suara tetesan air. Tidak ada hembusan angin. Bahkan suara langkah kakiku sendiri seolah ditelan oleh kegelapan pekat yang menggantung di udara bak kabut tebal. Obor-obor sihir di sepanjang dinding telah lama padam, digantikan oleh pendaran kristal-kristal ungu yang tumbuh secara parasitik di sela-sela bebatuan.

"Kita sudah berada di luar peta resmi akademi," bisik Nox, melayang tepat di sebelah telingaku. Gadis berambut perak itu tidak lagi tersenyum jahil. Mata emasnya memindai sekeliling dengan kewaspadaan tingkat tinggi. "Sistem labirin ini benar-benar kacau. Seharusnya hanya ada lima lantai di Tartarus, tapi kita baru saja menuruni tangga menuju kedalaman lantai sepuluh. Tempat ini diciptakan khusus untuk menguburmu, Arthur."

"Sebuah kehormatan besar," balasku datar, tangan kananku bersandar santai di gagang Taring Abyss. "Dunia ini sampai harus membangun kuburan khusus untukku. Sayangnya, aku belum berencana untuk mati akhir pekan ini."

Langkahku terhenti di ujung tangga. Di hadapanku, menjulang sebuah pintu ganda raksasa yang terbuat dari perunggu hitam. Permukaannya dipenuhi ukiran iblis bertanduk yang sedang melahap manusia, dan di tengahnya, terdapat lubang kunci berbentuk retakan bintang.

Aku tidak repot-repot mencari kuncinya.

Mengambil kuda-kuda, aku memusatkan tenaga murni ke telapak tanganku, membiarkan kepadatan Tulang Kematianku bekerja, lalu mendorong pintu perunggu seberat belasan ton itu.

BUM!

Suara derit engsel berkarat yang memekakkan telinga bergema saat pintu itu terbuka paksa. Hembusan angin busuk langsung menyapu wajahku, membawa aroma abu dan keputusasaan.

Aku melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan yang luasnya menyerupai katedral bawah tanah. Puing-puing pilar berserakan di mana-mana. Di tengah ruangan, tepat di atas sebuah altar berbentuk pentagram, mengambang sebuah kristal raksasa berwarna merah darah yang berdenyut layaknya jantung. Itulah inti dari anomali sistem labirin ini.

Namun, bukan kristal itu yang menarik perhatianku.

Di bawah kristal tersebut, duduk sesosok makhluk di atas tahta yang terbuat dari tumpukan tengkorak. Makhluk itu mengenakan zirah perang kuno berwarna perak kusam yang telah lapuk di makan usia. Tidak ada daging di balik zirah itu, hanya kerangka hitam legam. Mahkota berduri menancap di tengkoraknya, dan di dalam rongga matanya, menyala api penyucian berwarna merah tua.

Sebuah tombak raksasa yang memancarkan aura kematian tergeletak di pangkuannya.

"Malakor sang Raja Jurang..." gumam Nox, suaranya sedikit bergetar. "Monster kelas S-. Penguasa sejati dari era kegelapan pertama. Dia seharusnya tersegel di kedalaman benua utara, bukan di ruang ujian anak sekolahan!"

Sang Raja Jurang perlahan mengangkat kepalanya. Api merah di rongga matanya menatap lurus ke arahku.

"Seorang manusia... membawa bau jurang yang familiar," suara Malakor tidak keluar dari mulutnya, melainkan bergema langsung di dalam kepalaku, berat dan menggetarkan tengkorak. "Namun kau bukanlah pengikutku. Kau adalah anomali yang merusak tatanan dunia. Hukum Kausalitas memerintahkan kehancuranmu."

"Hukum Kausalitas?" Aku terkekeh pelan, menarik Taring Abyss dari sarungnya. Pedang hitam itu langsung berdengung merespons aura membunuh di sekitarnya. "Jadi 'Sistem' penulis cerita ini mengirim preman kelas atas untuk membereskanku karena pahlawannya sedang cuti sakit? Benar-benar pelayanan yang buruk."

Malakor tidak membalas ejekanku. Sang Raja Jurang bangkit berdiri. Tingginya mencapai tiga meter. Ia mengangkat tombaknya dengan satu tangan, dan seketika itu juga, gravitasi di dalam ruangan itu terasa berlipat ganda.

"Domain of the Dead," bisik Nox panik. "Arthur, jangan biarkan dia mengayunkan tombaknya! Jika kau terkena Domain itu, jiwamu akan langsung ditarik keluar dari tubuhmu!"

"Mundur, Nox," perintahku dingin.

Detik berikutnya, Malakor menghilang dari singgasananya.

Mataku yang telah diperkuat nyaris gagal mengikuti kecepatannya. Raksasa kerangka itu muncul tepat di atasku, mengayunkan tombaknya dengan kekuatan yang cukup untuk membelah gunung. Ujung tombaknya memancarkan sabit kematian berwarna merah darah.

Aku tidak mundur. Jika ini adalah pertarungan adu Domain, maka aku akan merespons dengan hal yang sama.

"Sirkulasi Vespera: Absolute Zero," raungku dalam hati.

Pusaran Mana Core di jantungku meledak, memompa energi kegelapan murni ke setiap sel tubuhku. Aku mengayunkan Taring Abyss ke atas, menyambut hantaman tombak sang Raja Jurang.

DHUAAARRR!!!

Benturan dua senjata itu menciptakan ledakan energi yang menghancurkan lantai katedral dalam radius lima puluh meter. Bebatuan hancur menjadi debu. Gelombang kejutnya merobek udara, menciptakan ruang hampa sesaat.

Kakiku terbenam hingga ke lutut akibat tekanan yang luar biasa, namun tulang obsidianku tidak retak sedikit pun. Otot-ototku menegang menahan kekuatan fisik monster kelas S-.

Api merah di mata Malakor berkilat terkejut. "Kau... menahan seranganku?"

"Jangan sombong, tulang tua. Tombakmu terlalu berkarat," desisku dengan seringai buas.

Dari bilah Taring Abyss, api hitam Vespera meledak dan merayap liar ke arah tombak Malakor. Sihir penelanku bekerja maksimal, secara agresif melahap aura kematian berwarna merah yang menyelimuti senjata monster itu.

Menyadari bahaya dari api hitamku, Malakor menarik tombaknya dan melompat mundur, menciptakan jarak. Namun aku tidak memberikannya kesempatan bernapas. Aku memacu kecepatanku, menggunakan pilar-pilar yang runtuh sebagai pijakan, dan melesat ke arahnya.

Pertarungan jarak dekat meledak.

Taring Abyss dan tombak maut itu beradu puluhan kali dalam hitungan detik. Setiap benturan menghasilkan percikan api yang menyilaukan dan ledakan sonik yang memekakkan telinga. Ruangan itu perlahan hancur lebur.

Malakor mencoba menggunakan mantra kutukan. Ia merapal sihir tanpa suara, memunculkan puluhan tombak tulang dari udara kosong yang melesat ke arahku bagai hujan meteor.

Aku tidak repot-repot menangkis semuanya. Membiarkan beberapa tombak menembus pertahananku, ujung tajam tombak tulang itu menghantam bahu, dada, dan pahaku. Namun, persis seperti tebasan pedang Mythril milik Leon, tombak-tombak sihir tingkat tinggi itu patah begitu membentur kulitku yang dilindungi oleh tulang kematian Mandragora.

"Mustahil! Fisik manusia tidak mungkin mengabaikan Kutukan Kematian!" suara Malakor bergema, nadanya dipenuhi ketidakpercayaan.

"Aku sudah meninggalkan batasan manusia sejak lama," balasku.

Kutemukan celah dalam kuda-kuda Malakor saat ia terkejut. Aku menyelam di bawah ayunan tombaknya, berputar, dan menebaskan Taring Abyss secara horizontal, tepat ke arah pinggang kerangkanya.

SRAT!

Bilah pedangku yang dilapisi kegelapan pekat memotong zirah perak kuno itu layaknya mentega panas, membelah tulang belakang sang Raja Jurang.

Malakor meraung—sebuah suara distorsi ruang yang menyayat telinga. Tubuh bagian atasnya terpisah dari kakinya dan jatuh ke lantai. Namun, monster S- tidak mati semudah itu. Dari separuh tubuhnya yang tersisa, sulur-sulur asap merah keluar, mencoba menyatukan kembali kerangkanya.

"Kau tidak akan bisa meregenerasi itu," kataku, berjalan perlahan menghampirinya.

Api hitamku menempel di potongan tubuhnya, membakar habis sirkuit mana dan menolak semua usaha penyembuhan dari asap merah tersebut. Malakor meronta di lantai marmer, menatapku dengan kebencian absolut.

"Dunia ini... akan terus memburumu, Anomali..." kutuk Malakor, suaranya mulai melemah seiring dengan api merah di matanya yang meredup. "Hukum Kausalitas... tidak akan membiarkanmu merampas takdir sang Cahaya..."

"Katakan pada Hukum Kausalitasmu," aku mengangkat Taring Abyss tinggi-tinggi, menempatkan mata pisaunya tepat di atas tengkorak Malakor. "Jika dia tidak ingin naskahnya kuhancurkan, suruh dia sendiri yang turun menghadapiku."

Aku menancapkan pedangku.

Tengkorak itu hancur berkeping-keping. Api penyucian merah di dalamnya padam seketika. Ledakan energi yang sangat masif menyapu seluruh ruangan saat inti kehidupan monster kelas S- itu hancur.

Sebuah kristal seukuran bola tenis, memancarkan cahaya merah dan hitam yang berputar, melayang dari abu jenazah Malakor. Inti Raja Jurang. Tanpa ragu, aku menyambarnya. Energi yang sangat liar dan brutal langsung berusaha menolak tanganku, namun pusaran Mana Core di dadaku jauh lebih lapar. Kugenggam kristal itu kuat-kuat, memaksa tubuhku menyerap seluruh intisari kekuatannya.

Sensasi panas yang membakar menjalar ke seluruh pembuluh darahku. Inti sihirku berdenyut, berevolusi, dan meluas hingga kapasitasnya tiga kali lipat dari sebelumnya. Levelku baru saja melonjak tajam.

Ruangan itu mendadak hening.

Aku berdiri di tengah lautan abu, menarik napas panjang untuk menstabilkan aura baruku. Taring Abyss di tanganku tampak lebih pekat, seolah ikut berevolusi setelah meminum darah sang Raja Jurang.

"Sinting... Kau benar-benar monster, Arthur," Nox melayang perlahan menghampiriku, matanya membelalak menatap pemandangan di sekitarnya. "Kau baru saja memecahkan bos rahasia kelas S- sendirian. Seharusnya kau membawa Party beranggotakan dua puluh ksatria suci untuk melakukan ini!"

"Sistem party hanya akan membagi experience point dan loot-nya," balasku santai, merapikan lengan jasku yang terbakar sebagian.

Kualihkan pandanganku pada kristal merah darah raksasa yang masih mengambang di atas altar. Retakan ruang yang membawaku ke sini berpusat pada kristal tersebut.

1
ZAHRANI
keren thor mantap👍
Nappzz: thank you ka, makasih support nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!