Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.
Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.
Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Bara dalam Gelap
Suasana di lantai teratas ruang kerja pribadi Pratama Holdings terasa dingin dan lengang. Pencahayaan temaram dari lampu gantung kristal memantulkan bayangan panjang di atas meja kayu mahoni berukir tebal. Di balik jendela kaca besar yang menghadap langsung ke panorama gemerlap lampu kota, berdiri seorang pria berjas abu-abu gelap dengan gestur tubuh yang penuh percaya diri dan dominasi.
David Pratama, CEO Pratama Holdings sekaligus rival abadi Nugroho Group dalam perebutan pengaruh sektor bisnis manufaktur dan infrastruktur nasional, mengocok perlahan gelas kristal berisi cairan amber di tangannya. Matanya memicing menatap gedung Menara Utama Nugroho Group yang menjulang gagah di kejauhan.
Pintu ganda berukir ruangan itu terbuka tanpa suara. Pria jangkung bertubuh kurus dengan gaya rambut klimis dan kacamata berbingkai perak melangkah masuk secara tenang. Ia membawa sebuah map kulit berwarna hitam pekat di bawah lengannya.
"Semua dokumen dan peta lokasi yang Bos minta sudah siap," ujar pria itu dengan suara serak-basah yang khas.
David memutar badannya perlahan, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan intrik. "Kerja bagus, Volkan. Kamu memang gak pernah mengecewakan saya."
Volkan, asisten kepercayaan sekaligus perancang strategi rahasia David, meletakkan map kulit itu di atas meja mahoni, lalu membukanya lebar-lebar. Lembaran peta teknis, cetak biru konstruksi, serta foto-foto udara dari proyek megah Pelabuhan Samudra, proyek strategis senilai triliunan rupiah milik Nugroho Group,terbentang rapi.
"Bagaimana perkembangan di lapangan?" tanya David sembari meneguk minumannya, lalu meletakkan gelas kristal itu ke atas meja.
"Sangat mulus, Bos," jawab Volkan santai, menyilangkan tangannya di dada. "Sesuai dugaan kita, fokus Nadia Nugroho sekarang lagi terpecah total. Dia sibuk mengurus kesehatan Kakek Nugroho yang makin kritis di rumah sakit, ditambah lagi desas-desus persiapan pernikahan mendadaknya sama anak Wira Perkasa Group."
David tertawa sinis, suara tawanya bergema halus di ruangan luas itu. "Nadia memang wanita yang cerdas dan berhati dingin di meja perundingan, tapi dia punya satu kelemahan besar: emosi dan keluarganya. Saat dia sibuk ngurusin kakek tua yang tinggal menunggu ajal dan drama pernikahannya, dia gak bakal sadar kalau pelabuhan utamanya sedang diincar."
"Nugroho Group menggantungkan seluruh reputasi dan saham kuartal ini pada proyek Pelabuhan Samudra," sela Volkan seraya menunjuk salah satu titik dermaga di atas cetak biru. "Kalau proyek ini gagal atau mengalami insiden besar sebelum peresmian, nilai saham mereka bakal anjlok drastis. Dewan direksi pasti panic buying, dan investor asing bakal ditarik keluar."
"Bukan cuma anjlok, Volkan," potong David dengan mata berkilat tajam. "Saya mau Nugroho Group hancur sampai ke akar-akarnya. Proyek pelabuhan itu adalah pilar utama kekuatan ekonomi mereka. Kalau pilar itu roboh, Nadia gak bakal punya daya tawar lagi di depan dewan komisaris."
Volkan mengangguk pelan, memperlihatkan cengiran tipis di bibirnya. "Lalu, rencana spesifik apa yang mau kita eksekusi, Bos? Apa kita mainkan sabotase di kargo distribusi atau langsung targetkan struktur fisik bangunan dermaga?"
"Jangan cara kacangan seperti itu, Volkan," balas David tenang. Ia melangkah mendekati meja, meletakkan ujung jarinya tepat di titik pusat area penyimpanan material konstruksi utama proyek pelabuhan. "Kalau kita pakai bom atau pengrusakan brutal, polisi bakal langsung cium bau sabotasenya. Kita harus main cantik dan realistis."
"Maksud Bos?" tanya Volkan penasaran, membetulkan letak kacamatanya.
"Kita manfaatkan jaringan dalam," jelas David mantap. "Saya mau kamu hubungi 'kontak rahasia' kita yang ada di dalam tim pengawas rantai pasok material proyek itu. Tukar spesifikasi bahan baku beton dan baja utama yang mau dicor untuk struktur dermaga tiga dengan material berkualitas rendah yang sudah dipalsukan sertifikat ujinya."
Volkan menaikkan sebelah alisnya, langsung menangkap arah pemikiran David. "Ah... paham saya. Begitu pengecoran selesai dan beban uji coba alat berat masuk minggu depan, struktur dermaga bakal retak atau bahkan ambruk secara mandiri."
"Tepat," ujar David seraya menepuk bahu Volkan. "Di mata publik dan pers, itu bakal kelihatan murni seperti kelalaian teknis dan kegagalan konstruksi dari pihak Nugroho Group. Nadia gak bakal bisa mengelak dari tuduhan korupsi material atau kecerobohan manajemen. reputasi Nadia sebagai CEO jenius bakal hancur lebur dalam sekejap."
"Luar biasa," puji Volkan lirih. "Taktik yang sangat rapi. Tanpa menyentuh satu pun fasilitas mereka secara langsung, kita bikin mereka menghancurkan diri mereka sendiri dari dalam."
"Itulah bedanya pebisnis kelas atas sama penjahat jalanan, Volkan," kata David penuh kesombongan. "Kita hancurkan musuh dengan mempermainkan kelalaian mereka sendiri."
"Bagaimana dengan tim keamanan pelabuhan dan pengawasan lobi kantor pusat mereka, Bos? Apa ada potensi kebocoran rencana dari pihak internal kita?" tanya Volkan memastikan.
David mengibaskan tangannya meremehkan. "Satpam dan tim keamanan Nugroho Group itu cuma orang-orang sewaan kelas rendah. Mereka cuma sibuk buka pintu mobil dan jaga lobi buat cari makan. Mana mungkin mereka punya kecerdasan buat mendeteksi permainan dokumen dan material di tingkat tinggi seperti ini?"
"Baik, Bos. Saya akan langsung instruksikan orang kita di area proyek pelabuhan untuk mengeksekusi penukaran material malam ini juga," tegas Volkan patuh.
"Pastikan jejak keuangannya bersih, Volkan. Gak boleh ada satu pun aliran dana yang mengarah kembali ke Pratama Holdings," ancam David dengan nada dingin yang menusuk.
"Tenang saja, Bos. Semua transaksi diproses lewat tiga perusahaan cangkang di luar negeri. Bahkan kalau instansi hukum turun tangan pun, mereka cuma bakal nemuin kelalaian dari vendor lokal Nugroho Group sendiri," jawab Volkan mantap.
David kembali berjalan mendekati kaca jendela besar ruangan kerjanya. Ia memandangi gemerlap lampu Menara Utama Nugroho Group di bawah langit malam kota, membayangkan kehancuran kerajaan bisnis yang dibangun oleh Kakek Nugroho puluhan tahun lalu.
"Nadia Nugroho... kamu pikir kamu sudah menang karena berhasil mengamankan investasi dan calon suami kaya?" gumam David pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh dendam. "Mari kita lihat, seberapa lama kamu bisa bertahan saat pelabuhan kebanggaanmu berubah jadi kuburan buat reputasi dan perusahaanmu."
Volkan menjajarkan posisinya di samping David, mengatupkan map hitam yang dibawanya. "Semua sudah siap berjalan sesuai skenario kita, Bos."
"Bagus," pungkasi David seraya meneguk sisa minuman di gelasnya hingga habis. "Waktu permainan sudah dimulai. Kita tinggal duduk manis dan menyaksikan kekaisaran Nugroho roboh berkeping-keping."