Alarice Jovelyn Dav Dewantara, atau Jove, adalah putri pertama keluarga Dewantara yang hidupnya nyaris sempurna. Namun, kesempurnaan itu runtuh dua hari sebelum pernikahannya ketika ia memergoki calon suaminya sedang bercinta dengan wanita lain di rumah yang telah mereka persiapkan untuk kehidupan setelah menikah.
Tanpa ragu, Jove membatalkan pernikahannya dan memilih menutup hati. Selama dua tahun, ia menenggelamkan diri dalam pekerjaan hingga membuat kedua orang tuanya khawatir.
Alaska Dewantara akhirnya memutuskan menjodohkan Jove dengan Nicholas Alvarendra, putra sahabat bisnisnya.
Nicholas adalah pria dingin yang juga memiliki luka yang sama. Ia pernah dikhianati tunangannya yang justru hamil dari sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Nicholas tidak lagi percaya pada cinta.
Dua hati yang sama-sama terluka akhirnya dipertemukan dalam sebuah perjodohan.
Mereka menikah tanpa cinta dan membuat kesepakatan untuk tidak saling berharap.
“Pernikahan kita hanya sebatas kertas, jangan berharap lebih.”
“Tenang saja, aku juga tidak ada niat menjalankan rumah tangga ini denganmu.”
Tapi, bagaimana jika dua orang yang sama-sama tidak percaya cinta justru perlahan menemukan kembali arti cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shann29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Malam Pertama
Hari pernikahan akhirnya selesai.
Menjelang sore, satu per satu tamu mulai meninggalkan tempat acara. Tidak ada pesta lanjutan atau acara besar setelahnya. Setelah keluarga dan kerabat berpamitan, suasana perlahan kembali tenang.
Jove dan Nic pun tetap berada di rumah keluarga Dewantara.
Karena ingin menghormati keluarga Dewantara, Nic memutuskan untuk menginap satu malam di rumah tersebut sebelum mereka pindah ke apartemen keesokan harinya.
Alaska dan Jihan masih duduk di ruang keluarga.
Jonathan dan Jordi juga belum beranjak ke kamarnya masing-masing.
Begitu Jove ingin bergabung, Jordi langsung menatap kakaknya.
“Capek ya Kak?”
“Sedikit melelahkan.”
“Seharian senyum terus memang melelahkan.” Sahut Jonathan.
Jove menatap adiknya datar. “Aku tidak senyum terus.”
Jonathan tertawa kecil. “Benar. Kakak cuma senyum kalau lagi perlu aja.”
Jove menghela napas. “Kalau kalian tidak mau tidur, aku yang akan tidur duluan.”
Jihan tersenyum melihat putrinya. “Ya sudah. Istirahat sana, Mommy tau kamu dan Nic pasti lelah.”
Jove mengangguk.
Ia kemudian menoleh kepada Nic yang masih berbicara sebentar dengan Alaska.
“Nic, aku ke kamar dulu.”
Nic mengangguk. “Ya, aku akan menyusul nanti.”
Jove kemudian naik ke lantai atas.
Langkahnya terasa lebih ringan setelah hari yang panjang.
Hari ini ia menikah.
Aneh rasanya mengatakan kalimat itu dalam hati.
Ia sudah tahu sejak beberapa minggu lalu bahwa hari ini akan datang. Namun tetap saja, menjalani hari pernikahan secara langsung membuat semuanya terasa lebih nyata.
Bukan karena ada perasaan cinta yang tiba-tiba muncul.
Tidak.
Jove masih sama.
Hubungannya dengan Nic juga masih sama.
Mereka hanya sudah memiliki status yang berbeda.
Sekarang pria itu bukan lagi sekadar seseorang yang ia kenal karena urusan keluarga dan bisnis.
Nic adalah suaminya.
Jove membuka pintu kamar.
Ia masuk dan menyalakan lampu, duduk di tepi tempat tidur dan menatap sekeliling kamarnya sendiri.
Kamar itu masih terlihat sama.
Tak lama kemudian pintu kamar kembali terbuka,
Nic masuk ke kamar Jove.
Langkah Nic berhenti sesaat. Ia melihat sekeliling. Ini pertama kalinya ia masuk ke kamar Jove.
Selama ini Nic hanya mengenal Jove dalam suasana kantor, pertemuan keluarga, restoran, atau apartemen yang mereka pilih bersama.
Tetapi di Kamar ini sedikit berbeda.
Ada sisi Jove yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Warnanya lembut.
Rapi.
Tidak terlalu banyak dekorasi.
Semuanya terlihat sederhana, tetapi nyaman.
Kamar Jove didominasi warna putih dengan kombinasi soft tosca. Tidak terlalu banyak dekorasi, tetapi semuanya terlihat bersih dan nyaman. Beberapa benda kecil di ruangan itu menunjukkan bahwa pemiliknya memang menyukai warna tersebut.
Nic mengingatnya.
Soft tosca.
Warna kesukaan Jove.
Ia kemudian melihat ke arah tempat tidur.
Satu ranjang.
Hanya satu.
Nic diam beberapa saat.
Ini bukan kamar hotel.
Bukan pula apartemen yang sudah mereka persiapkan bersama.
Ini kamar Jove.
Malam itu menjadi malam pertama mereka sebagai suami dan istri.
Namun tidak ada yang benar-benar istimewa.
Dan ini pertama kalinya, ia menyadari bahwa ia tidak tahu harus melakukan apa.
Jove yang sedang meletakkan beberapa barang di meja akhirnya menyadari Nic masih berdiri di dekat pintu.
“Kamu kenapa?”
Nic menggeleng.
“Tidak apa-apa.”
Ia kemudian berjalan masuk.
Jove melirik tempat tidur, lalu sofa yang berada di dekat jendela.
“Hanya ada satu ranjang,” katanya datar. “Kamu tidur saja di ranjang, biar aku di sofa.”
Nic langsung menoleh.
“Tidak.”
Jove mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Ini kan kamarmu. Aku saja yang di sofa.”
“Tidak masalah. Aku bisa tidur di sofa.”
“Aku yang tidur di sofa.”
Jove menatapnya beberapa detik.
Nic tetap dengan pendiriannya.
“Lagipula aku pria. Tidak mungkin aku tidak mengalah dengan seorang wanita.”
Jove akhirnya menyerah.
“Baiklah.”
Tidak ada perdebatan lebih panjang.
Jove berjalan menuju lemari, mengambil sebuah bantal dan selimut baru.
Ia menyerahkannya kepada Nic.
“Ini.”
“Terima kasih.”
Nic menerima keduanya.
Ia kemudian meletakkan bantal di sofa.
Jove memperhatikannya sebentar sebelum kembali pada kegiatannya sendiri.
Tidak ada rasa canggung yang berlebihan.
Tidak ada percakapan mengenai malam pertama.
Bahkan mereka tidak membahas status baru mereka sebagai suami istri.
Jove duduk di tempat tidurnya sambil membuka tablet.
Beberapa pekerjaan yang tertunda sejak kemarin langsung diperiksanya.
Nic juga duduk di sofa.
Laptop dibuka.
Beberapa laporan perusahaan yang belum sempat ia baca sejak pagi kembali menjadi perhatiannya.
Kamar itu akhirnya dipenuhi suara kecil dari dua perangkat yang sedang digunakan.
Sesekali terdengar suara ketukan jari pada layar.
Tidak lebih.
Beberapa menit berlalu.
Jove masih membaca laporan.
Nic juga masih sibuk.
Seolah mereka hanya dua orang yang sedang bekerja di ruangan yang sama.
Padahal status mereka sudah berubah sejak pagi tadi.
Jove kemudian melihat jam.
Sudah cukup malam.
Ia mematikan tabletnya.
“Besok jam berapa ke apartemen?”
Nic mengangkat wajah dari laptop.
“Sehabis makan siang saja.”
Jove mengangguk.
“Oke.”
Hening kembali.
Tidak ada obrolan lanjutan.
Jove meletakkan tabletnya di meja samping tempat tidur.
Ia kemudian menarik selimut dan merebahkan tubuhnya.
Hari ini cukup melelahkan.
Bukan hanya karena acara pernikahan, tetapi juga karena sejak pagi ia harus bertemu banyak orang dan menjaga dirinya tetap terlihat baik-baik saja.
Beberapa menit kemudian, napasnya mulai teratur.
Jove tertidur.
Begitu saja.
Tanpa memikirkan Nic.
Tanpa merasa perlu memastikan pria itu masih terjaga atau sudah tidur.
Seolah keberadaan Nic di sofa tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Nic yang masih berada di sofa sempat mengangkat wajah.
Ia menatap Jove yang sudah tertidur.
Tidak ada ekspresi aneh di wajah perempuan itu.
Tenang.
Seolah hari ini tidak terjadi sesuatu yang besar.
Nic tersenyum tipis.
Pernikahan mereka memang berbeda.
Tidak ada malam pertama yang penuh kecanggungan.
Tidak ada tuntutan untuk bersikap seperti pasangan yang sedang dimabuk cinta.
Tidak ada kewajiban untuk menghabiskan malam bersama.
Mereka bahkan hampir tidak berbicara.
Nic kembali melihat laptopnya.
Beberapa menit kemudian, ia menutup laptop tersebut.
Ia meletakkannya di meja kecil di samping sofa.
Setelah itu, Nic mengambil bantal dan berbaring di sofa.
Ruangan kembali sunyi.
Dua orang yang sejak pagi telah resmi menjadi suami istri kini tidur di ruangan yang sama, tetapi tetap berada di dunia mereka masing-masing.
Jove di tempat tidur.
Nic di sofa.
Tidak ada yang berubah dari kesepakatan mereka.
Malam pertama pernikahan mereka bahkan tidak meninggalkan cerita yang istimewa.
Dan mungkin memang seperti itulah yang mereka inginkan.
Sederhana.
Tanpa drama.
Tanpa tuntutan.
Tanpa perasaan yang belum mereka miliki.
Untuk saat ini, pernikahan mereka memang hanya sebatas kertas.
Dan malam pertama itu menjadi awal dari kehidupan baru yang mereka jalani dengan cara yang sangat berbeda dari pasangan suami istri pada umumnya.