Satu bulan menikah, IPTU Milka harus menelan kenyataan pahit. Kesetiaannya dibalas pengkhianatan keji oleh sang suami, Vando, yang diam-diam bermain gila dengan sahabatnya sendiri.
Hancur dan menangis di trotoar dengan seragam dinasnya, Milka tak tahu bahwa air matanya disaksikan oleh Theo, pria dari masa lalu yang kini menjadi Dokter Bedah genius sekaligus penguasa sindikat bawah tanah.
Pria yang dulu mundur demi kebahagiaan Milka, kini murka melihat wanita impiannya disia-siakan. Lewat jaringan gelapnya, Theo bergerak cepat menguliti kebusukan Vando dan Irana.
Bagi Theo, menyerahkan suami pengkhianat ke jalur hukum saja tidak cukup. Pria yang telah membuat Milka menangis ... harus merasakan kekejaman pisau bedahnya!
"Biar hukum bekerja lewat tanganmu, Milka. Tapi untuk pria yang menyakitimu ... izinkan aku yang membereskannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Dia Akan Menyesal
Vando tersedak mendengar pertanyaan Milka. Sudut bibir Milka menajam dengan mata tajam. Namun, segera ia tepis dan mengambilkan air untuk suaminya itu dan langsung membantu minum.
Vando buru-buru meraih gelas itu. Milka membantu menyuapkannya dengan wajah penuh kepedulian. Namun jemarinya yang masih gemetar membuat gelas itu sedikit lebih miring.
Air yang seharusnya masuk ke mulut justru menyembur ke hidung Vando.
"Uhuk! Uhuk!"
Vando langsung batuk hebat hingga mendorong gelas itu tanpa sengaja.
Praaank
Terdengar pecahan gelas yang terdengar begitu nyari. Akan tetapi, Milka tersenyum puas dengan mata tajam.
"Kamu kenapa, Mas?"
Vando mengusap dada berharap makanan yang terasa tersangkut di rongga pernapasannya itu segera turun ke bawah. Ia menatap Milka dengan tajam.
"Apa yang kamu lakukan? Kamu mau membunuh Mas, ya?"
"Aku cuma ingin menolong. Masa menolong suami sendiri malah dibilang ingin membunuh?" Milka bangkit dan segera masuk ke kamarnya.
Di dalam sana, jelas tercium sisa-sisa parfum asing, bukan miliknya dan milik Vando. Sudut bibir Milka berkedut menahan amarah yang bersiap meledak.
'Tenang ... Aku harus tenang. Kita ikuti saja permainannya sembari mengumpulkan bukti. Agar dia merasakan penyesalan telah mengkhianati seorang penyidik ulung.'
'Aku tidak akan bertindak gegabah.'
'Dan seorang penyidik bekerja dengan bukti.'
.
.
Tak lama kemudian, Vando kembali masuk ke kamar mereka. Ia menemukan Milka telah berganti pakaian.
"Maafkan, Mas, ya? Tadi Mas tak bermaksud menuduhmu," ucapnya memasang wajah penuh menyesalan.
Milka memutar badan dan memasang senyuman semanis mungkin.
"Iya, nggak apa, Mas. Aku paham kok." Ia pun bangkit dan mengumpulkan pakaian-pakaian kotor yang berada di depan kamar mandi.
"Aku cuci baju dulu ya. Takutnya besok pagi gak sempat karena buru-buru," gumamnya pelan, tetapi masih bisa didengar oleh Vando. Suaminya itu mengangguk dan kembali sibuk dengan ponselnya.
Saat melintas di depan Vando, Milka sempat melihat layar ponsel suaminya. Dia sedang mengetik pesan, dan pada siapa lagi kalau bukan dengan selingkuhannya yang tak lain adalah Irana, sahabat karib Milka.
Setelah sampai di ruangan khusus mencuci, Milka memilah beberapa pakaian, salah satunya kemeja kerja milik Vando.
Perlahan ia mendekatkan kerah kemeja itu ke hidung. Bukan aroma parfum suaminya, dan aromanya persis sama saat ia memasuki kamar tadi.
Milka menghirupnya sekali lagi. Tak mungkin salah. Tanpa ragu, ia mengambil kantong plastik bening dari dalam lemari. Kemeja itu dimasukkan ke dalamnya. Lalu ia mengambil secarik kertas kecil. Dengan pulpen hitam ia menulis perlahan.
Barang Bukti 01. Kemeja kerja Delvando. Diduga terkontaminasi parfum wanita lain.
Ia menatap tulisan itu beberapa detik. Namun sorot matanya dalam, tajam, penuh rencana.
Saat ini, ia tak lagi berperan sebagai istri yang terluka. Melainkan sebagai seorang penyidik, yang akan membuat pengkhianat itu tak berkutik.
Setelah selesai mencuci, ia kembali masuk ke dalam kamar. Ternyata sang suami sedang berada dalam kamar mandi.
Sebuah suara notifikasi terdengar dari atas nakas samping ranjang.
Ting.
Milka menoleh.
Di atas meja, ponsel lama milik Vando menyala beberapa detik. Ponsel tersebut, sebenarnya sudah tak dipakai lagi oleh suaminya semenjak dihadiahi ponsel baru oleh Milka. Otak cerdasnya langsung bergerak membuka kamera ponsel
Sebuah pesan masuk, pengirimnya hanya satu huruf.
I
"Besok rumah kosong lagi?" ❤️
Milka langsung memotretnya. Bibirnya tersenyum penuh makna.
"Aku tak menyangka, kalian seperti itu ... Bahkan, handphone lamanya, kini aktif kembali agar aku tak curiga? Pria bodoh mana yang aku nikahi hingga meninggalkan jejak dengan sengaja di depan mata seorang penyidik?"
Milka menyimpan foto itu ke dalam folder baru. Nama folder tersebut hanya terdiri dari dua kata. Barang Bukti.
Ia memandang layar ponselnya beberapa saat. Kemudian berbisik pelan.
"Kalau memang ini perang ... aku pastikan tidak akan kalah."
.
.
Di ruang bawah tanah White Scalpel...
Bonar menyerahkan sebuah flashdisk kepada Theo. "Big Boss. Di dalamnya ada semua bukti untuk sementara."
Theo menerimanya tanpa mengalihkan pandangan dari monitor. "Masih kurang."
Bonar mengernyit. "Kurang apa Boss?"
Theo menatap foto Delvando yang terpampang di layar. "Aku tidak hanya ingin membuktikan perselingkuhannya."
"Lalu?"
Sudut bibir Theo perlahan terangkat. Senyumnya tipis. Namun cukup membuat seluruh ruangan bergidik.
"Aku ingin memastikan ... saat Milka menjatuhkannya nanti ... tak ada lagi tempat baginya untuk berdiri."
Theo mengambil sebuah spidol hitam.
Di papan kaca besar, hanya ada dua nama.
DELVANDO ARGIANDA
IRANA
Dengan satu garis merah, Theo melingkari keduanya.
"Mulai besok..."
"Hancurkan kehidupan mereka sedikit demi sedikit."
Bonar dan seluruh anggota White Scalpel berdiri tegak.
"Siap, Big Boss!"
Ruangan kembali sunyi. Tak ada seorang pun berani menyela. Karena mereka semua tahu ... Setiap kali Big Boss mengucapkan kalimat seperti itu ... Target akan kehilangan segalanya.
*Bersambung*
dulu bapaknya Theo nyusahin Bapaknya Milka, sekarang Milka nyusahin Theo, tapi gpp, Theo suka direpotin Milka 🤣🤣🤣