Di penghujung tahun 1989, Kota Marunda digegerkan oleh hilangnya Nirmala Hadiningrat, anak perempuan berusia tujuh tahun dari keluarga terkaya dan paling berpengaruh di kota tersebut. Tanpa ada tuntutan uang tebusan, satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pelaku di kamar korban hanyalah sebutir talas hutan misterius yang dibungkus kain kafan kusam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Hollow Archive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peluru Beruntun
Aris melepaskan cengkeramannya pada Bramantyo. Dia mengangguk, memberi isyarat agar sang wartawan senior mengikutinya tanpa suara.
"Ikuti aku dari belakang, Bram. Jangan nyalakan pemantik api atau senter," bisik Aris,
Mereka berdua bergerak membungkuk menuju pintu samping rumah yang berbatasan langsung dengan lorong di antara dinding beton tetangga.
Aris mengintip dari celah kusen. Di luar, suasana terlalu sepi untuk ukuran kompleks yang biasanya masih menyisakan suara radio atau lolongan anjing.
Aris keluar lebih dulu dengan revolver yang tetap kokoh di genggamannya. Buku kas berdarah 1959 mengganjal di balik jaket kulit cokelatnya yang tebal.
Bramantyo mengikuti dengan langkah bergegas, tangannya mendekap tas kamera kanvas miliknya yang berisi draf tulisan.
Mereka menyusuri jalur pagar tanaman puring tinggi menuju ke arah depan kompleks, tempat Toyota Corolla DX milik Aris terparkir di bawah pohon mangga besar. Pintu kemudi Corolla DX itu terbuka sedikit. Di dalam kabin gelap, tubuh Januar tampak terkulai lemas di atas roda setir, tidak bergerak sama sekali.
"Januar..." desis Bramantyo, menahan napasnya dengan cemas. Sebelum Aris sempat berlari mendekati mobilnya, sorot lampu jauh yang sangat terang dari sebuah mobil jip militer tiba-tiba menyala dari ujung jalan kompleks, langsung mengunci posisi Aris dan Bramantyo di dekat pagar tanaman.
Cahaya yang menyilaukan itu membuat mereka terpaksa menyipitkan mata. Dari balik siluet jip yang menderu tersebut, suara kokangan senjata otomatis.
Dua orang pria dengan jaket militer tanpa atribut melangkah turun, memegang senapan serbu jenis M16—senjata yang tidak seharusnya berada di tangan warga sipil di era itu.
"Detektif Aris,"
"Serahkan buku kas milik kakek Ratna secara baik-baik, atau malam ini Kota Marunda akan kehilangan dua orang aparat dan seorang wartawan bodoh sekaligus."
Aris menarik tubuh Bramantyo untuk merunduk di balik beton pembatas selokan, berlindung dari potensi peluru dalam hitungan detik.
DOR! DOR!Aris tidak menunggu para pembunuh itu menyelesaikan ancamannya. Sambil merunduk di balik beton, dia menyandarkan pergelangan tangan kanannya dan melepaskan dua tembakan beruntun menggunakan revolver kaliber miliknya.
Targetnya sangat presisi: dua bohlam lampu jauh jip militer PRANG! PRANG! Dua dentuman itu disusul suara pecahan kaca yang nyaring.
Jalanan kompleks perumahan nomor 42 kembali dalam kegelapan malam. Hujan percikan api dari lampu jip yang pecah menerangi siluet para pembunuh yang terkejut dan mundur untuk berlindung.
"Kurang ajar! Tembak mereka!" teriak suara dari dalam jip.RATATATATATAT!Rentetan peluru dari senapan otomatis M16 langsung menyalak, desingan peluru tajam merobek dedaunan pagar tanaman puring dan menghantam dinding beton rumah nomor 42, menciptakan rontokan semen dan debu yang beterbangan di atas kepala Aris dan Bramantyo.
"Bram! Merangkak lewat selokan sekarang! Menuju bagian belakang mobilku!" perintah Aris setengah berteriak di balik bisingnya berondongan peluru.
Memanfaatkan kebutaan para pembunuh akibat hancurnya lampu jip, Aris merangkak cepat di dalam parit semen kering. Buku kas berdarah 1959 di balik jaket kulit cokelatnya harus tetap aman.
Tujuannya adalah mencapai pintu kanan mobilnya untuk memeriksa kondisi Januar yang terkulai di balik kemudi sebelum para pembunuh itu menyadari posisi mereka yang sebenarnya.
Saat Aris berhasil mendekati pintu mobil, rentetan tembakan M16 tiba-tiba berhenti. Para pembunuh itu mulai mengganti magasin senjata mereka, menyisakan waktu beberapa detik yang sangat berharga.