NovelToon NovelToon
Satu Rasa Yang Tak Pergi

Satu Rasa Yang Tak Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Yatim Piatu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ms.Una

Seri ke-satu

Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.

Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teman baru

Clara menunduk, sudut bibirnya sedikit terangkat, bukan karena lucu, melainkan karena ia mulai paham pola yang sama berulang sejak kecil.

“Kamu mewarisi bakat ibumu. Di dirimu ada darah nenek. Jadi sekarang kamu adalah tanggung jawab nenek.”

Clara mengangkat wajahnya perlahan.

“Dulu saat Ayah dan Ibu meninggal, aku juga masih punya darah nenek.”

Suaranya tidak keras. Tidak gemetar. Hanya tenang.

Ruangan langsung hening. Hanya terdengar napas yang tertahan.

“Niat kami ke sini baik, Clara. Kami hanya takut keluarga dari pihak ayahmu akan mengambil uangmu” ujar Tante Sinta mencoba mengambil alih situasi.

Clara menatapnya lurus.

“Tante… aku sudah dewasa. Aku punya tanggung jawab sendiri atas kepemilikanku.”

Ia menekankan satu kata itu dengan jelas. Kepemilikanku.

Raut wajah Sinta berubah kesal, tetapi ia menahannya karena ibunya sudah berdiri lebih dulu.

“Sudah, Sinta. Ayo kita pulang,” ucap Murni dingin.

Mereka bahkan tidak menyentuh teh yang Clara hidangkan.

Clara ikut berdiri.

“Hati-hati pulangnya, Nek… Tante.”

Namun sebelum melangkah keluar, Murni berhenti di ambang pintu.

“Kamu tentu tidak lupa kan, Clara… ibumu adalah anak nenek. Dari dulu dia tidak pernah mengecewakan nenek. Kecuali karena menikahi ayahmu itu.”

Kalimat itu dijatuhkan seperti batu. Clara terdiam, tangannya mengepal di samping tubuhnya. Kukunya hampir menekan kulitnya sendiri.

Ia mengerti betul maksud kalimat itu, ibumu tidak pernah mengecewakan nenek.

Artinya: jangan berani menolak.Mesin uang sudah tidak ada, sekarang adalah giliranmu.

Namun Clara tidak menjawab, ia hanya menatap punggung neneknya yang perlahan menjauh dari halaman rumah.

Begitu pintu tertutup, Clara berdiri beberapa detik tanpa bergerak. Dadanya naik turun.

Ia berjalan kembali ke ruang tamu, menatap dua gelas es teh yang masih utuh. Esnya mulai mencair, pelan-pelan ia duduk.

“Ibu… Ayah…” gumamnya hampir tak terdengar.

"Clara akan melakukan apapun untuk mempertahankan rumah ini."

Di dalam mobil milik Sinta, suasana terasa panas meski pendingin udara menyala.

“Bu, kenapa dulu enggak diambil saja sertifikat rumah Kak Anita? Lihat sekarang Clara jadi enggak sopan begitu sama keluarga orang tuanya. Pasti sifatnya menurun dari Imam,” sungut Sinta dengan wajah kesal.

Murni mendecakkan lidahnya. “Sertifikat rumah itu atas nama Clara. Memangnya kamu pikir keluarga Imam yang serakah mau merelakan rumah itu?” ucapnya tanpa malu menyebut orang lain serakah, seolah lupa pada keserakahannya sendiri.

“Sekarang harga tanah di Jakarta sudah mahal, Bu. Meskipun rumahnya tua, harga tanahnya pasti ratusan juta.”

Murni hanya diam, menatap jalan di depan dengan pikiran yang berputar.

Keesokan paginya, seperti biasa Clara berjalan sendirian di lorong menuju ruang kelas Fakultas Sastra. Setiap ia melewati mahasiswa lain, beberapa di antara mereka berbisik, ada yang menyapanya lebih dulu, bahkan terang-terangan mengajaknya berbicara. Mungkin ini efek dari videonya yang viral.

Clara masuk ke kelas dan duduk di bangku depan. Ia membuka buku catatan dan mulai menuliskan beberapa tugas yang tertera di papan.

“Wah, gila keren banget loh, Clara, esai lo,” ucap Wulan tiba-tiba di depan mejanya dengan senyum tulus.

Clara mengangkat kepala dan membalas senyum itu. “Terima kasih,” sahutnya singkat.

“Halah, cuma menang gituan aja bangganya selangit. Hadiahnya juga receh,” terdengar suara Agnes saat melewati mereka.

“Oh iya, lupa kan anak yatim piatu, mana jalur beasiswa. Jelas dong uang segitu sangat banyak,” sambungnya lagi dengan nada meremehkan.

“Agnes, lo apaan sih? Kemarin Risma menang lomba online juga lo gituin,” balas Wulan kesal melihat keangkuhan Agnes.

Clara hanya diam mendengar perdebatan dua perempuan dengan sifat yang bertolak belakang itu. Ia tahu sejak semester satu bahwa Agnes adalah anak pemilik Mahardika Literasi Group dan memiliki kebiasaan membully siapa pun yang menang lomba atau menonjol dalam kompetisi.

Selama tiga tahun ini Clara tak pernah sekalipun menjadi pusat perhatian di kelas. Ia cenderung pendiam, menjaga jarak, hanya sebatas saling sapa dengan teman-temannya. Kini ketenangan itu runtuh karena namanya mulai dikenal dan Agnes merasa terusik.

Agnes mendecakkan lidah. “Lu dapat apa sih, Lan, dengan membela kaum miskin begitu?” tanyanya sinis.

Wulan geram mendengar kalimat yang sangat buruk itu. Ayahnya seorang peneliti bahasa dan kebudayaan, dan sejak kecil ia diajarkan bahwa budaya yang baik adalah saling menghargai dan menolong, itulah sebabnya ia selalu terpancing setiap kali Agnes menghina orang lain.

“Gak apa-apa, biarkan saja,” ucap Clara pelan saat Wulan hendak membalas lagi.

Tepat saat itu dosen masuk ke dalam kelas, dan ruangan yang semula panas oleh percakapan langsung hening.

Setelah materi berakhir, dosen memberikan tugas kelompok tentang esai reflektif dengan tema racun dan penawar. Begitu dosen keluar ruangan, suasana kelas langsung riuh oleh suara kursi yang digeser dan obrolan yang saling tumpang tindih. Clara sibuk membereskan alat tulisnya, memasukkan pulpen dan buku catatan ke dalam tas dengan rapi seperti biasa.

“Clara, sudah punya kelompok belum?” tanya Wulan yang tiba-tiba berdiri di samping mejanya.

Clara menoleh. “Masih belum.”

“Mau nggak satu kelompok sama gue, Adit, Rio, dan Zita?” tawar Wulan sambil menunjuk tiga temannya yang duduk tak jauh dari mereka.

Biasanya, Clara akan kebagian kelompok sisa, mereka yang tidak diajak bergabung oleh lingkaran mahasiswa elite yang sejak awal sudah membentuk gengnya sendiri. Namun sekarang ia justru dilirik lebih dulu. Ia tahu ini bukan sekadar kebetulan. Namanya sedang diperbincangkan, wajahnya viral, dan prestasinya baru saja naik ke permukaan. Ada rasa senang yang tidak bisa ia pungkiri, sekaligus kesadaran bahwa citranya sedang terbentuk.

“Boleh,” jawab Clara sambil tersenyum.

“Kalau gitu nanti siang kita ke perpustakaan kota buat cari referensi?” tanya Zita antusias.

Kini mereka berjalan bersama menuju kantin. Clara menggenggam tali tasnya sedikit lebih erat. “Nggak bisa. Nanti siang aku harus kerja sampai sore. Malam baru ada waktu. Maaf ya… mungkin kalian bisa cari teman kelompok yang lain.”

Wulan langsung mengerucutkan bibirnya. “Kalau malam perpustakaan tutup.”

Clara merasa tidak enak melihat raut kecewa itu. “Aku jarang cari referensi dari buku. Aku lebih suka turun langsung ke lapangan. Kalau kalian mau, kita bisa ke rumah sakit atau puskesmas. Kita bisa tanya langsung soal racun, penawar, dosis, atau kasus nyata.”

Rio mengangkat alis. “Wah, boleh tuh. Kayaknya bakal jadi pengalaman baru.”

“Gue nggak pernah kepikiran cari referensi langsung ke lapangan,” sahut Adit, disertai anggukan Zita.

“Oke, nanti malam kita jemput lo abis kerja. Habis itu langsung ke rumah sakit,” putus Wulan mantap.

Di kantin, Wulan mentraktir mereka semua, termasuk Clara, suasana cukup ramai. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

Agnes melintas di depan meja mereka bersama beberapa temannya dari fakultas lain. Senyum tipisnya menyiratkan sesuatu yang tidak ramah.

“Gue tadi dapat info kalau kompetisi itu cuma gimmick buat promosi perusahaan baru,” ucapnya cukup keras agar terdengar.

“Gue aja nggak pernah dengar tuh kompetisi, padahal ibu gue kerja di perusahaan farmasi. Aneh nggak sih?” timpal salah satu temannya.

Bisik-bisik mulai terdengar di sekitar mereka. Adit, Rio, dan Zita saling lirik dan sedikit tersenggol rasa ragu.

Wulan langsung menggebrak meja. “Heh, Agnes. Mulut lo itu kayaknya gatel banget ya kalau nggak ngomongin orang. Mau gue garuk sekalian?”

Clara menahan tawa. Ia teringat Thalia.

Gaya Thalia banget kalau sudah marah, batinnya.

“Gue nggak ngomong sama lo, Wulan,” balas Agnes dingin.

Clara perlahan berdiri. Tidak ada nada tinggi dalam suaranya, tidak ada emosi yang meledak.

“Mungkin kalian kurang tahu soal Forrer Group?” ucapnya tenang. “Gimana ya kalau mereka dengar soal informasi yang nggak benar kayak gini?”

Suasana di meja sebelah langsung hening. Nama itu bukan nama sembarangan. Agnes menegang, rahangnya mengeras. Ia tahu Clara tidak sedang menggertak, ia sedang mengingatkan.

Karena kata-kata Clara disampaikan tanpa marah, tanpa nada menantang, justru dengan ketenangan yang sulit dilawan. Agnes memilih memutar badan dan pergi tanpa membalas.

Wulan menatap Clara dengan mata berbinar. “Anjir, keren banget lo barusan.”

Clara hanya tersenyum tipis, lalu kembali duduk. Dalam hati ia tahu, ini baru permulaan. Kini ia bukan lagi mahasiswa biasa yang bisa luput dari perhatian. Dan di tempat seperti ini, tempat yang penuh persaingan ketat, perhatian sering kali lebih tajam daripada pisau.

1
falea sezi
bkin Clara g menye Thor bikin dia move on dan bahagiain diri sendiri jual. rmh tinggal. tempat lain biar bebas dr. keluarga toxic
falea sezi
lupain Noel. Clara laki. yg bisanya manut bapak nya itu g bs mandiri
falea sezi
move on Clara qm. berhak bahagia dengan nathan lupain. masa. lalu
falea sezi
pasti Noel cwok lemah plin plan g cocok ma Clara moga aja nathan bisa bkin Clara. move on lahh males liat Clara gini kesannya kayak menye menye
Una.: tenang ya kak clara orang yang kuat, terimakasih sudah baca 🤗
total 1 replies
falea sezi
move on Clara siapa tau Noel mu ngilang karena di jodohkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!