(PENERUS WARISAN DEWA SEASON 2)
Tiga Tahun Kemudian.
Dunia Tianyun, Alam Fana. Kerajaan Zhao.
Ini adalah sebuah dunia yang tidak memiliki konsep Qi, tidak ada kultivator yang membelah gunung, dan tidak ada dewa yang menginjak-injak langit. Ini adalah alam yang murni fana, di mana baja dan kuda adalah senjata tertinggi, dan umur seratus tahun adalah sebuah mukjizat.
Di halaman belakang Istana Kerajaan Zhao, bunga persik sedang bermekaran dengan indahnya. Angin musim semi berhembus sejuk.
Di atas hamparan tikar bambu yang mewah, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun sedang duduk diam menatap kelopak bunga yang jatuh. Wajahnya sangat tampan namun memancarkan ketenangan yang tidak wajar untuk anak seusianya. Matanya hitam pekat, sedalam lautan malam.
Ia adalah Zhao Xuan, Pangeran Ketiga dari Kerajaan Zhao.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 112: Teratai Darah di Atas Takhta
Bayangan raksasa dari Kapal Roh Teratai Darah menutupi matahari di atas Istana Kerajaan Zhao.
Tekanan spiritual dari puluhan kultivator tingkat Nascent Soul merembes turun, menindas udara hingga terasa seberat timah. Di halaman Aula Utama, ribuan Prajurit Lapis Baja Zhao jatuh berlutut. Pedang dan tombak fana mereka bergemerincing menghantam lantai batu. Mereka tidak menyerah, namun tubuh mereka secara biologis tidak mampu menahan gravitasi jiwa dari para kultivator.
Di undakan tertinggi Aula Utama, Raja Zhao berdiri dengan bertumpu pada pedang kerajaannya, menolak untuk berlutut. Keringat dingin membanjiri wajahnya. Di sisinya, Zhao Tian memuntahkan seteguk darah, namun tetap berdiri tegak melindungi Zhao Ling yang gemetar pucat.
Sang Ratu berdiri selangkah di belakang Raja Zhao. Wajahnya sangat tenang. Tangannya perlahan menyilang di depan dada. Di dalam reruntuhan Dantian-nya, ketujuh Roda Bintang Hitam yang retak mulai berputar pelan. Ia bersiap membakar esensi nyawanya sebuah pengorbanan mutlak yang akan memanggil Binatang Suci dari Benua Barat, namun dengan harga nyawanya sendiri.
Maafkan aku, Suamiku... Anak-anakku, batin Sang Ratu, Niat Membunuh dari klan terkuat di alam semesta mulai menyebar tipis dari tubuhnya.
Namun, sebelum Roda Bintang pertama menyala, pusaran angin bercahaya merah darah turun dari geladak kapal.
Tiga sosok mendarat di pelataran batu. Dua di antaranya adalah Tetua Klan Xiao berjubah abu-abu dengan kultivasi Puncak Nascent Soul. Di depan mereka, berdiri seorang wanita memukau bergaun sutra merah darah, mengenakan cadar tipis yang menyembunyikan sebagian wajahnya. Aura sedingin es abadi memancar dari matanya yang berwarna zamrud.
Itu adalah Xiao Mei. Eksistensi Awal Soul Transformation yang kini ditakuti di Benua Tengah sebagai "Dewi Teratai Pembantai".
"Raja fana," salah satu Tetua Klan Xiao melangkah maju, suaranya menggelegar penuh arogansi surgawi. "Wilayah ini kini berada di bawah panji Klan Kuno Xiao. Kami tidak membutuhkan emas atau tanah kotor kalian. Serahkan seratus ribu pemuda dan pemudi fana untuk kami panen jiwanya sebagai persembahan ke Reruntuhan Dewa Kuno. Berlutut dan bersyukurlah karena kami tidak menghapus garis keturunan kalian hari ini!"
Mata Raja Zhao memerah karena amarah. "Seratus ribu rakyatku? Untuk dijadikan tumbal sihir kotor kalian?! Kerajaan Zhao lebih baik hancur menjadi debu daripada menjual darah daging rakyatnya sendiri kepada iblis!"
"Kesombongan semut yang tidak tahu diri!" Tetua itu mendengus marah. Ia mengangkat tangannya, memadatkan sebuah telapak raksasa dari Qi api yang siap meratakan separuh Aula Utama beserta keluarga kerajaan tersebut.
Sang Ratu memejamkan matanya, mengalirkan darahnya ke Roda Bintang di dadanya.
Namun, tepat di sepersekian detik sebelum benturan itu terjadi, sebuah tangan kecil yang hangat menggenggam jari-jari Sang Ratu, menghentikan aliran esensinya secara paksa.
Sang Ratu tersentak dan menunduk. Zhao Xuan (12 tahun) telah melangkah melewatinya, berjalan dengan langkah pelan, ringan, dan sangat santai ke depan ayahnya.
"Xuan'er! Jangan ke sana!" Raja Zhao berteriak panik, mencoba meraih bahu putra bungsunya.
Zhao Xuan tidak menoleh. Di dalam lautan kesadarannya, satu dari sepuluh Roda Bintang Hitam primordial yang ia kira sebagai kekuatan Cincin Jiwa Kuno berputar satu derajat.
Tanpa ada kilatan cahaya atau ledakan Qi, sebuah medan gravitasi absolut meluas dalam radius tiga meter di sekitar Zhao Xuan. Telapak api raksasa tingkat Nascent Soul milik Tetua Xiao yang sedang meluncur turun itu tiba-tiba tersedot ke dalam kehampaan, lenyap tanpa sisa layaknya setetes air yang jatuh ke padang pasir.
Keheningan seketika membekukan pelataran istana.
Tetua Xiao membelalakkan matanya, melihat tangannya sendiri dengan kebingungan. Ke mana perginya serangan mematikannya? Apakah tertiup angin?
Zhao Xuan berdiri di undakan batu, membalas tatapan para kultivator itu. Wajah remajanya memancarkan kepolosan, namun ia meletakkan kedua tangannya di belakang punggung dengan sebuah postur yang teramat sangat spesifik. Postur yang memancarkan arogansi absolut, seolah langit dan bumi berada di bawah kakinya.
Ia tidak menatap kedua Tetua yang sedang kebingungan itu. Mata hitam pekat Zhao Xuan menatap lurus ke sepasang mata zamrud Xiao Mei.
"Nona bergaun merah," suara Zhao Xuan kekanak-kanakan, mengalun tenang di tengah udara yang tegang. Ia memiringkan kepalanya sedikit. "Debu di halaman istanaku ini terlalu kotor untuk menyentuh ujung gaun sutramu. Bukankah sangat tidak elegan bagi bunga teratai untuk mengotori kelopaknya hanya demi menginjak-injak semut?"
Di balik cadarnya, napas Xiao Mei terhenti seketika.
Jantung sang dewi es itu seakan dipukul oleh godam tak kasat mata.
Kalimat itu... nada suaranya... dan yang paling mengerikan, cara remaja fana itu menatapnya. Itu bukanlah tatapan seorang anak yang ketakutan. Itu adalah tatapan kebosanan seorang penguasa bayangan yang sedang melihat hewan peliharaannya berbuat onar. Mata hitam yang seolah mampu menelan cahaya itu adalah bayangan cermin yang identik dengan mata emas mendiang Lin Xuan!
Tidak mungkin... Pikiran Xiao Mei terguncang hebat. Yin Kehancuran di dalam Dantian-nya bergejolak tak terkendali, membuat udara di sekitarnya membeku menjadi serpihan es merah. Tuan Bayangan sudah hancur menjadi debu. Tapi anak ini... postur tangannya...
Melihat Nona Mudanya terdiam kaku, Tetua Xiao merasa otoritasnya direndahkan oleh seorang bocah fana. "Beraninya kau menatap Nona Muda kami secara langsung, bocah tengik! Matilah!"
Tetua itu mencabut pedang terbangnya, bersiap menebas leher Zhao Xuan.
Mata Zhao Xuan menyipit. Niat Membunuh Asuranya perlahan bangkit, bersiap mematahkan leher tetua itu di depan mata Xiao Mei, tidak peduli jika identitasnya terbongkar.
Brak!
Sebelum Zhao Xuan bergerak, Xiao Mei melesat dengan kecepatan Soul Transformation. Tangan putihnya yang memancarkan aura sedingin es mencekik leher Tetua Xiao dari belakang, mengangkat pria tua itu ke udara.
"N-Nona Muda... apa yang..." Tetua itu tersedak, wajahnya membiru.
"Tarik pedangmu," suara Xiao Mei bergetar menahan emosi yang meluap-luap, matanya yang memerah menatap tajam ke arah tetuanya sendiri. "Siapa yang memberimu izin untuk mengangkat senjata di halaman ini?"
Xiao Mei melempar tetua itu ke lantai batu hingga terbatuk darah. Ia kemudian melangkah maju, perlahan menaiki undakan batu, mendekati Zhao Xuan. Ratusan Prajurit Zhao menahan napas mereka, mengira sang iblis wanita itu akan membunuh pangeran kecil mereka. Raja Zhao dan Zhao Tian bersiap menerjang maju.
Namun, Xiao Mei berhenti tepat dua langkah di depan Zhao Xuan.
Sang dewi yang ditakuti di Benua Tengah itu menatap lekat-lekat ke dalam mata hitam Zhao Xuan. Ia mencari jejak Qi, mencari serpihan jiwa, mencari apa saja yang bisa membuktikan bahwa ilusinya adalah nyata. Namun tubuh Zhao Xuan murni fana, meski dihiasi oleh ketenangan yang mematikan.
Di bawah tatapan memohon itu, sudut bibir Zhao Xuan melengkung tipis sebuah senyuman rahasia yang hanya pernah ia berikan kepada Panglimanya di atas Kapal Xuanwu bertahun-tahun lalu.
Zhao Xuan perlahan mengangkat tangannya, mengambil saputangan sutra putih dari balik lengan bajunya, lalu menyodorkannya kepada Xiao Mei.
"Matamu merah, Nona," ucap Zhao Xuan lembut, menggunakan intonasi yang persis sama saat Lin Xuan menghentikan tangisan Xiao Mei di masa lalu. "Penguasa yang sejati tidak meneteskan air mata di depan semut. Simpan pedangmu, dan masuklah. Ibundaku meracik teh krisan yang sangat enak hari ini."
Pertahanan mental Xiao Mei hancur lebur.
Setetes air mata lolos dari sudut matanya, membasahi cadarnya. Ia menerima saputangan itu dengan tangan bergetar hebat. Wangi saputangan itu murni wangi istana fana, namun bagi jiwa Xiao Mei, ia baru saja menemukan kembali matahari di dunia yang gelap gulita.
Ini dia... Aku tidak tahu bagaimana dewa melakukannya, tapi ini dia, batin Xiao Mei menjerit dalam kebahagiaan yang menyakitkan. Ia menelan seluruh arogansinya, memaksa wajahnya kembali menjadi topeng es agar tetua-tetuanya tidak menaruh curiga pada anak ini.
Xiao Mei berbalik menatap kedua Tetuanya yang masih syok di bawah undakan.
"Kirim pesan ke seluruh armada Klan Xiao di perbatasan," perintah Xiao Mei mutlak, suaranya kembali sedingin badai salju. "Kerajaan Zhao ini... tanah ini, udara ini, dan seluruh rakyat di dalamnya, kini berada di bawah perlindungan mutlak pribadiku. Klan Xiao akan mencari kuota perburuan di kerajaan lain. Jika ada faksi dari Sekte Langit Absolut atau Klan Yao yang berani melangkah masuk melintasi tembok istana ini..."
Niat Membunuh tingkat Soul Transformation meledak dari tubuh Xiao Mei, mewarnai langit Ibukota menjadi merah darah.
"...Aku akan membantai mereka hingga anjing penjaga sekte mereka tidak tersisa."
Kedua Tetua itu menelan ludah, menundukkan kepala dengan ketakutan absolut. "S-Sesuai perintah Nona Muda!"
Raja Zhao, Sang Ratu, dan seluruh pejabat fana mematung. Mereka baru saja bersiap menghadapi pembantaian kiamat, namun dalam satu putaran waktu yang aneh, dewi pembunuh ini tiba-tiba mendeklarasikan perlindungan mutlak atas kerajaan mereka. Dan semua itu terjadi hanya karena Pangeran Bungsu mereka... menyodorkan saputangan?
Di belakang keluarganya yang masih tercengang, Zhao Xuan melipat tangannya di balik punggung. Ia menatap punggung Xiao Mei yang sedang berjalan menuruni tangga.
Selamat datang kembali, jenderalku yang cengeng, batin sang Asura, senyum dominasi terukir di wajah fananya.
Dengan Xiao Mei dan Klan Xiao menjadi tameng di depan istana, Zhao Xuan kini memiliki kebebasan absolut untuk bergerak di dalam bayangan, menggunakan Sekte Langit Asuranya untuk merobek-robek Klan Yao dan Sekte Langit Absolut dari dalam tanpa ada yang menyadarinya.