NovelToon NovelToon
Di Balik Darah Yang Kucinta

Di Balik Darah Yang Kucinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Sci-Fi
Popularitas:218
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.

Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.

Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.

Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Keheningan yang mencekik dan penuh dengan ketakutan setelah Lusy kehilangan kesadaran hanya bertahan beberapa detik saja sebelum kenyataan yang lebih mengerikan datang menghampiri mereka.

Saat Axel dan Doni hendak meraih tubuh ringkih Lusy untuk mengangkatnya ke kamar tidur, sepasang mata wanita itu mendadak terbuka lebar dengan kecepatan yang sangat tidak biasa. Namun, tidak ada lagi sedikit pun binaran cinta atau akal budi yang biasanya selalu menghiasi mata wanita yang dicintainya itu.

Pupil matanya yang tadinya lebar dan berwarna cokelat menyusut tajam menjadi titik hitam yang sangat kecil, menyisakan selaput merah pekat yang mendominasi seluruh area skleranya.

Lusy tidak bangun atau bergerak seperti manusia normal pada umumnya; tubuhnya yang tadinya menjuntai lembut melenting dengan sangat kaku ke arah depan, disertai dengan suara sendi yang berderak keras dan mengerikan seolah tulang-tulangnya sedang bergeser dan berubah bentuk dengan paksa.

Gerakan tubuhnya yang tidak normal itu membuatnya berdiri dengan cepat tanpa ada bantuan dari siapapun, punggungnya sedikit membungkuk ke depan seperti postur seorang predator yang sedang bersiap untuk menyerang mangsanya. Sebuah geraman rendah dan parau keluar dari dalam kerongkongannya yang kering, getaran suara itu lebih mirip suara binatang buas daripada suara wanita lembut yang selama ini sangat Axel cintai. Napasnya keluar dengan sangat cepat dan kasar, membuat suara seperti hembusan angin panas yang keluar dari dalam sebuah lubang yang dalam.

"Lusy? Sayang, ada apa denganmu? I-ini aku—Axel."

Ia ingin mempercayai bahwa wanita di depannya adalah Lusy yang ia cintai, bahwa semuanya hanya sebuah mimpi buruk yang akan segera berlalu begitu ia menyentuhnya dengan lembut. Namun kata-katanya terputus begitu saja saat Lusy melesat maju dengan kecepatan yang mustahil untuk seorang manusia normal.

Ia tidak lagi mengincar pelukan hangat dari tunangannya, melainkan dengan sangat jelas menyerang Doni yang berdiri paling dekat darinya karena sedang dalam posisi untuk membantu mengangkatnya. Dengan satu sentakan tangan yang tampak mengerikan dengan urat-urat berwarna biru gelap yang menonjol jelas di bawah kulitnya, Lusy menghantam bagian dada Doni dengan kekuatan yang luar biasa besar.

Tangan itu menyentuh dada pria tua itu dengan sangat keras, membuat Doni terpental mundur dengan jauh hingga tubuhnya menabrak lemari makan kayu yang terletak di sudut ruangan—bunyi benturan yang keras membuat beberapa piring yang ada di dalam lemari bergetar dan bahkan beberapa di antaranya jatuh dan pecah di lantai.

"Ayah!" Teriak Axel, tubuhnya langsung melompat ke arah ayahnya yang terjatuh di lantai.

Ia melihat bagaimana Doni mencoba untuk bernapas dengan kesusahan, tangannya memegangi bagian dada yang telah memar dan mulai menunjukkan warna ungu kebiruan akibat benturan yang sangat kuat itu.

Namun sebelum Axel bisa mencapai ayahnya, Lusy sudah berbalik dengan cepat, wajahnya yang tadinya cantik kini telah berubah menjadi sesuatu yang sangat asing—wajahnya sedikit membengkak, bibirnya menarik ke belakang untuk menunjukkan taring-taring yang tampak telah memanjang secara abnormal dan sangat runcing.

Tanpa mempedulikan keselamatannya sendiri atau bahkan memikirkan apa yang mungkin akan terjadi padanya, Axel melompat dengan kecepatan yang mungkin terbaik yang bisa ia lakukan saat ini, menerjang tubuh Lusy dengan seluruh kekuatan yang ada di dalam dirinya sebelum wanita itu sempat mendaratkan kuku-kukunya yang telah menajam seperti cakar binatang buas pada leher sang ayah.

Tubuh Axel menumbuk tubuh Lusy dengan cukup keras, membuat keduanya terjatuh dan bergulat di atas lantai. Axel tertegun sepenuhnya saat merasakan kekuatan fisik yang luar biasa besar dari tubuh Lusy—rasanya seperti ia sedang mencoba untuk menahan sebuah bongkahan baja yang panas dan sangat berat.

"Lusy, sadarlah! Ini aku—Axel yang kamu cintai!"

Tubuhnya masih terus berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengunci lengan Lusy yang terus berusaha untuk melepaskan diri dan menyerangnya. Ia bisa merasakan bagaimana tubuh Lusy kini terasa sangat panas seperti sedang mengalami demam tinggi yang luar biasa, bahkan membuat kulitnya sendiri merasa terbakar saat bersentuhan dengan tubuh wanita itu. Setiap gerakan yang dilakukan Lusy untuk memberontak memberikan kejutan kekuatan yang sangat besar, membuat Axel harus menggunakan seluruh kekuatan ototnya untuk bisa menahannya di tempatnya.

Lusy tidak menjawab atau memberikan sedikit pun tanda bahwa ia mengenali suara atau sentuhan tunangannya itu. Ia hanya terus menggeram dengan suara yang semakin keras dan lebih mirip suara binatang buas yang sedang marah, taring-taringnya yang telah memanjang itu terlihat jelas di antara bibirnya yang mulai mengeluarkan lendir berwarna kekuningan dan sedikit berbusa. Ia memberontak dengan tenaga yang begitu besar hingga akhirnya berhasil melepaskan diri dari kendali Axel, membuat tubuh Axel terlempar dengan jauh ke arah koridor yang menghubungkan dapur dengan bagian lain rumah.

Saat tubuhnya menabrak tembok koridor dengan cukup keras, Axel merasa seperti seluruh tulang di dalam tubuhnya sedang sakit, namun ia tetap berusaha untuk berdiri kembali dengan cepat saat melihat bahwa Lusy telah berbalik lagi dan bersiap untuk menerkam ayahnya yang baru saja berhasil berdiri dengan sangat susah payah.

"Ke kamar mandi, Yah! Segera lari darinya!"

Ia tahu bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayahnya dari bahaya yang datang dari wanita yang ia cintai—ia harus mengalihkan perhatian Lusy dari ayahnya dan membawanya ke tempat yang bisa dikunci agar tidak bisa membahayakan siapapun lagi. Tanpa menunggu tanggapan dari ayahnya yang masih sedang bernapas dengan tersengal, Axel meraih sebuah kursi kayu yang terletak di dekat pintu keluar dapur dengan kedua tangannya yang sudah mulai terasa lelah.

Ia menggunakan kursi kayu yang cukup berat itu sebagai tameng untuk memancing perhatian Lusy yang memang sudah mulai bergerak lagi ke arah Doni. Dengan insting hewani yang baru saja muncul dan sangat kuat pada dirinya, Lusy langsung berbalik dengan cepat dan mulai mengejar Axel yang mulai berlari ke arah kamar mandi besar yang terletak di ujung koridor. Langkah kaki Lusy terdengar sangat berat di atas lantai, suara itu semakin menjadi mengerikan saat terdengar bunyi kuku-kukunya yang telah menajam itu menyeret di atas permukaan lantai hingga menimbulkan goresan dalam yang jelas terlihat dan membuat suara yang sangat menusuk telinga.

Tepat saat Lusy melompat dengan sangat tinggi untuk menerkam Axel yang sudah hampir mencapai pintu kamar mandi, Axel dengan cepat berkelit masuk ke celah sempit yang ada di samping pintu kamar mandi yang terbuka lebar. Ia menggunakan seluruh tenaga sisa yang ada di dalam tubuhnya untuk mendorong tubuh Lusy yang sedang meluncur ke arahnya masuk ke dalam ruangan dingin yang berlantai porselen itu.

Tubuh Lusy yang sedang dalam kondisi menyerang tidak bisa mengubah arah gerakannya dengan cepat, membuatnya masuk ke dalam kamar mandi dengan sangat cepat dan menabrak beberapa peralatan kamar mandi seperti wastafel dan ember yang ada di sana, membuatnya berantakan dan pecah di lantai yang basah akibat air yang mungkin masih menyala dari keran.

𝘉𝘳𝘢𝘬!

Axel dengan cepat membanting pintu itu dan segera memutar kunci dari luar dengan tangan yang sudah mulai bergetar dengan sangat jelas. Napasnya memburu dengan sangat cepat dan tidak teratur, paru-parunya terasa seperti terbakar akibat kelelahan dan ketakutan yang luar biasa yang ia rasakan saat ini.

Detik berikutnya, rumah yang tadinya penuh dengan kehangatan dan cinta keluarga itu berubah secara drastis menjadi panggung sebuah film horor yang sangat mengerikan—suara yang keluar dari dalam kamar mandi membuat seluruh tubuhnya merinding dan merasa sangat dingin meskipun ia sedang berkeringat deras akibat aktivitas fisik yang berat.

𝘋𝘜𝘎! 𝘋𝘜𝘎! 𝘋𝘜𝘎!

Gedoran dari dalam kamar mandi begitu keras hingga membuat pintu itu tampak melengkung ke arah luar. Suara hantaman itu tidaklah seperti tangan manusia yang memukul kayu dengan kuat, melainkan lebih mirip suara palu godam yang sedang berusaha merobohkan sebuah benteng yang kokoh. Setiap hantaman diikuti oleh raungan panjang yang menyayat hati dan membuat seluruh tubuh merinding.

"Axel... apa yang sebenarnya terjadi pada calon menantuku itu?" Ia tidak bisa mempercayai apa yang telah dilihatnya sendiri—bahwa wanita yang selama ini ia anggap seperti anak kandungnya sendiri telah berubah menjadi sesuatu yang sangat mengerikan dan hampir menyerangnya dengan kekuatan yang luar biasa besar.

Axel tidak bisa menjawab pertanyaan ayahnya itu dengan langsung. Ia hanya bisa menyandarkan punggungnya di pintu yang terus bergetar hebat itu, merasakan setiap guncangan kemurkaan dan rasa sakit yang dialami oleh Lusy merambat melalui tulang belakangnya dan membuat seluruh tubuhnya merasa sangat tidak nyaman.

Air mata Axel yang sudah lama menumpuk di dalam matanya akhirnya luruh dengan deras, membasahi wajahnya yang pucat pasi dan penuh dengan rasa bersalah yang tak ada batasnya. Ia menutup mata sejenak seolah ingin menghilangkan gambar tentang Lusy yang telah berubah itu dari dalam pikirannya, namun semuanya hanya semakin membuatnya merasa sakit hati dan ingin menangis dengan sekuat tenaga.

"Ini bukan Lusy lagi, Yah..." Bisik Axel dengan suara yang sudah hancur dan penuh dengan kesedihan yang luar biasa besar. Ia tidak bisa melihat wajah ayahnya karena ia tidak berani membuka matanya, takut akan ekspresi yang mungkin akan ia lihat di sana.

"Zat kimia yang aku buat itu... zat itu telah mengubahnya menjadi sebuah monster yang tidak bisa aku kenali lagi."

Suara cakaran tajam yang menusuk kayu pintu mulai terdengar dengan jelas, menyelingi setiap gedoran yang tak kunjung berhenti dan semakin keras dari dalam kamar mandi. Setiap goresan yang dibuat oleh kuku-kuku Lusy yang sudah menajam seperti pisau itu membuat lekukan dalam pada permukaan kayu pintu yang kokoh itu, membuat atmosfer rumah yang tadinya hangat dan penuh dengan cinta itu kini menjadi semakin mencekam di bawah temaram cahaya lampu koridor yang mulai berkedip-kedip dengan gelisah.

.

.

.

.

.

.

.

ㅡ Bersambung ㅡ

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!