NovelToon NovelToon
Vows Of Silence

Vows Of Silence

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Bad Boy / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Hazel Bellvania Cavanaugh adalah definisi kesetiaan yang naif. Ia mencintai James Patrick, seorang atlet sekolah yang karismatik namun manipulatif.
Hubungan mereka aneh—tanpa ciuman, tanpa sentuhan intim, karena James berjanji ingin "menjaga" Hazel hingga pernikahan. Namun, di balik topeng itu, James adalah predator yang memanfaatkan jari-jarinya untuk memuaskan hampir seluruh siswi di SMA mereka.
Kebohongan James terkubur rapat di bawah bayang-bayang geng paling berkuasa di sekolah yang dipimpin oleh Kenneth Karl Graciano. Kenneth yang dingin dan tak tersentuh mengetahui rahasia busuk James, namun ia diam. Bukan karena setia kawan, melainkan karena ia sedang menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkan segalanya dan mengambil apa yang menurutnya pantas ia miliki, Hazel Bellvania Cavanaugh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lima Belas

Dimansion..

Hazel yang gemetar hebat segera mengirim pesan singkat kepada Kenneth saat Arthur sedang sibuk berdebat dengan pengacara keluarga di ruang tamu mansion Cavanaugh.

Dia merasa tercekik di rumahnya sendiri; tatapan Arthur yang penuh selidik membuatnya merasa seperti tawanan.

Tak butuh waktu lama bagi Kenneth untuk muncul. Dengan mobil sport hitamnya yang terparkir di sudut gelap jalanan luar mansion, ia tampak seperti satu-satunya jalan keluar bagi Hazel.

"Ken... syukurlah kau datang," bisik Hazel saat ia berhasil menyelinap keluar dan masuk ke dalam mobil. Napasnya masih memburu, tangannya sedingin es.

"Arthur benar-benar gila. Dia akan membunuh James, dan setelah itu dia mungkin akan mengurungku selamanya."

Kenneth tidak langsung menjawab. Ia hanya meraih tangan Hazel, mengecup jemarinya dengan gerakan yang menenangkan namun posesif. "Tenanglah, Hazel. Selama kau bersamaku, dia tidak akan bisa menyentuhmu."

Kenneth memutar kemudi, namun ia tidak membawa Hazel kembali ke sekolah atau ke tempat umum. Ia membawa gadis itu ke apartemen pribadinya yang terletak di lantai teratas gedung pencakar langit, sebuah tempat yang bahkan James atau keluarganya tidak tahu.

Begitu pintu apartemen tertutup rapat, suasana menjadi hening dan intim. Apartemen itu sangat minimalis, didominasi warna gelap dan pemandangan kota dari dinding kaca yang menjulang.

"Kau aman di sini," ucap Kenneth sambil melepaskan jaketnya.

Hazel langsung menghambur ke pelukan Kenneth, menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu. "Terima kasih, Ken. Hanya kau yang bisa kupercaya sekarang. James... dia sangat bodoh karena memancing kemarahan Arthur."

Kenneth menyeringai di balik bahu Hazel. Ia mengelus punggung gadis itu dengan lembut, namun matanya menatap tajam ke arah pantulan mereka di kaca. "James memang bodoh, Hazel. Dia hanya pion yang mudah terpancing. Tapi kakakmu... dia adalah ancaman yang sebenarnya."

Kenneth mengangkat dagu Hazel, menatap mata gadis itu yang penuh ketakutan dan ketergantungan padanya. "Malam ini, tinggallah di sini. Biarkan Arthur mencari mu ke seluruh penjuru Queenstown. Biarkan dia merasakan bagaimana rasanya kehilangan kontrol atas miliknya yang paling berharga."

Kenneth kemudian membimbing Hazel menuju sofa besar yang menghadap jendela.

Ia menuangkan segelas anggur untuk Hazel, mencoba membuatnya rileks, namun tangannya mulai berjelajah ke balik pakaian Hazel, memberikan sentuhan-sentuhan yang menuntut.

"Karena kau sudah di sini, di duniaku..." bisik Kenneth tepat di telinga Hazel, "kau harus membayar harga untuk perlindungan yang kuberikan, bukan?"

Di saat yang sama, di luar sana, ponsel Kenneth bergetar. Sebuah pesan dari anak buahnya: "Arthur Cavanaugh sedang menuju apartemen James. Dia siap menghabisi pria itu."

Kenneth mengabaikan pesan itu. Baginya, melihat musuhnya saling menghancurkan sambil ia menikmati hadiah-nya adalah puncak dari kepuasan dendamnya.

Malam itu di penthouse Kenneth menjadi saksi bisu betapa gelap dan posesifnya hubungan mereka.

Di bawah temaram lampu kota yang menembus dinding kaca, Kenneth seolah kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Dia terus-menerus memburu Hazel, menghujam nya dengan gairah yang penuh dengan aura penaklukan dan dendam yang terpendam.

Setiap kali Hazel berada di ambang pelepasannya, ia berbisik dengan suara parau dan napas yang terputus-putus, "Ken... tolong... jangan di dalam... Arthur akan membunuhku jika sesuatu terjadi..."

Namun, Kenneth seolah tuli. Baginya, setiap tetes kepemilikan yang ia tinggalkan di dalam tubuh Hazel adalah segel kemenangan atas keluarga Cavanaugh. Ia tidak peduli pada risiko, ia hanya ingin menandai Hazel sedalam mungkin hingga tak ada lagi ruang bagi orang lain termasuk kakaknya untuk mengklaim gadis itu kembali.

Kenneth mendapatkan kepuasannya berkali-kali, membiarkan Hazel lemas tak berdaya di bawah kuasanya.

Setelah badai gairah itu mereda, mereka berakhir di bawah kucuran air hangat di kamar mandi mewah yang berdinding marmer.

Hazel bersandar pada dada bidang Kenneth, membiarkan air menghapus keringat dan sisa-sisa pergulatan mereka.

Hazel berbalik, menatap mata Kenneth yang masih tampak setajam elang, namun ada kehangatan palsu yang menyelimutinya. Ia melingkarkan lengannya yang lemas di leher pria itu.

"Ken," ucap Hazel lembut, matanya berkaca-kaca karena rasa takut akan dunia luar yang sedang kacau. "Berjanjilah satu hal padaku. Apapun yang terjadi... setelah semua keributan dengan Arthur dan James ini selesai, jangan pernah tinggalkan aku. Kau satu-satunya tempatku pulang sekarang."

Kenneth terdiam sejenak. Ia menatap wajah manis Hazel, wajah yang merupakan replika dari pria yang menghancurkan kakaknya. Ada pergolakan batin yang sangat singkat, sebelum dendamnya kembali membeku. Ia menarik Hazel ke dalam pelukan yang sangat erat, seolah-olah ingin menyatukan tubuh mereka.

"Aku berjanji, Hazel," bisik Kenneth tepat di telinganya. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kau akan tetap berada di sisiku, di bawah pengawasanku... selamanya."

Hazel tersenyum lega, merasa aman dalam pelukan pria yang sebenarnya adalah arsitek dari seluruh penderitaannya.

Ia tidak tahu bahwa janji Kenneth bukan tentang cinta, melainkan tentang penjara. Kenneth tidak akan meninggalkannya karena mainan ini terlalu berharga untuk dilepaskan sebelum Arthur benar-benar hancur berlutut di depannya.

Saat mereka keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi sutra, ponsel Kenneth yang tergeletak di meja rias bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk dari nomor pribadi.

Kenneth mengangkatnya sambil mengeringkan rambut Hazel dengan handuk.

"Tuan Muda," suara di seberang sana terdengar tegang. "Arthur Cavanaugh baru saja menghajar James hingga masuk rumah sakit. Sekarang, dia sedang menuju ke sini.

Sepertinya dia berhasil meretas sistem CCTV kota untuk melacak mobil Anda."

Kenneth menyeringai tipis. Waktunya telah tiba.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰😍😍

1
Triana Oktafiani
Selalu menarik cerita2mu 👍
ros 🍂: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
😍
terimakasih
ceritanya bagus
ros 🍂: Ma'aciww 😍
total 1 replies
falea sezi
lanjut
falea sezi
kapok kau kenzo
falea sezi
suka deh g bertele tele sat set
falea sezi
aneh wong kakak mu yg ngemis cinta ampe gila kok Arthur di salahkan hadehhh ampe bales dendam ke adeknya abis ini qm pasti nyesel kenn
falea sezi
bodohnya qm hazel
falea sezi
jahat nya kennet
falea sezi
q ksih hadiah deh
falea sezi
tolol harusnya biarin aja tau hadeh
Rahmawaty24
Semangat kk ceritanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!