Sejak kuliah, Kanaya sudah mengagumi seorang Narendra Atmaja, namun ia sadar akan statusnya dan mencoba membuang jauh-jauh perasaannya. Hingga suatu hari sahabatnya mendaftarkan Kanaya ke sebuah aplikasi kencan dan ia harus bertemu dengan pria yang menjadi teman kencannya, akhirnya Kanaya menemui pria tersebut dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui jika pria yang menjadi teman kencannya adalah pria yang ia kagumi sejak kuliah.
Bagaimana kelanjutannya? Apa yang akan terjadi pada Kanaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kapan Kalian Akan Menikah?
Langkah Kanaya seketika terkunci di lantai marmer yang dingin, genggaman tangan Narendra yang tadinya terasa hangat, kini terasa seperti jangkar yang menahannya di tengah badai. Kanaya ingin lari, namun tenaganya seolah menguap saat melihat tatapan tajam dari Papa Wira dan wajah syok Mama Clara.
"Narendra, apa maksudnya ini?" tanya Kanaya dengan suara bergetar, bahkan nyaris berbisik.
Narendra tidak menjawab dan tidak melepaskan tangan Kanaya, justru ia membawanya maju semakin ke tengah ruangan tepat di hadapan semua orang.
"Ma, Pa, Om, Tante. Karena kemarin Papa ingin tahu siapa wanita yang aku pilih, maka hari ini aku membawanya ke sini," ucap Narendra dengan nada suara yang tenang dan tidak ragu sama sekali.
"Ini Kanaya, wanita yang akan menjadi istriku," lanjut Narendra.
"Narendra," gumam Mama Clara.
"Kanaya bukan dari kalangan atas, dia berasal dari keluarga sederhana dan dia hanya seorang guru dan Narendra menyukainya, Narendra hanya akan menikah dengan Kanaya," ucap Narendra.
Suasana ruangan itu mendadak begitu sunyi hingga suara detak jam dinding terdengar jelas, Mama Clara berdiri perlahan dan matanya menatap Kanaya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Narendra...," belum sempat Mama Clara bersuara, Narendra sudah terlebih dahulu bersuara.
"Kalau Mama dan Papa tidak setuju, tidak masalah. Di sini Narendra hanya memberitahu, bukan meminta restu," potong Narendra.
"Apa-apaan kamu ini Narendra!" bentak Papa Wira.
"Bukankah dalam pernikahan, tidak penting restu orangtua dari pihak pria. Jadi, terserah Papa dan Mama mau merestui pernikahan Naren atau nggak, yang jelas Naren sudah mengatakannya," ucap Narendra.
"Siapa yang nggak merestui?" tanya Mama Clara.
Narendra yang sudah menyiapkan tameng mental untuk berdebat panjang, seketika tertegun. Rahangnya yang mengeras perlahan melonggar dan ia menatap ibunya dengan tatapan tidak percaya, bahkan Kanaya pun sampai mendongak dan matanya yang berkaca-kaca membulat sempurna.
"Maksudnya?" tanya Narendra memastikan indra pendengarannya tidak salah.
Mama Clara mengembuskan napas panjang dan melangkah mendekat ke arah Kanaya, ketegangan yang tadi menyelimuti ruangan perlahan mencair, meski aura wibawa masih terpancar kuat dari wajahnya lalu Mama Clara berhenti tepat di depan Kanaya yang sedang menunduk ketakutan.
"Narendra, kamu pikir Mama ini ibu jahat di sinetron yang akan mengusir wanita pilihan anaknya hanya karena masalah harta?" ucap Mama Clara tersenyum tipis lalu tangannya terulur menyentuh dagu Kanaya dan mengangkatnya perlahan agar mata mereka bertemu.
"Dia manis, Naren," lanjut Mama Clara.
"Mama setuju?" tanya Narendra.
"Mama setuju saja, yang mneikah kamu bukan Mama. Buat apa Mama repot, kalau kamu suka ya silahkan," ucap Mama Clara.
Setelah mendengar perkataan Mama Clara, Narendra bernapas lega. Setelah itu, Narendra menatap Papa wira yang masih duduk di sofa ruang tamu.
"Apa kamu menyukai perempuan disampingmu?" tanya Papa Wira.
"Iya, Naren sangat menyukainya," jawab Narendra tanpa ada keraguan sedikitpun.
Papa Wira terdiam sejenak dan menatap tajam ke arah mata Narendra seolah sedang mencari celah kebohongan di sana, namun yang ia temukan hanyalah ketegasan yang tak tergoyahkan. Perlahan, Papa Wira menghela napas panjang dan meletakkan cangkir kopinya di atas meja marmer dengan bunyi denting yang halus.
"Kalau begitu, jaga dia baik-baik," ucap Papa Wira.
Narendra tersenyum lebar, sebuah senyuman tulus yang jarang sekali ia perlihatkan di rumah itu.
"Pasti, Pa. Terima kasih," jawab Narendra.
Sementara itu, Vania yang sejak tadi hanya menjadi penonton, akhirnya berdiri dengan wajah yang sulit dijelaskan, campuran antara malu dan kesal.
"Tante, sepertinya saya harus pamit sekarang, ada urusan yang harus saya selesaikan," pamit Vania dengan suara kaku.
"Oh, Vania... maaf ya, nanti Tante telepon lagi ya," ucap Mama Clara basa-basi dan perhatiannya kini sepenuhnya teralih pada Kanaya.
Begitu Vania pergi, Mama Clara langsung menarik tangan Kanaya dan membawanya duduk di sofa, "Jangan takut, sayang. Mama gak gigit kok," ucap Mama Clara saat melihat wajah gugup dan takut Kanaya.
Kanaya duduk dengan kaku di sofa beludru yang terasa terlalu mewah untuknya ia masih merasa seperti sedang bermimpi. Beberapa jam lalu Kanaya masih menjemur pakaian di gang sempit yang pengap dan sekarang ia duduk di antara pemilik rumah sakit besar yang menyambutnya dengan hangat.
"Siapa namamu tadi? Kanaya?" tanya Mama Clara lembut dan tangannya masih mengusap punggung tangan Kanaya yang dingin.
"I-iya, Tante. Kanaya," jawab Kanaya dengan suara yang masih sedikit bergetar.
"Jangan panggil Tante, panggil Mama ya. Kan Narendra sudah bilang kamu calon istrinya," ucap Mama Clara sambil tersenyum lebar dan kemudian menoleh ke arah suaminya.
"Pa, lihat wajahnya. Dia punya aura yang tenang ya? Pantas saja anakmu yang keras kepala ini bisa bertekuk lutut," lanjut Mama Clara.
Papa Wira hanya berdehem, meski wajahnya masih terlihat tegas dan sorot matanya sudah jauh lebih melunak. "Narendra, Papa tidak peduli soal latar belakangnya, tapi Papa ingin tahu...," Papa Wira sengaja menjeda perkataannya.
"Ingin tahu soal apa, Pa?" tanya Narendra yang penasaran dengan kelanjutannya.
"Kapan kalian akan menikah?" tanya Papa Wira.
"Bagaimana kalau bukan depan," saran Mama Clara.
"Boleh juga, jadi kalau bisa bulan ini kalian lamaran dulu," ucap Papa Wira.
Kanaya hanya bisa tertegun dengan mulut sedikit terbuka, semua ini terjadi terlalu cepat seperti menaiki roller coaster tanpa sabuk pengaman. Kanaya baru saja dibawa ke rumah ini untuk diperkenalkan, tapi dalam hitungan menit hari pernikahan dan lamarannya sudah ditentukan oleh orangtua Narendra.
"Apa ini tidak terlalu cepat? Maksud saya... saya belum menyiapkan apa-apa," tanya Kanaya ragu.
Mama Clara tersenyum dan menepuk-nepuk tangan Kanaya dengan gemas, "Sayang, urusan persiapan itu biar Mama yang urus, kamu hanya perlu menyiapkan hati dan fisik. Pokoknya kamu percayakan sama Mama," ucap Mama Clara.
Meja makan panjang berbahan kayu ek itu kini dipenuhi dengan berbagai hidangan mewah, mulai dari steak wagyu hingga sup asparagus yang masih mengepulkan uap panas. Kanaya duduk di sebelah Narendra, ia merasa kikuk dengan deretan sendok dan garpu perak yang tertata rapi di hadapannya.
"Ayo makan, Kanaya. Jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri," ucap Papa Wira sambil memotong dagingnya dengan tenang.
Narendra yang menyadari kegugupan Kanaya, diam-diam meraih piring Kanaya. Dengan telaten, ia memotongkan daging steak itu menjadi potongan-potongan kecil agar Kanaya mudah memakannya.
"Narendra, aku bisa sendiri," bisik Kanaya malu dan wajahnya memerah melihat Mama Clara tersenyum-senyum memperhatikan mereka.
"Biarkan saja, Kanaya. Naren itu memang kaku, tapi kalau sudah sayang, dia akan sangat protektif," goda Mama Clara sambil menyendokkan salad ke piring Kanaya.
"Oh iya, Kanaya. Mama dengar kamu guru ya? Mengajar apa?" tanya Mama Clara.
.
.
.
Bersambung.....