NovelToon NovelToon
Aku Terlahir Kembali Sebagai Bayi Jahat

Aku Terlahir Kembali Sebagai Bayi Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Isekai / Rebirth For Love / Time Travel / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tamyst G

Arvella terlahir kembali sebagai bayi dengan kesadaran dari kehidupan sebelumnya. Dengan ingatan masa lalunya, ia mampu melihat bahaya dan mencegah masalah sebelum terjadi. Sebagai anak tunggal dalam keluarga kerajaan, Arvella belajar menghadapi dunia yang penuh intrik, rahasia istana, dan tanggung jawab besar meski tubuhnya masih kecil.
Seiring tumbuhnya Arvella, ia menemukan lorong rahasia, ramalan kuno, dan misteri yang mengancam kerajaan. Ia belajar memecahkan masalah sosial, menghindari bencana, dan menghadapi intrik politik dengan kecerdasannya yang luar biasa.
Di tengah semua itu, sosok laki-laki misteriusKsatria Anjing kerajaan yang kelak menjadi bagian penting hidupnya muncul secara samar, membangkitkan rasa penasaran dan ikatan takdir yang halus. Bersama ingatan masa lalu dan insting alaminya, Arvella perlahan menemukan kekuatannya, belajar tentang kepercayaan, cinta, dan akhirnya menentukan jalannya sendiri dalam menghadapi takdir yang telah menunggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 : Pelajaran Diplomasi

Cahaya pagi menembus jendela aula istana, memantul di lantai marmer yang mengilap.

Arvella duduk di pangkuan Liora, matanya merah bersinar, mencondongkan tubuh ke arah tamu-tamu yang mulai berdatangan untuk pertemuan diplomatik.

Suasana terasa berbeda dari pagi-pagi sebelumnya—tamu dari kerajaan tetangga datang dengan berbagai ekspresi, beberapa tersenyum, beberapa tampak tegang, dan ada yang menyembunyikan maksud mereka di balik wajah ramah.

Bayi itu mencondongkan tubuh, tangan kecilnya menunjuk ke arah bangsawan yang tampak gelisah, matanya merah bersinar.

Liora menoleh, “Apa kau melihat sesuatu, Arvella?”

Bayi itu menepuk kainnya, menandakan bahaya kecil yang bisa memicu kesalahpahaman.

Kael berdiri di dekat pintu, matanya biru mengamati Arvella.

“Sepertinya ia sudah tahu sebelum kita menyadarinya,” gumam Kael pelan, tubuhnya tegap.

Raja memasuki aula dengan langkah mantap, menyapa setiap tamu dengan hangat.

Arvella mencondongkan tubuh, matanya menyala, membaca setiap energi dan niat di ruangan itu.

Ia merasakan adanya ketegangan yang tersembunyi di antara dua bangsawan tetangga, seakan siap meledak jika tidak ada yang menengahi.

Liora menatap bayi itu, sedikit cemas tapi kagum.

“Arvella… bagaimana kau bisa melihat hal-hal ini?” bisiknya.

Bayi itu hanya menepuk kain, matanya merah bersinar, memberi isyarat bahwa perhatian penuh harus diberikan pada setiap gerakan tamu.

Kael melangkah ke sisi bayi itu, menatap Raja dengan hormat, “Yang Mulia, sebaiknya tamu-tamu ini dipandu agar tidak saling bersinggungan.”

Raja mengangguk, memberi isyarat kepada pengawal untuk mengatur tempat duduk tambahan.

Arvella mencondongkan tubuh, tangan kecilnya menunjuk ke arah sudut aula, di mana dua bangsawan hampir berbenturan.

Kael segera menahan salah satu, tersenyum sopan, membimbingnya ke kursi yang sudah disiapkan.

Bayi itu menggeliat, puas, matanya bersinar—bahaya sosial berhasil dicegah sebelum menimbulkan konflik.

Suasana aula kembali tenang, namun Arvella mencondongkan tubuh lagi, matanya merah bersinar, membaca niat tersembunyi tamu yang lain.

Seorang bangsawan muda tersenyum ramah pada Raja, tapi energi yang dipancarkannya terasa berbeda.

Bayi itu menepuk kain Liora, memberi isyarat agar Raja dan pengawal tetap waspada.

Kael menyadari hal ini, matanya biru menyipit, memahami peringatan yang diberikan Arvella.

“Bayi ini… bukan hanya cerdas, tapi bisa membaca orang seperti seorang diplomat berpengalaman,” bisiknya pelan.

Percakapan dimulai.

Raja menanyakan berita terbaru dari kerajaan tetangga, sementara Kael mendampingi Arvella dan Liora, mengatur agar bayi itu tetap aman tapi bisa mengamati semua gerakan tamu.

Arvella mencondongkan tubuh, matanya merah bersinar, menepuk kain Liora ketika salah satu bangsawan mencoba menyisipkan komentar yang bisa menyinggung tamu lain.

Liora segera menahan percakapan itu, mengubah topik dengan lembut, sementara Kael menatap Arvella, tersenyum samar.

“Arvella, kau sudah tahu apa yang akan terjadi sebelum kami semua menyadarinya,” bisiknya.

Bayi itu menggeliat, puas, matanya bersinar, seakan berkata: “Aku akan selalu siap.”

Tiba-tiba, seorang tamu dari kerajaan tetangga mengangkat isu lama, mencoba menguji kesabaran Raja.

Arvella mencondongkan tubuh, tangannya menunjuk Kael.

Kael segera menengahi dengan tenang, menggunakan nada lembut tapi tegas, memastikan tamu itu tidak menimbulkan perdebatan terbuka.

Bayi itu menepuk kainnya lagi, matanya merah bersinar, menyetujui tindakan Kael.

Liora menatap bayi itu, tersenyum, “Kau memang luar biasa, Arvella.”

Suasana aula mulai menjadi lebih kompleks ketika beberapa pelayan mulai salah menata hidangan, dan seorang bangsawan hampir menumpahkan cangkir teh ke pakaian bangsawan lain.

Arvella mencondongkan tubuh, tangan kecilnya menunjuk, memberi isyarat agar segera ditangani.

Kael segera mengambil cangkir itu, mengatur agar tidak jatuh, sambil tersenyum sopan kepada tamu.

Bayi itu menggeliat, matanya merah bersinar, puas—konflik sosial kecil berhasil dicegah sekali lagi.

Jam-jam berlalu, dan Arvella tetap waspada.

Ia mencondongkan tubuh, matanya merah menyala, membaca niat tersembunyi setiap orang yang hadir.

Kael terus mendampingi, membantu Liora mengatur tamu dan menjaga ketertiban.

Bayi itu menggeliat, matanya bersinar terang, menandakan bahwa setiap detail—dari ekspresi wajah, nada suara, hingga gerakan tangan—penting untuk dipahami.

Menjelang sore, Raja memberikan pidato singkat, menyampaikan salam hangat dan pesan persatuan antar kerajaan.

Arvella mencondongkan tubuh, tangan kecilnya menunjuk ke arah tamu yang mulai gelisah.

Kael menatap bayi itu, tersenyum, dan segera mengarahkan perhatian tamu tersebut, menenangkan ketegangan yang muncul.

Bayi itu menggeliat, puas, matanya merah bersinar—strategi diplomasi yang sempurna.

Saat matahari mulai tenggelam, aula diterangi lilin dan lampu gantung.

Arvella mencondongkan tubuh, matanya merah bersinar, membaca energi tamu-tamu yang mulai meninggalkan aula.

Beberapa tamu tampak berbisik, menandakan intrik yang mungkin muncul di balik pintu tertutup.

Kael menatap bayi itu, matanya biru menyorot dengan rasa kagum.

“Arvella, peranmu bukan hanya sebagai anak kerajaan… kau seperti pemandu kecil bagi semua orang di sini,” bisiknya.

1
Passolle
lanjut ka
LOL #555
Hebat banget ,baru lahir udah bisa buka mata ,mendengar, ngendaliin kekuatan magis , serba bisa , kayak budak koporat
LOL #555: gak sih kak , biasanya juga kalau reinkarnasi gini ,baru lahir udah bisa ngalahin naga 🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!