Perjodohan itu bukan untuknya. Hanya saja, dia terpaksa pergi ke desa untuk menikah dengan pria desa yang sama sekali tidak ia kenali sebelumnya. Semua gara-gara adiknya kabur karena tidak ingin dinikahkan dengan pria desa tersebut. Dan yang paling menyakitkan adalah, sang adik kabur bersama pacar yang seharusnya akan menjadi tunangan Airin dalam waktu dekat.
Akan kah kepergian Rin bisa menciptakan kebahagiaan setelah badai besar itu datang padanya? Lalu, bagaimana dengan sambutan Mbayung atas kehadiran Rin yang datang untuk menikah dengannya? Bagaimana pula kehidupan adik dan mantan pacar yang telah mengkhianati Rin selanjutnya? Ayok! Ikuti kisah mereka di KETIKA KOTA BERTEMU DESA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKBD Part *15
"Begitu ya?"
"Iy-- iya. Itu ... maksudnya ... anu-- "
"Baiklah. Kalau begitu aku paham. Mulai malam ini, kita akan tidur di satu kamar yang sama," ucap Bayu santai tanpa beban.
Sebaliknya, Rin yang meminta, eh ... dia yang malah merasa sedikit terbebani. Entahlah. Batinnya mulai banyak tingkah. Jantung sedikit berdetak lebih kuat dari yang biasa. Wajah malah sedikit bersemu. Padahal, hanya tidur bersama di satu ruang yang sama. Tak lebih dari itu.
Akhirnya, untuk yang pertama kali, Rin dan Bayu tidur di satu ranjang yang sama. Namun, masih dengan jarak yang cukup nyata untuk di lihat maupun di rasakan. Singkatnya, masih ada pembatas yang mereka buat.
Tidak ada obrolan sebelum tidur. Tidak pula ada sentuhan hangat. Mereka tidur setelah terdiam cukup lama. Maklum, ini adalah hal asing yang baru pertama kali mereka lakukan. Jadi, tentu saja masih butuh banyak penyesuaian.
Malam pertama bersama berlalu. Malam kedua, malam ketiga, malam kelima. Hingga satu minggu kemudian, semua sudah terasa biasa saja. Rasa asing itu sudah menghilang. Dua anak manusia sudah sangat akrab, meskipun begitu, untuk memulai sebuah hubungan yang lebih jauh, masih belum mereka lakukan.
"Bay, nanti makan siang, kamu gak perlu pulang lagi ya. Biar aku yang bawa ke sawah." Rin berucap saat mereka sarapan di meja makan.
Pria itu mengangguk pelan. "Baik. Kalo kamu ingin bawa makanannya ke sawah, itu juga lebih bagus sih. Jadinya, aku gak perlu pulang lagi deh siangnya."
"Hm ... oh iya, Rin. Stok makanan kita masih banyak?"
"Masih. Ku rasa, cukup kok untuk makan dua sampai tiga hari ke depan."
"Mm ... bagus deh. Soalnya, beberapa hari lagi udah waktunya panen. Jadi, mau sekalian bawa padi aja baru belanja ke desa kecamatan."
Mereka ngobrol hingga sarapan selesai. Setelahnya, Bayu pamit ke sawah. Sebelum pergi, dia meletakkan beberapa lembar uang ke atas meja. "Untuk belanja apapun yang kamu inginkan di warung nanti, Rin. Ah, jika masih kurang, kamu bisa ambil di dompet dalam lemari di kamar tidur kita."
Rin melihat uang itu sejenak. Lalu, mengalihkan pandangan ke arah Bayu. "Ini, banyak kok. Tentu saja cukup. Tunggu, mau beli apa aku sampai nggak cukup?"
Bayu membalas tatapan Rin.
"Apapun yang ingin kamu beli, terserah kamu. Yang penting, kamu suka."
Rin terdiam. Dia bingung sekaligus bahagia. Suami asing yang dulu dia pikir tidak tahu cara membuatnya bahagia, tapi kenyataannya benar-benar berbeda. Pria ini membuatnya merasa nyaman, tenang, juga senang.
Bukan soal uang yang Bayu berikan. Tapi, soal dirinya yang diratukan oleh pria tersebut. Di berikan perhatian yang cukup. Dianggap ada dengan sangat nyata. Itulah yang membuat Rin merasa sedikit beruntung dari pernikahan terpaksa yang sedang ia jalani.
"Bay. Terima kasih."
"Untuk?"
"Segalanya."
"Tidak perlu. Karena seharusnya, aku yang harus berterima kasih padamu. Karena kamu sudah memilih untuk tetap tinggal di dekat ku walau dengan semua hal asing yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya."
Ucapan itu semakin menghangatkan hati Rin. Ingin sekali rasanya Rin melompat ke dalam pelukan Bayu. Namun, perasaan itu Rin tahan. Dia masih merasa enggan untuk melakukan kontak fisik yang lebih dekat dengan pria tersebut.
...
Jam makan siang akhirnya tiba. Rin telah selesai menyiapkan makan siang untuk Bayu. Sudah pula dia masukkan ke dalam rantang apa yang telah dia masak kan tadi.
Dengan langkah ringan, Rin pergi ke sawah. Namun, langkah itu melambat saat melihat Bayu sedang bicara dengan seorang gadis di bawah pohon.
Keduanya terlihat sangat akrab. Rin terdiam sambil memperhatikan reaksi dari sang suami bersama wanita tersebut. Sesekali, mereka tertawa. Lalu, tangan gadis itu memukul bahu Bayu. Sontak, hati Rin langsung merasa dongkol akan hal tersebut.
'Kenapa aku kesal?' Rin bertanya pada dirinya sendiri.
"Perasaan ini .... " Rin tidak melanjutkan kata yang ingin dia ucapkan. Matanya terus memperhatikan Bayu dan gadis yang sedang berada di samping Bayu dengan seksama.
Beberapa saat kemudian, Bayu menyadari kehadiran Rin. Sontak, pria itu langsung bergegas bagun, lalu menjemput istrinya dengan bahagia.
"Rin."
"Kok malah diam di sini sih? Ayo!"
"Iy-- iya."
Rin enggan, tapi memilih untuk ikut melangkah. Bayu tidak membawanya ke pohon tempat di mana gadis yang bersamanya masih duduk dengan tenang. Bayu malah membawanya ke gubuk tempat mereka beristirahat biasanya.
Bayu memperlakukannya masih dengan perlakuan yang sama seperti sebelumnya. Masih hangat, dan terasa seperti tetap di ratu kan oleh pria tersebut.
"Wah, pasti enak ini makanannya." Bayu berucap sambil meraih rantang yang ada di tangan Rin.
"Mm ... Bayu."
"Iya?"
"Wanita yang itu .... "
Rin mengantungkan kalimatnya. Gadis yang ada di bawah pohon sekarang sudah beranjak mendekat ke arah mereka. Sedangkan Bayu, dia baru sadar kalau dia sebelumnya punya teman bicara yang ia tinggalkan begitu saja setelah kehadiran Rin.
"Ah, iya. Dia Mela. Aku hampir melupakannya."
"Bayu. Kamu tinggalkan aku ya. Kamu sungguh terlalu."
"Ah, Mel. Maaf."
"Oh, iya. Perkenalkan, ini istriku. Rin."
"Rin?" Mela malah mempertanyakan nama singkat yang baru saja Bayu ucapkan.
"Iya. Panggil saja, Rin. Nama lengkap istriku cukup panjang. Airin Calista."
Rin langsung menatap lekat wajah Bayu. Sedikit syok, namun perasaan hangat itu datang menyusup, mengiri semua relung hati. Bayu, pria yang baru bersama dengannya kurang dari tiga bulan itu ternyata sudah hafal nama lengkap yang ia punya. Padahal, hanya sekali dia ucapkan ketika mereka ijab kabul beberapa waktu yang lalu.
"Oh, Arin?"
"Iya."
"Mm ... Rin, kenalkan, dia Mela. Teman ku."
Rin langsung mengulur tangan. Sedangkan Mela, menyambutnya dengan enggan. Sejujurnya, hati Mela merasa tidak nyaman. Dunia Bayu langsung berubah setelah pria itu menikah.
Bayu dengan bangga memperkenalkan wanita yang bernama Rin yang baru ia kenali pada Mela yang sudah bersama dengannya sejak kecil. Mana Bayu langsung mengabaikan Mela saat melihat Rin.
"Rin." Rin berucap lembut saat tangan mereka bersatu.
"Melati." Mela berucap singkat.
"Mm ... kamu masak apa, Rin? Baunya enak nih."
"Masak seadanya aja seperti biasa."
"Kamu udah makan belum? Kalo belum, kita makan sama-sama ya."
"Belum sih."
"Ya sudah, ayo makan!"
Rin langsung melirik Mela yang masih terdiam di tempat dia berdiri sebelumnya. "Mm ... Mela. Mau makan sekalian? Ini cukup kok."
"Tidak. Terima kasih."
"Yu. Aku pulang sekarang," ucap Mela sambil beranjak pergi.
"Hm."
Setelah kepergian Mela, Rin masih menatap Bayu dengan tatapan lekat. Sejujurnya, ada banyak pertanyaan yang menghampiri pikiran Rin. Salah satunya, dia penasaran, kenapa wanita itu baru muncul sekarang? Padahal, dia sudah tinggal di sini hampir tiga bulan. Tapi, selama itu belum pernah bertemu dengan gadis tersebut.