NovelToon NovelToon
Lahirnya Kultivator Naga Keabadian

Lahirnya Kultivator Naga Keabadian

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Ahli Bela Diri Kuno / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Dijuluki "Sampah Abadi" dan dicampakkan kekasihnya demi si jenius Ma Yingjie tak membuat si gila kekuatan Ji Zhen menyerah. Di puncak dinginnya Gunung Bingfeng, ia mengikat kontrak darah dengan Zulong sang Dewa Naga Keabadian demi menjadi kultivator terkuat.

"Dunia ingin aku merangkak? Maka aku akan menaklukkannya lebih dulu!"

[Like, vote dan komentar sangat bermanfaat bagi kelanjutan cerita. Selamat membaca]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Bebasnya Anjing Setia

Langkah kaki Ji Zhen dan Yang Huiqing terdengar berat saat menapaki lantai kayu tangga Penginapan Awan Merah. Tidak ada percakapan apapun, ditambah sudana di antara mereka terasa padat karena membawa sisa-sisa aroma lumpur kolam dan hawa dingin dari rumah pohon Han Kong. Di belakang, Huiqing berjalan dengan kepala tertunduk, tangannya masih sedikit bergetar, entah karena kelelahan fisik atau guncangan batin setelah mendengar khotbah Han Kong tentang jalan kebenaran.

Begitu mereka sampai di aula utama, Shi Shu dan Yun Xia langsung berdiri dari meja pojok. Wajah keduanya tampak kacau, antara marah dan cemas yang beradu menjadi satu.

“Ji Zhen! Dari mana saja kau?!” suara Shi Shu meledak, menarik perhatian beberapa tamu penginapan. “Tiga hari! Kau menghilang tiga hari tanpa kabar, melewatkan babak kualifikasi, dan membiarkan si botak dari Tianhuo itu memenangkan pedang pusaka dengan cuma-cuma! Kau tahu, Yun Xia sangat khawatir padamu dan itu merepotkan!”

Yun Xia mendekat, matanya memindai tubuh Ji Zhen dan Huiqing dengan teliti. “Kami pikir kalian diculik oleh kaki tangan Hong Xiaoshi. Kami hampir saja menyisir hutan Nancheng jika kalian tidak muncul malam ini. Apa yang terjadi?”

Ji Zhen hanya menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang sulit diartikan. Apalagi tentang sosok Hong Xiaoshi yang tidak ia kenali. “Kami sedikit tersesat di tempat yang menarik. Jangan khawatir, pedang pusaka itu bukan satu-satunya jalan menuju puncak.”

Tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, Ji Zhen mengisyaratkan pada Huiqing untuk segera beristirahat di kamarnya, sementara ia sendiri naik dan masuk ke dalam kamarnya tanpa menoleh lagi. Ia tidak butuh simpati, dan ia tidak butuh ceramah tambahan.

Malam semakin larut, namun kelopak mata Ji Zhen seolah enggan tertutup. Pemuda itu berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang gelap. Pikirannya masih berputar pada kata-kata Han Kong. Berbuat kebenaran? Menjadi manusia? Kata-kata itu terasa asing, seperti bahasa dari dunia lain yang tidak memiliki tempat di dalam hatinya yang sudah membatu. Memang iya dia selama ini telah berusaha melakukan kebenaran, tapi apakah kebenaran yang dimaksud oleh guru misteriusnya itu adalah sebuah kebenaran mutlak?

“Kau terlalu banyak melamun, Bocah,” suara Zulong menginterupsi kesunyian batinnya. “Filosofi guru barumu itu mulai meracuni otakmu. Ingat, kebenaran tidak akan menambal fondasimu yang rusak.”

Ji Zhen mendengus. “Aku tahu. Tapi tanpa pedang pusaka dari turnamen itu, bagaimana kita menerobos ke Pembentukan Fondasi secara stabil? Kau bilang ada rencana lain.”

“Tentu saja ada,” jawab Zulong dengan nada sombong. “Dunia ini luas. Jika kau tidak bisa mendapatkan barang dari turnamen, kita bisa mencarinya di tempat lain. Gunakan cincin ruang yang kau dapatkan tadi. Kita akan mulai menimbun sumber daya dengan cara yang tidak akan disukai oleh Han Kong. Curi dari gudang sekte lokal, cari gua qi yang tersembunyi, atau rampas dari tangan orang-orang Tianhuo. Aku dulu, saat masih menjadi Naga Keabadian dengan kekuatan penuh, bisa menghancurkan sekte sebesar Tianhuo hanya dengan satu jari kelingking. Dan sekarang kau harus tetap maju, jangan biarkan moralitas sampah itu memperlambatmu.”

Ji Zhen terdiam kala mendengarkan dongeng itu. Ia memikirkan Han Kong. Pria itu kuat, sangat kuat, namun caranya mengajar terasa seperti mencoba menjinakkan binatang buas.

“Apa kau pikir Han Kong bisa dipercaya?” tanya Ji Zhen.

“Dia punya agenda sendiri,” sahut Zulong. “Semua orang punya. Tapi untuk sekarang, ambil ilmunya, buang moralitasnya. Dia merasa kau lemah karena kau mulai merenungkan ucapannya. Jangan buat aku kecewa.”

Ji Zhen menarik pun napas dalam-dalam, lalu tertawa getir dalam kegelapan. Sebuah tawa yang tidak membawa keceriaan. “Lucu sekali. Padahal, aku merasa sudah tidak punya dendam lagi dengan mantan kekasihku itu.”

“Huiqing? Kau ingin melepaskannya?” Zulong terdengar curiga.

“Dendam itu melelahkan, Zulong. Membencinya setiap detik hanya membuang energiku,” Ji Zhen memejamkan mata, membayangkan wajah Huiqing yang ketakutan di tepi kolam tadi. “Tapi, aku punya keputusan yang lebih baik.”

“Apa?”

Ji Zhen menyeringai jahat, matanya berkilat di balik kegelapan. “Besok pagi, aku akan menyuruhnya berlutut di depanku. Aku akan memintanya menggonggong seratus kali layaknya anjing paling hina, di hadapanku. Setelah dia melakukannya, aku akan membebaskannya. Aku akan membiarkannya pergi dari hidupku sambil tertawa puas. Aku ingin dia ingat selamanya bahwa kebebasannya dibeli dengan harga martabat yang hancur total.”

Zulong terdiam selama beberapa detik, sebelum akhirnya mendesah panjang. “Bocah dungu, kau memang sudah tidak tertolong hebatnya. Meskipun aku tahu kau tidak sepenuhnya serius soal dendam itu, tapi cara berpikirmu benar-benar pragmatis yang kejam. Kau ingin memutus ikatan dengannya dengan cara yang paling menghina agar dia tidak pernah berani menoleh ke belakang lagi.”

Ji Zhen tidak menjawab. Ia membayangkan langkah selanjutnya. Tanpa beban bernama Huiqing, ia bisa bergerak lebih lincah. Tanpa bayang-bayang masa lalu, ia bisa menyerap ilmu Han Kong tanpa harus merasa terikat pada rasa bersalah apa pun.

Ia menoleh ke arah dinding yang membatasi kamarnya dengan kamar Huiqing. Di sana, gadis itu mungkin sedang tidur atau menangis dalam sunyi. Ji Zhen tersenyum jahat. Esok hari, panggung Nancheng mungkin sudah selesai, tapi panggung pribadinya baru saja dimulai. Ia akan menjadi naga yang bebas, tanpa rantai moralitas, tanpa beban masa lalu.

Langkah selanjutnya adalah memastikan Han Kong memberinya kekuatan yang ia butuhkan, sementara ia sendiri akan menyusun rencana untuk merampas kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya dari tangan Tie Kuang dan Sekte Tianhuo. Tapi apakah dia yakin begitu? Dia saja tidak bisa menemukan tempat makan yang enak jikalau Yang Huiqing tidak memberitahunya.

1
YunArdiYasha
gas poll
MuhFaza
gas lanjutkan
MuhFaza
lanjut bg
Tuan Belalang
😍😍👍👍💪💪
YunArdiYasha
musuh
yuzuuu ✌
bagus ini ceritanya
DanaBrekker: terima kasih /Coffee/
total 1 replies
Tuan Belalang
😍👍👍👍
Tuan Belalang
sehat sehat othor
DanaBrekker: semoga semua pembaca karya othor juga sehat selalu
total 1 replies
Tuan Belalang
👍👍👍😍👍
Tuan Belalang
alamak, gukguk? 🤣
DanaBrekker: /Doge/
total 1 replies
Tuan Belalang
eyuhh najis 😄
Tuan Belalang
astoge udh gak ketolong nih anak 🤣
Tuan Belalang
pffftt mampus 👍👍🤣
DanaBrekker: /Cleaver//Gosh/
total 1 replies
Tuan Belalang
curang gak sih bangg 🤭🤭🤣
Tuan Belalang
mampus aja luu
Tuan Belalang
ji zhen nih tahan banting 💪
Tuan Belalang
mff bawell thorr abs novelmu bagus 😄😍👍🤭
DanaBrekker: terima kasih /Coffee/
total 1 replies
Tuan Belalang
🤭😍👍👍👍
Tuan Belalang
benr tu kt zilong
Tuan Belalang
😍😍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!