Kata orang, cinta itu buta. Buat Kara Anindita, cinta itu bukan cuma buta, tapi juga bikin miskin mendadak.
Demi menikah dengan Rio Pratama—cowok biasa yang dia pikir tulus mencintainya apa adanya—Kara rela melakukan "prank" terbesar dalam hidupnya. Dia menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal Anindita Group, raksasa properti nomor satu di negeri ini. Kara menukar kartu kredit unlimited-nya dengan uang belanja recehan, menukar penthouse mewahnya dengan kontrakan petak yang atapnya bocor, dan menukar gaun desainernya dengan daster diskonan di pasar kaget.
Kara pikir, hidup sederhana asal penuh cinta itu indah.
Tapi ternyata, "tulus" itu ada masa kedaluwarsanya.
Tiga tahun menikah, setelah karier Rio menanjak (yang Rio nggak tahu, itu berkat koneksi "orang dalam" Kara), sikap suaminya berubah 180 derajat. Rio mulai sombong, gila hormat, dan menganggap pengorbanan Kara sebagai kewajiban istri yang tidak berpenghasilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28: Jebakan Tikus untuk Sang Pembohong
Berita pagi itu mengguncang jagat maya.
Bukan klarifikasi tertulis, bukan video permintaan maaf. Melainkan sebuah Undangan Terbuka yang terpampang di akun Instagram resmi Anindita Group dan Cakra Corp.
PRESS CONFERENCE: THE TRUTH UNVEILED
Narasumber: Kara Anindita (CEO Anindita Group) & Damian Cakra (CEO Cakra Corp)
Tamu Undangan Khusus: Sdr. Rio Pratama.
Lokasi: Grand Ballroom Ritz-Carlton Pacific Place.
Waktu: 19.00 WIB (Live Streaming)
Private Room, Restoran Mewah di Senopati.
"Gila! Dia beneran ngundang kamu, Yo!" seru Clarissa sambil menatap layar HP-nya dengan mata berbinar licik.
Rio, yang sedang menyantap steak wagyu (traktiran Clarissa), berhenti mengunyah. "Ini maksudnya apa, Mbak? Dia mau nyerang balik?"
"Nyerang balik apanya?" Clarissa tertawa meremehkan sambil menyesap wine-nya. "Pikir pake logika, Rio. Saham dia anjlok. Netizen ngehujat dia. Dia ngundang kamu itu tanda dia nyerah. Dia mau 'berdamai' di depan umum supaya citranya balik baik."
Clarissa mencondongkan tubuhnya. "Dia pasti bakal minta maaf, terus nawarin kamu uang santunan atau pesangon di depan wartawan. Biar dia kelihatan dermawan."
Mata Rio membesar. "Wah... berarti saya bakal dapet duit lagi dong selain dari Mbak?"
"Pasti. Tapi inget..." Clarissa menatap Rio tajam. "Jangan mau damai gitu aja. Pas dia minta maaf, kamu harus tetep mainin peran korban. Bilang ke media: 'Uang nggak bisa beli harga diri saya, tapi saya maafkan demi kemanusiaan.' Biar dia makin kelihatan hina dan kamu kelihatan mulia."
Rio mengangguk semangat. "Siap, Mbak! Serahkan sama saya. Saya bakal bikin dia nyesel seumur hidup."
Clarissa melempar sebuah paper bag bermerek. "Pake ini nanti malem. Jas Armani. Tapi dasinya jangan dipake, kancing atas dibuka aja. Biar kelihatan distressed tapi tetep sopan. Jangan sampe kelihatan gembel banget, nanti orang curiga."
Rio membuka tas itu, mengelus kain jas yang halus.
"Malam ini, gue bakal jadi bintang," batin Rio. "Selamat tinggal kemiskinan."
Grand Ballroom Ritz-Carlton, Pukul 18.30 WIB.
Ratusan wartawan sudah memadati ballroom. Kamera-kamera TV berderet di belakang. Youtuber dan Tiktoker melakukan live report di sudut-sudut ruangan. Atmosfernya panas dan bising.
Di ruang tunggu VIP di belakang panggung, suasananya kontras. Hening dan dingin.
Kara duduk di depan cermin rias. Make-up artist-nya sedang memoleskan lipstik merah menyala—warna keberanian.
Pintu terbuka. Damian masuk. Dia tampak gagah dengan setelan jas hitam bespoke.
"Semua siap?" tanya Kara tanpa menoleh, menatap pantulan Damian di cermin.
"Layar LED checked. Audio checked. Tim keamanan standby di setiap pintu buat nahan Rio kalau dia coba kabur," lapor Damian. "Dan... tamu spesial kita baru aja sampai di lobi."
Kara tersenyum miring. "Dia datang sendiri?"
"Sendiri. Clarissa nggak kelihatan batang hidungnya. Pengecut itu pasti nonton dari hotelnya, mikir dia aman."
Damian berjalan mendekat, meletakkan tangannya di bahu Kara.
"Kamu gugup?"
Kara berdiri, merapikan blazer-nya. Dia berbalik menatap Damian.
"Gugup? Nggak, Dam. Aku cuma nggak sabar. Nggak sabar liat ekspresi mukanya pas dia sadar dia masuk kandang singa."
"Ayo. Waktunya pertunjukan."
Pukul 19.00 WIB.
Pintu samping ballroom terbuka. Kilatan blitz kamera langsung menyambar-nyambar seperti badai petir.
Rio Pratama melangkah masuk.
Dia berjalan pelan, menundukkan kepala sedikit—gestur rendah hati yang sudah dia latih. Wajahnya disetting sendu.
"Mas Rio! Mas Rio! Apa yang akan Anda sampaikan pada Bu Kara?" teriak wartawan.
Rio berhenti sejenak, menatap kamera dengan mata berkaca-kaca. "Saya cuma berharap... kebenaran terungkap. Saya cuma mau hati nurani mantan istri saya terbuka."
Netizen di kolom live chat YouTube langsung banjir air mata:
@NetizenIndo: Mas Rio, kami bersamamu!
@HatersKara: Liat tuh mukanya, tulus banget. Emang dasar janda gatel!
Rio berjalan menuju meja panjang di atas panggung. Ada tiga kursi di sana.
Dua di sisi kiri (untuk Kara dan Damian), satu di sisi kanan (untuk Rio). Terpisah jarak yang cukup jauh.
Rio duduk di kursinya. Dia merasa seperti terdakwa, tapi dia yakin dia adalah hakimnya.
Tak lama kemudian, MC mengumumkan.
"Mari kita sambut, Ibu Kara Anindita dan Bapak Damian Cakra."
Kara dan Damian keluar dari balik tirai.
Aura mereka berbeda. Tegas. Dingin. Mengintimidasi.
Kara tidak menunduk. Dia menatap lurus ke depan, ke arah Rio.
Rio yang ditatap seperti itu mendadak merasa ciut. Kok dia nggak kelihatan takut? Kok dia nggak kelihatan sedih?
Kara dan Damian duduk.
Keheningan melanda ruangan.
Kara mengambil mikrofon.
"Selamat malam rekan media, dan seluruh masyarakat Indonesia yang menyaksikan secara daring," suara Kara tenang dan jernih.
"Malam ini, saya tidak akan banyak bicara. Saya tidak akan membela diri dengan kata-kata manis atau air mata buaya."
Kara menatap Rio tajam, membuat Rio gelisah di kursinya.
"Saya di sini untuk menyajikan Fakta. Karena kebohongan bisa berlari cepat, tapi kebenaran akan selalu menyusul di garis finis."
"Saudara Rio," panggil Kara. "Anda bilang di podcast kemarin bahwa saya berselingkuh? Bahwa saya membuang Anda karena saya kejam?"
Rio mendekatkan mic ke mulutnya. "I-iya. Itu kenyataannya, Ra. Kamu berubah sejak—"
"Cukup," potong Kara. Dia menekan sebuah tombol di meja.
Di belakang mereka, layar LED raksasa berukuran 10x5 meter menyala.
"Mari kita lihat, siapa sebenarnya yang berselingkuh, dan siapa sebenarnya yang 'dibuang'."
Layar itu menampilkan sebuah video CCTV dengan tanggal dan jam yang jelas.
Video Rio sedang berciuman dengan Siska di dalam mobil.
Video Rio sedang menransfer uang di ATM (dengan bukti mutasi diperbesar di sebelahnya).
Dan yang paling baru...
Video mobil Alphard putih Clarissa berhenti di pinggir kali.
Video Rio menerima amplop cokelat tebal.
Video Rio menghitung uang ratusan juta dengan wajah serakah.
Wajah Rio yang tadi sendu, seketika berubah pucat pasi. Lebih putih dari tembok.
Mulutnya menganga.
Di seluruh Indonesia, jutaan penonton menahan napas.
Suara riuh rendah mulai terdengar di dalam ballroom.
Kara tersenyum.
"Silakan dinikmati filmnya. Judulnya: Harga Diri Senilai 100 Juta."
Jebakan tikus telah tertutup.
Dan leher Rio sudah terjerat.
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️...
...****************...
kanjooot..
terus kemaren2 sblm kara pergi, ibunya tinggal dimana?
nanya lho thor, bkn menghujad.. 🤭🙏