Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.
Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.
Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meninggalkan Astera
"Have fun ya di sana," ucap Aurelia sambil memeluk Elina dengan erat.
Hari ini, Elina akan berangkat ke Tiongkok untuk menenangkan diri dari semua masalah yang menimpanya. Jauh dari perusahaan, jauh dari kenangan pahit yang masih terasa menyesakkan.
Albert ikut mendekat, lalu merangkul kedua perempuan yang paling ia cintai. "Kamu fokus saja pada liburanmu, Nak. Biarkan Ayah di sini yang menangani semuanya," ucap Albert.
Elina mengangguk pelan. "Maaf, Ayah. Elina sudah merepotkan Ayah."
Albert langsung menggeleng tegas. "Tidak ada kata merepotkan untuk putri Ayah."
Elina melepaskan pelukan itu, lalu menatap kedua orang tuanya bergantian. "Terima kasih... kalian selalu ada untuk Elina, meskipun dulu aku pernah mengecewakan kalian," ucapnya dengan nada bersalah. Ia masih ingat betul bagaimana ia dulu menentang mereka demi menikah dengan Ares, dan kini, ia harus menerima semua konsekuensinya.
"Sayang," Aurelia tersenyum lembut sambil mengelus punggung putrinya, "Bunda dan Ayah sudah memaafkan kamu. Sekarang kamu tidak perlu merasa bersalah lagi. Jadikan semua ini pelajaran hidup.”
“Tenangkan hatimu, lupakan pekerjaan sejenak, dan kembali ke Astera dengan hati yang bersih,” sambung Albert.
Elina mengangguk mantap. “Siap, Bunda, Ayah,” ucapnya, lalu memberi hormat kecil yang membuat keduanya terkekeh.
“Oh iya,” kata Albert mengingat sesuatu, “sepupu kamu juga ada di Cina. Kalau kamu bosan, kamu bisa jalan-jalan dengannya.”
“Rio maksud Ayah?” tanya Elina.
“Iya, Sayang. Rio sedang ada tugas di sana,” jawab Albert.
“Baik, Ayah.”
Tak lama kemudian, pengumuman keberangkatan pesawat mulai terdengar di seluruh area bandara. Waktu Elina sudah hampir habis.
“Ayah, Bunda, Elina pergi dulu ya,” pamit Elina.
“Iya, Sayang. Nanti saat kamu pulang, jet pribadi akan menjemputmu. Tidak usah naik pesawat komersial lagi,” ucap Albert.
“Manfaatkan fasilitas dari Ayah,” tambah Aurelia sambil tersenyum.
Elina tersenyum kecil. “Baik, Bunda, Ayah. Elina hanya ingin mencoba sekali ini naik pesawat komersial.”
Setelah berpamitan, Elina melangkah menuju gate keberangkatan. Ia mengikuti arahan petugas, menyerahkan boarding pass, lalu masuk ke dalam lorong panjang yang menghubungkan bandara dengan pesawat.
Begitu memasuki kabin, Elina sempat terdiam. Barisan kursi berjajar rapi, suara penumpang bercampur dengan pengumuman pramugari. Ia menemukan nomor kursinya, duduk, lalu memasang sabuk pengaman seperti yang dicontohkan pramugari di depan.
Tak lama, pintu pesawat ditutup. Mesin mulai menyala perlahan, suaranya semakin keras hingga membuat dada Elina bergetar halus.
Pesawat mulai bergerak di landasan, melaju semakin cepat.
Elina menggenggam sandaran kursi, napasnya tertahan.
Lalu perlahan, pesawat terangkat ke udara. Kota Astera yang selama ini penuh luka kini tampak mengecil dari balik jendela. Elina memejamkan mata sejenak.
Ini awal baru, batinnya.
♡
"Ayah, apa Ayah hanya akan diam saja setelah Ares dan keluarganya membuat putri kita sakit hati?" tanya Aurelia sambil melangkah meninggalkan bandara.
“Bunda kira Ayah akan diam?” Albert menggeleng pelan, sorot matanya mengeras. “Tidak, Bunda. Ayah akan menghancurkan siapa pun yang membuat putri kita hancur,” ucap Albert dengan tegas.
Aurelia tersenyum puas. “Bagus. Itu yang Bunda inginkan.”
♡♡
Di kediaman Ares, ia baru saja menerima sebuah surat yang diantarkan oleh kurir.
“Surat apa itu, Mas?” tanya Maya sambil menghampiri Ares.
“Mas juga nggak tahu, Sayang. Aku buka dulu ya,” jawab Ares.
Maya mengangguk sebagai jawaban.
Ares terdiam.
Alisnya langsung berkerut, sorot matanya berubah tajam saat membaca baris demi baris isi surat itu. Tangannya yang memegang kertas sedikit bergetar.
Maya menyadari perubahan itu. “Mas… kenapa?” tanyanya.
Ares menelan ludah. Rahangnya mengeras.
“Ini… dari pengadilan,” ucapnya akhirnya, suaranya berat.
“Pengadilan?”
Ares tertawa pendek, tawa kering tanpa humor. “Surat putusan penceraian," katanya dingin. “Resmi.”
Wajah Maya langsung pucat. “Apa maksudnya resmi?”
Ares mengangkat surat itu sedikit, matanya masih terpaku pada stempel dan tanda tangan di bawahnya.
“Elina sudah mengurus semuanya. Gugatan dikabulkan,” ucapnya pelan tapi menusuk. “Mulai hari ini… aku bukan suaminya lagi.”
Maya tersenyum puas. “Bagus dong, Mas. Kamu sudah nggak perlu repot-repot mengurus apa pun lagi. Sekarang kamu bebas,” ucap Maya antusias, lalu memeluk Ares erat.
“Mas, kamu nggak lupakan janji kamu, kan? Kamu bilang ingin menikahi aku?”
Ares mengangguk pelan. “Iya, Sayang. Aku akan menikahi kamu. Aku nggak mau anak kita punya orang tua yang nggak lengkap,” jawab Ares dengan suara tegas.
Maya tersenyum semakin puas. “Oh ya, Mas. Terus soal pekerjaan kamu bagaimana? Nggak mungkin kan kita cuma berharap dari tabungan kamu?”
Ares terkekeh tipis. “Kamu tenang saja, Sayang. Sebenarnya aku punya perusahaan yang aku bangun sendiri. Nanti kita kelola bersama, ya. Dan kita akan balas dendam pada Elina yang sudah membuat kita seperti ini.”
Maya menatap Ares lekat, seolah memastikan. “Mas serius punya perusahaan?”
“Iya, Sayang,” jawab Ares sambil mengepalkan tangannya. “Aku akan membalas semua penghinaan Elina yang sudah menjatuhkan kita sekarang.”