Kenzo Huang, pria keturunan Jepang&Cina yang terjebak dalam kasus palsu perdagangan barang ilegal, memasuki penjara dengan hati hampa dan sering diintimidasi oleh geng dalam tahanan. Sampai suatu hari, dia diselamatkan oleh Lin Dong – seorang tahanan yang ditangkap karena membela adik perempuannya, Lin Xian Mei. Meski berbeda latar belakang, mereka menjalin persahabatan yang seperti saudara kandung, berbagi cerita tentang keluarga dan harapan masa depan.
Demi membalas kebaikan Lin Dong, Kenzo Huang berjanji untuk mencari jejak dan menjaga adik serta ibu nya.
Dalam perjalanan mencari jejak sang adik Lin Dong, Kenzo Terlibat organisasi dunia bawah Shehua dan menjadikannya pembunuh bayaran yg di kenal dengan sebutan Shadow Of Death
(update setiap hari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.27 PERTARUNGAN FINAL
Cao Xiu berdiri di tepi arena.
Wajahnya masih menunjukkan keheranan, tetapi senyumnya segera kembali, licin dan cepat seperti ular yang siap menyerang. Ada sesuatu yang licik di balik senyumnya, sesuatu yang menandakan rencana yang tersembunyi.
“Bagus,” ucapnya pelan, lalu menepuk tangan sekali, suara tepukan bergema seperti isyarat resmi.
“Daniel Tang. Sangat mengesankan,” katanya, matanya menatap langsung ke arah Daniel yang masih berdiri tenang di tepi arena. “Tapi acara belum selesai.”
Dia menunjuk ke tengah arena, ke arah Zhang Wei dan Lin Feng, yang masih berdiri menunggu. Dua sosok yang berbeda. Dua gaya membunuh yang berbeda.
“Pertarungan kedua. Zhang Wei versus Lin Feng.”
Keduanya melangkah ke tengah arena.
Zhang Wei tinggi dan kurus, tangan panjangnya tergantung di sisi tubuh seperti dua cambuk yang siap melilit.
Matanya menyipit, menghitung setiap gerakan lawan.
Lin Feng berbeda. Pendek, gemuk, berjongkok sedikit, siap menyerang. Matanya bulat, penuh amarah dan hasrat membunuh.
Tubuhnya seperti babi hutan yang siap menerjang, setiap gerakan penuh potensi kehancuran.
Cao Xiu mengangkat tangan. Tiga. Dua. Satu.
Bel berbunyi.
PRIIIIIIT...
Zhang Wei bergerak. Cepat, sangat cepat. Tangan kanannya mencengkeram, jari-jari panjangnya terbuka seperti laba-laba, siap melilit dan menghancurkan.
Lin Feng tidak mundur. Dia maju, bahu kanannya menabrak Zhang Wei.
BRAAKKK!!!
Zhang Wei terpental, tapi tidak jatuh.
Tangan kirinya menjulur ke belakang, mencengkeram leher Lin Feng. Jari-jarinya menggigit seperti baja, seperti rantai yang tidak bisa diputus.
Lin Feng batuk.
Wajahnya memerah.
Tapi dia tersenyum.
Seperti babi hutan yang terjebak.
Seperti sesuatu yang semakin berbahaya saat terluka.
Kepalanya menumbuk hidung Zhang Wei.
BRAAKKK!!!
Darah memercik deras, panas, tetapi jari-jari Zhang Wei tidak melepaskan cengkeraman. Tidak pernah.
Tidak akan pernah.
Keduanya jatuh ke lantai, berguling, saling mencakar, saling mencengkeram. Seperti binatang liar, dua monster yang sama-sama lapar, sama-sama haus darah.
Lin Feng berada di atas.
Gigitannya mengenai telinga Zhang Wei. Zhang Wei menjerit, suara panjang yang menyiksa. Namun tangan kanannya naik, dua jari lurus menancap ke mata Lin Feng.
BRAAKKK!!!
Lin Feng mundur, tangannya menutupi mata kanan yang mengalir darah, seperti air mata yang salah arah, seperti kesedihan yang berdarah.
Zhang Wei bangkit perlahan.
Tangan kanannya tetap mencengkeram leher Lin Feng. Tidak pernah melepaskan.
Tidak pernah.
Dia memutar tubuhnya dengan cepat.
BRAAKKK!!!
Lin Feng terlempar ke pagar besi.
Tubuh gemuk itu jatuh ke lantai, hampir tidak bergerak, hampir tidak bernapas.
Zhang Wei terhuyung.
Napasnya memburu.
Telinga kanannya robek, darah mengalir, tetapi dia tetap berdiri.
Tangan terangkat. Sebagai pemenang.
Sebagai yang masih hidup.
“Zhang Wei menang,” Cao Xiu umumkan dengan suara datar.
Tidak gembira, tidak sedih.
Seolah semua ini sudah direncanakan, dan masih ada sesuatu yang lebih besar menunggu.
Dia menatap Daniel, yang tetap berdiri di tepi arena, tenang, seperti tidak pernah bertarung, seperti orang yang baru saja minum teh, bukan seorang petarung yang baru saja membunuh.
“Final,” kata Cao Xiu.
Suaranya lebih keras, lebih penuh gairah, lebih berbahaya. “Zhang Wei versus Daniel Tang.”
Zhang Wei melangkah ke tengah arena, terhuyung tapi masih mematikan.
Masih bisa membunuh, masih ingin membunuh.
Matanya menyipit, menatap Daniel seperti menatap mangsa terakhir yang tidak boleh lolos.
Daniel masuk perlahan.
Seperti tadi.
Seperti orang biasa.
Seperti pelayan yang berjalan tanpa tergesa-gesa. Bukan petarung yang akan bertarung hidup dan mati.
Mereka berhadapan, jarak dua meter.
Mata mereka bertemu.
Dingin.
Sangat dingin.
Zhang Wei mencengkeram.
Tangan kanannya masih berdarah, tapi siap kapan saja untuk melilit, menghancurkan, membunuh.
Daniel diam.
Tidak bergerak, tidak bersiap.
Hanya menatap.
Menunggu.
Seperti danau yang tenang, seperti sesuatu yang tersembunyi dalam kedalaman gelap.
Cao Xiu mengangkat tangan.
Tiga.
Dua.
Satu.
Bel berbunyi.
PRIIIIIIT...
Zhang Wei bergerak.
Lebih cepat dari sebelumnya.
Lebih ganas.
Lebih putus asa.
Tangan kanannya mencengkeram leher Daniel, jari-jari panjangnya menggigit seperti baja, seperti kematian yang datang cepat.
Daniel tidak menghindar.
Tidak mundur.
Ia berdiri tegak, tidak tergoyahkan.
Seperti patung. Seperti sesuatu yang tidak bisa dilukai.
Zhang Wei mengerahkan semua tenaga yang tersisa, semua kebanggaan, semua amarah, untuk menghancurkan, untuk membunuh, untuk membuktikan dirinya yang terkuat.
Tetapi Daniel tetap diam.
Tidak bergerak.
Tidak batuk.
Tidak memerah.
Tidak ada tanda kesakitan.
Tangan kanannya naik.
Lambat.
Tenang.
Seperti tidak terburu-buru, seperti sedang menulis, seperti mengusir lalat.
Dua jari, telunjuk dan tengah, lurus ke pergelangan tangan Zhang Wei, titik yang lunak, terlupakan, tidak terlindungi otot.
BRAAKKK!!!
Zhang Wei melepaskan cengkeraman, refleks. Rasa sakit yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, seperti tangan dipatahkan, seperti sesuatu terputus, seperti kekuatan yang hilang.
Daniel bergerak cepat, lebih cepat dari sebelumnya, lebih agresif, tidak seperti orang biasa. Lututnya menendang perut Zhang Wei. BRAAKKK!!!
Zhang Wei terhuyung, batuk, darah panas keluar dari mulutnya.
Tinju Daniel menghantam rahangnya.
BRAAKKK!!!
Zhang Wei terpental ke belakang, menabrak pagar besi dengan dentangan keras seperti lonceng kematian.
Daniel belum selesai.
Tangan kanannya mencengkeram leher Zhang Wei, mengangkatnya seperti Zhang Wei pernah mengangkat Lin Feng, seperti karma, seperti balasan alam, seperti hukum yang tak terhindarkan.
Dia banting Zhang Wei ke lantai.
BRAAKKK!!!
Keras.
Tanpa ampun.
Tanpa belas kasihan.
Zhang Wei terbaring.
Tidak bergerak.
Hampir tidak bernapas.
Matanya terbuka, kosong, seperti liang kubur.
Daniel berdiri di atasnya.
Menatap.
Dingin.
Seperti baru saja membuang sampah.
Seperti baru saja melakukan sesuatu yang sudah sering ia lakukan.
Dia berbalik ke arah Cao Xiu, tangan terangkat. Sebagai pemenang.
Sebagai juara.
Sebagai yang terkuat.
Namun sebelum dia sempat bergerak, sebelum dia sempat merasakan kemenangan, suara dari belakang memecah arena.
Cepat.
Berbahaya.
Penuh darah.
“Kau bagus,” suara Zhou Ming terdengar.
Sang Serigala.
Yang sebelumnya menang, yang tadi menonton dan menghitung.
Dia melangkah ke tengah, ke arah Daniel.
Senyumnya lebar, tetapi matanya dingin dan lapar. Mata yang selalu ingin lebih, mata yang menuntut darah.
“Tapi aku belum puas,” katanya. “Aku ingin lebih. Aku ingin darahmu.”
Cao Xiu tersenyum.
Lebar.
Seperti menunggu ini.
Seperti merencanakan ini.
Seperti semua ini adalah bagian dari rencananya.
“Baik,” ucapnya, suaranya penuh gairah, penuh darah, penuh kegilaan. “Pertarungan bonus. Juara versus Juara. Zhou Ming versus Daniel Tang.”
Daniel menatap Zhou Ming.
Dingin. Tenang.
Namun ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang mengenali.
Sesuatu yang ingat.
("Zhou Ming. Serigala. Aku pernah bertemu dengan yang seperti mu.") bisik Daniel dalam hati.("Di hutan. Saat aku masih kecil. Saat aku bertarung untuk hidup. Saat aku membunuh serigala dengan tangan kosong.")
Daniel tidak menjawab.
Tidak menolak.
Tidak takut.
Ia hanya berdiri tegak, siap. Seperti sesuatu yang akhirnya dilepas, seperti monster yang akhirnya bangun.
Zhou Ming melangkah lebih dekat. Dua meter. Satu meter. Setengah meter.
“Kau tidak takut?” tanyanya, seperti binatang yang bermain dengan mangsa, seperti predator yang yakin akan menang.
Daniel tersenyum tipis.
Pertama kali.
Seperti sesuatu yang tersembunyi, sesuatu yang gelap, sesuatu yang berbahaya.
“Takut? Aku sudah lupa rasanya. Saat aku masih kecil, aku sudah bertarung dengan serigala. Kau hanya serigala lain.”
...$ BERSAMBUNG $...