Di bawah bayang-bayang aturan feodal-kultivasi, di mana jenius dari kalangan bawah pada akhirnya akan terkubur, Chen Yuan memilih mengamati.
Mengetahui bahwa sang ibu angkat telah dimanipulasi dan bahkan menganggapnya, pecahan kesadaran anak kandungnya sendiri, ia memilih untuk membayar hutang budi itu—bukan dengan darah, tetapi dengan memainkan peran untuk melindungi dan memperbaiki kehidupan saudaranya.
Di dunia yang kejam dan penuh kepentingan, ia memilih mencoba lagi untuk merasakan arti ketulusan, bukan pertukaran.
Demi membuatnya bahagia dan mampu berdiri di dunia ini, ia bahkan mencoba berbagai cara untuk meningkatkan eksistensinya.
Namun semua itu hanyalah awal.
Di balik semua itu, misteri tentang dirinya sendiri sangat rumit, apalagi segala sesuatu di sekitarnya.
Ini adalah kisah tentang seorang pemuda yang ingin mencoba lagi–bukan untuk kekuasaan, melainkan untuk menemukan arti kehidupan yang tak sempat ia miliki.
Kelanjutan World of Cultivation: Aimless Journey
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Slycle024, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengambil Chen Xing'er sebagai murid (Arc 1 End)
Reruntuhan kota Yanxing, siang hari.
Chen Xing’er perlahan tersadar dari kesedihannya. Kini sorot matanya sangat dingin seolah jauh dari kata emosi, tetapi masih membuatnya tampak menawan apalagi dengan rambutnya yang berwarna keemasan.
Chen Qing’er yang selalu di sampingnya dari malam mengawasi dengan mata yang tampak kelelahan. Ia bertanya, “Kamu… sudah selesai?”
“Terima kasih!” kata Chen Xing’er datar dan dingin.
Chen Qing’er langsung menggigil.
“Xing’er! Tolong bersikaplah seperti biasa, seperti saat kita bermain, kau tahu aku sangat ketakutan… bahkan aku merasa sebentar lagi akan dihantui Ah-Yuan karena mendorongmu sampai sejauh ini.” katanya tak berdaya.
Chen Xing’er mendesah pelan. “Akan lebih baik jika dia benar-benar muncul saat ini… setidaknya aku bisa mengucapkan salam perpisahan, benarkan?” Ia terdiam sejenak, menatap langit yang tampak cerah, lalu lalu berjalan mendekati tanah hitam tempat ditemukannya liontin Chen Yuan.
Bomm!
Tiba-tiba, sebuah tekanan membuat Chen Xing’er terdiam kaku di tempat. Kemudian terdengar suara seorang pria, “Aku tidak pernah menyangka bahwa orang yang diincar Senior Wuyan mati begitu menyedihkan!”
Chen Qing’er menoleh dan melihat belasan praktisi yang dipimpin pria muda berpakaian coklat yang bernama Xia Weilong. Namun, yang membuatnya bingung adalah sosok Chen Ming, Chen Hui, Su Yan, dan Su Ying di belakang mereka.
Ia mengangguk paham setelah menerima kode dari Chen Ming dan berkata dengan nada sopan, “Tuan muda Weilong, ada keperluan apa anda datang kemari?”
“Hanya melakukan penyelidikan… bagaimanapun kota ini berada dibawah pengawasan keluarga kami. Oleh karena itu, kami butuh saksi dan kebetulan kalian berdua keluar dari menara spiritual sebelum bencana terjadi, apakah itu benar?.” Xia Weilong berkata dengan suara acuh.
Setelah mendengar kata-kata itu, ekspresi Chen Qing’er menjadi dingin. Ia menahan diri untuk tidak memaki-maki dan berkata, “Tuan muda Weilong, silahkan tunjukan surat perintah terlebih dahulu. Setelah itu, kami akan mengikuti dengan patuh.”
Xia Weilong terdiam, lalu mendengus dingin.
Ia menatap Chen Xing’er yang berhasil keluar dari area tekanan miliknya dan secara perlahan mengumpulkan tanah hitam. Pada saat yang sama, salah satu bawahannya mendekat dan membisikan sesuatu membuat mata Xia Weilong berbinar.
“Nona Qing'er, aku menghargai pendapatmu sebagai salah satu anggota keluarga terbesar di kota ini, tetapi kami harus membawa wanita di belakangmu…” Xia Weilong tanpa sadar akan menjilat bibirnya setelah berkata demikian.
Meskipun dia tidak menyelesaikan kata-katanya, Chen Qing’er paham apa yang diinginkan Xia Weilong. Ia tak sanggup lagi ingin memarahi, namun suara Chen Xing’er terdengar, “Saudari dia benar, aku juga butuh penjelasan. Kau tidak bisa bertindak sesuka hati disini, anjing besar.”
Ia lalu berbalik dan menatap mereka dengan dingin dan akhirnya mengerti kesulitan Chen Yuan dalam beberapa tahun ini.
Kerumunan terdiam mendengar itu dan ketika menatap paras indah Chen Xing’er, para laki-laki itu mau tidak mau menelan ludah.
Di balik awan, Binglan menatap pemandangan ini seolah-olah merasa wanita ini bukan Chen Xing’er yang dia kenal. Disisinya, sang master menonton dengan kristal perekam di tangannya, lalu ia berkata dengan sedikit kekanakan, “Binglan, kamu bisa melakukan apapun pada pria itu setelah dia melukai juniormu.”
Binglan mengangguk paham.
...
Sementara di bawah, orang lain menunggu untuk melihat pertunjukan yang bagus, suara Binglan yang indah dan surgawi tiba-tiba terdengar. “Anjing besar? Tidak buruk… saudari Xing, lama tidak bertemu. Aku tidak menyangka kamu semakin fasih dalam bersilat lidah.”
Kerumunan tersadar, salju perlahan turun dan Binglan mendarat secara bersamaan seperti dewi es sembilan surga.
Chen Xing’er mendengus. “Untuk apa kau kemari, patung salju?”
Setelah melihat Binglan berbicara, ekspresi Xia Weilong langsung muram dan dia berkata, “Binglan, meski senior Wuyan mengagumimu, kau tidak bisa terlibat dengan masalah kami saat ini.”
Binglan tidak langsung menanggapi dan berjalan mendekati area tertentu.
Ia mengulurkan tangan untuk menyapu rambut indahnya dengan halus, lalu bagian ujung rambutnya putus. Kemudian ia menyebarkannya diatas tanah hangus tersebut. Dalam sekejap, rambut itu berubah menjadi bunga es yang tersusun rapi sambil bergumam dengan lembut, “Ah-Yuan… Aku suka bunga warna putih, tetapi kamu selalu membawaku bunga merah, kau tahu betapa kesalnya aku saat itu… Apakah, tidak apa-apa… Lan’er mengembalikan semua itu sekarang?... Jika ada reinkarnasi, aku pasti akan mencarimu untuk mengembalikan semuanya.”
Kemudian setetes darah jatuh dan seluruh bunga-bunga es berubah menjadi merah sebelum akhirnya menghilang.
Kerumunan yang awalnya tidak mengerti, langsung paham. Pernyataan… ini adalah pernyataan bahwa Binglan tidak akan menikahi siapapun dalam kehidupan ini. Meskipun terdengar klise dan mungkin palsu, ini sangat efektif untuk menghancurkan ekspektasi pria-pria diluar sana.
“Xia Weilong, Xing’er bisa dianggap sebagai teman masa kecilku, ku harap kau tidak mempersulitnya. Selain itu, dia juga lumayan berbakat, bahkan di masa depan, dia bisa naik lebih tinggi.” Kata Binglan buru-buru.
Ia berbalik sambil menghapus air mata dan menarik Chen Qing’er, sedikit mengobrol.
Chen Xing’er berdiri di tempat, tinjunya mengepal erat. Ia bisa merasakan penghinaan dalam suara Binglan. Namun saat ini, di antara semuanya, yang paling lemah adalah dirinya sendiri.
Setelah mendengar itu, alis Xia Weilong berkerut. Ia tahu bakat Chen Xing’er sangat buruk, tetapi kali ini malah mendapat pujian dari Binglan, sosok tak terkalahkan di alam genesis inti.
Berbakat ya? menarik!
Ia melepaskan tekanan dalam radius lima belas meter, lalu berkata dengan nada meremehkan, “Chen Xing’er! Binglan bilang kau sangat berbakat, jika kau bisa melewati area ini, aku akan mengabaikan masalah kali ini, bahkan memberimu kesempatan.”
Chen Xing’er merasakan pandangan mereka, dingin dan sangat menusuk. Ia gumam dalam hati, pantas aja Ah-Yuan tidak pernah mengijinkanku pergi sendirian, ternyata tempat ini di matanya tidak layak untukku!
Menghela napas dalam-dalam, dia berjalan tertatih, seolah-olah sedang memindahkan sebuah bukit dengan tubuhnya sendiri. Selangkah demi selangkah, ia menyeret dirinya menuju sisi lain.
Gedebuk!
Di bawah tekanan yang semakin menghimpit, tetes-tetes darah merah gelap merembes keluar dari pori-pori Chen Xing’er.
Menatap wanita cantik yang berlumuran darah itu, suasana yang semula riuh tiba-tiba berubah sunyi. Tatapan mereka yang sebelumnya menunggu meremehkan perlahan mengeras menjadi keseriusan. Tekad gadis ini sungguh menggetarkan—wajahnya tetap datar, tanpa sedikit pun menunjukkan rasa sakit atau keraguan.
Binglan yang lima meter dari sisi lain menatap gadis itu, yang berjalan sambil ditutupi dari kepala sampai kaki dengan darah. Riak terbentuk di permukaan pupil beningnya, dia bisa merasakan rasa sakit itu, namun gadis ini seolah kehilangan emosi.
Chen Xing’er melewati Binglan, ia melirik dengan sedikit kemarahan.
Di bawah tatapan kerumunan, kaki Chen Xing’er mencapai sisi lain dan tekanan berat perlahan menghilang.
Puff!
Pada hilangnya tekanan, ia memuntahkan seteguk darah tua. Kemudian pada saat yang sama, cahaya kehijauan menyelimuti tubuhnya.Ia melirik Xia Weilong, penuh penghinaan.
"Aku tidak butuh kesempatan... Pergilah, saat waktunya tiba... kau pasti akan sangat menderita."
Disisi lain, Binglan yang merasakan tubuh Chen Xing’er secara aktif menarik energi di sekitar, langsung tersenyum. Namun, sebelum hendak mengeluarkan batu spiritual, Chen Xing’er tanpa ragu menumpuk batu spiritual kelas atas hingga beberapa meter, mengejek kemiskinan mereka.
Kemudian duduk bermeditasi seolah tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menjadi lebih kuat.
Kerumunan berkedut..
Binglan segera memasang penghalang pelindung di sekeliling Chen Xing’er, lalu ia menghela napas pelan. “Kau semakin mirip Ah-Yuan,” gumamnya lirih. Pandangannya menyapu kerumunan yang kini terdiam, wajah mereka tegang dan gelisah. “Kenapa kalian belum pergi?”
“Kita terjebak!”
“Seseorang memasang formasi dalam radius dua ratus meter!”
Suara-suara panik terdengar bersahutan. Namun, alih-alih cemas, sudut bibir Binglan justru terangkat tipis.
“Sepertinya master-ku marah karena kalian mempersulit muridnya,” ucapnya santai, hampir terdengar geli. “Ah… kurasa aku harus membantu beliau melampiaskan amarahnya.”
“A-apa yang kau katakan?”
“Chen Xing’er, murid wanita itu?”
“Tutup mulutmu bodoh! Mungkin dia ada di sekitar!”
Mata mereka membelalak, tubuh mereka mulai gemetar.
Sementara itu, senyum Binglan memudar, digantikan sorot mata yang sedingin es. Tanpa memberi mereka waktu bereaksi, ia melesat maju dan menghajar mereka satu per satu tanpa ampun.
“Gedebuk! Kraak!”
“Berhenti! Kita harus—agh!”
Satu demi satu mereka tumbang.
Ada yang mencoba melawan, membentuk segel tangan untuk menyerang, tetapi sebelum selesai terbentuk, Binglan telah menghujam mereka.
…
Di atas awan, master Binglan menatap adegan di bawah dengan senyum puas seolah-olah melihat dirinya di masa lalu. Sedangkan di sisi lain, Bai mengamati dengan seksama menatapnya, dia bertanya-tanya dalam hati,
'Kecuali matanya yang merah delima, wanita ini sangat mirip dengannya... apa dia juga sudah melakukan persiapan? Siapa tokoh utama dalam permainan ini?'
Ia menutup mata merasakan kesadaran yang dia tempelkan pada kesadaran Chen Yuan. Saat membuka mata, wajahnya tampak tidak puas.
'Bajingan kecil ini... sepertinya kau tidak berniat melawan! Sayang sekali... padahal kamu pion yang sangat bagus!'