Di Desa Sumberarum, ketenangan bukanlah anugerah—melainkan harga dari sebuah perjanjian gelap.
Fariz, anak petani biasa, hidup di desa yang tak pernah kekurangan apa pun. Sawah selalu subur. Penyakit jarang datang. Bencana seolah menjauh.
Namun semua itu dibayar dengan sesuatu yang tak pernah dibicarakan dengan lantang.
Ketika Kyai Salman datang untuk memutus kemusyrikan yang mengakar, kematiannya justru menanam warisan berbahaya pada Fariz—ilmu yang belum sempurna, kebenaran yang tak diinginkan siapa pun.
Di tengah cintanya pada Aisyah, putri kepala desa, Fariz dipaksa memilih:
membiarkan desa tetap “selamat” dengan dosa, atau menghancurkan keseimbangan yang telah dijaga turun-temurun.
Karena di desa ini,
kebenaran bukanlah penyelamat—
ia adalah awal dari kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat Yang Lebih Aman (Untuk Sementara)
Siang itu suasana rumah menjadi pekat dan mencekam.
Ratna menangis deras saat melihat Fariz mulai hilang dari pandangannya. Sementara Sucipto hanya bisa berlutut, menempelkan kepalanya ke lantai, meluapkan rasa kesal yang ada di dalam dirinya.
"Kenapa jadi begini, Pak?" rintih Ratna. Air matanya berderai membasahi pipinya.
"Seharusnya aku bisa melarang dia pergi, Bu. Tapi..." Sucipto menahan getir. Antara takut, ingin melawan, dan tidak mau keluarganya menjadi buruan Darma Wijaya.
"Aku tidak mau Fariz hidup di bawah bayang-bayang itu."
Suaranya pecah di ujung kalimat terakhir. Lalu tangispun meledak. Tidak keras. Tapi pecah dengan cara orang yang sudah tidak bisa menahan lagi.
Di luar rumah, di balik pagar bambu tetangga seberang, dua orang berdiri mengawasi.
Mereka tidak mendengar apa yang dibicarakan di dalam. Terlalu jauh untuk itu. Tapi mereka melihat Fariz keluar dengan tas di bahu, melihat punggungnya yang tidak menoleh lagi, melihat langkahnya yang tidak berhenti.
Keduanya mengangguk satu sama lain.
Lalu mulai mengikuti dari jarak yang aman.
Jalan menuju pondok terasa jauh.
Fariz terus meratapi keputusannya. Hatinya bergejolak antara menyesal dan ingin memberontak menjadi satu. Air matanya menggantung di kelopak mata, tidak jatuh tapi tidak hilang juga. Kata-kata ayahnya yang menyinggung Kyai Salman terus berkutat di kepalanya.
"Kyai Salman hanya memanfaatkan kamu untuk merusak desa ini."
Fariz menggelengkan kepala pelan. Mencoba menepis kalimat itu. Tapi kalimat itu tetap ada, menempel seperti sesuatu yang tidak bisa dilepas begitu saja.
Hingga akhirnya ia sampai di Pondok Al Mukhlisin.
Ia duduk di tanah, punggung bersandar ke pintu gerbang pondok. Tas masih di bahu, belum diturunkan. Seperti belum yakin apakah ia akan tinggal lama atau tidak.
"Man." Ia mengetuk gerbang dengan pelan. Malas. Seolah tidak ingin masuk ke dalam sana.
"Man."
Tidak ada jawaban.
Fariz mengetuk lagi. Kali ini sedikit lebih keras.
Dari dalam, Rahman mengintip lewat celah pagar bambu.
Ia melihat Fariz dengan wajah kusut, tas di bahu, mata yang menatap kosong ke depan. Tapi Rahman tidak langsung membuka pintu.
Matanya bergerak ke arah jalan.
Di sana, di balik pohon besar di ujung jalan, dua orang berdiri. Tidak bersembunyi sepenuhnya. Hanya mundur ke tempat yang tidak terlalu mencolok. Tapi cukup jelas untuk Rahman yang sudah terlatih melihat hal-hal seperti ini.
Anak buah Darma Wijaya.
Rahman menarik napas. Menunggu.
Beberapa menit berlalu. Dua orang itu pindah sedikit lebih jauh, ke balik rumah tetangga di seberang. Masih mengawasi, tapi tidak sejelas tadi.
Rahman membuka pintu perlahan. Menarik Fariz masuk dengan cepat. Lalu menutup kembali.
"Iz, kenapa kamu datang kemari lagi?" Rahman bicara pelan tapi tegas. "Kamu seharusnya tidak ke sini. Di luar, anak buah Darma Wijaya melihat kamu datang. Ini berbahaya bagimu dan juga untuk pondok ini."
Fariz menatapnya dengan mata yang berbeda dari biasanya.
Tidak menunduk. Tidak meminta maaf. Hanya menatap dengan cara orang yang sudah lelah mendengar kata-kata seperti itu.
"Bahaya?" Suaranya datar. "Atau kamu mau bilang kalau keberadaanku di sini hanya akan membebani kamu dan akan merusak semua yang sudah dibangun oleh Kyai Salman?"
Rahman tercekat.
Ia tidak pernah melihat Fariz sedingin ini. Kemarahan dalam dirinya seolah sudah begitu dalam hingga ia merasakan ada sesuatu yang sedang meliputinya.
"Bukan, Iz. Aku hanya kuatir dengan keluargamu..."
"Ayahku?" Fariz memotong cepat. Menatap Rahman tajam. "Kamu kuatir dengan ayahku yang sudah terikat perjanjian itu?"
Rahman terdiam.
Kini ia sadar Fariz sudah tahu lebih banyak mengenai keluarganya daripada dia.
Tanpa banyak bicara lagi, Rahman membawa Fariz ke dalam tajuk untuk bicara dengannya.
"Maaf, Iz. Aku terlalu banyak bicara." Rahman berlari mengambilkan air putih dari sudut ruangan. "Sekarang ceritakan apa yang terjadi."
Fariz menerima air itu. Meneguknya pelan. Lalu meletakkan gelas di lantai.
"Selama ini aku diselamatkan oleh perjanjian yang mengikat keluargaku."
Suaranya pelan. Tidak marah. Hanya menyatakan fakta yang baru ia pahami.
"Aku dan ibu terkena wabah dua puluh tahun lalu. Bapak rela melakukan itu demi keselamatan kami. Agar kami patuh terhadap Sang Dewi Kuasa."
Ia menatap tangannya sendiri di pangkuan.
"Aku lahir karena ayahku mengorbankan segalanya."
Rahman melirik tas lusuh yang masih menggantung di pundak Fariz.
Lalu Fariz mengangkat wajahnya. Menatap Rahman.
"Aku ingin tinggal di sini, Man."
Rahman terdiam.
Tidak bisa mengiyakan. Tidak bisa melarang. Karena ia tahu Fariz adalah pria yang telah diwariskan sesuatu oleh Kyai Salman. Tapi di sisi lain, jika ia membiarkan Fariz di tempat ini, bahaya akan mengintai.
Ia membiarkan Fariz sedikit lebih tenang. Tanpa pembicaraan. Tanpa nasihat yang bisa disampaikan.
Hanya diam.
"Apa kamu akan mengusirku?" Fariz mengangkat wajahnya.
Rahman melebarkan bibirnya membentuk senyuman. Menggelengkan kepala.
"Kamu istirahatlah di sini. Nanti setelah shalat Maghrib baru kita bicara."
Lalu ia membiarkan Fariz sendiri di dalam tajuk.
Lafaz Allah dan Nabi Muhammad tergantung di dinding.
Fariz menatap keduanya. Meski ia tidak sepenuhnya bisa membaca dan menulis Arab, tapi sedikitnya ia masih mengerti.
Di pintu seberangnya, terlihat kamar bekas Kyai Salman tertutup rapat. Seolah ada sesuatu yang ingin membawa Fariz ke masa lalu, sebelum ia dilarang oleh Sucipto untuk datang ke sini.
Ia merebahkan tubuh di lantai kayu yang dingin. Menatap langit-langit.
Pikirannya kosong. Atau terlalu penuh sampai terasa kosong.
Selepas Maghrib, Rahman membawakan nasi dan sepotong tahu untuk Fariz.
Menu seadanya yang selalu ia makan sejak Kyai Salman sudah tiada.
"Aku tidak punya yang lain, Iz."
Rahman menyodorkannya. Fariz menerimanya dan langsung menyantapnya dengan lahap. Dari siang tadi ia bukan hanya menahan marah, tapi juga menahan lapar karena belum sempat menghabiskan makanannya di rumah.
Setelah selesai makan, Rahman duduk di hadapannya.
"Iz, tempat ini tidak bisa kamu tempati."
Fariz mendongak. Wajahnya berubah.
"Tapi aku punya tempat lain." Rahman melanjutkan sebelum Fariz sempat protes. "Tempat yang sering ditinggali oleh beberapa murid Kyai Salman. Dan aku yakin tempat ini bisa melindungi kamu sementara."
"Memangnya kenapa, Man? Aku tidak bisa tinggal di sini?" Fariz mendesah. Berharap ia bisa bersamanya.
"Saat kamu datang kemari, aku melihat ada dua orang anak buah Darma Wijaya mengawasimu."
Rahman mengeluarkan selembar kertas kecil dari sakunya. Mulai menggambar dengan arang. Garis-garis sederhana. Jalan, belokan, tanda pohon besar, rumah kecil di ujung.
"Ini rumah kosong bekas murid Kyai Salman yang sudah pindah ke kota. Lokasinya di perbatasan desa Sumberarum, dekat hutan kecil. Tidak banyak orang lewat ke sana."
Ia menyerahkan kertas itu ke Fariz.
"Kamu harus waspada. Dan ambil jalan ini kalau seandainya anak buah Darma Wijaya mengikutimu."
Rahman menunjuk jalur alternatif di peta kecil itu. Jalur yang memutar lewat kebun singkong dan keluar lewat belakang desa.
"Ingat, Iz. Jangan sampai mereka tahu tempat ini."
Ia menatap Fariz serius.
"Besok pagi aku akan menyusulmu. Sekarang kamu harus pergi dari pondok ini."
Fariz mengangguk. Menarik tasnya kembali ke pundak.
Rahman mengantar sampai pintu. Dari dalam, ia mengintip lewat celah.
Dua orang itu masih ada. Berdiri di tempat yang sama seperti tadi sore. Tidak bersembunyi lagi. Seolah mereka ingin Fariz tahu bahwa mereka ada di sana.
"Anggap saja kamu tidak melihat mereka." Rahman berbisik pelan. "Ambil jalur barat untuk meninggalkan pondok. Jalan seperti biasa. Jangan terburu."
Fariz menarik napas. Lalu membuka pintu dan melangkah keluar.
Rahman berdiri di ambang pintu dari dalam. Tidak keluar. Hanya menatap punggung Fariz yang mulai menjauh.
Saat Fariz berjalan sedikit menjauh, dua orang itu langsung bergerak.
Langkah mereka cepat. Mengikuti dari jarak yang tidak terlalu jauh. Salah satunya melirik ke arah Rahman yang masih berdiri di pintu.
Lalu ia tersenyum tipis.
Bukan senyum ramah. Lebih seperti senyum orang yang sedang bilang tanpa kata-kata: Kami tahu apa yang kamu lakukan.
Rahman merasakan dadanya sesak sebentar.
Lalu ia menutup pintu. Mengunci dari dalam.
Dan berdiri di situ cukup lama, menatap pintu yang tertutup, tahu bahwa sesuatu yang lebih buruk sedang mendekat.
Sementara itu, telinga Fariz terbuka lebar.
Mendengarkan setiap suara yang muncul dari belakang. Langkah kaki di atas tanah. Napas yang sedikit lebih berat dari biasanya. Dua orang. Tidak terlalu jauh.
Ia mulai sadar sesuatu yang belum pernah ia sadari sebelumnya.
Ayahnya terikat oleh Darma Wijaya. Dan selama ini ia tidak berbuat apa-apa selain menuruti semua kemauannya.
Tapi sekarang Fariz tidak lagi di bawah perlindungan ayahnya.
Sekarang ia sendirian.
Dan dua orang di belakangnya tidak mengikutinya untuk melindungi.
Fariz memegang tali tas di bahunya lebih erat.
Lalu mulai berjalan sedikit lebih cepat.
Tidak berlari. Hanya lebih cepat.
Cukup untuk membuat jarak sedikit lebih jauh.
Cukup untuk sampai ke jalur alternatif yang Rahman gambar di peta kecil yang kini ia pegang di tangan.