Serial ini mengisahkan perjalanan Chen Feng, seorang pemuda yang menjadi satu-satunya keturunan keluarga pemburu naga setelah desa kecilnya di Tanah Seribu Pegunungan dibakar dan orang tuanya terbunuh oleh Sekte Ular Hitam. Dengan bimbingan Ye Linglong, putri dari klan pemburu naga terkemuka, Feng belajar mengendalikan kekuatan naga yang mengalir dalam dirinya—kekuatan yang tidak hanya berasal dari kemarahan akan kehilangan, melainkan dari kedamaian dan pemahaman tentang cinta serta tanggung jawab.
Melalui serangkaian ujian yang menguji keberanian, pengendalian diri, dan pemahaman tentang cinta serta masa lalu, Feng harus menghadapi dendam yang telah berlangsung berabad-abad antara keluarganya dengan Sekte Ular Hitam. Ia menemukan bahwa kekuatan sebenarnya bukanlah dari kemarahan atau kekerasan, melainkan dari kemampuan untuk menerima rasa sakit, menyatukan apa yang terpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26: Pemulihan dan Masa Depan Yang Baru
Sinar matahari pagi menyinari dataran luas di kaki Gunung Tianwu dengan kehangatan yang menyegarkan. Tanah yang tadinya terbakar dan tercemar kini hijau kembali dengan rerumputan segar, dan bunga-bunga berwarna-warni mulai mekar di setiap sudut medan yang dulunya menjadi tempat pertempuran epik. Makhluk-makhluk yang tadinya dikenal sebagai kekuatan gelap kini bekerja bersama dengan manusia, membantu membersihkan puing-puing dan membangun kembali apa yang telah rusak.
Feng berdiri di puncak bukit kecil yang memberikan pandangan luas ke seluruh wilayah, bersama dengan Hei Yu dan para pemimpin klan. Pedang Naga di tangannya kini tampak tenang, cahaya ungu lembutnya menyatu sempurna dengan energi alam sekitarnya. Di bawah mereka, pekerjaan pemulihan sedang berlangsung dengan penuh semangat—rumah-rumah baru mulai dibangun, kebun-kebun mulai ditanam, dan suara tawa anak-anak kembali mengisi udara.
“Kita telah mencapai hal yang luar biasa,” ujar Hei Yu dengan suara yang penuh rasa hormat. “Bahkan beberapa bulan yang lalu, aku tidak pernah membayangkan bahwa kita bisa hidup berdampingan dengan damai seperti ini.”
Feng mengangguk dengan senyum lembut, melihat ke arah kelompok makhluk gelap yang sedang membantu Klan Naga Hijau menanam pohon-pohon baru. “Mereka tidak lagi menjadi musuh kita,” katanya. “Mereka adalah bagian penting dari alam semesta yang kita jaga. Setiap makhluk memiliki peranannya sendiri dalam menjaga keseimbangan.”
Di kejauhan, Naga Putih Tianwu muncul dengan anggun di atas langit, bersama dengan sosok Dewa Kegelapan yang kini telah berubah menjadi penjaga kegelapan yang seimbang. Kedua makhluk besar itu bergerak dengan harmonis, menyebarkan energi positif ke seluruh Tanah Seribu Pegunungan.
“Mereka akan membantu kita menjaga keseimbangan yang baru,” jelas Li Mei yang berdiri di sisinya. “Dengan kerja sama antara penjaga cahaya dan kegelapan, kita tidak perlu khawatir tentang kehancuran lagi.”
Pada siang hari, rapat besar diadakan di desa baru yang sedang dibangun di dekat lokasi pertempuran. Perwakilan dari semua klan pemburu naga, termasuk anggota Sekte Ular Hitam yang telah bertobat, berkumpul untuk membahas masa depan mereka bersama.
“Kita akan membentuk sebuah konfederasi baru yang disebut ‘Perhimpunan Seimbang Tanah Seribu Pegunungan’,” mengumumkan Feng di depan semua orang. “Setiap klan dan kelompok akan memiliki suara yang sama, dan keputusan akan dibuat berdasarkan prinsip keseimbangan dan kebaikan bersama.”
Dia menjelaskan struktur organisasi baru:
- Dewan Penjaga Seimbang: Bertanggung jawab atas keputusan strategis, terdiri dari Feng, Hei Yu, dan perwakilan dari setiap klan
- Divisi Perlindungan Alam: Dipimpin oleh Lin Xia, bertanggung jawab atas pelestarian lingkungan dan pemeliharaan keseimbangan alam
- Divisi Pembangunan Masyarakat: Dipimpin oleh Liu Hai, bertanggung jawab atas pembangunan infrastruktur dan kesejahteraan masyarakat
- Divisi Pertahanan dan Keamanan: Dipimpin oleh Ye Chen, bertanggung jawab atas keamanan wilayah dan pelatihan pasukan penjaga
- Divisi Pendidikan dan Budaya: Dipimpin oleh Li Mei, bertanggung jawab atas penyebaran pengetahuan tentang keseimbangan dan pelestarian budaya lokal
“Hei Yu akan menjadi Penjaga Kegelapan, sementara aku akan menjadi Penjaga Cahaya,” lanjut Feng. “Bersama kita akan memastikan bahwa kedua kekuatan tersebut selalu berada dalam keseimbangan yang sehat.”
Hei Yu melangkah ke depan dengan sikap yang tegas dan penuh keyakinan. “Saya berjanji akan menjalankan tugas ini dengan penuh rasa tanggung jawab,” katanya. “Kita telah belajar bahwa tidak ada kekuatan yang benar-benar baik atau jahat—semuanya tergantung pada bagaimana kita mengelolanya.”
Suara tepukan tangan dan sorak yang menggema memenuhi udara. Semua orang merasa harapan yang dalam untuk masa depan yang baru—masa depan di mana manusia dan makhluk lain bisa hidup berdampingan dalam harmoni yang sebenarnya.
Pada sore harinya, upacara khusus diadakan untuk menandai pembukaan sekolah baru yang akan mengajarkan generasi muda tentang pentingnya keseimbangan. Anak-anak dari berbagai klan dan latar belakang berkumpul di halaman sekolah yang indah, dengan taman yang dihiasi oleh tanaman dari seluruh Tanah Seribu Pegunungan.
Linglong berdiri di depan anak-anak itu, dengan senyum yang hangat di wajahnya. “Kalian adalah masa depan kita,” ujarnya dengan suara yang penuh semangat. “Kita akan mengajarkan kalian tidak hanya tentang kekuatan fisik, tapi juga tentang pentingnya memahami dan menghargai semua makhluk hidup di dunia ini.”
Anak-anak itu mendengarkan dengan penuh perhatian, mata mereka bersinar dengan semangat dan rasa ingin tahu. Beberapa di antaranya bahkan mulai menunjukkan kemampuan untuk merasakan dan mengendalikan kedua kekuatan cahaya dan kegelapan dengan alami—buktian bahwa masa depan akan berada di tangan yang benar.
Sementara itu, Feng dan Hei Yu melakukan perjalanan ke kedalaman Gunung Tianwu, ke lokasi di mana segel dulunya berada. Sekarang, lokasi itu telah diubah menjadi tempat persembahan yang indah, dengan batu-batu yang diukir dengan lambang cahaya dan kegelapan yang saling melengkapi.
“Tempat ini tidak lagi menjadi tempat penyegelan,” ujar Feng sambil menyentuh batu besar di tengah persembahan. “Ini akan menjadi tempat di mana kita datang untuk merenung dan mengingat pentingnya keseimbangan.”
Hei Yu mengangguk dengan penuh pemahaman. “Dan di sini kita akan melatih generasi berikutnya tentang cara mengendalikan dan menghargai kedua kekuatan tersebut,” tambahnya. “Jadi sejarah tidak akan terulang lagi.”
Malam itu, perayaan besar diadakan di seluruh desa baru. Api unggun menyala tinggi di setiap sudut desa, dan makanan dari berbagai daerah disajikan dengan murah hati. Musik dan tarian khas dari setiap klan mengisi udara, menciptakan harmoni yang indah dari keberagaman yang ada.
Feng berdiri bersama dengan Linglong, Hei Yu, dan para pemimpin klan di atas bukit kecil, menyaksikan kegembiraan yang ada di sekitar mereka. Bulan penuh bersinar terang di atas langit, dan bintang-bintang tampak lebih jelas dari sebelumnya—seolah alam semesta itu sendiri sedang merayakan bersama mereka.
“Kita telah melalui perjalanan yang panjang dan penuh tantangan,” ujar Feng dengan suara yang lembut namun jelas. “Kita telah kehilangan banyak hal, tapi kita juga telah mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga—persahabatan, pemahaman, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.”
Linglong menyandarkan kepalanya pada bahunya, tangan mereka saling menggenggam erat. “Kita akan selalu bersama untuk menjaga apa yang telah kita bangun,” katanya dengan penuh cinta dan tekad.
Hei Yu berdiri di sisinya, wajahnya penuh dengan kedalaman rasa syukur. “Masa depan mungkin masih memiliki tantangan baru,” ujarnya. “Namun sekarang kita tahu bahwa kita bisa menghadapinya bersama, dengan kekuatan yang benar dan hati yang penuh dengan harapan.”
Mereka tetap berdiri di sana hingga larut malam, menyaksikan dunia yang mereka cintai mulai bangkit kembali dengan kehidupan yang lebih kuat dan seimbang. Semua orang tahu bahwa perjuangan mereka tidak pernah sia-sia—karena mereka telah berhasil membawa perubahan besar yang akan bertahan selama berabad-abad yang akan datang.