Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tembok pun Punya Telinga
Cahaya matahari Seoul yang jernih menembus jendela hotel, memantul di permukaan cangkir kopi yang masih mengepulkan uap. Takara menyesap cairan pahit itu perlahan, matanya menatap siluet gedung-gedung pencakar langit yang mulai sibuk. Ada debaran aneh di dadanya, perpaduan antara antusiasme profesional dan sisa-sisa euforia pertemuannya dengan Jake semalam.
Ia meletakkan cangkir, lalu berdiri di depan cermin besar. Hari ini bukan waktunya menjadi "sahabat Jake dari Brisbane", melainkan menjadi arsitek profesional dari firma ternama.
Takara memilih blouse sutra berwarna cream yang jatuh dengan elegan, dipadukan dengan celana kain berpotongan tinggi. Rambutnya ia ikat ponytail rapi, menonjolkan garis leher dan wajahnya yang segar. Sedikit parfum dengan aroma sandalwood dan citrus ia bubuhkan di pergelangan tangan, sebuah sentuhan akhir untuk menambah kepercayaan diri.
"Oke! Kita berangkat," gumamnya pada pantulan dirinya sendiri.
Taksi yang ditumpanginya berhenti tepat di depan gedung agensi. Kali ini, pintu masuknya berbeda. Ia diarahkan menuju lantai paling atas, area eksklusif di mana keputusan-keputusan besar diambil.
Begitu pintu lift terbuka, Takara disambut oleh asisten dewan direksi yang membawanya masuk ke sebuah ruang rapat besar berdinding kaca. Di sana, beberapa pria dan wanita paruh baya dengan aura otoritas yang kuat sudah duduk menunggu. Mereka adalah dewan direksi, orang-orang yang memegang kendali atas karier Jake dan masa depan agensi ini.
"Selamat pagi. Saya Takara Jessamine dari firma arsitektur Brisbane. Terima kasih atas kesempatannya," ucap Takara dalam bahasa Korea yang sangat sopan, membungkuk dengan derajat yang tepat.
Ia segera membuka laptopnya, menghubungkannya ke proyektor, dan memulai presentasi.
Takara menjelaskan visinya bukan sekadar sebagai estetika, tapi sebagai investasi jangka panjang bagi kesehatan mental para artis.
"Kantor pusat yang baru ini bukan hanya tempat bekerja," jelas Takara sembari menunjuk sketsa jembatan kayu dan taman private-nya. "Ini adalah ekosistem. Dengan memberikan cahaya matahari alami dan elemen air di tengah gedung, kita bisa menurunkan tingkat stres staf dan talent hingga tiga puluh persen. Artis yang merasa 'bebas' di dalam gedung akan menghasilkan performa yang lebih baik di luar gedung."
Seorang direktur pria mengetuk-ngetuk jarinya di meja. "Konsep taman belakang Anda... apakah itu benar-benar aman dari penglihatan publik?"
"Tentu," jawab Takara tegas. "Saya menggunakan sistem fasad berlapis dengan vegetasi yang padat. Secara visual, itu terlihat seperti taman hutan, namun secara teknis, itu adalah perisai privasi yang tidak bisa ditembus oleh lensa kamera jarak jauh sekalipun."
Direktur wanita di sudut ruangan tersenyum tipis. "Saya suka bagaimana Anda memikirkan detail psikologisnya, Miss Takara. Agensi ini butuh sentuhan 'manusiawi' setelah bertahun-tahun terjebak dalam desain industrial yang dingin."
Rapat berlangsung selama tiga jam yang intens. Setiap detail teknis dikupas habis, mulai dari sistem pengairan kolam hingga jenis pohon yang akan ditanam di rooftop. Namun, di tengah sesi tanya jawab yang serius, ponsel Takara yang ia letakkan telungkup di meja bergetar singkat.
Ia melirik sedikit saat membalikkan badan untuk mengganti slide.
📲 Jake: Gue lewat depan ruang tadi, tapi kacanya buram. 😭 Gue cuma bisa denger suara lo lewat pintu yang dikit kebuka. Lo kedengeran keren banget, Ra. Keep killing it!
Takara harus menahan diri sekuat tenaga agar tidak tersenyum di depan para direktur. Ia berdehem kecil, membetulkan letak kacamatanya, dan kembali melanjutkan penjelasan teknisnya dengan lebih semangat.
———
Suasana di lorong lantai atas itu mendadak terasa penuh. Aroma parfum yang bercampur dengan energi khas para bintang muda memenuhi udara. Di samping Takara, sang CEO agensi berjalan dengan langkah tegap, tampak sangat puas dengan kontrak kerja sama yang baru saja mereka sepakati.
Langkah mereka terhenti tepat di depan tujuh pemuda yang sedang berjalan menuju ruang latihan. Takara bisa merasakan jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, namun ia tetap memasang wajah profesional, masker "arsitek sukses" yang sudah ia latih sejak di hotel.
"Oh iya Takara! Anda pasti sudah kenal siapa mereka," jelas CEO dengan nada bangga, sambil melambaikan tangan ke arah ketujuh pemuda itu.
"Oh iya Tuan, mereka ENHYPEN, sangat terkenal," jawab Takara sopan. Matanya menyapu satu per satu member, dan saat pandangannya jatuh pada Jake, ia melihat binar jenaka yang hampir saja merusak akting mereka. Jake tampak berusaha keras menahan senyum bangganya.
Heeseung, Sunghoon, dan member lainnya berdiri tegak, namun mata mereka tidak bisa berbohong. Mereka menatap Takara dengan rasa penasaran yang besar. Selama ini mereka hanya mendengar cerita tentang "sahabat masa kecil" dari Jake, dan melihat foto-foto lama.
Melihat Takara yang sekarang berdiri dengan blouse elegan dan aura profesional yang kuat benar-benar membuat mereka terkesima.
"Perkenalkan semua, ini adalah Arsitek dari Brisbane. Dia yang akan merancang 'rumah' baru kita," ucap CEO. Ia kemudian menoleh ke arah Jake. "Jake! Brisbane adalah kota asalmu, kan?! Kalian dari kota yang sama!"
Jake berpura-pura terkejut dengan akting yang cukup meyakinkan. "Ah iya, Pak. Sayangnya saya sudah lama sekali tidak pulang ke sana," jawab Jake dengan nada bicara yang sopan, seolah-olah dia baru pertama kali mendengar nama Takara hari itu.
Takara melangkah maju sedikit, mengulurkan tangan dengan formal, meskipun tangannya terasa dingin karena gugup. "Hai, perkenalkan saya Takara Jessamine. Mohon bantuannya selama proyek ini berlangsung."
"Wah, suatu kehormatan bertemu dengan Anda, Arsitek Takara," sahut Jungwon sebagai leader, mewakili member lain yang hanya bisa mengangguk-angguk sambil menahan tawa melihat betapa kaku dan formalnya interaksi Jake dan Takara saat ini.
Di dalam hati, Jay dan Ni-ki sebenarnya ingin sekali menggoda Jake, namun mereka tahu taruhannya terlalu besar jika CEO sampai curiga. Mereka semua bertindak sangat kooperatif, memberikan sapaan hangat seolah-olah Takara adalah orang asing yang baru mereka temui.
"Karena kalian berasal dari kota yang sama, Jake, mungkin nanti kamu bisa memberikan masukan pada Miss Takara tentang apa saja yang disukai anak muda Australia agar gedung ini terasa lebih homey," saran CEO tanpa curiga sedikit pun.
"Tentu, Pak. Saya akan dengan senang hati membantu jika dibutuhkan," jawab Jake, memberikan lirikan rahasia ke arah Takara yang hanya bisa dibaca oleh gadis itu: Akting kita oke juga, kan?
CEO berpamitan kepada Takara dan Enhypen untuk mengerjakan beberapa kontrak kerja sama. Melihat kondisi menguntungkan itu, Jake menarik tangan Takara dan jelas dibantu oleh member ENHYPEN lain.
Pintu ruang rekaman yang kedap suara itu tertutup dengan bunyi klik yang mantap. Begitu Jake memastikan tidak ada kamera pengawas yang menyorot ke arah mereka, ketegangan formal yang tadi menyelimuti lorong langsung mencair seketika.
"Kenalin, ini dia sahabat gue! Takara!" ungkap Jake dengan suara yang jauh lebih lepas, wajahnya berseri-seri penuh kebanggaan. Ia merangkul bahu Takara dengan akrab, seolah ingin memamerkan kepada dunia, atau setidaknya kepada saudara-saudara satu grupnya, siapa sosok yang selama ini sering ia ceritakan.
Takara yang tadinya sudah bersikap sangat berwibawa di depan dewan direksi, mendadak merasa seperti anak kecil yang salah masuk ruangan. Berdiri di hadapan tujuh pria yang merupakan bintang global dengan visual yang tidak main-main membuatnya merasa sedikit ciut.
"Halo... saya Takara," ujar Takara pelan, membungkuk kecil dengan gerakan yang terasa sangat kikuk.
Ruangan itu hening sejenak, sebelum akhirnya Ni-ki memecah suasana dengan tawa kecil. "Wah, akhirnya kita ketemu 'Arsitek Brisbane' yang asli! Jake-hyung nggak berhenti pamer foto lo dari kemarin-kemarin, tapi aslinya jauh lebih keren ya?"
"Beneran," sahut Jay sambil menyilangkan tangan di dada, menatap Takara dengan pandangan menilai yang ramah. "Terima kasih ya sudah mau mendesain gedung ini. Jake selalu bilang dia pengen banget punya tempat latihan yang nggak bikin stres, dan setelah denger presentasi lo tadi, iya, kita dengerin dikit dari balik pintu, kayaknya lo bener-bener tahu apa yang kita butuhin."
Sunghoon mendekat, memberikan senyum tipisnya yang sopan. "Maaf ya kalau tadi kita harus pura-pura nggak kenal. Di gedung ini, dinding punya telinga."
"Nggak apa-apa, aku ngerti kok," jawab Takara mulai sedikit rileks. Ia melirik Jake yang masih merangkul bahunya. "Tapi Jake, lo nggak bilang kalau member lo semuanya setuju buat bohong demi kita?"
"Mereka tim solid, Ra!" jawab Jake sambil tertawa, menepuk dada Heeseung. "Mereka tahu kalau sampai rencana jalan-jalan kita gagal, gue bakal mogok latihan seminggu."
"Jangan percaya dia, Takara-ssi," potong Jungwon sebagai leader dengan nada jenaka.
"Kami cuma kasihan aja sama dia. Tiap malem dia cuma liatin foto donat pemberian lo, jadi lebih baik kami bantu biar dia nggak makin galau."
Takara tertawa lepas untuk pertama kalinya sejak menginjakkan kaki di gedung agensi itu. Ternyata, meskipun mereka adalah bintang besar, di dalam ruangan tanpa kamera ini, mereka hanyalah sekumpulan pemuda yang sangat menyayangi Jake.
Di tengah obrolan seru itu, Sunoo tiba-tiba teringat sesuatu. "Eh, Kak Takara! Jake-hyung bilang Kakak bawa makanan dari Brisbane? Beneran ada sambal teri yang katanya legendaris itu?"
Takara langsung teringat tujuannya. "Ah, iya! Ada di koper yang tadi Jake bawa ke apartemennya, tapi aku ada bawa beberapa kotak kecil kue kering di tas kerja aku buat kalian. Sebentar..."
Takara merogoh tasnya dan mengeluarkan beberapa wadah kecil berisi camilan buatan rumah. Dalam sekejap, ketujuh member itu mengerumuninya, melupakan status mereka sebagai idola papan atas demi mencicipi rasa "rumah" dari Brisbane.
Jake menatap pemandangan itu dengan senyum lebar. Ia merasa dunianya kini lengkap. Sahabatnya, rekan kerjanya, dan mimpinya kini berada di dalam satu ruangan yang sama.