Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAMU TAK DIUNDANG
10:00 AM. Pelabuhan Aghia Marina, Yunani.
Pagi itu, pelabuhan kecil di bawah tebing toko buku Analogue Heart tampak lebih sibuk dari biasanya. Sebuah kapal feri tua yang menghubungkan pulau-pulau kecil di Mediterania baru saja bersandar, mengeluarkan asap hitam ke langit biru yang jernih. Di antara kerumunan nelayan dan turis yang membawa ransel besar, seorang pria berdiri diam, menonjol bukan karena penampilannya yang mencolok, melainkan karena caranya memindai sekeliling.
Raka, yang sedang membantu Pak Kostas mengangkat peti-peti kayu berisi pasokan zaitun, mendadak berhenti. Tubuhnya menegang. Tangannya yang memegang pinggiran peti kayu sekeras baja.
"Ada apa, Nak?" tanya Pak Kostas, menyadari perubahan aura pada pria yang biasanya tenang itu.
"Tidak ada, Pak. Hanya sedikit pusing," bohong Raka. Matanya tetap terkunci pada pria di dermaga itu. Pria itu mengenakan mantel panjang berwarna abu-abu, topi fedora yang menutupi sebagian wajahnya, dan sebuah koper perak kecil di tangan kanannya.
Raka meletakkan peti itu dengan hati-hati namun cepat. Ia tidak perlu melihat wajah pria itu untuk tahu siapa dia. Weight distribution, cara melangkah yang meminimalkan jejak suara, dan kewaspadaan periferal yang hanya dimiliki oleh lulusan terbaik akademi bayangan Unit 09.
"Li... masuk ke dalam toko. Sekarang," perintah Raka melalui komunikator kecil di telinganya yang selalu ia pakai—meski Liana sering memprotesnya.
"Ada apa, Raka? Aku sedang menata rak fiksi," suara Liana terdengar bingung dari dalam toko yang terletak lima puluh meter di atas tebing.
"Lakukan saja, Liana. Dan aktifkan protokol 'Silent Room'. Sekarang!"
Raka berjalan perlahan menuju pria bermantel abu-abu itu. Ia tidak berlari, karena itu akan menarik perhatian. Ia berjalan dengan tangan yang siaga di samping tubuh, matanya menatap tajam ke arah koper perak itu.
Saat jarak mereka tinggal lima meter, pria itu berhenti. Ia mengangkat wajahnya perlahan, menyingkap wajah yang penuh dengan guratan usia namun tetap terlihat tangguh.
"Kau tumbuh menjadi pria yang sangat waspada, Raka. Persis seperti yang aku ajarkan," suara itu berat, serak, dan membawa beban nostalgia yang menyesakkan.
Raka berhenti bernapas sejenak. "Kolonel Hendra."
Itu adalah pria dari foto polaroid yang dikirim dari Brasil. Sosok yang dulu dianggap Raka sebagai ayah angkat sekaligus mentor paling kejam di Unit 09. Pria yang seharusnya sudah mati atau membusuk di penjara militer setelah proyek Yudha hancur.
"Aku tidak datang sebagai musuh, Raka," kata Hendra, ia meletakkan koper peraknya di atas semen dermaga. "Aku datang sebagai pengungsi. Sama sepertimu."
"Pengungsi tidak membawa koper perak terenkripsi milik departemen intelijen," desis Raka, otot rahangnya mengeras. "Bagaimana kau menemukan tempat ini?"
Hendra tersenyum pahit. "Kau meremehkan jejak digital yang ditinggalkan si Jenius Bimo. Dia memang hebat, tapi dia terlalu emosional. Hadiah holografik yang dia pasang di tokomu memancarkan frekuensi yang bisa dilacak oleh satelit tua yang belum sempat dimatikan."
Raka menuntun Hendra naik ke toko buku melalui jalan setapak belakang yang tersembunyi. Saat mereka masuk melalui pintu dapur, Liana sudah berdiri di sana dengan sebuah stun gun di tangan kanan dan tablet kontrol di tangan kiri. Matanya menyala karena amarah dan ketakutan.
"Berhenti di sana," perintah Liana.
Hendra mengangkat kedua tangannya. "Ratu-ku... kau masih terlihat sama cantiknya seperti saat kau meretas sistem Pentagon sepuluh tahun lalu."
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu," sahut Liana dingin. "Kenapa kau di sini, Hendra? Apa Yudha mengirimmu? Apa ada sisa-sisa program yang belum terhapus?"
Hendra menghela napas, ia duduk di salah satu kursi kayu tua tanpa diminta. Ia terlihat sangat lelah, jauh lebih tua dari ingatan mereka. "Yudha sudah mati. Benar-benar mati. Tapi apa yang dia tinggalkan... bayang-bayangnya... masih menghantui mereka yang selamat. Aku datang karena koper ini berisi satu hal yang kalian butuhkan untuk benar-benar bebas."
Bimo tiba-tiba muncul dari ruang bawah tanah, memegang obeng dan wajahnya bersimbah keringat. "Siapa yang berisik pagi-pagi begini " Bimo membeku. "Kolonel? Kau masih hidup?!"
"Hampir tidak, Bimo," jawab Hendra. "Aku diburu oleh faksi baru yang mencoba menghidupkan kembali Proyek Cocytus. Mereka ingin data mentah yang ada di otak Liana dan keterampilan tempur Raka. Aku mencuri data enkripsi lokasi mereka dan membawanya ke sini agar kalian bisa menghancurkannya selamanya."
Suasana di dalam Analogue Heart berubah menjadi sangat emosional. Hendra mulai bercerita tentang rekan-rekan mereka yang tidak seberuntung Raka dan Liana. Tentang mereka yang dieksekusi setelah proyek gagal, dan tentang bagaimana ia menghabiskan sisa hidupnya mencoba menebus dosa karena telah menciptakan "monster" seperti Yudha.
"Raka... Liana..." Hendra menatap mereka berdua bergantian. Matanya berkaca-kaca. "Maafkan aku. Aku yang membawa kalian ke dunia kegelapan itu saat kalian masih sangat muda. Aku melihat kalian di sini... di antara buku-buku ini... dan aku merasa, mungkin ada harapan untuk kita semua."
Liana menurunkan stun gun-nya. Ia bisa merasakan kejujuran dalam nada suara pria itu. Rasa benci yang ia pelihara bertahun-tahun seolah berbenturan dengan kenyataan bahwa pria di depannya ini hanyalah seorang kakek tua yang hancur.
Raka berjalan menuju jendela, menatap laut lepas. "Kenapa kau tidak menghancurkannya sendiri, Kolonel?"
"Karena aku tidak punya masa depan untuk dijaga, Raka," jawab Hendra pelan. "Kalian punya. Kalian punya janji di tepi dermaga. Kalian punya toko buku ini. Dan kalian mungkin... akan segera punya keluarga."
Setelah ketegangan mereda, Raka menyuruh Bimo untuk membawa Hendra ke ruang persembunyian di bawah dermaga. Ia tidak ingin keberadaan Kolonel tercium oleh warga desa.
Saat hanya tinggal berdua di dapur, Liana langsung memeluk Raka dari belakang. Ia menyembunyikan wajahnya di punggung pria itu, tubuhnya gemetar. "Aku takut, Raka. Aku pikir itu sudah berakhir. Kenapa mereka selalu menemukan kita?"
Raka berbalik dan mendekap Liana erat. Ia mencium puncak kepala istrinya, menyalurkan semua kekuatan yang ia miliki. "Mereka tidak akan menyentuhmu, Li. Aku bersumpah. Jika Hendra benar tentang koper itu, kita akan menghancurkan mereka sebelum mereka sempat melihat pelabuhan ini."
Raka mengangkat dagu Liana, menatap matanya yang basah. Di tengah ketakutan akan ancaman baru ini, gairah protektif Raka bangkit dengan intensitas yang berbeda. Ia mencium Liana bukan ciuman yang lembut kali ini, melainkan ciuman yang penuh dengan tekad dan rasa memiliki yang absolut.
"Aku akan menjagamu," gumam Raka di bibir Liana. "Siapa pun yang datang, mereka harus melaluiku dulu."
Liana menarik kerah baju Raka, membalas ciuman itu dengan keputusasaan yang manis. Dalam ciuman itu, mereka saling menguatkan. Ancaman luar mungkin kembali, nostalgia mungkin menyakitkan, tapi di dalam dinding Analogue Heart, mereka adalah satu kekuatan yang tak terpisahkan.
Sentuhan Raka yang panas di pinggang Liana menjadi pengingat bahwa meskipun dunia luar mencoba menarik mereka kembali ke masa lalu, mereka memiliki satu sama lain di masa kini. Gairah mereka menjadi senjata untuk melawan rasa takut. Di tengah kekacauan yang dibawa oleh Hendra, mereka menemukan kembali alasan mengapa mereka berjuang: untuk kedamaian yang baru saja mereka bangun.
Malam itu, mereka berkumpul di ruang bawah tanah toko. Koper perak itu diletakkan di tengah meja. Bimo sedang sibuk dengan peralatan dekripsinya, sementara Hendra memperhatikan dengan diam.
"Jika aku membuka ini," kata Bimo dengan nada serius yang jarang ia tunjukkan. "Kita tidak bisa kembali ke mode 'warga sipil' untuk sementara waktu. Kita akan menjadi hantu lagi."
Raka menatap Liana. Liana menggenggam tangan Raka, jarinya mengusap cincin safir yang baru saja ia terima.
"Buka, Bim," kata Liana tegas. "Kita tidak akan bisa menikmati masa depan kalau masa lalu masih memiliki kunci pintunya."
Bimo menekan tombol terakhir. Layar monitor memancarkan cahaya biru yang tajam, menampilkan peta koordinat yang berkedip di wilayah Laut Hitam.
"Selamat datang kembali di permainan, anak-anak," bisik Hendra pelan.
Di luar, angin Mediterania menderu kencang, seolah-olah alam sedang memberi tahu bahwa badai besar akan datang. Namun di dalam toko buku biru itu, Raka dan Liana berdiri berdampingan, siap menghadapi apa pun yang datang, demi menjaga setiap lembar halaman hidup mereka yang baru saja mereka tulis.