NovelToon NovelToon
Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi

Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi

Status: tamat
Genre:Harem / Bertani / Slice of Life / Komedi / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

Di mata dunia, Banyu hanyalah seorang pemuda desa putus sekolah yang tidak memiliki masa depan. Kehilangan kakeknya dan divonis memiliki penyakit bawaan membuat hidupnya seolah menemui jalan buntu. Namun, roda nasib berputar 180 derajat ketika Banyu secara tak sengaja mewariskan sebuah artefak kuno Kendi Penyuling Jiwa milik sang kakek.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Malaikat Penyelamat di Tepi Jalan

Kembali ke Hotel Grand Gardenia.

Transaksi Banyu dengan Chef Gunawan berjalan mulus, bahkan lebih sukses dari dugaan. Chef Gunawan tidak cuma memborong 200 kilo sawi dengan harga premium, tapi juga mengenalkan Banyu ke beberapa koleganya para Executive Chef dari hotel bintang lima lain dan manajer procurement restoran mewah.

Mereka berebut kartu nama Banyu. Di mata mereka, Banyu bukan sekadar petani, tapi "dewa penyelamat" menu vegetarian mereka yang membosankan.

"Bos, kalau panen lagi, kabarin gue dulu ya!" "Eh enak aja, gue duluan! Gue berani bayar lebih mahal!" "Jangan dengerin mereka, Ny. Langsung drop di Hotel Mulia aja!"

Banyu keluar dari hotel dengan saku celana menggelembung. Ada tiga puluh juta rupiah tunai di sana. Tapi yang lebih berharga adalah tumpukan kartu nama di dompetnya. Ini adalah tiket emas menuju liga besar bisnis kuliner.

"Gila... sawi gue jadi rebutan kayak tiket konser Coldplay," gumam Banyu sambil tersenyum lebar.

Tapi dia sadar satu hal: Stoknya kurang. Permintaan pasar menggila, sementara lahan di belakang kosan Pak Rahmat cuma segitu-gitunya. Dia harus ekspansi. Cari lahan baru yang lebih luas.

Dan tentu saja, dia butuh lebih banyak Cairan Ajaib.

Mumpung duit masih anget, Banyu langsung meluncur ke Pasar Batu Akik Rawa Bening. Kali ini dia tidak nawar sadis lagi. Dia memborong batu giok mentah seharga sepuluh juta rupiah.

Para pedagang batu akik yang tadinya cuek, kini menyambut Banyu bak raja minyak.

"Woi, Juragan Banyu dateng! Kopi, kopi! Kasih yang spesial!" "Gan, ini ada Giok Aceh super, baru dateng. Disimpen khusus buat Agan."

Banyu menikmati perlakuan VIP itu. Dia bertukar nomor WA dengan para pedagang, membangun jaringan suplier "makanan" buat kendinya.

---

Keluar dari pasar akik, Banyu mendorong gerobak motornya santai. Sisa uang di kantong tinggal sekitar lima belas juta. Lumayan buat modal hidup dan sewa lahan baru nanti.

Baru jalan seratus meter, dia melihat kerumunan orang di trotoar. Macet. Bunyi klakson bersahut-sahutan.

"Ada apaan nih? Topeng monyet?"

Jiwa kepo Banyu meronta. Dia memarkir gerobaknya dan menerobos kerumunan.

Pemandangan di tengah lingkaran manusia itu membuat jantungnya berhenti berdetak sejenak.

Seorang kakek tua berpakaian sangat sederhana tergeletak di aspal panas. Darah segar mengalir dari belakang kepalanya, membasahi rambut putihnya. Napasnya tersengal-sengal, matanya terbalik.

Di sampingnya, seorang gadis kecil berusia sekitar 5 tahun cantik seperti boneka porselen, tapi matanya bengkak menangis histeris sambil mengguncang tubuh kakek itu.

"Kakek... Kakek bangun... Hiks... Kakek jangan tidur..."

Sementara itu, orang-orang di sekelilingnya cuma menonton. Ada yang merekam pakai HP, ada yang bisik-bisik.

"Udah panggil ambulan belum?" "Udah, tapi katanya macet total, sejam lagi baru nyampe." "Waduh, kasian ya." "Eh jangan dipegang, ntar kalau mati lu yang disalahin polisi. Modus tuh biasanya."

Mendengar ocehan "jangan dipegang" itu, amarah Banyu meledak. Darahnya mendidih sampai ke ubun-ubun. Bayangan masa lalu menghantamnya telak.

Enam tahun lalu. Kakeknya sendiri. Jatuh di kamar mandi. Banyu yang saat itu masih SMA dan sakit-sakitan, tidak kuat mengangkatnya. Tidak ada tetangga yang mau bantu karena takut repot. Kakeknya meninggal karena terlambat ditangani.

Rasa bersalah itu adalah hantu yang mengejar Banyu sampai hari ini.

"MINGGIR!!" teriak Banyu menggelegar. Orang-orang kaget dan reflek mundur.

"Kalian punya hati gak sih?! Orang mau mati malah ditontonin kayak sirkus!" damprat Banyu.

"Mas, ati-ati... jaman sekarang banyak penipuan..." seorang bapak-bapak mencoba memperingatkan.

Banyu tidak peduli. Dia berlutut di samping si kakek. Gadis kecil itu menatap Banyu dengan mata basah penuh harap.

"Om... tolong Kakek... hiks..."

Hati Banyu remuk melihat tatapan itu. "Tenang ya, Dek. Om bantu."

Tanpa ragu, Banyu menyelipkan tangannya ke bawah tubuh si kakek. Kakek ini tinggi besar, beratnya mungkin 90 kilo lebih. Tapi bagi Banyu yang sudah di-upgrade, ini enteng.

"Hap!"

Banyu mengangkat kakek itu dengan hati-hati agar lehernya tidak terguncang, lalu membawanya ke bak belakang gerobak motornya yang sudah dialasi karung goni bersih (bekas sawi).

"Dek, ikut Om. Pegangin Kakek ya," perintah Banyu.

Gadis kecil itu mengangguk patuh, memanjat naik ke bak motor.

Banyu melompat ke jok motor, menyalakan mesin. "Pegangan yang kuat!"

Motor gerobak butut itu melesat membelah kemacetan, menyalip mobil-mobil mewah yang diam tak peduli.

---

Di IGD Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD).

Banyu berlari masuk sambil membopong tubuh si kakek. "Dokter! Sus! Tolong ini darurat! Stroke atau benturan kepala!"

Para perawat langsung sigap membawa brankar. Banyu meletakkan kakek itu, lalu mengurus administrasi.

"Keluarganya mana?" tanya petugas admin ketus.

"Saya yang nganter. Ini deposit lima juta, tolong tanganin dulu yang terbaik. Sisanya nanti diurus," kata Banyu sambil melempar gepokan uang ke meja. Petugas itu langsung kicep dan bekerja cepat.

Sambil menunggu kakek itu masuk ruang tindakan, Banyu duduk di sebelah gadis kecil itu di ruang tunggu.

"Siapa nama kamu, Dek?" tanya Banyu lembut.

"Melati..." jawabnya lirih.

"Melati tau nomor HP Mama atau Papa?"

"Tau... nomor Mama..."

Banyu meminjamkan HP barunya. Melati menelepon ibunya dengan suara gemetar. "Halo Mama... Kakek jatoh... di rumah sakit... Mama cepet sini..."

Setelah telepon ditutup, Banyu mengelus kepala Melati. "Udah, jangan nangis lagi. Kakek pasti sembuh kok."

Satu jam berlalu. Dua jam. Tiga jam.

Operasi selesai, kakek itu dipindahkan ke ruang ICU. Tapi ibunya Melati belum juga muncul.

"Gila ni emak-emak, bapaknya sekarat kok lelet banget?" batin Banyu kesal. "Anak segini dibiarin sendirian."

Akhirnya dokter keluar. "Keluarga pasien?"

Banyu berdiri. "Saya, Dok. Gimana?"

"Untung dibawa cepet. Pendarahan otak sudah kami atasi. Tapi... ada penyumbatan saraf karena stroke lama. Kemungkinan besar lumpuh atau koma panjang. Kami sudah berusaha maksimal, sisanya doa saja."

Banyu lemas. Lumpuh? Koma?

Dia menatap Melati yang tertidur di kursi tunggu karena kelelahan. Kasihan sekali anak ini. Kalau kakeknya lumpuh, siapa yang jagain?

Banyu masuk ke ruang ICU diam-diam saat perawat lengah. Dia melihat kakek tua itu terbaring kaku dengan selang oksigen.

Hening.

Banyu meraba dadanya. Di balik kaosnya, ada Kendi Penyuling Jiwa. Di dalamnya, masih tersimpan tiga tetes Cairan Ajaib jatah minggu ini.

Tiga tetes itu sangat berharga. Bisa buat nambah kekuatan, bisa buat bikin sawi senilai puluhan juta.

Tapi melihat kakek ini... Banyu teringat kakeknya sendiri.

"Ah, persetan sama duit. Duit bisa dicari, nyawa gak bisa dibeli."

Banyu mengambil gelas air mineral di meja nakas, membuang isinya sedikit, lalu dengan gerakan cepat meneteskan satu tetes Cairan Ajaib ke dalamnya.

Air di gelas itu berkilau sesaat, lalu kembali bening.

"Kek, anggep aja ini rejeki nomplok Kakek. Minum yang abis ya," bisik Banyu.

Dia melepas masker oksigen si kakek sebentar, lalu perlahan menuangkan air itu ke mulut pasien yang setengah terbuka.

"Ayo telen, Kek... pelan-pelan..."

Tepat saat tetes terakhir masuk ke mulut si kakek, pintu ICU terbuka kasar.

BRAK!

Seorang wanita muda cantik dengan setelan blazer kantor mahal dan wajah panik berdiri di sana. Matanya menyala marah saat melihat Banyu memegang gelas di mulut ayahnya yang tak sadarkan diri.

"HEH! KAMU NGAPAIN?!" teriak wanita itu. "KAMU MAU BUNUH AYAH SAYA?!"

Banyu menoleh kaget, gelas kosong masih di tangannya. "Waduh, salah paham nih..."

1
VirgoRaurus 31Smile
wah ada matahari juga ya, di dalam dimensi kendi...
VirgoRaurus 31Smile
sapi perah... sejak kapan MC beli sapi perah... kan bibit sapi Wagyu semua...
VirgoRaurus 31Smile
kok bisa ya perampok tsb merampok di perbatasan Myanmar-Thailand... tapi menjual hasil rampokannya ke Bandung... tak pikir ini cerita lebay....
VirgoRaurus 31Smile
di bab atas di ceritakan kalau yg ngangkut batu batu giok koh Abun itu mini van off road, bukan truk kontainer Thor...
VirgoRaurus 31Smile
kalau perbatasan Myanmar, bukan luar pulau lagi tapi luar negeri, Thor....
VirgoRaurus 31Smile
heleh... katanya, hajar sampai mampus... tapi di akhirnya, selama gak ada yg mati... piye Iki... 🤭
VirgoRaurus 31Smile
lah... ini aneh lagi, darimana MC tahu kalau bocah tadi namanya Adi... kan gak sempat kenalan karena bocah itu dalam keadaan kritis
VirgoRaurus 31Smile
kok umur bisa "mungkret" Thor... di bab atas disebutkan bocah yg mengalami kecelakaan umurnya sekitar 10 th... lha di bab ini kok dikatakan balita... MEMBAGONGKAN.
VirgoRaurus 31Smile
itu sapi Thor... bukan banteng.
VirgoRaurus 31Smile
mobil polisi yg memblokir di belakang mobil MC.... kan di belakang mobil MC mobilnya si preman yg penyok... harusnya mobil polisi yg memblokir ada di belakang mobil preman itu ... MEMBAGONGKAN.
VirgoRaurus 31Smile
tuh si Sigit tau dari mana kalau Siska bodynya gitar Spanyol... kan Siska di dalam mobil dan Sigit belum pernah ketemu... 🤭
VirgoRaurus 31Smile
tuh kan... diawal MC buka lahan di Bogor... sekarang di Cibadak, padahal lahan MC cuma satu....besok dimana lagi Thor....
VirgoRaurus 31Smile
melati seumur hidup tinggal di kawasan elit ibukota... ibukota yg mana Thor... ibukota propinsi atau ibukota negara... kalau ibukota propinsi itu benar karena kakeknya wagub Jabar, tapi kalau ibukota negara ya kebangetan... dari Jakarta mau ke Bogor kencan pertemuan di Bandung...
VirgoRaurus 31Smile
kok bisa ya... perjalanan dari alun alun Bandung ke lahan mustika yg berada di Bogor cuma satu jam, itu juga perlahan lahan... eh Thor kamu tahu gak jarak Bandung-Bogor...? jangan jangan kamu kepikiran kalau Bogor itu masuk kabupaten Bandung... 🤣🤣🤣
VirgoRaurus 31Smile
MC jadi lupa punya janji, kalau akan mengajak Siska dan anaknya ke kebun blueberry jika siap panen...
VirgoRaurus 31Smile
perdana bagaimana sih Thor... kan sebelumnya pernah ke Thailand dan Myanmar, untuk judi batu... lupa ya Thor... makanya di catat... aku pikir novel ini dari episode awal sampai sekarang banyak yg gak sinkron...
VirgoRaurus 31Smile
emangnya MC pernah lelang koi Thor... lelang jamur kaleee 🤭
VirgoRaurus 31Smile
lho... kan MC pernah ke Myanmar dan Thailand... lupa ya Thor... emangnya Myanmar dan Thailand ada di seputaran Bandung, Thor... 🤭
VirgoRaurus 31Smile
apartemen MC ganti nama ya Thor... dari permata regency jadi permata indah... itu kan nama apartemen jadi gak akan berubah.
VirgoRaurus 31Smile
tak bergeming bukan bergeming
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!