Malu memiliki suami seorang kuli bangunan, Nadira Maheswari terus mendesak Arga untuk menceraikannya.
Semula permintaan itu ditolak oleh Arga. Ia tidak ingin putri semata wayang mereka tumbuh tanpa orangtua yang lengkap.
Namun, setelah mengetahui istrinya ternyata telah memiliki pria lain, akhirnya Arga menyerah. Ia merasa egois karena menahan wanita yang tidak bisa dia bahagiakan, bahagia bersama pria lain.
"Kalau kamu merasa sanggup bertanggung jawab atas dia, datanglah kemari. Temui aku secara jantan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon Mertua
Nadira membuka pintu kamar calon mertuanya dengan sangat hati-hati, bahkan sampai menahan napas.
Beberapa saat kemudian, tubuhnya tiba-tiba membeku dan tangannya terlepas dari pegangan pintu.
"M-mas, mama kamu..."
Mata Nadira terpaku pada tubuh seorang perempuan yang berbaring di atas ranjang.
"Dia masih tidur?"
Bima melangkah masuk diikuti Nadira. Mata perempuan itu tak lepas dari sosok calon mertuanya yang masih setia memejamkan mata, seolah belum menyadari kedatangan mereka.
"Ma, bangun. Bima mau kenalkan Mama pada calon istriku," bisik Bima sambil menepuk pelan ibunya.
Kelopak mata yang sejak tadi tertutup akhirnya bergerak sebelum benar-benar terbuka. Perempuan itu tersenyum tipis ke arah Nadira yang membalas dengan serupa.
"Dia calon istrimu?" tanyanya lemah.
Wajah perempuan itu pucat pasi.
"Saya Nadira, Ma," sapa Nadira.
"Mas, kenapa Mama mu nggak ikut sarapan di bawah?" bisiknya.
Bima menatap wajah pucat ibunya sambil menjawab, "Mama sakit, Nadira. Dia lumpuh," sahutnya getir.
"Astaga, jadi Mama...?" Nadira menatap ibu dari Bima dengan tatapan tak percaya.
Gina, ibu Bima, menatap Nadira seolah menemukan berlian di tumpukan sampah. "Terima kasih karena kamu mau menikah dengan Bima."
Nadira menggeleng cepat. "Saya yang seharusnya berterima kasih karena diterima di keluarga ini. Saya hanya gadis desa yang beruntung."
Bima menghadapkan tubuh pada Nadira. "Sayang, kamu ambilkan sarapan untuk Mama dan suapi dia, ya. Aku harus segera pergi ke kantor."
"Hah?!" beo Nadira.
"Kamu nggak mau, ya?" tanya Bima sambil meraih tangan Nadira, ekspresinya penuh harapan.
Nadira tersenyum, meskipun terlihat kaku. "Apa-apaan Mas Bima, kenapa aku malah disuruh ngurus ibunya?"
"Mereka kan keluarga kaya, kenapa nggak nyari pembantu buat ngurus perempuan lumpuh itu," batin Nadira, merasa enggan.
Namun, akhirnya dia tidak bisa menolak permintaan itu. "Aku akan membantu Mama makan, Mas. Kamu tenang aja. Kerja yang fokus."
"Mas Bima pasti sedang mengujiku," batinnya kemudian.
Bima tersenyum puas. "Kamu memang calon istri yang baik dan patuh, sayang. Aku beruntung memilikimu."
Ia mengusap pipi Nadira sebelum mendaratkan kecupan singkat di keningnya. "Aku berangkat dulu. Baik-baik di rumah, ya."
Nadira mengangguk, ia menatap kepergian Bima sampai hilang di balik pintu sebelum menatap kembali ke arah Gina dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Aku akan ambilkan sarapan untuk Mama," pamit Nadira lalu bergegas pergi kembali ke dapur.
"Sabar, Nadira. Ini hanya ujian," bisiknya berusaha menguatkan diri.
Di ruang makan, Marsinah masih duduk menikmati teh miliknya. "Udah ketemu dengan calon mertua, Dira?"
Nadira mengangguk singkat. "Sudah, Nek. Saya akan bawa sarapan untuk Mama."
Marsinah menatap Nadira dengan ekspresi iba. "Bima pasti menyuruh kamu ngurus perempuan lumpuh itu, kan?"
"Nenek sudah suruh Mardi mengusir wanita tak guna itu, tapi tetap saja dipertahankan. Entah apa yang ada di pikirannya," kata Marsinah dengan sinis.
Nadira tersenyum kaku sebagai tanggapan, tak tahu harus menanggapi seperti apa.
"Saya pamit dulu, Nek."
Marsinah mengangguk. "Setelah kasih makan wanita lumpuh itu. Temui Nenek di kamar, ya. Pundak Nenek rasanya pegal sekali," minta Marsinah yang terdengar seperti titah.
Perempuan tua itu bangkit dan melangkah keluar meninggalkan Nadira di dapur.
"Cih, dia bilang apa barusan? Pundaknya pegal? Terus... apa dia bakal nyuruh aku pijitin dia?" batin Nadira sambil memukul ujung meja.
Rahangnya mengeras. "Aku harus bicara pada Mas Bima. Mereka tidak berpikir menjadikan aku pembantu di rumah ini kan?"
---
"Ayah!"
Andini berlari menghampiri ayahnya yang baru turun dari motor. Kondisi pria itu sudah lebih baik, sehingga Rini mengizinkan dia pulang, bahkan mengantarnya.
Andini langsung memeluk tubuh Arga dengan erat, tidak ingin berjauhan lagi. "Ayah, apa Ayah sudah sembuh? Dini berdoa terus semoga ayah cepat sembuh dan pulang."
"Akhirnya, doa Dini dikabulkan," seru gadis itu sambil tersenyum lebar meksipun kedua matanya bengkak karena menangis semalaman.
Arga menangkup kedua pipi putrinya. "Maafin Ayah sudah buat Dini cemas, ya. Tapi, sekarang Ayah sudah sehat dan kuat. Ayah sanggup menggendong kamu keliling kampung," jawab Arga sambil menunjukkan otot lengannya.
Andini tersenyum lebar, memperlihatkan gigi rapinya. "Andini cuma ingin Ayah sehat. Andini nggak bakal minta Ayah keliling kampung. Andini nggak mau Ayah capek," jawab gadis itu dengan ekspresi polos.
Arga memeluk tubuh putrinya lagi. Kasih sayang Andini sudah cukup untuk menghalau semua rasa sakit di sekujur tubuh bahkan hatinya.
Rini yang masih berada di sana ikut tersenyum menyaksikan interaksi ayah dan anak itu. "Kasihan Andini, masih kecil... tapi harus dipaksa dewasa oleh keadaan," batinnya.
"Mas Arga, aku pamit pulang dulu, ya. Jangan lupa, besok sudah harus mulai kerja lagi. Jangan sampai Mas Ruslan ngeluh karena nggak ada yang bantu dia kerja," pesan Rini sambil mengusap puncak kepala Andini.
"Pasti, Rin. Makasih karena sudah mau direpotkan," jawab Arga sambil tersenyum ramah.
"Andini, besok Ayah kamu harus mulai kerja lagi di rumah Bu bidan. Pulang sekolah main saja ke rumah, ya," kata Rini tulus.
"Boleh, Bu bidan?" Mata Andini berbinar cerah.
"Boleh dong."
Rini memandang wajah Andini sambil menahan sesak, teringat ia dulu bahkan tidak memiliki siapapun jika uluran tangan seseorang tidak datang untuknya.
"Aku pamit, Mas. Jaga lukanya supaya tetap kering, ya. Jangan lupa minum obat," pesan Rini lalu mulai melajukan motornya pergi meninggalkan Andini dan Arga di depan rumah.
Senyuman Arga mengiringi kepergian Rini.
"Ayo, pulang. Kamu pasti belum makan, kan?" Ia langsung menggendong tubuh putrinya dan melangkah masuk ke dalam rumah.
"Ayah baru dapat uang dari Bidan Rini. Upah kerja. Dia kasih lebih awal."
"Dini mau makan sama apa?" tanya Arga sambil menurunkan tubuh putrinya di ruang tengah.
Andini mengetuk-ngetuk dagu, berpikir. Boneka kelinci kesayangannya tak lepas dari pelukan tangan mungil itu.
"Dini sebenarnya pengen makan bakso. Boleh nggak, Yah?" tanya Andini sambil mengerjapkan mata.
"Kita berangkat sekarang. Ayah ganti baju dulu. Kamu juga harus ganti baju," angguk Arga tanpa pikir panjang.
"Yeee! Beli bakso!" seru gadis itu melompat ceria.
Arga mengangkat tubuh putrinya di atas pundak dan berjalan menuju kang bakso yang berada di pasar. Jarak rumah ke pasar lumayan jauh untuk berjalan kaki, mesti menghabiskan waktu 15 menit.
Mereka langsung menuju gerobak kang bakso dan duduk di bangku.
"Ayah, kita lupa nggak bawa nasi," bisik Andini sambil memperhatikan sekeliling, merasa malu jika kebiasaannya yang beli satu kantong bakso dimakan bertiga bersama nasi di rumah.
Arga tertawa, meskipun dadanya terasa tertohok dengan kalimat sederhana itu. "Sekarang, kamu bisa makan satu mangkuk sendiri tanpa nasi, Dini. Ayo, pesan sesuai keinginan kamu."
"Beneran, Ayah? Dini boleh makan semangkuk bakso sendiri tanpa nasi?" tanya gadis itu dengan mata berbinar.
Arga mengangguk sambil tersenyum pahit. "Iya, sayang. Mulai hari ini, Ayah akan berusaha lebih keras, supaya kamu tidak perlu merasakan masih burukmu lagi di masa lalu," kata Arga sambil mengusap punggung putrinya.
Andini dengan tak sabaran menunggu bakso pesanannya. Begitu semangkuk bakso telah tersaji, tanpa menunggu lama lagi, gadis itu langsung menyantapnya dengan lahap.
"Baksonya enak banget, Ayah. Kalo nanti Ayah gajian lagi, jangan lupa ajak Dinu beli bakso lagi, ya," pesan Andini dengan kedua pipi yang penuh oleh bulatan bakso.
Arga terkekeh kecil. Ekspresinya berubah menjadi sendu saat melihat bagaimana putrinya begitu lahap menikmati makanan yang bahkan tidak seberapa itu.
"Nadira, kamu pasti sudah bahagia di sana bersama calon suamimu. Aku janji, aku juga akan berjuang keras untuk kebahagiaan putri kita, Andini," batin Arga, meskipun lewat kata dia ikhlas melepaskan, namun hati yang sudah terbiasa bersama, belum bisa menerima perpisahan itu.
---
Kembali ke kediaman keluarga Bima.
Nadira kini berada di kamar Gina, tengah menyuapi perempuan yang bahkan tidak bisa duduk dengan benar. Hingga ia harus meletakkan beberapa bantal untuk menopang tubuhnya.
"Sejak kapan Mama sakit?" tanya Nadira mencoba basa-basi.
"Sudah hampir setahun," sahut Gina lemah.
Nadira mengangguk mengerti. Tiba-tiba sesuatu terlintas dalam benaknya. "Kalo boleh tau, Mama kenapa bisa sakit seperti ini?" tanyanya penuh keingintahuan.
Gina terdiam. Tatapan perempuan itu lurus ke arah dinding kosong di depannya. "Dokter bilang, Mama terlalu lelah hingga menyebabkan hipertensi."
"Oh, ternyata terlalu lelah juga bisa buat stroke, ya," gumam Nadira.
Gina menoleh, menatap wajah Nadira dengan sorot mata iba. Ia meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya erat.
"Nadira, sayangi dirimu sendiri, ya. Jangan terlalu memforsir diri cuma untuk jadi kesayangan semua orang," kata Gina lemah.
Nadira tertegun cukup lama mendengar pesan yang berisi peringatan itu.
Bersambung...