Felicia datang ke kantor itu hanya untuk bekerja.
Bukan untuk jatuh cinta pada manajer yang usianya lima belas tahun lebih tua—dan seharusnya terlalu jauh untuk didekati.
James Han tahu batas. Jabatan, usia, etika—semuanya berdiri di antara mereka.
Tapi semakin ia menjaga jarak, semakin ia menyadari satu hal: ada perasaan yang tumbuh justru karena tidak pernah disentuh.
Ketika sistem memisahkan mereka, dan Felicia hampir memilih hidup yang lain, James Han memilih menunggu—tanpa janji, tanpa paksaan.
Karena ada cinta yang tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dipilih di waktu yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seribu Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Sulit
"Duduk, Fel." James menunjuk kursi tepat di sebelah meja kerjanya dengan dagu.
Suaranya rendah, tanpa ekspresi, jenis suara yang biasanya membuat para manajer divisi gemetar ketakutan.
Felicia hanya bisa mengangguk patuh. Ia duduk dengan punggung tegak namun wajah sedikit menunduk. Ia tak berani menatap mata James, yakin sekali bahwa atasannya itu sedang murka karena memergokinya asyik bercengkerama di jam kerja.
"Pak, saya benar-benar minta maaf. Tadi laporan mingguan sudah saya selesaikan, jadi saya..."
"Sekarang kamu mulai suka pria matang, ya?" potong James tiba-tiba, membuat Felicia menghentikan kalimatnya dan mengerutkan kening kebingungan.
"Maksud Bapak?"
"Kamu terlihat mesra sekali dengan tukang pola itu," James menyandarkan punggung ke kursi kebesarannya, melipat tangan di dada sembari menatap Felicia dengan tatapan menyelidik.
Felicia melongo. Ia butuh beberapa detik untuk mencerna bahwa kemarahan James bukan karena kelalaian kerja, melainkan karena cemburu buta pada Pak Setya—pria yang rambutnya sudah mulai memutih itu.
"Jadi sekarang seleramu berubah? Saingan saya sekarang pria-pria seumuran saya?" lanjut James dengan nada sinis yang dibuat-buat. "Pantas saja kamu terlihat santai sekali saat saya melarangmu berdekatan dengan Rey tempo hari. Ternyata anak muda memang bukan tipemu, ya?"
Felicia kehabisan kata-kata. Kecemburuan pria ini semakin tidak masuk akal dan merambat ke mana-mana.
"Kemarin kamu panggil si operator kukusan itu dengan sebutan Mas. Tadi kamu bisik-bisik intim dengan tukang pola. Besok siapa lagi? Bagian gudang? Tim ekspedisi?"
"Mas Jimmy, astaga!" Felicia akhirnya memprotes, tak tahan lagi dengan tuduhan itu. "Mereka itu sudah beristri, anaknya sudah sekolah semua! Mana mungkin aku punya kedekatan lebih dengan suami orang? Kami cuma rekan kerja, Mas."
James mendengus, membuang muka ke arah jendela besar di belakangnya. Meski secara logika pembelaan Felicia sangat masuk akal, tetap saja rasa panas di dadanya belum padam. Melihat kekasihnya berdekatan dengan pria lain—meski itu hanya rekan kerja yang sudah dianggap paman sendiri—tetap saja membuatnya ingin melempar seseorang keluar jendela.
"Kamu... beneran cemburu sama mereka?" tanya Felicia pelan, masih tak habis pikir.
"Menurutmu?" James menjawab dengan ketus tanpa menoleh.
Bukannya takut, Felicia justru tak bisa menahan kedutan di sudut bibirnya. Tawa kecil akhirnya lolos begitu saja. "Mas... sudah berapa lama sih kamu nggak berurusan sama romansa kehidupan sampai jadi seperti ini? Kamu itu kalau sedang cemburu bukannya seram, malah lucu tahu!"
James mendelik, menatap Felicia dengan pandangan tajam yang berusaha keras untuk tetap terlihat berwibawa. "Saya benar-benar kesal, Felicia. Tolong jangan menganggap kemarahan saya sebagai hiburan kamu."
Felicia segera menutup mulutnya dengan tangan, berusaha meredam tawanya karena takut benar-benar menyinggung perasaan pria sensitif di depannya ini. Namun matanya yang berbinar jenaka tidak bisa berbohong bahwa ia sangat menikmati sisi "manusiawi" dari seorang James Han yang biasanya tanpa cela.
"Mas, kamu itu satu-satunya pria dewasa yang pernah sedekat ini sama saya," kalimat Felicia yang tiba-tiba melunak membuat James akhirnya menoleh. "Kalau bukan karena itu kamu, mana mau saya dekat-dekat sama pria matang begini?"
James mendecih, meski sorot matanya mulai sedikit mencair. "Jadi sekarang saya harus waspada pada siapa lagi? Sepertinya kamu punya daya tarik bagi segala jenis usia di kantor ini."
Lagi-lagi Felicia harus mati-matian menahan tawa agar tidak meledak di depan wajah sang bos. "Mas, aku ini makhluk sosial. Apalagi di kantor ini kan karyawannya bukan cuma seusiaku atau seusiamu saja. Semua generasi ada di sini, dan saya harus bergaul dengan mereka semua."
"Iya, iya. Saya yang salah. Saya yang terlalu sensitif," gumam James, mulai merasa sedikit konyol dengan sikapnya sendiri.
Felicia tidak membiarkan James tenggelam dalam gengsinya. Ia menggeser kursi rodanya hingga benar-benar merapat di samping kursi James. "Bukan begitu maksudku, Mas."
"Terus?"
"Kamu nggak perlu khawatir berlebihan. Jalan kamu itu bersih, Mas... kamu nggak punya saingan sama sekali," ucap Felicia lembut.
James menahan kedutan di sudut bibirnya agar tidak langsung tersenyum lebar. Ia berusaha tetap terlihat cool meski jantungnya mulai berulah. "Maksud kamu?"
"Saya sedang tidak membuka lowongan hati untuk siapa pun... selain untuk kamu," bisik Felicia dengan tatapan yang sangat jujur.
James tak kuasa lagi menahan senyumnya, meski ia masih berusaha jual mahal dengan membuang muka sedikit. Namun, ia tidak bisa menyembunyikan telinganya yang perlahan memerah, sementara dadanya berdesir halus mendengar pengakuan itu.
"Yang benar kamu?" tanya James, suaranya kini melunak, hilang sudah nada otoriter sang manajer.
Felicia tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meraih telapak tangan besar James, membawanya ke pangkuannya, lalu mengusap punggung tangan pria itu dengan ibu jarinya secara perlahan. "Serius, Mas Jimmy. Saya orangnya setia. Mas tidak perlu khawatir soal pria lain, fokus saja pada kita."
James membalikkan telapak tangannya, kini ganti menggenggam jemari Felicia dengan erat. Kemarahan yang tadi meluap-luap kini hilang tanpa bekas, berganti dengan rasa hangat yang memenuhi rongga dadanya.
"Baiklah. Tapi kalau si 'Tukang Pola' itu bisik-bisik lagi..." James menggantung kalimatnya, menatap Felicia dengan binar posesif yang jauh lebih lembut.
"Iya, iya, nanti saya suruh dia pakai pelantang suara biar Mas Jimmy dengar sekalian," canda Felicia yang disambut tawa rendah dari bibir James.
***
Di balik meja kayu jati yang kokoh, James duduk berhadapan dengan Tuan Douglas.
Suasana di dalam ruangan Factory Manager itu terasa jauh lebih personal dibandingkan biasanya. Mereka tidak sedang membahas soal kesalahan kain atau target produksi, melainkan sebuah lembaran baru dalam karier James: promosi kenaikan jabatan.
Tuan Douglas menatap James dengan binar bangga yang tak disembunyikan. Baginya, James bukan sekadar bawahan, melainkan bukti nyata dari sebuah ketidaksengajaan yang berbuah manis.
Ingatan mereka berdua seolah ditarik kembali ke belasan tahun silam, di sebuah aula job fair yang padat di Singapura. Saat itu, Douglas yang sedang terburu-buru tak sengaja menabrak James, membuat tumpukan CV dan berkas-berkas penting milik pria muda itu berhamburan di lantai, terinjak-injak oleh langkah kaki orang banyak.
Douglas ingat betapa merasa bersalahnya ia saat melihat wajah James yang tampak terpukul karena gagal mengikuti sesi wawancara akibat berkasnya yang rusak.
James bahkan tidak sempat mencetak ulang CV-nya karena waktu yang sudah mepet. Sebagai bentuk tanggung jawab, dan karena merasa ada ikatan persaudaraan sesama perantau asal Korea, Douglas meminta James mengirimkan berkas digital langsung kepadanya.
Keputusan Douglas malam itu ternyata menjadi langkah terbaik bagi perusahaan. Ia terpesona melihat transkrip nilai James yang nyaris sempurna dan dedikasi yang terpancar dari surat lamarannya. Tanpa ragu, Douglas menarik James untuk bergabung di Cabang Cipta—bukan di posisi kantoran yang nyaman, melainkan sebagai leader gudang yang panas dan penuh tekanan.
"Siapa sangka, James..." suara berat Tuan Douglas memecah keheningan. "Anak muda yang CV-nya saya injak di Singapura dulu, sekarang duduk di depan saya untuk bersiap menerima mandat sebagai Direktur."
James tersenyum tipis, ada rasa haru yang menyelip di dadanya. "Semua karena kesempatan yang Tuan berikan. Jika Tuan tidak menabrak saya hari itu, mungkin saya masih menjadi akuntan di suatu tempat, bukan di sini."
"Bukan hanya karena kesempatan, James. Tapi karena kamu membuktikannya. Dari gudang, ke manajer, dan sebentar lagi... puncaknya," Douglas menepuk bahu James dengan mantap. "Saya membawa kamu ke sini karena rasa persaudaraan, tapi kamu bertahan dan naik karena kemampuanmu sendiri. Jangan pernah lupakan itu."
Kenaikan jabatan ini bukan sekadar soal kekuasaan bagi James, melainkan sebuah tanggung jawab besar untuk menjaga kepercayaan pria yang telah mengubah garis hidupnya dari seorang pelamar kerja yang malang menjadi salah satu orang terpenting di perusahaan ini.
Tuan Douglas menyandarkan punggungnya, menyesap kopi hitamnya sejenak sebelum menatap James dengan pandangan menyelidik yang khas. "Lalu, bagaimana soal calon istri yang kamu ceritakan beberapa waktu lalu? Sepertinya kamu sudah sangat mantap."
James menegakkan duduknya, sebuah senyum tipis yang penuh percaya diri terukir di bibirnya. Ia teringat momen hangat di apartemen dan perjalanan mereka ke Bogor. "Sangat baik, Tuan. Dia sudah bersedia menikah dengan saya," jawab James mantap, meski jauh di lubuk hatinya ia tahu Felicia belum memberikan jawaban "ya" secara resmi di atas kertas.
"Wah, benarkah? Boleh saya tahu siapa wanita beruntung yang berhasil menaklukkan pria kaku sepertimu?" Douglas terkekeh, tangannya memberikan isyarat agar James lebih santai.
"Salah satu staf saya sendiri, Tuan."
James mengangguk pasti. Namun, ia menyadari raut wajah Douglas berubah. Seniornya itu tidak tampak antusias, melainkan justru mengernyitkan dahi sembari mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di atas meja—sebuah gestur yang menunjukkan ada ganjalan besar.
"Lalu, bagaimana dengan kariernya nanti, James?"
James mengernyit bingung, kepalanya sedikit miring ke samping. "Maksud Tuan?"
"James, kamu akan dipromosikan ke Surabaya sebagai Direktur. Di sana, aturannya jauh lebih ketat. Tidak boleh ada hubungan personal yang terjalin di antara staf kantor.
Jangankan suami-istri, berpacaran saja dilarang keras. Jika pun diizinkan, mereka harus berada di departemen yang benar-benar berbeda dan tidak memiliki garis koordinasi langsung."
James tertegun. Ia merenung sejenak, jemarinya tanpa sadar meremas sandaran kursi yang ia duduki. "Bukannya tidak ada aturan resmi secara tertulis mengenai hal itu, Tuan? Saya sudah berkonsultasi dengan pihak HR beberapa hari lalu untuk memastikan langkah saya."
"Di cabang sini, mungkin iya. Peraturannya masih agak longgar," Douglas bangkit dari kursinya, berjalan menuju jendela besar sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana. "Tetapi di Surabaya, Mr. Kim sendiri yang memegang kendali. Beliau sangat anti dengan favoritisme atau drama kantor yang bisa merusak profesionalitas. Beliau tidak akan membiarkan Direkturnya bekerja satu atap dengan istrinya dalam satu tim inti."
Keheningan menyergap ruangan itu. James menunduk, menatap ujung sepatunya dengan pikiran yang berkecamuk. Promosi ini adalah impiannya, namun Felicia adalah dunianya. Ia tidak mungkin melepaskan salah satunya.
"Ada usul, Tuan? Saya tidak bisa mencari calon istri lain. Hanya dia," ucap James pelan namun penuh penekanan, sebuah pernyataan sikap yang tak tergoyahkan.
Douglas berbalik, menatap James dengan senyum maklum. Ia tahu sifat keras kepala adiknya ini jika sudah menginginkan sesuatu.
"Hanya ada satu cara, James. Calon istrimu itu tidak bisa lagi bekerja di bawah departemenmu. Dia tidak bisa lagi menjadi asistenmu jika kalian sudah menikah nanti. Mudah, bukan?"
James menarik napas panjang. Mudah bagi Douglas, tapi sulit bagi James.
Membayangkan hari-harinya di kantor tanpa Felicia yang duduk di dekatnya rasanya seperti bekerja tanpa asupan oksigen. Namun, ia sadar, ini adalah harga yang harus ia bayar untuk sebuah ambisi besar.
Update siang sianggggg yuhuuu
Yuk bantu like dan tinggalkan jejak
Siapa yang mauuuu double updateee?? Komen disiniiii ✨✨