NovelToon NovelToon
Ternyata, Bukan Figuran

Ternyata, Bukan Figuran

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Diam-Diam Cinta / Percintaan Konglomerat / Kencan Online / Cintapertama / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Julius Randle Seorang Laki-laki yang Memiliki aura yang mampu membekukan ruangan, namun seketika mencair hanya oleh senyum satu wanita.
Jane Mommartre, Seorang Gadis Yang menganggap dirinya Hanya Figuran Dan Hanya Debu yang tidak Terlihat Dimata Julius Randle, Dengan segala kekaguman dari jarak Tiga Meter, Dia Sudah menyukai Julius Randle Sejak Lama.
Dibalik Layar seorang Mr A dan Ms J sebagai pelengkap, yang ternyata Mr A adalan Julius Yang Tak tersentuh, Dan Ms J adalah Jane Si gadis Tekstil.
Cinta mereka tumbuh di antara jalinan Kerja sama Tekstil. Julius yang kaku perlahan mencair oleh Jane si Ms J, menciptakan momen-momen manis yang puncaknya terjadi di malam penuh kenangan.
Kekuatan cinta mereka diuji oleh manipulasi kejam Victoria Randle, Yang merupakan ibu Dari Julius Randle . Fitnah mendorong ibu, pesan singkat palsu, hingga tuduhan perselingkuhan membuat Julius buta oleh amarah. Jane diusir dalam keadaan hancur, membawa rahasia besar di Rahimnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Realitas

Mobil SUV mewah itu kini melaju membelah jalanan kota yang mulai diterangi lampu jalan. Di tengah kebisingan Henry yang mulai kehabisan napas karena bercerita, Julius tiba-tiba merogoh tas Jane dan mengambil kotak biru navy yang tadi diberikannya.

"Buka sekarang," perintah Julius lembut namun tidak menerima bantahan.

Jane, yang tangannya masih gemetar, membuka pita satin itu perlahan. Di dalamnya, melingkar sebuah kalung emas putih dengan liontin kecil berbentuk tetesan air jernih dari kristal. Sangat elegan, sangat mahal, dan sangat... tidak cocok untuk seorang figuran.

"Ini terlalu indah, Julius. Aku tidak bisa..."

"Berbaliklah," potong Julius. Ia mengambil kalung itu dari kotaknya.

Jane menurut seperti robot. Ia memunggungi Julius, merasakan napas hangat pria itu di tengkuknya. Seluruh bulu kuduknya berdiri. Julius menyibakkan rambut Jane ke samping, jemarinya yang dingin bersentuhan dengan kulit leher Jane yang panas.

Jane benar-benar menjadi patung. Ia menahan napas sampai dadanya terasa sesak. Saat pengait kalung itu terpasang, Julius tidak langsung menjauh. Ia membelai ringan leher Jane dengan ibu jarinya, sebuah gerakan yang sangat intim hingga Henry di belakang mendadak bungkam seribu bahasa.

"Pas," bisik Julius tepat di telinga Jane. "Jangan pernah dilepas."

Sesampainya di apartemen kecilnya, Jane merebahkan diri di kasur tanpa sempat mengganti baju. Jantungnya masih berdegup mengikuti irama jemari Julius di lehernya tadi. Dengan tangan gemetar, ia membuka ponsel dan melihat notifikasi Instagram yang meledak.

Lucia baru saja mengunggah foto api unggun semalam.

Jane bersiap untuk hal terburuk. Ia sudah membayangkan komentar-komentar pedas seperti "Siapa cewek tekstil ini?" atau "Kenapa dia ada di antara para elit?". Namun, saat ia menelusuri kolom komentar, kenyataannya berbeda.

Para pengikut Lucia yang juga anak-anak konglomerat hanya fokus pada visual geng tersebut.

"Jules gantengnya nggak ngotak!"

"Henry biarpun brengsek tapi kalau difoto gini emang damage-nya beda."

"Lucia, dress kamu beli di mana? Cantik banget!"

Jane menarik napas lega. Setidaknya ia tidak dirundung. Namun, saat ia menggulir hingga ke komentar paling bawah, matanya membelalak. Ada satu komentar dari akun bercentang biru dengan nama @J_Randle.

@J_Randle: Fotonya bagus. Tapi ada satu orang di sana yang terlihat jauh lebih cantik saat dia tersenyum tulus seperti itu.

Jane membeku. Ia mengecek profilnya. Itu benar-benar akun resmi Julius Randle. Komentar itu disukai oleh ribuan orang dalam hitungan menit. Julius, pria yang paling tertutup soal kehidupan pribadinya, baru saja memberikan pujian publik secara tersirat.

Di tengah rasa syoknya, sebuah notifikasi lain muncul di layar atas. Mr. A.

Mr. A: Aku dengar kau mendapatkan perhiasan baru hari ini. Pakailah dengan bangga, Ms. J. Kristal itu melambangkan kejujuran, sesuatu yang mulai berani ditunjukkan oleh Matahari-mu.

Ms. J: Mr. A... kau tahu soal kalungnya? Dan kau lihat komentar Julius di postingan Lucia? Aku merasa dunia ini sudah gila.

Mr. A: Dunia tidak gila. Dunia hanya mulai berjalan sesuai naskah yang kau buat tanpa kau sadari. Tidurlah, pakailah kalungmu dalam mimpi. Besok, kenyataan akan jauh lebih menantang.

Jane menatap kalung di lehernya melalui cermin. Ia menyentuh liontin kristal itu. Rasanya hangat, sehangat tangan Julius yang merangkul pinggangnya selama 4 jam di mobil tadi. Ia merasa semakin bingung; Mr. A selalu tahu segalanya, tapi Julius adalah orang yang memberikannya secara nyata.

"Siapa sebenarnya kalian berdua?" gumam Jane pada bayangannya sendiri.

Asumsi publik di kampus mulai bergeser. Berkat komentar Julius di unggahan Lucia, citra Jane tidak lagi dilihat sebagai "asisten yang bisa disuruh-suruh", melainkan sebagai anggota baru dari lingkaran elit tersebut. Mereka mengira Jane, dengan otaknya yang brilian, akhirnya berhasil mendaki tangga sosial dan diakui oleh geng konglomerat itu.

Namun, bagi Jane, otak pintarnya justru sedang bekerja keras memproses anomali yang terjadi.

Pagi itu, saat Jane berjalan menyusuri lorong fakultas, suasana terasa berbeda. Tidak ada lagi bisikan meremehkan. Orang-orang memberikan jalan padanya, beberapa bahkan mengangguk sopan. Kalung kristal pemberian Julius berkilau di lehernya, menjadi semacam tanda perlindungan yang tak terlihat.

Di kantin, Lucia langsung menarik Jane untuk duduk di meja utama mereka.

"Duduk sini, Jane! Mulai sekarang, ini meja lo juga," seru Lucia sambil menggeser tas bermereknya.

Henry yang sedang sibuk memoles sepatu mahalnya mendongak. "Iya nih, si jenius kebanggaan kita. Lo tau nggak, gara-gara komentar Jules semalam, saham popularitas lo naik drastis di kampus. Orang-orang mikir lo itu penasihat rahasia geng kita."

Jane tersenyum kecil, namun matanya tetap tajam mengamati sekitar. "Aku hanya membantu riset, Henry."

"Riset hati Julius maksud lo?" celetuk Patrick yang membuat seisi meja tertawa, kecuali Julius yang duduk di ujung meja dengan tenang.

Otak pintar Jane mulai menyusun kepingan teka-teki. Ia memperhatikan bagaimana Julius bersikap. Julius tetap dingin di depan publik, tetap fokus pada laptopnya, namun sesekali ia akan memastikan Jane mendapatkan air mineral atau menanyakan apakah kursinya nyaman.

Saat itulah, Jane mencoba melakukan eksperimen kecil. Ia mengeluarkan ponselnya di bawah meja dan mengirim pesan pada Mr. A.

Ms. J: Mr. A, aku sedang di kantin. Suasananya sangat berisik. Aku ingin tahu, apa yang sedang dilakukan Matahari sekarang di naskahmu?

Jane tidak melepaskan pandangannya dari Julius. Ia melihat tangan Julius yang berada di bawah meja bergerak. Detik berikutnya, ponsel Julius menyala pelan. Julius tidak membukanya dengan terburu-buru. Ia justru meletakkan ponsel itu kembali ke saku tanpa membalas.

Aneh, pikir Jane. Kenapa dia tidak membalas jika dia adalah Mr. A?

Lima menit kemudian, saat Julius sedang berbicara serius dengan Clark soal investasi properti, ponsel Jane bergetar.

Mr. A: Mataharimu sedang sibuk menjadi pemimpin, Ms. J. Tapi di dalam kepalanya, dia sedang membayangkan betapa indahnya kalung yang kau pakai hari ini. Kristalnya tampak sangat cocok dengan kulitmu.

Jane membeku. Julius baru saja bicara tanpa henti dengan Clark selama lima menit terakhir. Tidak mungkin dia mengetik pesan sepanjang itu sambil berdebat soal suku bunga.

Kesimpulan logis Jane: Julius dan Mr. A adalah dua orang yang berbeda. Mr. A pasti seseorang yang berada di kantin ini, seseorang yang sedang mengawasi mereka berdua dari jauh. Mungkin salah satu mahasiswa di pojok sana? Atau mungkin seseorang di balik pilar?

Julius tiba-tiba menghentikan pembicaraannya dengan Clark. Ia menoleh ke arah Jane, seolah bisa membaca keraguan di dalam kepala gadis itu.

"Jane," panggilnya. Suaranya membuat kegaduhan di meja itu mendadak sirna.

"I-iya, Julius?"

"Jangan terlalu banyak berpikir. Terkadang, jawaban yang paling masuk akal adalah jawaban yang paling tidak ingin kau percayai," ucap Julius dengan nada penuh teka-teki.

Jane menelan ludah. Kata-kata itu... terlalu tepat sasaran. Apakah Julius tahu Jane sedang mengujinya? Ataukah Julius memang sengaja menyewa seseorang untuk menjadi "Mr. A" agar bisa menjaganya secara digital?

Jane merasa otaknya yang biasanya rangking dua setelah Julius kini sedang berputar di labirin tanpa ujung.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 😍😍😍

1
Endang Sulistia
bagus...
Endang Sulistia
🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Endang Sulistia
clark...🤪🤦🤦
Endang Sulistia
mantap hery
Endang Sulistia
sukurin kau jules
Endang Sulistia
🤪🤣🤣🤣
Endang Sulistia
🤭🤣🤣
Lismawati Salam
bagus
Endang Sulistia
😊😊
Endang Sulistia
suka
Endang Sulistia
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!