Di khianati tunangan sampah, eh malah dapat pamannya yang tampan perkasa!
Cerita berawal dari Mayra andini kusumo yang mengetahui jika calon suaminya Arman, berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri.
Di hari pernikahannya mayra mengajak Dev-- paman dari Arman untuk menikah dengan nya, yang kebetulan menjadi tamu di pernikahan keponakannya. Dan mayra juga membongkar perselingkuhan arman dan Zakia yang di lakukan di belakangnya selama ini.
Cerita tidak sampai di situ, setelah menikah dengan Dev, Mayra jadi tahu sisi lain dari pria dingin itu.
Dapatkan mayra meluluhkan hati Dev yang sekeras batu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MOMENT HARU
Malam itu, sehari sebelum pernikahan, Mayra berdiri di depan cermin kamar mandi dengan perasaan yang campur aduk.
Besok. Besok adalah hari pernikahan mereka yang sebenarnya.
Dia mengenakan gaun simple berwarna dusty pink, elegan tapi tidak terlalu formal untuk makan malam yang hanya latihan. Rambutnya ditata lembut, di tambah riasan natural, dan kalung mutiara pemberian almarhum ibunya di leher.
"Kamu siap?" tanya Dev yang muncul di belakangnya, sudah rapi dengan blazer navy dan kemeja putih tanpa dasi, santai tapi tetap elegan.
"Siap," jawab Mayra sambil tersenyum melalui cermin. "Tapi juga gugup. Ini pertama kalinya semua orang yang penting dalam hidup kita akan berkumpul dalam satu ruangan."
"Dan semuanya akan baik-baik saja," kata Dev sambil mengecup pundak Mayra. "Ayo, kita tidak boleh terlambat." sambil menggenggam tangan Mayra dengan lembut.
***
Makan malam latihan diadakan di restoran ruang makan pribadi yang elegan di kawasan Kemang. Ruangannya luas dengan jendela besar, dekorasi sederhana dengan banyak lilin dan bunga putih, menciptakan suasana yang hangat dan intim.
Saat Mayra dan Dev tiba, beberapa tamu sudah ada. Bambang yang berbincang dengan Marco, Dina sedang tertawa dengan suaminya Fajar, dan beberapa teman dekat lainnya yang sudah duduk sambil menikmati minuman welcome drinks.
"Mayra! Dev!" Pekik Dina langsung menghampiri dengan pelukan erat. "Ya ampun, besok adalah harinya! Aku sudah tidak sabar!"
Mayra tertawa sambil membalas pelukan. "Aku juga, Din. Terima kasih sudah datang."
"Tentu saja aku datang. Aku kan bridesmaid-mu," kata Dina dengan bangga.
Mereka berbaur dengan para tamu, totalnya ada sekitar dua puluh lima orang, semua keluarga dekat dan sahabat yang akan hadir besok di pernikahan.
Lima belas menit kemudian, Pak Hendra tiba. Beberapa orang seketika terdiam, situasi antara Dev dan kakaknya itu masih rumit, dan ini pertama kalinya mereka bertemu secara sosial sejak drama pernikahan pertama waktu itu.
Dev menegakkan bahu dan berjalan menghampiri kakaknya. Mayra berdiri di sampingnya, mengusap lengan suaminya sebagai dukungan.
"Hendra," sapa Dev dengan sopan sambil mengulurkan tangan.
"Dev," jawab Hendra sambil menjabat tangan adiknya. "Terima kasih sudah mengundangku. Dan Mayra, selamat untuk besok. Aku benar-benar berharap yang terbaik untuk kalian berdua."
"Terima kasih, Pak Hendra," jawab Mayra dengan ramah.
Momen canggung itu berlalu dengan cepat saat Karina, perencana pernikahan mereka, masuk dan mengumumkan bahwa acara akan segera dimulai.
Semua orang mengambil tempat duduk di meja panjang yang indah, dengan Mayra dan Dev yang duduk di tengah. Papa Bambang di sebelah Mayra, Marco di sebelah Dev, dan Dina di samping ayah Mayra.
Setelah hidangan pembuka disajikan dan semua orang mulai menikmati hidangan, Karina berdiri dan mengangkat gelas wine-nya.
"Selamat malam semua. Sebagai perencana pernikahan untuk pernikahan cantik Dev dan Mayra besok, aku merasa terhormat bisa berada di sini malam ini. Makan malam ini adalah latihan adalah tradisi yang indah, kesempatan untuk berkumpul dengan orang-orang terkasih sebelum hari besar. Dan malam ini, mari kita rayakan cinta Dev dan Mayra dengan mendengar beberapa kata dari orang-orang yang mengenal mereka dengan baik," kata Karina dengan hangat.
Dia menatap Pak Bambang. "Pak Bambang, sebagai ayah pengantin wanita, apakah Anda ingin berbagi beberapa kata?"
Pak Bambang berdiri dengan napas dalam. Tangannya sedikit gemetar saat memegang gelas wine, tapi senyumnya tampak tulus.
"Selamat malam semua," mulai pak Bambang dengan suara yang sedikit bergetar."Sebagai ayah, aku selalu bermimpi tentang hari pernikahan putriku. Aku membayangkan berjalan bersamanya menuju altar, menyerahkannya pada pria yang akan mencintainya selamanya."
Pak Bambang menatap Mayra dengan mata berkaca-kaca. "Beberapa bulan yang lalu, aku pikir aku sudah melakukan itu. Tapi ternyata itu bukan pernikahan yang sebenarnya. Itu penuh dengan kekacauan, dengan kepedihan yang menyakitkan, dan dengan alasan yang salah."
Beberapa tamu yang hadir di pernikahan pertama mengangguk paham, mengerti dengan perasaan ayah pengantin wanita itu.
"Tapi besok," lanjut Pak Bambang sambil tersenyum, "besok akan berbeda. Besok aku akan berjalan dengan putriku menuju pria yang benar-benar mencintainya. Pria yang memperlakukannya dengan hormat, yang membuatnya tertawa, yang ada saat dia membutuhkan. Dev, terima kasih sudah menjadi pria yang selalu aku doakan untuk putriku."
Pak Bambang mengangkat gelasnya. "Untuk Dev dan Mayra, untuk cinta yang tulus, untuk kesempatan kedua, dan untuk kebahagiaan yang abadi. Selamat, anak-anakku, semoga kalian selalu diberi kelimpahan dan bahagia. "
"Selamat!" semua tamu mengangkat gelas mereka.
Mayra berdiri dan memeluk ayahnya dengan erat, keduanya menangis dengan bahagia.
Setelah Pak Bambang duduk kembali,kini giliran Marco berdiri sebagai sahabat dan orang kepercayaan Dev yang paling dekat dengan nya.
"Oke,sekarang giliran aku," kata Marco dengan senyum lebar. "Jadi, aku mengenal Dev sudah sepuluh tahun. Dan dalam sepuluh tahun itu, aku melihatnya sebagai sosok pria pekerja keras yang dingin, yang hidupnya hanya tentang lembar kerja dan rapat dewan.Ck, intinya benar-benar dingin sudah seperti CEO- CEO di drama china pendek yang selalu ku tonton saja. " Ia menggelengkan kepala.
Beberapa tamu tertawa mendengar guyonannya.
"Tapi lalu Mayra masuk ke dalam kehidupanya. Dan aku lihat transformasi yang luar biasa. Tiba-tiba, Dev jadi sosok yang tersenyum lebih sering. Dia pulang lebih awal. Dia bahkan mulai memasak, yang sebelumnya tidak pernah aku lihat. Dan yang paling mengejutkan, dia mulai bicara tentang perasaan," kata Marco dengan nada bercanda.
Dev tertawa sambil menggelengkan kepala.
"Tapi serius," lanjut Marco dengan lebih serius, "Mayra, kamu membawa kembali kehidupan ke dalam hidup Dev. Kamu membuat dia ingat bagaimana rasanya bahagia. Dan Dev, kamu membuat Mayra bersinar dengan cara yang aku tidak pernah lihat sebelumnya. Kalian berdua saling melengkapi dengan sempurna. Dan aku tidak sabar untuk melihat kalian membangun kehidupan bersama."
Marco mengangkat gelasnya. "Untuk sahabat terbaikku dan istrinya yang luar biasa, semoga cinta kalian tumbuh lebih kuat setiap hari."
"Selamat!" seru semua orang lagi.
Dev berdiri dan memeluk Marco dengan tulus. "Terima kasih, bro. Untuk semua dukunganmu."
Setelah Marco duduk, Dina berdiri dengan tisu di tangan. Dia sudah menangis sejak pidato Pak Bambang.
"Oke, ini akan emosional jadi maafkan aku kalau aku menangis," kata Dina sambil tertawa di tengah tangisannya. "Mayra adalah sahabat terbaikku sejak kuliah. Aku sudah lihat dia jatuh cinta, patah hati, lalu bangkit lagi. Dan aku lihat dia hampir menikah dengan pria yang salah."
Dina menatap Mayra dengan penuh kasih. "Tapi lalu Dev datang. Dan meskipun awalnya ini seperti alur drama yang gila, pernikahan dadakan di altar, kontrak, semua itu, aku lihat sesuatu yang nyata berkembang di antara kalian. Aku melihat Mayra tertawa dengan tulus lagi. Aku melihat dia bersinar."
Dina menghapus air matanya. "Dan Dev, terima kasih sudah mencintai sahabatku dengan sepenuh hati. Terima kasih sudah membuatnya bahagia. Terima kasih sudah jadi pasangan yang dia pantas dapatkan."
Dina mengangkat gelasnya dengan gemetar. "Untuk Mayra dan Dev, untuk cinta yang dimulai dari tempat yang tidak terduga tapi tumbuh menjadi sesuatu yang indah. Aku mencintai kalian berdua!"
"Selamat!" semua orang mengangkat gelas lagi, banyak yang juga sudah ikut menangis.
Mayra berdiri dan memeluk Dina dengan erat. "Terima kasih, Din. Untuk semua. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, sahabat," bisik Dina.
Setelah beberapa pidato lagi dari teman-teman dekat, akhirnya giliran Dev berdiri untuk berbicara.
Dev berdiri, tapi tidak mengambil gelas wine-nya. Dia hanya menatap Mayra dengan tatapan yang sangat lembut.
"Aku bukan orang yang pandai dengan kata-kata emosional di depan umum," mulai Dev. "Tapi malam ini, di depan semua orang yang kami cintai, aku ingin bilang sesuatu."
Dia meraih tangan Mayra dan menariknya untuk berdiri di sampingnya.
"Mayra, beberapa bulan lalu kamu masuk ke hidupku dengan usulan yang gila. Kamu meminta aku menikahimu di altar untuk balas dendam pada mantan tunanganmu. Dan entah kenapa, aku setuju," kata Dev sambil tersenyum mengingat itu.
Beberapa tamu yang tidak tahu cerita lengkapnya terdengar terkejut.
"Saat itu aku pikir ini hanya sebuah perjanjian bisnis dengan kontrak sederhana. Tapi aku salah. Karena kamu bukan hanya mitra dalam kontrak. Kamu adalah belahan jiwa yang bahkan aku tidak tahu itulah yang ku butuhkan. Kamu adalah cahaya yang masuk ke dalam hidupku yang gelap. Kamu adalah alasanku tersenyum setiap pagi dan alasanku bersemangat untuk pulang setiap malam."
Dev memegang wajah Mayra dengan lembut. "Besok, di depan semua orang ini lagi, aku akan berdiri di altar dan berjanji untuk mencintaimu selamanya. Tapi aku ingin kamu tahu, aku sudah mencintaimu sejak lama. Dan aku akan terus mencintaimu sampai napas terakhirku."
Mayra sudah menangis sekarang, sama seperti hampir semua orang di ruangan.
"Terima kasih sudah memilihku. Terima kasih sudah memberiku kesempatan kedua untuk percaya pada cinta. Terima kasih sudah menjadi dirimu," kata Dev sebelum mencium kening Mayra dengan lembut.
Ruangan meledak dalam tepuk tangan dan seruan kagum. Beberapa tamu yang ikut terharu tak kuasa menahan perasaan mereka hingga ada yang menepis air mata yang menggantung di mata mereka.
Mayra memeluk Dev dengan erat. "Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu," bisik Dev.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah hidangan utama dan pencuci mulut disajikan, suasana menjadi lebih santai. Tamu-tamu berbincang dengan hangat, tertawa, dan berbagi cerita.
Pak Hendra menghampiri Dev dan Mayra dengan sedikit canggung.
"Dev, bisa aku bicara sebentar?" tanya Hendra.
"Tentu," jawab Dev sambil berdiri.
Mereka berdiri sedikit menjauh dari keramaian. Mayra memberi mereka privasi tapi tetap bisa melihat dari kejauhan.
"Aku ingin minta maaf lagi. Untuk semua yang terjadi. Untuk bagaimana keluargaku, keluarga kita, memperlakukanmu. Untuk Arman. Untuk semuanya," kata Hendra dengan tulus.
"Kau sudah minta maaf, Hendra. Dan aku sudah bilang aku menghargai itu," jawab Dev.
"Aku tahu. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku benar-benar serius. Aku sudah banyak merenung, dan aku sadar betapa egois dan arogannya aku selama ini. Aku ingin membangun kembali hubungan kita, Dev. Kalau kamu memberi aku kesempatan," kata Hendra dengan penuh harap.
Dev menatap kakaknya lama. "Itu tidak akan mudah. Butuh waktu untuk membangun kembali kepercayaan,kau tau kan? "
"Ya, aku tahu. Dan aku bersedia untuk berusaha sekeras apapun," kata Hendra.
Dev mengangguk perlahan. "Oke. Kita bisa coba pelan-pelan. Tapi Hendra, kalau kau mengkhianati kepercayaanku lagi, itu akan jadi yang terakhir kalinya."
"Aku mengerti. Dan aku tidak akan mengecewakanmu lagi. Aku janji," kata Hendra dengan serius.
Dev mengulurkan tangan, dan Hendra menjabatnya dengan erat. Lalu, dalam momen yang mengejutkan, Hendra menarik Dev ke dalam pelukan, pelukan pertama mereka dalam bertahun-tahun.
Mayra melihat itu dari kejauhan dan tersenyum dengan kristal bening yang menggenang di pelupuk matanya. Ini semua penyembuhan, mereka semua sedang menyembuhkan satu sama lain.
***
Menjelang akhir malam, setelah semua tamu sudah pamit dan tinggal beberapa orang terdekat, Pak Bambang menarik Mayra ke samping.
"Sayang, besok adalah hari besar. Apa kamu gugup?" tanyanya sambil memegang tangan putrinya.
"Sedikit. Tapi lebih banyak bersemangat, Pa," jawab Mayra dengan jujur.
"Bagus. Karena besok, Papa akan dengan bangga mengantar kamu ke Dev. Dan kali ini, Papa tahu Papa menyerahkanmu pada pria yang tepat," kata sang ayah dengan senyum.
"Terima kasih, Pa. Untuk semua. Untuk selalu ada untuk aku. Untuk mendukung aku bahkan saat keputusanku terlihat gila, untuk mencintaiku tanpa syarat," kata Mayra dengan emosional.
"Kamu adalah harta paling berharga Papa, Mayra. Tentu saja Papa akan selalu ada," kata sang ayah sambil memeluk putrinya. "Dan Mama, Mama pasti sangat bangga karena putri nya telah menjadi wanita yang tangguh yang akan menikah dengan pria yang dicintainya."
"Aku berharap Mama bisa ada besok," bisik Mayra.
"Dia akan ada, sayang. Di hati kita, selalu," kata sang Papa dengan lembut.
***
Malam itu, sesuai tradisi, Dev menginap di hotel sementara Mayra di penthouse. Mereka tidak akan bertemu sampai besok di altar.
Sebelum Dev pergi, mereka berdiri di pintu dengan tangan bergandengan.
"Ini terakhir kalinya kita berpisah sebelum jadi suami istri lagi," kata Mayra sambil tersenyum.
"Secara teknis kita sudah suami istri. Tapi ya, ini terakhir kalinya sebelum kita memperbarui janji pernikahan kita," koreksi Dev sambil tersenyum. "Kamu akan baik-baik saja sendirian?"
"Dina akan menginap denganku. Dan lagipula, ini cuma satu malam. Aku bisa," kata Mayra.
Dev menarik Mayra ke dalam pelukan yang erat. "Besok, saat kamu berjalan menuju aku di altar, aku ingin kamu ingat, ini adalah awal dari selamanya kita. Tidak ada lagi kontrak, tidak ada lagi batasan waktu. Hanya cinta yang tulus dan komitmen yang sebenarnya."
"Aku akan mengingatnya," bisik Mayra. "Sekarang pergi, sebelum aku berubah pikiran dan meminta kamu tinggal."
Dev tertawa dan mencium Mayra dengan lembut. "Sampai besok, calon istriku."
"Sampai besok, calon suamiku," jawab Mayra.
*****
BERSAMBUNG
BERSAMBUNG
pembelajaran juga .. komunikasi yg baik adalah solusi dr setiap masalah yg datang.
👍👍
menunggu mu update lagi