NovelToon NovelToon
Dendam Baskara: Kembali Ke Awal

Dendam Baskara: Kembali Ke Awal

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Konflik etika / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: asep sigma

Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana

Rajendra keluar dari rumah keluarga Baskara dengan langkah tenang—tapi hatinya berdebar keras.

Tidak dari takut. Dari adrenalin.

Dari kelegaan.

Dari perasaan akhirnya—akhirnya—ia tidak perlu berpura-pura lagi.

Ia berjalan menyusuri trotoar Menteng—jalan yang rapi, pohon-pohon rindang di kiri kanan, rumah-rumah besar dengan pagar tinggi. Pagi yang cerah. Udara masih sejuk. Suara burung berkicau di pohon.

Semuanya terasa asing—seperti ia baru pertama kali melihat dunia ini dengan mata terbuka.

Di kehidupan pertamanya, ia tidak pernah berani melawan ayahnya. Ia menurut. Menikah dengan Jessica karena disuruh. Menerima Dera sebagai adik angkat tanpa curiga. Percaya semua orang di keluarganya punya niat baik.

Percaya karena ia bodoh.

Percaya karena ia tidak punya pilihan.

Sekarang ia punya pilihan.

Dan ia memilih untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Ponselnya bergetar.

Rajendra meraihnya—layar menyala dengan notifikasi pesan dari nomor tidak dikenal:

"Rajendra, ini Jessica. Aku dengar kamu tolak pernikahan kita. Bisa kita ketemu? Aku mau bicara. Please."

Rajendra menatap pesan itu beberapa detik.

Di kehidupan pertamanya, ia selalu luluh kalau Jessica minta tolong dengan nada seperti ini. Selalu nurut. Selalu percaya bahwa Jessica punya alasan baik.

Sekarang ia tahu lebih baik.

Ia mengetik balasan dengan jari yang tenang:

"Tidak perlu. Tidak ada yang perlu dibicarakan."

Pesan terkirim.

Tidak sampai satu menit, balasan datang—lebih panjang kali ini:

"Rajendra, please jangan kayak gini. Aku tahu kamu lagi bingung. Kita bisa bicara baik-baik. Cuma lima menit. Aku janji tidak akan lama. Please."

Rajendra membaca pesan itu dua kali.

Lalu ia mengetik:

"Tidak."

Ia memblokir nomornya—layar muncul konfirmasi: Nomor telah diblokir.

Lalu ia memasukkan ponsel kembali ke saku dan melanjutkan jalan.

Dua jam kemudian, Rajendra sampai di kawasan Kuningan Barat—gedung kantor berlantai dua belas dengan fasad kaca biru gelap dan logo "Baskara & Partners Legal Consultant" terpasang di atas pintu masuk.

Kantor notaris keluarga.

Rajendra masuk lewat lobby—lantai marmer putih, AC dingin, resepsionis muda di meja depan yang langsung berdiri begitu melihatnya.

"Selamat siang, Pak Rajendra," sapanya sopan—seperti sudah kenal.

Rajendra mengangguk singkat, lalu langsung menuju lift.

Ia naik ke lantai tujuh—koridor panjang dengan karpet tebal warna merah tua, pintu-pintu kayu jati dengan plakat nama di setiap pintu.

Ia berhenti di depan pintu paling ujung—plakat bertuliskan: Wirawan Hadipranoto, S.H., M.Kn.

Rajendra mengetuk pintu tiga kali.

"Masuk," suara dari dalam—suara berat, formal, sedikit serak.

Rajendra membuka pintu.

Di dalam, seorang pria paruh baya duduk di belakang meja kerja besar dari kayu mahoni—rambut mulai memutih di pelipis, kacamata tebal dengan bingkai hitam, jas hitam rapi dengan dasi merah tua.

Wirawan Hadipranoto. Notaris yang menangani semua dokumen legal keluarga Baskara sejak tahun 1985—hampir tiga puluh tahun.

Wirawan melihat Rajendra—alisnya terangkat sedikit, lalu tersenyum kecil.

"Rajendra? Tumben kamu ke sini sendiri. Biasanya ayahmu yang datang."

Rajendra menutup pintu di belakangnya, lalu duduk di kursi di depan meja tanpa diminta.

"Pak Wirawan," katanya langsung—tanpa basa-basi. "Saya mau tanya soal surat wasiat Kakek Dimas."

Senyum di wajah Wirawan luntur perlahan—digantikan ekspresi serius.

"Kenapa tiba-tiba?"

"Karena saya perlu tahu apa yang sebenarnya Kakek tinggalkan untuk saya."

Wirawan menatapnya—matanya menilai, mencoba membaca maksud di balik pertanyaan itu.

"Kamu tahu kalau surat wasiat biasanya baru dibuka kalau ada konflik keluarga atau kalau pewaris minta secara khusus?"

"Saya tahu."

"Dan kamu tetap mau tanya?"

"Sangat."

Wirawan diam beberapa detik—jari-jarinya mengetuk-ngetuk pelan di atas meja.

Lalu ia bangkit, berjalan ke lemari besi besar di pojok ruangan, memutar kombinasi kunci dengan gerakan hafal, membuka pintu lemari yang berat, lalu mengeluarkan sebuah folder tebal berwarna coklat tua.

Ia kembali ke meja, duduk, lalu meletakkan folder itu di depan Rajendra.

"Ini salinan resmi," katanya pelan. "Yang asli ada di brankas bank. Tapi isinya sama."

Rajendra meraih folder itu dengan tangan yang sedikit gemetar—gemetar bukan karena takut, tapi karena antisipasi.

Ia membuka folder itu perlahan.

Di dalamnya ada beberapa lembar dokumen legal—kertas tebal dengan stempel resmi, tanda tangan, materai biru.

Rajendra membaca pelan—matanya bergerak cepat tapi teliti, menyerap setiap kata, setiap kalimat.

Dan semakin ia baca, semakin jelas semuanya.

                                                                               SURAT WASIAT

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya DIMAS BASKARA, Kartu Tanda Penduduk No. 3171xxxxxxxxxxxxxx, menyatakan dengan sepenuhnya sadar dan tanpa paksaan, bahwa:

1. Seluruh aset\, saham\, dan kepemilikan GRUP BASKARA yang saya miliki—sebesar 60% (enam puluh persen) dari total saham perusahaan—diwariskan sepenuhnya kepada RAJENDRA BASKARA\, cucu kandung saya\, tanpa syarat dan tanpa pembagian.

2. Warisan ini berlaku sejak tanggal kematian saya\, dan tidak dapat diganggu gugat oleh pihak manapun.

3. Sisanya—40% (empat puluh persen) saham—dibagi sebagai berikut: - Julian Baskara (anak kandung): 20% - Ririn Baskara (menantu): 10% - Dera Baskara (anak angkat): 10%

Jakarta, 12 Juni 2009

(Tanda tangan & materai)

Rajendra menatap dokumen itu—tangannya gemetar kecil.

Tidak ada yang berubah.

Sama persis dengan yang ia ingat dari kehidupan pertamanya.

Di kehidupan pertamanya, ia baru tahu soal ini setelah kakeknya meninggal—Agustus 2009. Notaris membacakan surat wasiat di hadapan keluarga—dan semua orang terkejut. Ayahnya marah—memukul meja, berteriak, menuduh kakeknya tidak adil. Ibunya menangis—mengatakan ini tidak mungkin benar. Dera diam saja—tapi Rajendra ingat tatapan matanya waktu itu.

Tatapan iri yang dalam. Tatapan yang sembunyi di balik senyum tipis.

Sekarang ia sudah tahu sejak awal.

Dan sekarang ia bisa pakai ini sebagai senjata.

"Kenapa Kakek kasih semua ini ke saya?" tanya Rajendra pelan—meskipun ia sudah tahu jawabannya.

Wirawan menatapnya dengan tatapan serius—matanya yang sudah tua itu penuh dengan sesuatu yang sulit dijelaskan. Rasa hormat, mungkin. Atau kesedihan.

"Karena kakekmu tidak percaya anak dan menantunya bisa mengelola perusahaan dengan baik," jawabnya pelan—nadanya hati-hati, seperti memilih kata. "Ia bilang Julian terlalu fokus pada uang, tidak pada prinsip. Ririn terlalu lemah, mudah dipengaruhi. Dera..."

Wirawan berhenti sebentar.

"Ia bilang Dera punya ambisi, tapi tidak punya fondasi. Ia takut kalau Dera pegang kendali, perusahaan akan jadi alat untuk kepentingan pribadi."

Rajendra diam—merasakan sesuatu sesak di dadanya.

Kakeknya melihat semuanya sejak awal.

Kakeknya tahu.

Dan ia percaya pada Rajendra.

"Tapi ia percaya padamu," lanjut Wirawan—suaranya lebih lembut sekarang. "Ia bilang kamu satu-satunya yang punya prinsip. Yang punya hati. Yang tidak akan lupa darimana kamu berasal dan untuk apa kamu diberi kekuatan."

Rajendra menatap dokumen di tangannya—tangannya sudah tidak gemetar lagi.

Ia merasakan sesuatu terbakar di dadanya—bukan amarah, tapi tekad.

Di kehidupan pertamanya, ia gagal. Ia gagal menjaga perusahaan itu. Ia gagal menjaga amanat kakeknya. Ia mati dikhianati orang-orang yang seharusnya ia singkirkan sejak awal.

Tapi sekarang tidak lagi.

Sekarang ia tidak akan gagal.

"Pak Wirawan," kata Rajendra pelan tapi tegas. "Saya mau umumkan warisan ini sekarang. Secara resmi. Di hadapan keluarga."

Wirawan mengerutkan dahi—jari-jarinya berhenti mengetuk meja.

"Sekarang? Tapi biasanya pengumuman warisan menunggu sampai ada rapat keluarga resmi, atau sampai ada masalah internal yang—"

"Sekarang," ulang Rajendra—nadanya tidak memberi ruang untuk debat. "Saya mau semua orang tahu sejak awal siapa yang pegang kendali. Sebelum terlambat."

Wirawan menatapnya—mata tuanya menilai, mencoba membaca situasi.

Lalu ia mengangguk pelan—seperti paham ada sesuatu yang tidak ia ketahui, tapi tidak akan bertanya.

"Baik," katanya akhirnya. "Kalau itu maumu, aku akan atur. Aku akan kirim surat resmi ke semua anggota keluarga. Rapat keluarga bisa dijadwalkan... kapan?"

"Secepat mungkin."

"Tiga hari lagi—Minggu pagi, jam sepuluh. Kamu bisa?"

"Bisa."

Wirawan mengangguk, lalu meraih ponselnya dan mulai mengetik pesan.

"Aku akan kirim undangan resmi hari ini. Dan aku akan hadir sebagai saksi dan pembaca wasiat. Kamu siap?"

Rajendra menatapnya—tatapannya tenang, tapi ada api kecil di dalamnya.

"Sangat siap."

Sore itu, Rajendra kembali ke kamar kosnya.

Ia duduk di tepi kasur—menatap jendela kecil yang tertutup gorden coklat. Cahaya senja masuk lewat celah gorden, membuat garis-garis oranye tipis di lantai.

Pikirannya penuh—tapi tidak kacau.

Jernih.

Fokus.

Ia ingat semuanya.

Setiap detail dari kehidupan pertamanya—setiap kontrak, setiap pengkhianatan, setiap kebohongan. Ia ingat kapan Dera mulai menggelapkan uang perusahaan—tahun 2012, lewat perusahaan logistik palsu. Ia ingat kapan Jessica mulai berselingkuh—sebenarnya sejak sebelum menikah, tapi ia terlalu bodoh untuk sadar. Ia ingat kapan ayahnya mulai merencanakan untuk menyingkirkannya—tahun 2015, setelah ia menolak memberi Dera posisi direktur.

Ia ingat semuanya.

Dan sekarang ia punya waktu untuk memperbaiki semuanya.

Atau lebih tepatnya—untuk menghancurkan mereka sebelum mereka menghancurkannya.

Ponselnya bergetar lagi.

Pesan masuk—dari ayahnya kali ini:

"Rajendra. Kita harus bicara. Besok pagi, jam 9. Di rumah. Jangan coba-coba kabur. Ini serius."

Rajendra menatap pesan itu beberapa detik—lalu tersenyum kecil.

Ia mengetik balasan:

"Tidak perlu. Kita akan bicara di rapat keluarga Minggu nanti. Sampai jumpa, Pak."

Pesan terkirim.

Ia menaruh ponsel di meja kecil, berbaring di kasur, menatap langit-langit yang retak—ada bekas rembes air di sudut, membentuk pola seperti peta benua yang tidak jelas.

Pikirannya menyusun rencana—langkah demi langkah, detail demi detail.

Langkah pertama: umumkan warisan di rapat keluarga.

Langkah kedua: putus hubungan dengan keluarga—secara resmi, secara hukum.

Langkah ketiga: bangun perusahaan sendiri—dari nol, dengan cara yang benar.

Langkah keempat: tunggu mereka jatuh satu per satu—dan ketika mereka jatuh, ia akan ada di sana untuk menonton.

Tidak perlu terburu-buru.

Balas dendam yang baik adalah balas dendam yang sabar.

Ia menutup mata—dan untuk pertama kalinya sejak bangun di kehidupan kedua ini, ia tidur tanpa mimpi buruk.

Tidur yang nyenyak.

Tidur yang tenang.

Seperti orang yang sudah tahu apa yang harus dilakukan.

[ END OF BAB 2 ]

1
aidios
ror
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!