Swipe kanan, lalu berharap. Begitu sederhana, tapi selalu berakhir rumit. Dari sekian banyak pertemuan di Tinder, aku belajar satu hal: cinta digital bisa terasa nyata, tapi tak selalu bertahan. Aku jatuh, aku percaya, aku terluka-berulang kali, seakan ini adalah pola yang tak pernah selesai.
Tulisan ini bukan sekadar kisah tentang aplikasi kencan, melainkan tentang perjalanan hatiku sendiri. Tentang bagaimana aku terus mencari seseorang yang benar-benar tinggal, di antara banyak yang hanya singgah. Dan tentang keberanian untuk tetap membuka hati, meski patah hati selalu menunggu di ujung swipe.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apung Cegak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
malam yang tak pernah ku rencanakan
Malam Minggu itu aku pergi ke klub, ditemani sepupuku. Kami memilih klub Afrobeat karena musiknya terasa hidup, ritme bass yang berdenyut membuat orang bergerak tanpa banyak berpikir. Malam itu aku hanya ingin keluar dari kepalaku sendiri, menjauh sebentar dari rasa menunggu yang tidak kunjung terjawab dan kebiasaan menatap layar ponsel setiap lima menit sekali.
Kami minum sambil tertawa, membiarkan musik dan lampu warna-warni menyelimuti kami. Di tengah keramaian itu, aku membuka ponsel dan mengirim pesan ke Moses lewat Snapchat.
Pesannya singkat dan spontan:
“Hey, come here. There’s a good club.”
Tidak lama kemudian, dia membalas. Katanya dia sedang di Old Man’s bersama teman-temannya, tapi akan datang.
“Let’s meet. We’ve been chatting but never met. I want to see you,” tulisnya.
Aku tidak terlalu berharap.
Malam itu aku ingin menikmati musik, menari, dan tertawa. Aku kembali ke lantai dansa bersama sepupuku, membiarkan diriku hanyut tanpa beban.
Sekitar pukul dua pagi, aku melihat seorang pria masuk.
Tingginya menjulang, bahkan lebih tinggi dari Yeye—hampir dua meter. Kulitnya gelap, rambutnya sedikit berantakan, memakai bando dan baju hitam.
Ada sesuatu yang membuatku yakin itu Moses. Dia melewatiku begitu saja, tanpa menyapa, dan langsung menuju dance floor untuk berjoget. Aku sempat ragu, mungkin dia tidak mengenaliku.
Aku mengirim pesan lagi. “You just passed me.”
Dia membalas, “Where are you?”
“Near the bar,” jawabku.
Tak lama kemudian dia menghampiriku.
“Hey… you’re nanas, right?” katanya sedikit ragu.
Aku mengangguk. Kami mulai berbicara, berteriak kecil agar saling terdengar di tengah musik yang memekakkan telinga. Dia sempat mengajakku pindah ke area lain, tapi aku memilih tetap bersama sepupuku. Aku merasa lebih nyaman begitu, karena malam itu tentang aku, bukan tentang ekspektasi atau tekanan untuk terlihat sempurna.
Ada satu hal praktis yang harus dipikirkan: kami tidak punya cukup uang untuk pulang. Bukan tidak ada sama sekali, tapi situasinya lebih rumit jika semua harus memesan Grab sendiri-sendiri. Sepupuku menyarankan agar aku pulang bersama Moses, lalu dari tempatnya kami bisa memesan Grab lagi untuk sepupuku. Aku ragu, tapi malam itu aku terlalu lelah untuk memikirkan kemungkinan lain.
Dengan sedikit canggung, aku bertanya pada Moses apakah dia mau mengajakku pulang. Ekspresinya terlihat bingung, mungkin mengira aku terlalu berani atau agresif. Tapi dia akhirnya mengangguk. Aku menambahkan permintaan: apakah sepupuku boleh ikut sebentar saja. Moses menjawab tidak masalah.
Kami pun pulang bersama. Di dalam Grab, kami mengobrol ringan. Aku bertanya sudah berapa lama dia di Bali. Dia menjawab ini adalah pertama kalinya. Aku hanya mengangguk, menelan sedikit bau keringat yang cukup menyengat tapi aku mencoba mengabaikannya. Malam itu aku meyakinkan diriku sendiri bahwa dia orang baik, dan aku hanya ingin sampai rumahnya dengan selamat.
Di sepanjang perjalanan, aku merasa campur aduk: antara penasaran, waswas, dan sedikit lega. Aku tahu malam itu bukan tentang cinta, bukan tentang mencari pengganti, tapi tentang memberanikan diri keluar dari zona nyaman yang selama ini membuatku menunggu tanpa kepastian. Aku sedang belajar membuka pintu baru, bahkan jika pintu itu terasa asing dan sedikit menakutkan.
Aku sedang belajar membuka pintu baru, bahkan jika pintu itu terasa asing dan sedikit menakutkan. Dan malam itu, aku sadar satu hal: aku mulai percaya pada diriku sendiri lagi.