Butuh waktu mengenal dan butuh perjuangan untuk mempertahankan sebuah perasaan . Jika sudah ada kesepakatan maka ikatan akan membuat sebuah hubungan menjadi sakral .
"Cintaku bukan cinta sesaat dan bukan sekedar kata kiasan ," bisik hati yang memendam perasaan .
Apakah cinta itu akan berlanjut atau hanya sementara waktu ?
ikuti kisahnya hanya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 12. BCS
Prasasti baru kepikiran perkataan papanya. Ia merasa pusing dengan persiapan pernikahan. Prasasti tidak pernah akan menikah secepat ini, padahal masih banyak kegiatan diluar yang menunggunya.
”Nanti pulang kerja aku akan ke butik milik tante Sofia, biar sekalian sama MUA-nya," jawab Prasasti dengan nada malas.
”Baguslah, kalau begitu jadi tidak perlu mencari butik lain, Papa pulang dulu," sahut Fabio melangkah meninggalkan ruangan.
Prasasti diselimuti rasa galau, ia merasa frustasi dengan kondisinya saat ini. Biasanya alasan orang menikah ada rencana, ada yang hamil duluan dan ada karena perjodohan. Sedangkan dirinya tidak merasa melakukan apapun justru disuruh menikah.
Terkadang orang tidak percaya dengan penjelasan orang lain, kadang orang selalu bertindak terburu-buru karena masalah mendadak seperti dirinya saat ini.
"Kenapa aku tidak bisa mencari solusi untuk menyelesaikan masalah ini, aku belum mau me ni kah, dan aku tidak mau di pak sa, apalagi dijodohkan paling anti," ucap Prasasti menjeda perkataannya, ia berbicara pada dirinya sendiri.
Diatas meja Prasasti menyandarkan kepalanya yang terasa pusing. Ia menelpon seorang Office boy untuk masuk ke ruangannya.
Beberapa menit kemudian seorang office boy masuk membawa minuman untuknya.
"Terimakasih... Oh iya aku lupa , tolong belikan aku obat sakit kepala,“ perintah Prasasti sambil memegang kepalanya.
“Iya, Kak," kalau begitu saya permisi," office boy itu pamit keluar membeli obat.
Asisten Lani masuk bersama seseorang dan mempersilahkan masuk kemudian asisten tersebut pamit keluar.
Prasasti terkejut melihat Tante Sofia datang dengan senyum mengembang. Wajah cerianya nampak sangat bahagia ketika melihat Prasasti.
"Ada apa Tante? Tiba-tiba datang kesini?" tanya Prasasti menyelidik.
Tante Sofia duduk berseberangan dengan Prasasti kemudian berkata." Kata papa kamu, Tante disuruh temani kamu belanja. Apa kamu sudah siap berangkat?"
Prasasti malas yang namanya belanja, ia sama sekali tidak menyukainya apalagi soal pernikahan yang akan dilaksanakan dua minggu lagi. Membuatnya tidak bersemangat.
Tante Sofia melihat keponakannya merasa heran, biasanya orang kalau akan menikah sangat antusias dan bahagia mempersiapkan segala macam keperluan tapi melihat ponakannya santai ia merasa ada yang tidak beres.
"Ayo cepat sebelum kesiangan nanti kamu gak kebagian gaun loh, mumpung masih sepi nih. Nanti akan banyak pelanggan Tante yang mau membeli gaun pernikahan buat mereka. Memangnya kamu mau nikah pakai daster dan kedodoran?" ucap Tante Sofia dengan tawa kecil sambil menutup mulutnya, membayangkan Prasasti memakai daster terlihat sangat lucu.
"Tante kok ngeledek aku, memangnya aku badut," sahut Prasasti dengan nada sewot.
"Ayo buruan pergi, kamu ini harus dipaksa biar jalan cepat. Mau nikah bukannya semangat malah malas, aneh kamu ,Sasti," Tante Sofia menarik tangan Prasasti berjalan keluar ruangan lalu menutup rapat.
Ketika sampai di pintu utama seorang OB baru saja pulang melihat Prasasti akan pergi menghadang mereka.
"Maaf Kak, ini obat untuk Kakak," katanya memberikan obat kepada Prasasti.
"Terimakasih, Bayu. Kembaliannya buat kamu saja," sahut Prasasti kemudian berjalan mengikuti Tante Sofia masuk ke dalam mobil.
____________
"Prasasti, sini. Ini ada gaun sepertinya pas ditubuh kamu, coba dulu, nanti kalau kamu kurang cocok bisa pilih yang lain," panggil Tante Sofia mengambil gaun dan memberikan kepada Prasasti.
Prasasti dengan malas mencoba gaun pemberian tantenya di ruang ganti lalu keluar memperlihatkan kepada tantenya.
Tante Sofia terkejut melihat Prasasti memakai gaun pengantin berwarna putih berpadu dengan warna hijau muda seperti seorang putri kayangan, pas dipakai Prasasti dan sangat cocok dengan kulitnya yang kuning langsat.
Prasasti bercermin melihat dirinya, ada rasa kagum ketika melihat gaun itu menutupi seluruh tubuhnya. "Cantik," batinnya.
"Benarkan apa yang Tante bilang, kamu sangat cocok memakai gaun ini, calon suamimu pasti akan jatuh cinta sama kamu," ucap Tante Sofia sambil mencium pipi Prasasti.
Benarkah? Apakah orang sedingin dia bisa jatuh cinta apalagi sama aku. Aku saja tidak mencintainya, hufh katanya pada dirinya sendiri.
"Semua akan ada waktunya, kalian belum saling mengenal jadi wajar kalau belum saling mencintai, Tante yakin dia calon suamimu pasti akan mencintaimu dan bertekuk lutut sambil berkata, "Prasasti maukah kamu menjadi istri dan ibu dari calon anak kita nanti?" kata Tante Sofia sambil terkikik setelah mengucapkan kata-katanya.
Prasasti menghembuskan napas kasar. "Aku tidak berharap dicintai tapi.... Entahlah,"
"Sudah tidak perlu dipikirkan nanti kamu pusing, setelah ini kita pergi ke mall membeli suvenir dan lainnya. Soal MUA-nya sudah Tante urus jadi kamu terima beres saja, oke,“ sahut Tante Sofia.
Setelah memilih gaun pernikahan mereka berangkat pergi ke mall terdekat. Prasasti sama sekali tidak tertarik dengan semua itu, rasanya ingin melarikan diri tapi tangan Tante Sofia selalu menggandengnya kemanapun pergi.
Setelah berbelanja di mall mereka memutuskan makan siang disebuah restauran. Mereka memilih makanan sederhana dengan konsep tradisonal.
Prasasti sangat antusias ketika melihat makan khas dari daerah asal gudeg tersebut. Sudah lama ia tidak makan seperti ini.
Prasasti mengambil nasi dan sayur juga lauk ke dalam piring lalu menyuapkan ke dalam mulut. Membuat Tantenya heran sampai geleng-geleng kepala.
"Seperti tidak pernah makan saja, giliran belanja malasnya minta ampun, makan senang sekali," umpat Tante Sofia sambil menikmati makanannya.
“Aku kan lapar dari tadi belum makan," Prasasti membela diri sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dengan lahap.
"Awas keselek," Tante Sofia mengingatkan.
Selesai makan siang mereka memutuskan pulang ke rumah. Saat mereka keluar dari restauran, Prasasti melihat Albi bersama seorang perempuan masuk ke dalam sebuah showroom mobil.
Perempuan yang bersama Albi terlihat sangat manja sambil menggandeng tangan Albi. Keduanya saling melempar senyum seolah hati mereka sangat bahagia.
Prasasti melihat mereka hatinya terasa terbakar dan wajahnya merah. Api amarah ingin keluar dan melahap mereka berdua.
"Prasasti, ayo masuk!" perintah Tante Sofia yang sudah duduk dikursi kemudi.
Prasasti masih memperhatikan dua sejoli yang sedang berbahagia merasa cemburu. Melihat Prasasti tidak juga masuk akhirnya Tante Sofia keluar merasa penasaran apa yang dilihat oleh keponakannya.
Tante Sofia mengikuti arah pandang Prasasti ternyata sedang melihat sepasang anak muda berada di sebuah showroom mobil. Ia berpikir kalau Prasasti ada sesuatu dengan mereka, dalam pikirannya terlintas menyimpulkan pria yang bersama perempuan itu adalah calon suaminya, timbullah ide.
Tante Sofia mengajak Prasasti pergi ke showroom tersebut untuk memastikan siapa pria tersebut. Namun baru akan menyeberang sepasang pria dan perempuan itu masuk ke dalam mobil.
“Yah, terlambat. Mereka sudah pergi," celetuk Tante Sofia kesal.
Prasasti merasa heran dengan Tantenya melepaskan genggamannya dan bertanya, "Tante, mau mengajak aku kemana?"