NovelToon NovelToon
Dikira Musibah, Nyatanya Berkah.

Dikira Musibah, Nyatanya Berkah.

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / One Night Stand / Cinta setelah menikah
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: cucu@suliani

Mutiara mengira kalau dikhianati oleh kekasihnya adalah hal yang terburuk di dalam hidupnya, musibah yang akan membuat di hidupnya terpuruk. Namun, ternyata hal itu merupakan berkah di dalam hidupnya.

"Kenapa kamu tega, Fajar? Kenapa aku hanya dijadikan lelucon saja di dalam hubungan kita ini?"

Bagaimana kehidupan Mutiara selanjutnya?

Kuy baca, jangan lupa kasih komen yang baik jika suka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DMNB 11

Pada saat mengetahui Fajar hanya memanfaatkan dirinya, tentu saja dia merasa panas, tetapi saat ini hatinya sudah merasa lebih baik.

Walaupun memang ada kekecewaan dan juga kekesalan yang luar biasa terhadap Fajar, tetapi dia merasa bersyukur karena bisa bertemu dengan Arkan.

Matahari sudah mulai terik, tetapi hatinya masih terasa adem. Terlebih lagi dia merasa sudah terbebas dari satu masalah, hatinya terasa lebih plong.

Setelah menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada HRD, kini yang diinginkannya hanya satu, pulang secepat mungkin untuk menemani nenek Mia.

Namun, langkahnya terhenti secara tiba-tiba saat sesosok wanita dengan pakaian bermerek dan aroma parfum yang menusuk hidung berdiri tepat di hadapannya.

"Nona Rena, maaf anda menghalangi jalan."

"Waah! Kamu seperti sedang terburu-buru, ingin pergi ke mana? Sudah dua hari loh nggak masuk kerja, seharusnya kamu mengerjakan pekerjaan yang banyak di dalam sana. Biar aku mendapatkan kembali pujian seperti kemarin-kemarin."

Mutiara memutarkan bola matanya dengan malas, sedangkan ​Rena melipat kedua tangan di dada, dia menatap Mutiara dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan penuh penghinaan.

​"Mau ke mana? Kok buru-buru? Oh, mau balik ke gubuk reyotmu itu ya? Kasihan sekali, pasti nenek tua itu sudah menunggu cucu malangnya pembawa uang receh."

​"Maaf, Nona Rena. Aku tidak punya waktu meladeni drama picisanmu, aku harus segera pergi."

​Rena terkekeh sinis. "Sadar diri, Mutiara. Fajar itu pria terhormat, keturunan orang kaya, setara denganku. Pria sehebat dia tidak pantas berdekatan dengan gelandangan sepertimu. Kamu itu tidak punya orang tua, cuma punya nenek penyakitan. Jangan mimpi bisa masuk ke dunia kami."

​Mutiara menatap Rena dengan tajam, suaranya tenang , tetapi mematikan.

"Kamu benar, Nona Rena. Fajar memang setara denganmu. Karena bagiku, kamu itu tidak lebih dari sebuah tong sampah. Jadi memang sewajarnya kalau tong sampah menjadi tempat terbaik untuk menampung sampah seperti Fajar. Silakan, pungut saja sampah itu. Kalian memang cocok berada di satu tempat yang kotor."

​"APA?! KURANG AJAR!"

​PLAK!

Rena melayangkan tamparan keras ke pipi Mutiara. Mutiara meringis sejenak, tetapi beberapa detik kemudian ia membalas dengan tamparan yang jauh lebih keras hingga Rena terhuyung.

"Jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotormu!"

"Tangan kamu tuh yang kotor, orang miskin tangannya kotor. Karena hidupnya di tempat yang kotor," ujar Rena karena begitu kesal.

"Mohon maaf, kami memang hidup di tempat yang mungkin tidak mewah seperti anda, Nona Rena. Tetapi kami tidak pernah berpikiran kotor seperti anda yang hanya ingin menghina orang lain."

"Sialan!" maki Rena yang kembali mengangkat tangannya untuk memukul Mutiara.

Namun, dengan cepat wanita itu menghindar. Rena sampai terhuyung, kepalanya bahkan hampir terpentok tiang. Tepat saat itu, pintu lobi terbuka.

Fajar keluar dengan raut wajah bingung melihat keributan di depan kantornya. Melihat kehadiran Fajar, ekspresi Rena berubah drastis dalam sekejap, dari singa yang mengamuk menjadi kelinci yang teraniaya.

​Rena terisak manja, dia berlari ke arah Fajar. Lalu, wanita itu menunjukkan pipinya yang memerah.

"Mas Fajar! Lihat apa yang dilakukan wanita miskin ini padaku! Dia memukulku tanpa alasan, padahal aku hanya menanyakan kabarnya."

​Mutiara memutar bola matanya dengan malas, dia merasa mual melihat akting Rena yang begitu murahan.

"Mutiara! Apa yang terjadi? Kenapa kamu kasar sekali? Kamu sendiri loh tadi yang bilang mau mengundurkan diri, kenapa sekarang malah membuat keributan?"

​Mutiara tersenyum sinis. "Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan apa pun pada orang yang sudah jadi 'sampah'. Urus saja wanitamu ini."

​Fajar mencoba menahan lengan Mutiara, tetapi Mutiara menepisnya dengan kasar. Wanita itu kini menatap Fajar dengan tatapan penuh kebencian.

"Kamu itu sudah memukul orang, seharusnya kamu minta maaf. Ini malah mengatakan hal yang tidak-tidak, kalau memang tidak ikhlas untuk berhenti bekerja, lenapa harus berhenti? Apa karena kamu cemburu?"

"Mohon maaf, Tuan Fajar. Aku tidak cemburu sama sekali, aku sudah mengikhlaskan hubungan kalian. Silakan publikasikan hubungan kalian, tidak perlu mengingat-ingat hubungan kita lagi. Karena kita sudah putus aku, yang mencampakan kamu."

"Jaga ucapan kamu, maksud kamu apa ngomong begitu?"

"Sudahlah, tidak perlu berpura-pura lagi, Tuan Fajar. Dari dulu hubungan kita itu hanya dilandasi niat palsu, kamu kamu tidak pernah mencintaiku. Kamu hanya ingin memanfaatkanku, kamu cuma mau kepintaran aku."

"Hah? Maksudnya?" tanya Fajar dengan bingung, karena wanita itu seperti tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi.

"Tidak perlu berpura-pura lagi, aku sudah mendengar apa yang kamu katakan bersama dengan teman-temanmu waktu itu. Terima kasih karena sudah mempermainkanku, terima kasih karena sudah membalas rasa tulusku ini dengan lelucon."

Setelah mengatakan hal itu, Mutiara langsung pergi dari sana. Fajar seakan ingin menuntut penjelasan karena tiba-tiba saja hatinya merasa perih sekali, tetapi Rena dengan cepat memeluk pria itu agar tidak pergi.

​"Mas Fajar, kamu harus hati-hati. Kamu lihat tidak? Bajunya sekarang mahal, tasnya juga beda. Padahal dia itu miskin, tidak punya apa-apa. Aku curiga... jangan-jangan dia sekarang jadi wanita simpanan om-om kaya. Mana mungkin orang sepertinya bisa punya barang mewah kalau bukan hasil menjual diri?"

​Fajar terdiam, menatap ke arah perginya Mutiara dengan tatapan yang sulit diartikan, sementara Rena tersenyum penuh kemenangan di balik sandiwaranya.

"Sayang, ayo kita masuk."

"Ya, tapi aku pikir, Mutiara tak mungkin jadi simpanan om-om. Aku tahu dia kaya apa," ujar Fajar yang tanpa sadar membela wanita yang sudah memutuskan dirinya itu.

"Yang! Kok kamu malah bela dia sih? Kaya yang gak rela banget aku ngomong gitu!"

"Eh? Maaf, Sayang. Aku hanya mengatakan yang aku pikirkan saja," ujar Fajar.

Rena mendelik sebal, dia merasa tidak suka karena Fajar terkesan membela Mutiara. Padahal, mereka sudah tidak ada hubungan apa-apa. Wanita itu juga sudah memutuskan untuk pergi.

"Daripada memikirkan Mutiara, lebih baik kita memikirkan hubungan kita ini. Mau kapan kita nikah dan kapan ketemu ayah kamu? Kenapa sampai saat ini ayah kamu belum ada kabar juga?"

"Kamu benar, padahal ayah bilang mau pulang secepatnya. Tapi sampai saat ini belum ada kabar juga, nanti deh aku telepon."

"Harus cepat-cepat ditelepon, agar kita segera mendapatkan restu. Agar kita secepatnya menikah," ujar Rena yang takut kalau Fajar akan tergoda Mutiara lagi.

"Iya, nanti kita ketemu sama ayah dulu."

Fajar dan juga Rena pergi ke ruangan pria itu, dia memang bersama dengan Rena, tetapi pikirannya tetap saja terfokus pada Mutiara. Dia merasa heran dengan wanita itu yang sikapnya berubah drastis dalam waktu singkat.

'Pasti dia kecewa karena tahu kalau aku cuma jadiin dia mainan, baguslah kalau dia sadar diri untuk pergi. Tapi, kenapa hati ini sedih ya?' ujar Fajar dalam hati.

1
stela aza
itu pas lagi ngmng di rekam g tue ,,, bisa jadi bukti akurat kalau di rekam
isnaini naini
nah kan ...fjr yg mnghrp kmatian arkan...
stela aza
kenapa g ngawasin si anak pungut udh tau curiga aturan harus bisa lebih hati2 lagi sama si pungut itu ,,, gemes bgt deh ,,, gunakan uangmu biar tau pelaku sebenarnya,,, kurang keren si Arkan ,,,, g kaya CEO2 lain yg tokcer ,, ceritanya trus pinter ya g ketulungan
stela aza
bodoh bgt sie Arkan masa g inget abis di kasih makan sama anak pungut langsung begitu keadaannya masa g g curiga sie ,,, bodohnya g ketulungan,,,🤦
stela aza
kayanya anak pungut yg hilang kendali
isnaini naini
siapa dlng nya thor...fajar ta...emang dsr anak pungut tk tau diri
stela aza
emang di rumah s Arkan g ada cctv lama2 s fajar nggilani ,,, aturan mutiara ngmng sama Arkan kalau dia mau di lecehin sama anak pungutnya biar fajar di kasih pelajaran syukuy2 kasih tau kalau dia cuma anak pungut biar stok terapi 🤦
Wiwi Sukaesih
tenang Arkan it bapak mertua kamu 😁
stela aza
akhirnya bentar lagi ketemu keluarganya
stela aza
dasar bodoh
isnaini naini
nah itu tau...baru nyadar pak..yg km pilih batu kali...
isnaini naini
ksihn amat alice..preman aj gak doyan ...
isnaini naini
jngn2 alice main sm porter kereta...krna gk thn...
Anita Rahayu
Buat alice di penjara da di siksa di sel yg penghuninya korban pelakor thor pasti kena mental👍👍👍👍
isnaini naini
telat pak nyeselnya....
evi solina
pernikahan kok di buat mainan dosa loh
evi solina
move on itu harus elegan bikin goyang perusahaan nya, bukan dgn cara mabok
evi solina
mundu mut harga diri injak kok mau aja, laki pengecut begitu
evi solina
laki pecundang jgn di percaya
sakura
....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!