NovelToon NovelToon
Sang Ratu Dua Dunia

Sang Ratu Dua Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Fantasi Wanita / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

Dua Benua. Satu Darah Campuran. Sebuah Takdir yang Terbuang.

Maria Joanna adalah kesalahan terindah dalam sejarah kerajaan. Terlahir dari perpaduan darah Kekaisaran China dan Kerajaan Spanyol, identitasnya adalah rahasia yang lebih mematikan daripada perang itu sendiri. Ia dibuang, disembunyikan, dan diasah menjadi senjata rahasia.

Namun, kesunyian itu berakhir ketika Adrian, bangsawan haus kekuasaan, menculik sosok paling berharga dalam hidupnya.

Di puncak Montserrat yang diselimuti kabut, Maria Joanna melepaskan amarahnya. Dengan Shadow Step dari Timur dan Estocada dari Barat, ia menumpahkan darah demi keadilan. Di tengah dentingan pedang dan intrik pengkhianatan yang melibatkan ayah kandung yang tak pernah dikenalnya, Maria harus memilih: menjadi pion dalam permainan takhta, atau menjadi Ratu sejati yang menyatukan dunia di bawah kekuatannya.

Siapapun yang berani mengusik kedamaiannya, akan merasakan amukan Sang Ratu!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERANG YANG TIDAK PERNAH DITULIS DALAM SEJARAH MANUSIA

POV Dunia

Sejarah manusia selalu mencatat perang sebagai benturan kehendak.

Negara melawan negara.

Ideologi melawan ideologi.

Dewa melawan dewa.

Tapi hari ini—

Manusia melawan sesuatu yang tidak mengakui mereka pernah penting.

Dalam 6 jam setelah kemunculan Raja Sejati Kedua:

3 kota hilang total dari realitas

11 kota mengalami “kerusakan eksistensial parsial”

42 juta orang hilang — tanpa jejak biologis

Semua sistem satelit global turun 37% fungsi

Dan yang paling menakutkan—

Fenomena itu menyebar tanpa pola militer.

Tanpa strategi yang bisa diprediksi manusia.

Seperti seseorang menghapus debu dari meja.

POV Maria

Aku berdiri di tengah ruangan yang dulu terasa seperti pusat kekuasaan dunia.

Sekarang—

Ini hanya ruang orang-orang yang mencoba menunda kepunahan.

Hologram dunia berputar pelan di depanku.

Terlalu banyak titik putih kosong sekarang.

Bukan zona konflik.

Zona ketiadaan.

“Update,” kataku.

Perwakilan intelijen bicara:

“Raja Sejati Kedua bergerak ke utara dengan kecepatan tidak konsisten. Kadang seperti teleportasi spasial, kadang berjalan normal.”

Normal.

Aku hampir tertawa.

POV Sebastian

Aku memperhatikan Maria lebih dari peta.

Ia tidak gemetar.

Tidak panik.

Tapi ia terlalu tenang.

Dan aku tahu—

Itu selalu tanda ia mempersiapkan sesuatu yang berbahaya.

“Kau berpikir pergi sendiri,” kataku pelan.

Ia tidak menyangkal.

POV Adrian

Aku berdiri lebih dekat hari ini.

Bukan karena aku ingin bersaing dengan Sebastian.

Tapi karena aku tahu—

Jika ini perang terakhir manusia…

Aku tidak akan berdiri jauh dari pusatnya.

Maria menatap kami berdua.

Dan untuk pertama kalinya—

Ia terlihat… sangat muda.

POV Maria

“Kita tidak bisa menunggu dia datang ke pusat populasi dunia,” kataku.

“Setiap jam kita kehilangan puluhan juta kemungkinan kehidupan masa depan.”

Seorang jenderal berkata:

“Kita belum punya senjata yang terbukti efektif.”

Aku menatapnya.

“Kita bukan mencoba menang.”

Ruangan sunyi.

“Kita mencoba memperlambat.”

POV Dunia

Koalisi Global meluncurkan:

312 drone orbital

17 senjata energi eksperimental

4 platform gravitasi kuantum prototipe

1 artefak Vatikan kelas Omega (tidak diketahui publik)

Semua diarahkan ke koordinat Antartika Selatan.

Dampak awal—

Spektakuler.

Laut mendidih.

Langit terbakar aurora hitam.

Gelombang tekanan memecah es benua.

Selama 9 detik—

Sensor membaca bahwa Raja Sejati Kedua… hilang.

Lalu—

Ia berdiri di tempat yang sama.

Tanpa kerusakan.

Tanpa perubahan.

Seolah realitas sendiri memperbaikinya.

POV Maria

“Dia tidak ada di dalam realitas,” kataku pelan.

“Dia… menulis ulang realitas saat kita mencoba menyentuhnya.”

Semua orang menatapku.

“Artinya?” tanya Sebastian.

“Artinya… kita melawan sesuatu yang tidak bisa dihancurkan dengan hukum fisika yang kita kenal.”

POV Dunia

Osaka.

Langit retak menjadi pola heksagonal putih.

Listrik berhenti.

Waktu lokal melambat 12%.

Lalu—

Distrik pusat kota… hilang.

Tanpa suara.

Tanpa panas.

Tanpa energi pelepasan.

Hanya… tidak ada lagi.

POV Adrian

Aku melihat Maria menyaksikan kehancuran itu.

Dan aku sadar sesuatu:

Ia tidak takut mati.

Ia takut menjadi satu-satunya yang tersisa.

POV Maria

“Aku akan turun langsung,” kataku.

Sebastian langsung:

“Aku ikut.”

Adrian:

“Aku juga.”

Aku menutup mata sebentar.

Dua pria.

Dua jangkar berbeda dalam hidupku.

Dan dunia—

Tidak memberi waktu untuk memilih dengan bersih.

“Kalian berdua ikut,” kataku.

POV Dunia

Langit di atas kapal transport eksperimental berwarna abu tanpa kedalaman.

Radar tidak berfungsi.

GPS tidak ada.

Hanya insting navigasi berbasis medan anomali Arthur-legacy dalam tubuh Maria.

Saat pesawat menembus batas zona—

Semua warna menghilang.

Dunia menjadi sketsa hitam putih tanpa kontras.

Dan di sana—

Ia berdiri.

Raja Sejati Kedua.

POV Maria

Ia lebih buruk dari layar.

Lebih… tidak kompatibel dengan keberadaan.

Tubuhnya seperti beberapa kemungkinan realitas dipaksakan berbagi ruang yang sama.

Mahkota hitam berputar pelan.

Saat ia menoleh—

Aku merasakan seluruh sejarah manusia dilihat sebagai catatan eksperimen.

Dan ditandai gagal.

POV Dunia

Ia tidak bicara.

Tapi makna masuk langsung ke kesadaran semua manusia dalam radius 4.000 km.

Subjek pengawas utama teridentifikasi.

Anomali warisan pra-reset.

Eliminasi prioritas.

Maria Joanna.

POV Sebastian

“Aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu,” kataku.

Maria tersenyum kecil.

“Aku tahu.”

Dan itu lebih menakutkan dari apa pun.

POV Adrian

Aku berdiri di sisi lain Maria.

Tidak menyentuhnya.

Tidak perlu.

Ia tahu aku di sini.

Dan untuk sekarang—

Itu cukup.

POV Dunia

Ia hanya mengangkat satu jari.

Udara membeku menjadi struktur kristal tak dikenal.

Gravitasi di area 3 km berubah arah.

Laut naik ke langit seperti dinding.

Dan seluruh ekosistem lokal—

Terhapus.

POV Maria

Aku membuka semua pembatas dalam diriku.

Arthur bangkit.

Bukan menguasai.

Tapi berdiri bersamaku.

Cahaya emas gelap menyebar dari tubuhku.

Realitas bergetar.

Untuk pertama kalinya—

Raja Sejati Kedua berhenti bergerak.

POV Dunia

Mereka berdiri saling berhadapan.

Satu ingin menghapus.

Satu ingin mempertahankan.

Dan manusia—

Untuk pertama kalinya—

Hanya penonton.

POV Maria

Aku menatapnya.

Dan aku tahu—

Ini bukan perang yang bisa dimenangkan hari ini.

Tapi ini perang yang harus dimulai.

“Aku tidak akan membiarkan dunia ini hilang,” kataku.

Makna itu masuk ke kesadarannya.

Dan untuk pertama kalinya—

Mahkota hitam berhenti berputar.

Sepersekian detik.

Cukup untuk memberiku harapan.

Atau—

Ilusi harapan.

POV Dunia

Tidak ada yang menyebutnya kemenangan.

Tidak ada yang menyebutnya kekalahan.

Karena tidak ada istilah manusia yang cukup untuk menjelaskan apa yang terjadi di Antartika Selatan.

Semua siaran militer dunia hanya memakai satu kata:

Kontak.

Dalam 18 menit setelah Maria berdiri berhadapan langsung dengan Raja Sejati Kedua:

Zona anomali meluas 11%

2 kota tambahan mengalami “penghapusan parsial”

9 negara kehilangan kendali penuh wilayah laut selatan

1 jaringan listrik benua runtuh total

Dan yang paling membuat para ilmuwan panik—

Hukum fisika mulai berbeda tergantung lokasi.

Di beberapa wilayah:

Waktu melambat

Massa objek berubah

Suara merambat terlalu cepat atau terlalu lambat

Seolah realitas… kehilangan konsistensi.

POV Maria

Angin tidak bergerak.

Laut tidak bergelombang.

Dunia terasa seperti lukisan yang lupa cara bernapas.

Aku berdiri di atas permukaan es yang sudah tidak benar-benar es.

Raja Sejati Kedua berdiri sekitar dua ratus meter di depanku.

Terlalu dekat.

Terlalu jauh.

Konsep jarak terasa tidak stabil di dekatnya.

Arthur bergerak dalam darahku.

Bukan sebagai suara.

Lebih seperti… tangan di punggungku.

Tidak mendorong.

Tidak menarik.

Hanya memastikan aku tidak jatuh sendiri.

POV Sebastian

Aku tidak bisa melihat semua yang Maria lihat.

Tapi aku bisa melihat efeknya.

Sensor armor tempurku menampilkan data yang tidak masuk akal:

Tekanan udara: berubah tiap detik

Gravitasi: fluktuatif ±300%

Temperatur: tidak bisa diukur

Aku melangkah satu langkah lebih dekat ke Maria.

“Jika dia menyerang lagi—aku akan tarik kau mundur.”

Maria tidak menoleh.

“Kau tidak akan sempat.”

Itu bukan penghinaan.

Itu fakta.

POV Adrian

Aku berdiri di sisi lain Maria.

Aku bisa merasakan sesuatu mencoba membaca pikiranku.

Bukan seperti telepati.

Lebih seperti… sistem audit realitas.

Seolah keberadaanku diperiksa apakah layak dipertahankan.

Aku menggertakkan gigi.

“Aku masih manusia,” gumamku pelan.

Dan entah kenapa—

Tekanan itu menjauh sedikit.

POV Dunia

Koalisi Global mengaktifkan Protokol Helios Black.

Langit di seluruh dunia direduksi cahaya satelit hingga minimum.

Tujuan:

Mengurangi interferensi realitas.

Efek samping:

Dunia terasa lebih gelap dari sebelumnya.

Di banyak kota—

Orang-orang mulai sadar:

Ini bukan perang yang bisa dimenangkan dengan doa saja.

POV Raja Sejati Kedua

Ia mengamati.

Subjek: Maria Joanna

Status: Anomali warisan sistem lama

Risiko: Tidak sesuai model kepunahan normal

Ia tidak merasa marah.

Tidak merasa tertantang.

Hanya…

Menyesuaikan parameter eliminasi.

POV Maria

Ia tidak bergerak.

Tapi ruang di sekitarku melipat seperti kertas.

Horizon menjadi vertikal.

Laut muncul di udara di atas kepalaku.

Aku membuka tangan.

Arthur bangkit lebih kuat kali ini.

Cahaya gelap-emas membentuk lingkaran di sekelilingku.

Realitas stabil.

Untuk radius… lima meter.

Cukup untuk melindungi Sebastian dan Adrian.

POV Sebastian

Aku melihat laut berhenti tepat di batas energi Maria.

Seperti dinding tak terlihat menahan kiamat.

Dan untuk pertama kalinya—

Aku sadar betapa sendirinya dia sebenarnya.

POV Adrian

Aku melihat punggung Maria.

Tegak.

Sendirian melawan sesuatu yang bahkan tidak menganggap kami spesies penting.

Dan sesuatu di dalam diriku memutuskan—

Jika dunia ini berakhir…

Aku tidak akan membiarkannya menghadapinya tanpa seseorang yang melihat dia sebagai manusia.

Bukan simbol.

Bukan senjata.

Dia.

POV Dunia

Istanbul.

Selat Bosphorus membeku di tengah arus.

Separuh langit berubah menjadi permukaan putih datar.

Satu distrik pelabuhan—

Hilang.

POV Maria

Aku bisa merasakannya sekarang.

Aku tidak bisa mengalahkannya.

Belum.

Tapi—

Aku bisa membuatnya memperhitungkanku.

Aku melangkah maju.

Setiap langkah seperti berjalan melawan gravitasi, waktu, dan kehendak sesuatu yang lebih tua dari konsep bintang.

“Dengar aku,” kataku.

Makna itu dikirim langsung ke eksistensinya.

“Aku tidak akan membiarkanmu menghapus dunia ini.”

POV Dunia

Mahkota hitam berhenti berputar.

Bukan lama.

Kurang dari satu detik.

Tapi semua sensor global mencatat lonjakan energi eksistensial.

Ia… memproses ancaman.

POV Sebastian

Aku mengangkat senjata.

Aku tahu ini hampir tidak berarti.

Tapi aku tetap melakukannya.

Karena manusia selalu bertarung bahkan saat tahu mereka mungkin kalah.

POV Adrian

Aku tidak mengangkat senjata.

Aku menatap Maria.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai—

Aku tersenyum.

Bukan karena aku yakin kita menang.

Tapi karena—

Jika dunia berakhir…

Setidaknya aku melihat manusia melawan sesuatu yang bahkan tidak mengerti kenapa manusia melawan.

POV Dunia

Langit di 17 negara mulai menunjukkan pola retakan realitas.

Bukan visual saja.

Sensor menunjukkan:

Struktur dimensi lokal melemah.

Ilmuwan memberi istilah baru:

Pre-Deletion Instability.

POV Maria

Raja Sejati Kedua mundur satu langkah.

Bukan karena kalah.

Lebih seperti…

Menilai ulang eksperimen.

Zona anomali menyusut 3%.

Untuk sekarang.

Aku jatuh berlutut.

Energi Arthur menarik mundur.

Sebastian langsung menangkapku.

Adrian berdiri di samping kami.

Untuk pertama kalinya—

Kami bertiga berdiri sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar manusia biasa.

Kami berdiri sebagai saksi—

Bahwa dunia belum menyerah.

POV Dunia

Raja Sejati Kedua berbalik.

Melangkah menjauh.

Tapi bukan pergi.

Hanya… menunda.

Dan di seluruh dunia—

Alarm tidak berhenti berbunyi.

Karena semua orang tahu:

Ini bukan akhir hari pertama perang.

Ini hanya—

Hari ketika manusia akhirnya menyadari—

Mereka hidup di alam semesta yang tidak pernah menjanjikan tempat untuk mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!