NovelToon NovelToon
Melati Diantara Lima Cinta

Melati Diantara Lima Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

Melati hanyalah gadis desa yang tak pernah bermimpi menjadi pusat dunia. Namun satu langkah ke istana menyeretnya ke dalam permainan cinta, kekuasaan, dan rahasia yang berbahaya.

Lima pria dari lima dunia berbeda datang dengan janji, ambisi, dan perasaan yang tak sederhana. Di balik gaun indah dan perjamuan megah, Melati belajar membaca kebohongan, membangun aliansi, dan melindungi harga dirinya.

Ketika gosip menjadi senjata dan cinta menjadi strategi, Melati harus memilih: bertahan sebagai pion… atau bangkit sebagai pemain yang mengubah sejarah.

Karena di tengah intrik dan perasaan yang rumit, satu kebenaran perlahan muncul — Melati bukan sekadar perempuan yang diperebutkan.
Ia adalah simbol masa depan yang belum ditentukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: MURKA SANG RATU BELANDA

Pagi itu desa bangun dengan firasat yang tidak enak.

Udara terasa lebih berat dari biasanya, seolah kabut tidak hanya turun dari langit, tetapi juga dari sesuatu yang tak terlihat. Ayam berkokok lebih pelan. Anak-anak bermain tidak jauh dari rumah. Para perempuan menimba air sambil saling bertukar tatapan yang tidak selesai.

Kabar selalu bergerak lebih cepat daripada langkah manusia.

Dan hari itu, kabar datang seperti badai.

Kereta kencana.

Dari kota.

Untuk seorang gadis desa.

Melati sedang menjemur kain ketika suara roda besi terdengar dari kejauhan. Bunyi itu tidak seperti gerobak petani. Tidak seperti pedati. Bunyi itu halus tetapi tegas, seperti sesuatu yang tahu semua orang akan menyingkir.

Ia menoleh.

Orang-orang desa mulai keluar dari rumah masing-masing. Ada yang berdiri di pinggir jalan. Ada yang berbisik. Ada yang langsung menunduk sebelum melihat siapa yang datang.

Ibunya keluar dari gubuk dengan wajah pucat.

“Masuk,” bisiknya cepat. “Melati, masuk sekarang.”

Namun terlambat.

Kereta itu sudah terlihat.

Hitam mengilap. Hiasan emas di sudutnya. Kuda putih yang dirawat lebih baik daripada sebagian besar manusia di desa itu. Di belakangnya, beberapa tentara berkuda menjaga jarak seperti bayangan yang setia.

Roda berhenti tepat di depan rumah mereka.

Desa menjadi sunyi.

Pintu kereta dibuka oleh seorang pelayan bersarung tangan.

Dan seorang perempuan turun.

Ia tidak tua, tetapi wibawanya membuat usia menjadi tidak relevan. Gaun panjang, topi besar, sarung tangan putih, dan tatapan yang tidak terbiasa melihat manusia sebagai setara.

Ibunya Melati langsung berlutut tanpa diminta.

Ayahnya menyusul.

Melati berdiri beku.

“Yang mana?” tanya perempuan itu dalam bahasa Melayu yang jelas, dingin, dan tanpa usaha menjadi lembut.

Seorang pejabat pribumi menunjuk.

Melati.

Tatapan itu berpindah.

Dan dunia terasa mengecil.

“Dekatkan dia.”

Dua tentara berjalan maju.

Ibunya memegang tangan Melati. “Jangan kasar… dia anak—”

Tangan ibunya dilepaskan dengan mudah, seperti melepaskan kain.

Melati tidak melawan ketika lengannya ditarik. Tubuhnya ringan. Kakinya terasa jauh. Ia berjalan ke depan, bukan karena berani, tetapi karena tidak tahu bagaimana berhenti.

Ia berdiri di hadapan perempuan itu.

Sunyi.

Perempuan itu menatap dari ujung kepala sampai kaki. Lama. Terlalu lama. Seolah ia sedang menilai seekor hewan sebelum dibeli.

“Ini?” katanya.

Pejabat itu mengangguk. “Ya, Yang Mulia.”

Perempuan itu mendekat satu langkah.

Melati bisa mencium aroma parfum mahal—aroma bunga yang tidak pernah tumbuh di tanah mereka.

“Willem memilih ini?”

Nada suaranya bukan marah. Lebih buruk. Jijik.

Ibunya mulai menangis di belakang.

Ayahnya tidak berani mengangkat kepala.

Perempuan itu mengangkat dagu Melati dengan ujung sarung tangan.

Sentuhan ringan.

Namun rasanya seperti penghinaan yang nyata.

“Lihat aku,” katanya.

Melati mengangkat mata sebentar.

Kesalahan.

Tatapan perempuan itu tajam, dingin, dan penuh sesuatu yang Melati belum pernah rasakan sebelumnya—bukan kebencian pribadi, tetapi keyakinan bahwa dirinya berada di atas.

“Kulit terbakar matahari,” katanya pelan.

“Pakaian kasar. Tangan pekerja.”

Ia menoleh ke rombongannya.

“Anakku kehilangan akal.”

Beberapa orang tertawa kecil.

Melati menunduk lagi.

Di dalam dadanya, sesuatu bergetar—bukan kemarahan, bukan keberanian. Hanya rasa kecil yang semakin nyata.

Perempuan itu berjalan mengelilinginya perlahan.

“Apakah kau tahu siapa dia?” tanyanya.

Melati tidak menjawab.

“Bicaralah.”

“Tidak, Tuan… Yang Mulia,” bisiknya.

“Dia pewaris. Darah bangsawan. Dan kau…”

Ia berhenti di depan Melati lagi.

“…anak tanah.”

Kata itu diucapkan seperti fakta alam.

Ibunya menangis lebih keras.

Ayahnya mengepal tanah di bawah lututnya.

“Di negerimu mungkin kau cantik,” lanjut perempuan itu. “Tetapi di dunia kami… kau tidak berbeda dari ternak yang dirawat rapi.”

Desa mendengar.

Dan tidak ada yang bisa menghentikannya.

Melati menunduk lebih dalam.

Di dalam hatinya, ia mulai berzikir.

Pelan. Tanpa suara.

Nama Tuhan menjadi tempat berlindung yang satu-satunya tidak bisa dirampas.

Perempuan itu mengamati diamnya.

“Tidak membantah?” tanyanya. “Atau tidak mengerti?”

Melati menelan. “Saya… hanya orang desa.”

Jawaban itu membuat perempuan itu tersenyum tipis.

“Setidaknya kau tahu tempatmu.”

Ia mengambil sapu tangan, seolah udara di sekitar Melati kotor.

“Aku tidak peduli anakku bermain dengan apa. Tapi jangan sampai mainan itu bermimpi menjadi sesuatu yang lain.”

Kalimat itu jatuh seperti batu.

Ibunya merangkak maju. “Yang Mulia… anak saya tidak pernah—”

Seorang tentara menahan ibunya.

“Dia salat,” lanjut perempuan itu dingin. “Agama yang membuat orang kecil merasa mulia di hadapan langit.”

Ia menatap Melati lagi.

“Langit tidak mengubah darah.”

Melati menutup mata sesaat.

Zikirnya semakin cepat.

Bukan untuk melawan. Untuk bertahan agar tidak hancur di tempat.

Perempuan itu mendekat sangat dekat.

“Jika kau dipanggil, kau datang. Jika kau diberi, kau terima. Jika kau ditinggalkan, kau diam. Itu satu-satunya cara orang sepertimu hidup panjang.”

Sunyi.

Angin lewat membawa bau tanah basah.

“Apakah kau mengerti?” tanya perempuan itu.

Melati membuka mata perlahan.

Ada air di sana, tetapi tidak jatuh.

“Saya mengerti.”

Jawaban itu membuat rombongan puas.

Namun di dalam dirinya, pengertian itu terasa seperti pintu yang tertutup.

Perempuan itu berbalik. “Pastikan gadis ini tidak melupakan siapa dia.”

Pejabat pribumi mengangguk cepat.

Kereta menunggu.

Namun sebelum naik, perempuan itu berhenti sekali lagi dan menoleh.

“Willem cepat bosan,” katanya datar.

“Jangan sampai keluargamu berharap.”

Kalimat itu lebih kejam daripada hinaan sebelumnya.

Karena itu memotong masa depan.

Kereta berangkat.

Roda kembali berputar.

Namun desa tidak kembali sama.

Melati berdiri lama bahkan setelah debu menghilang.

Tangannya masih dingin di tempat sarung tangan itu menyentuh dagunya.

Ibunya memeluknya tiba-tiba, menangis seperti seseorang yang kehilangan sesuatu yang belum terjadi.

“Maafkan Ibu… maafkan Ibu…”

Ayahnya berdiri pelan. Wajahnya kosong, jenis kosong yang datang setelah seseorang dipaksa menelan penghinaan tanpa bisa membalas.

Melati tidak menangis.

Aneh.

Ia merasa seperti suara di dalam dirinya dipadamkan sementara.

“Ibu,” katanya pelan, “aku tidak apa-apa.”

Itu tidak benar.

Namun itu satu-satunya kalimat yang bisa ia berikan.

Malamnya, ia kembali ke tikar salat.

Lampu minyak kecil. Bayangan dinding. Dunia yang sederhana—dan terasa semakin jauh.

Ia sujud lebih lama dari kemarin.

Zikirnya mengalir tanpa jeda.

Bukan meminta agar hidup berubah. Bukan meminta keajaiban. Hanya meminta agar hatinya tidak menjadi pahit.

Karena penghinaan bisa mengubah manusia.

Ia takut menjadi orang yang marah.

Ia takut kehilangan kelembutan yang menjadi satu-satunya miliknya.

“Ya Allah…” bisiknya.

“Jika aku kecil di mata mereka… jangan biarkan aku kecil di mata-Mu.”

Air mata jatuh.

Kali ini ia tidak menahannya.

Di luar, desa kembali sunyi. Namun sunyi itu berbeda—seperti sesuatu telah ditandai dan semua orang mengetahuinya.

Melati akhirnya mengerti.

Tatapan di sawah bukan kebetulan. Hadiah bukan kebaikan. Kedatangan ratu bukan sekadar amarah seorang ibu.

Ia telah masuk ke dunia yang tidak pernah ia pilih.

Dan dunia itu tidak melihatnya sebagai manusia utuh.

Namun di tikar kecil itu, dengan dahi menyentuh anyaman pandan, ia menemukan satu hal yang tidak bisa disentuh sepatu bot, sutra, atau hinaan.

Kesunyian bersama Tuhan.

Dan malam itu, di antara zikir yang berulang, seorang gadis desa belajar bahwa diam bukan selalu lemah.

Kadang diam adalah cara terakhir menjaga diri agar tidak hilang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!