Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Pertemuan Dua Bidadari
Sore itu, cakrawala Utara seolah terbakar oleh lembayung senja. Angin gurun berdesir lebih kencang, membawa partikel pasir yang mengikis dinding-dinding rumah kayu yang rapuh. Di dalam kesunyian rumah itu, Wang Long mendadak menghentikan aliran hawa murninya ke tubuh sang pasien kecil.
“Ada yang datang,” ucapnya pelan. Suaranya datar, namun mengandung kewaspadaan yang dalam.
Sin Yin yang semula bersandar di sudut ruangan, membuka matanya perlahan. Kilatan tajam muncul di pupil matanya yang indah. “Ya. Dua orang. Langkah mereka seringan bulu, mendarat di atas pasir tanpa suara. Ini bukan langkah kaki orang biasa.”
Yue Liang Shu, sang mantan pembunuh bayaran, sudah lebih dulu berdiri di ambang pintu. Tangannya melekat pada gagang pedang hitamnya. “Aku akan memeriksa. Tetaplah di dalam.”
Ia melangkah keluar, menyambut hawa dingin yang mulai turun. Di depan rumah, dua sosok pendekar muda berdiri dengan sikap yang tenang namun berwibawa. Di sebelah kanan, seorang pemuda bertubuh tegap dengan wajah sebersih pualam menatapnya dengan sorot mata jernih. Di punggungnya, tersilang dua bilah pedang panjang dengan hulu berukir naga dan burung phoenix yang tampak legendaris.
Namun, perhatian Yue Liang Shu segera beralih pada sosok di samping pemuda itu. Seorang gadis bergaun merah hati yang melilit anggun di tubuhnya, kontras dengan celana hitam dan sepatu coklat tua yang sedikit berdebu. Pedang miliknya tersampir indah di bahu kanan, siap dicabut dalam sekejap mata.
Wajah gadis itu... luar biasa. Bukan kecantikan lembut yang layu diterpa angin, melainkan kecantikan tegas yang berani, dengan sorot mata yang hidup dan penuh percaya diri. Kecantikannya seolah memiliki kekuatan untuk mengguncang hati siapa pun yang menatapnya.
“Siapa kalian? Dan apa urusan kalian di tempat terpencil ini?” tanya Yue Liang Shu tajam, suaranya membelah angin sore.
Gadis berbaju merah itu menjura dengan sangat sopan, gerakan yang menunjukkan ia berasal dari perguruan dengan tata krama tinggi. “Maafkan gangguan kami, Tuan. Kami sedang mencari seseorang yang kabarnya bernama Wang Long. Benarkah ia berada di balik pintu ini?”
“Apa tujuan kalian mencari majikanku?” Yue Liang Shu tidak menurunkan kewaspadaannya sedikit pun. Tenaga dalamnya mulai mengalir ke ujung jari.
Gadis itu tersenyum ramah, senyum yang bisa meluluhkan bongkahan es. “Jangan salah sangka, Tuan. Kami tidak datang untuk menabur permusuhan. Ada hal yang sangat penting yang ingin kutanyakan padanya.”
Yue Liang Shu menyipitkan mata, sudut bibirnya terangkat sinis. “O? Rupanya nama Wang Long sudah cukup untuk menarik perhatian gadis-gadis cantik dari Utara, sehingga kau menempuh perjalanan jauh hanya untuk bertemu dengannya?”
Sebuah suara dingin dan menusuk menyela dari balik pintu.
“Rupanya bukan hanya pejabat korup dan pembunuh bayaran yang mengantri. Sekarang, gadis-gadis cantik pun ikut berbaris untuk mencari peruntungan.”
Sin Yin melangkah keluar dengan langkah anggun yang mematikan. Tatapannya langsung beradu dengan gadis berbaju merah itu. Sunyi sejenak. Dua kecantikan luar biasa kini berdiri saling mengukur kekuatan, hawa dingin Sin Yin beradu dengan hawa hangat yang memancar dari sang tamu.
Gadis berbaju merah itu tersenyum tipis, tidak merasa terintimidasi. “Maaf, jika penglihatanku tidak salah... dari ciri-ciri dan aura dinginmu, Nona pastilah yang dijuluki Bidadari Maut?”
“Matamu cukup jeli,” jawab Sin Yin datar. “Lalu, apa kau juga kemari karena rasa penasaran yang tak tertahankan terhadap Wang Long?”
“Ya,” jawab gadis itu singkat namun mantap.
Tatapan Sin Yin berubah setajam silet. “Jika benar demikian, kau harus menghadapiku terlebih dahulu sebelum bisa berurusan dengannya.”
Pemuda dengan dua pedang di punggungnya hendak melangkah maju melihat sikap Sin Yin, namun sang gadis berbaju merah menahannya dengan isyarat tangan.
“Aku tidak datang untuk mencari musuh dari aliran putih,” katanya tenang. “O ya... jika benar pria di dalam itu adalah Wang Long, tolong katakan padanya... Wahuwa Mei Lin Long sedang mencarinya.”
Yue Liang Shu terdiam seolah dipatung. Sin Yin membeku di tempatnya.
“Apa...?” bisik Yue Liang Shu pelan. “Wahuwa Mei Lin Long... bukankah itu nama adik perempuan Wang Long yang dikabarkan tewas dalam pembantaian sepuluh tahun lalu?”
Wang Long masih terduduk di samping anak kecil itu ketika pintu rumah kayu terbuka. Ia mendongak, dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, dunianya seolah berhenti berputar.
Gadis berbaju merah itu berdiri tepat di hadapannya. Ia menatap Wang Long tanpa berkedip, air mata mulai menggenang di sudut matanya yang tegas.
“Kau... Wang Long?” tanyanya, suaranya sedikit bergetar.
Wang Long berdiri perlahan, kakinya terasa berat. “Benar. Aku Wang Long.”
Gadis itu menarik napas dalam, seolah mengumpulkan seluruh keberaniannya. “Namaku... Wahuwa Mei Lin Long.”
Ruangan itu menjadi sangat sunyi, bahkan detak jantung pun terdengar jelas. Wang Long tidak langsung memeluknya. Jemarinya mengepal kuat hingga kuku-kukunya memutih. “Itu adalah nama adikku. Adikku yang kulihat tenggelam dalam api sepuluh tahun yang lalu.”
“Aku tidak mati, Kakak,” jawab gadis itu dengan kepastian yang mutlak.
Shen Lie Cen, sang pemuda tinggi tegap, melangkah maju. “Aku Shen Lie Cen. Orang-orang di Utara memanggilku Pendekar Pedang Naga Phoenix. Dan gadis ini adalah adik seperguruanku.”
Wahuwa kembali menatap kakaknya. Tangannya bergerak gemetar ke balik pakaian merah hatinya, lalu mengeluarkan sebuah kalung giok kecil berbentuk bulan sabit. Cahaya senja yang masuk lewat celah dinding memantul di permukaan giok yang hijau jernih itu.
Wang Long membeku. Napasnya tertahan. Kalung itu... ia mengenalnya lebih baik dari dirinya sendiri. Ibunya selalu mengusap kalung itu setiap kali membacakan dongeng untuk Wahuwa Mei Lin kecil.
“Ini... giok peninggalan Ibu,” suara Wang Long hampir hilang tertelan haru.
“Bidadari Ungu dari Utara yang menemukanku di bawah tumpukan kayu bakar yang belum sempat dijilat api,” tutur Wahuwa pelan. “Beliau mencari mayatmu juga, namun tak menemukannya. Itulah sebabnya, ketika nama Wang Long mulai mengguncang dunia persilatan, aku tahu... naga itu telah kembali.”
Wang Long melangkah maju, dadanya sesak oleh emosi yang membuncah. Ia menatap Wahuwa dengan pandangan yang tak lagi ragu.
“Katakan padaku satu hal, Mei Lin,” suaranya berat. “Apa yang kau lakukan jika kau mendengar suara petir yang sangat keras saat kita masih kecil?”
Wahuwa Mei Lin tidak perlu berpikir. Ingatan itu telah ia simpan sebagai penguat jiwa selama sepuluh tahun masa pengasingannya. “Aku akan lari dan bersembunyi di balik punggungmu... lalu kau akan menutup telingaku dengan kedua tanganmu yang hangat sambil berkata bahwa petir itu hanyalah naga yang sedang menguap.”
Wang Long memejamkan mata. Air mata yang selama sepuluh tahun ia tahan, kini merembes di sudut matanya. Kenangan itu terlalu pribadi untuk diketahui oleh siapa pun selain mereka berdua.
“Mei Lin...” suara Wang Long pecah.
Wang Long mengangkat tangan yang biasanya digunakan untuk menghancurkan musuh, kini ia letakkan dengan sangat lembut di atas kepala Wahuwa. “Kau... kau sudah tumbuh menjadi bidadari yang cantik.”
Wahuwa Mei Lin tertawa kecil dalam isak tangisnya. “Kakak... kau jauh lebih kuat dari yang kubayangkan.”
Sin Yin yang berdiri di dekat pintu, memalingkan wajahnya. Ada rasa lega yang tak terkira di hatinya. Kecemburuan yang tadi sempat membara, kini padam berganti dengan rasa hangat.
Namun, Shen Lie Cen segera memecah suasana haru itu. “Pertemuan ini sangat berharga, namun bahaya tidak menunggu. Bidadari Ungu, ibuku, mencium ada pergerakan besar dari Kuil Dewa. Mereka tidak hanya mengincar kekuasaan.”
Wang Long menoleh, matanya kembali tajam. “Apa yang mereka cari?”
Shen Lie Cen menatap lurus ke mata Wang Long. “Mereka mencari Darah Naga. Garis darah keluarga kalian bukan sekadar garis darah manusia biasa, Wang Long. Dan Kuil Dewa menginginkan kekuatan itu untuk membangkitkan sesuatu yang terkubur di bawah tanah Utara.”
Sin Yin mendengus dingin, menyentuh hulu pedangnya. “Tampaknya dunia memang tidak akan pernah membiarkanmu beristirahat, Wang Long.”
Wang Long tersenyum tipis, lalu menggenggam tangan adiknya erat. “Aku memang tidak pernah mengharapkan ketenangan. Tapi sekarang, aku tahu bahwa aku tidak akan bertarung sendirian.”
Di luar rumah kayu, matahari telah tenggelam sepenuhnya. Namun di balik bukit pasir yang gelap, sesosok bayangan mengawasi mereka. Kabar bahwa Bidadari Merah Hati telah bersatu dengan Sang Naga akan segera menyulut api peperangan yang lebih besar di tanah Utara.
Bersambung… 🐉