Di bawah langit California yang selalu cerah, keluarga Storm adalah simbol kesempurnaan. Namun, di dalam kediaman megah mereka, dua badai yang berbeda sedang bergolak.
Luna Storm adalah anak emas. Cantik, lembut, dan selalu menempati peringkat tiga besar dalam daftar pesona konglomerat kota. Hidupnya adalah rangkaian jadwal ketat antara balet dan piano, sebuah pertunjukan tanpa henti untuk memuaskan ambisi sang ayah. Di balik senyum porselennya, Luna menyimpan rahasia patah hati dari masa SMA dengan Zayn Karl Graciano, satu-satunya lelaki yang pernah membuatnya merasa hidup, namun pergi karena Luna lebih memilih tuntutan keluarga daripada cinta.
Di sisi lain, ada Hera Storm. Kembaran tidak identik Luna yang mewarisi fitur wajah tajam ibunya dan jiwa pemberontak sejati. Hera adalah antitesis dari Luna, ia jomblo sejati, penunggang motor sport, dan lebih suka bergaul di bengkel daripada di aula dansa. Ia bebas, sesuatu yang sangat dicemburui oleh Luna.
.
.
SELAMAT BACA DEAR 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#3
Lantai kayu studio balet itu memantulkan cahaya lampu neon yang putih dan steril, sama seperti kehidupan Luna Storm yang terorganisir dengan sempurna. Di dinding, cermin raksasa setinggi langit-langit memaksanya untuk menatap dirinya sendiri, seorang gadis dengan balutan leotard hitam dan sepatu pointe yang terikat kencang.
Irama musik Adagio yang dimainkan dari pemutar suara seharusnya membantunya fokus, namun hari ini, setiap nada terasa seperti beban.
“Plie, tendu, degage...” suara instruktur baletnya, Madam Vera, terdengar datar namun menuntut.
Luna menekuk lututnya, namun pikirannya melayang kembali ke parkiran Blok C. Bayangan Zayn Karl Graciano menghantamnya tanpa ampun. Tatapan mata pria itu... Luna memejamkan mata sesaat, mencoba mengusir bayangan es di mata kelabu Zayn. Dulu, mata itu adalah pelabuhan paling hangat baginya. Sekarang? Mata itu hanyalah jurang yang dalam dan membeku.
“I’m sorry, Zayn...” bisik Luna dalam hati. Kalimat itu adalah mantra yang selalu ia ucapkan setiap malam selama dua tahun terakhir. Maaf karena telah menyerah pada tekanan Ayah. Maaf karena membiarkan Zayn pergi sendirian ke luar negeri dengan hati yang hancur.
Luna melakukan putaran pirouette, namun keseimbangannya goyah. Ia teringat kembali pada garis-garis hitam di lengan dan betis Zayn. Garis-garis abstrak yang tampak liar dan tidak beraturan.
“Sekarang kamu sudah punya tato ya, Zayn?” batinnya. Sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di sudut bibirnya. Senyum yang hanya bisa dipicu oleh satu nama di dunia ini. “Dasar nakal.”
Zayn yang ia kenal dulu adalah pemuda bersih tanpa setetes tinta pun di kulitnya. Zayn yang dulu rela menunggu Luna selesai latihan piano hanya untuk memberinya satu tangkai bunga liar yang dipetik dari pinggir jalan. Melihat Zayn yang sekarang, yang dikelilingi oleh Arlo, Ben, dan Clark, dengan deru motor yang memekakkan telinga dan tato yang menutupi kulit putihnya, membuat Luna menyadari betapa banyak waktu yang telah mereka lewatkan.
Bagi seluruh dunia, Luna Storm adalah patung porselen yang mahal. Tapi bagi Zayn, Luna hanyalah Luna. Hanya saat memikirkan Zayn, Luna merasa sedikit... normal. Sedikit manusiawi. Bukan hanya sekadar "Top 3 Pesona Anak Konglomerat" atau "Pewaris Storm".
“Luna! Fokus!” tegur Madam Vera tajam. “Gerakanmu kacau. Kau seperti tidak memiliki jiwa hari ini.”
Luna tersentak. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya. Ia kembali ke posisi first position. Namun, ingatannya kembali tertuju pada detail tato di tangan Zayn. Ada sesuatu tentang pola itu. Sesuatu yang terasa familiar, seolah-olah garis-garis rumit itu memanggil namanya. Tapi Luna menepis pikiran itu. Mana mungkin Zayn yang sedingin itu masih menyimpan namanya?
Sesi latihan berakhir dua jam kemudian. Keringat membasahi leher jenjang Luna. Saat teman-teman kelasnya mulai berkemas dan membicarakan tentang pesta di pantai Malibu, Luna hanya duduk di sudut ruangan, melepas ikatan sepatu baletnya yang menyesakkan.
Ia meraba pergelangan tangannya sendiri, kosong. Tidak ada tato, tidak ada tanda pemberontakan. Kulitnya putih bersih, dijaga sedemikian rupa untuk tetap suci sesuai standar keluarga Storm.
“Kenapa kau selalu terlihat seperti sedang berduka, Luna?”
Luna menoleh. Hera sudah berdiri di pintu studio dengan jaket kulitnya yang ikonik. Kembarannya itu tampak sangat kontras dengan ruangan yang serba putih dan elegan ini. Hera membawa aroma aspal dan kebebasan masuk ke dalam ruangan.
“Hanya lelah, Hera,” jawab Luna singkat.
Hera berjalan masuk, suara sepatu botnya berdentum di lantai kayu. “Aku melihatnya tadi. Zayn. Dia kembali, kan?”
Luna terdiam, tangannya berhenti menarik pita sepatu.
“Dia bersama Arlo dan gengnya,” lanjut Hera sambil bersandar pada bar balet. “Zayn yang sekarang... dia terlihat berbeda. Sangat dingin. Tapi kau tahu apa yang menarik? Tato di kakinya. Aku sempat melihatnya saat dia turun dari motor.”
Jantung Luna mencelos. “Tato itu hanya gambar abstrak, Hera. Zayn sudah berubah.”
Hera tertawa kecil, suara tawa yang tajam. “Abstrak? Mungkin bagi orang yang tidak tahu cara membaca luka. Tapi bagiku, itu terlihat seperti seseorang yang sedang berusaha menyembunyikan sesuatu yang sangat berharga di balik jeruji besi. Kau harus melihatnya lebih dekat, Luna. Kalau kau punya keberanian.”
Luna menatap kembarannya dengan rasa iri yang menusuk. Hera selalu punya keberanian untuk melihat kebenaran, sementara Luna lebih memilih bersembunyi di balik etika dan sopan santun.
Malam itu, setelah pulang dari studio, Luna berdiri di balkon kamarnya yang menghadap ke arah kota Los Angeles yang gemerlap. Di kejauhan, ia bisa mendengar sayup-sayup suara motor yang dipacu di jalanan bebas hambatan.
Ia teringat kata-kata terakhir Zayn tadi siang. “Jangan berdiri di tengah jalan, Nona.”
Panggilan Nona itu terasa lebih menyakitkan daripada makian. Zayn benar-benar memperlakukannya seperti orang asing. Namun, Luna tahu, di balik sikap dingin itu, Zayn masihlah Zayn yang sama. Pria putih tinggi yang menyukai kecepatan.
Luna menyentuh dadanya sendiri. Ia berjanji, ia tidak akan membiarkan pertemuan di parkiran itu menjadi yang terakhir. Jika Zayn bisa berubah menjadi pria yang penuh tato dan dingin, maka Luna juga harus berubah. Ia harus menemukan cara untuk keluar dari "sangkar porselen" ini, setidaknya untuk satu malam saja.
“Zayn... tunggu aku,” bisiknya pada angin malam.
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰