Adam Al-Fatih (40) adalah potret kesempurnaan: CEO miliarder yang gagah, karismatik, dan taat beribadah. Di Jakarta, ia memiliki Khadijah, istri saleha yang menjadi pilar kekuatannya sejak masa sulit. Namun, takdir membawa langkah Adam melintasi benua, dari romantisme Paris, kemegahan Istanbul, hingga hiruk-pikuk New York. Di setiap kota tersebut, Adam bertemu dengan wanita-wanita luar biasa yang tengah terhimpit badai kehidupan.
Demi sebuah wasiat rahasia sang kakek dan misi kemanusiaan yang mendalam, Adam akhirnya menikahi Isabelle, Aisha, dan Sarah. Publik mencibirnya sebagai lelaki yang mabuk poligami di puncak dunia. Namun, sebuah rahasia medis yang pedih tersimpan rapat di balik pintu kamarnya: Adam menderita impotensi akibat kecelakaan masa lalu.
Ketiga pernikahan di luar negeri itu hanyalah "sajadah perlindungan". Adam mengorbankan reputasi dan perasaannya demi menyelamatkan sesuatu yang lebih berharga!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benih di Tengah Badai
Vonis dokter tentang kelelahan saraf Isabelle ternyata hanyalah permukaan dari sebuah rahasia alam yang jauh lebih besar. Sore itu, di ruang perawatan VVIP yang menghadap ke arah cakrawala Jakarta, dokter senior yang menangani Isabelle masuk dengan senyum yang sulit disembunyikan. Ia membawa sebuah amplop putih berisi hasil laboratorium terbaru yang baru saja keluar.
Adam duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan Isabelle yang masih nampak pucat. Khadijah duduk di kursi rodanya tak jauh dari sana, ditemani Zahra yang baru saja selesai merapikan buket bunga melati di atas meja.
"Pak Adam, Madame Isabelle... ada alasan medis yang sangat indah di balik mengapa tubuh Madame Isabelle begitu cepat drop menghadapi tekanan kemarin," ujar sang dokter sambil menyerahkan hasil tes tersebut.
Adam membacanya dengan cepat. Matanya membelalak, napasnya tertahan di tenggorokan. "Positif? Isabelle... kau hamil?"
Suasana kamar mendadak hening. Isabelle terperangah, jemarinya menutup mulutnya yang bergetar karena haru. Di tengah kemelut bisnis, serangan Sirius Jhon, dan sabotase internasional, sebuah nyawa baru sedang bersemi di rahimnya. Adam, sang raksasa baja yang biasanya mengendalikan emosi dengan ketat, tak mampu lagi membendung air matanya. Ia memeluk Isabelle dengan sangat hati-hati, seolah istrinya itu kini terbuat dari kristal yang paling rapuh.
"Terima kasih, ya Allah... Terima kasih," bisik Adam berkali-kali di ceruk leher Isabelle.
Sejak pengumuman itu, perhatian Adam Al-Fatih berubah secara drastis. Gairah dan energinya yang meluap-luap kini terfokus pada satu titik: menjaga janin di rahim Isabelle. Adam menjadi sangat protektif. Ia sendiri yang memesan makanan organik terbaik, ia yang memastikan suhu ruangan selalu pas, dan ia bahkan membatalkan beberapa pertemuan penting hanya untuk menemani Isabelle melakukan USG pertama.
Adam nampak sangat maskulin saat menunjukkan sisi lembutnya. Tubuhnya yang atletis seringkali terlihat membungkuk hanya untuk mengusap perut Isabelle yang masih rata, atau menggendong istri keduanya itu jika Isabelle merasa sedikit pusing. Stamina Adam yang biasanya ia gunakan untuk urusan pabrik, kini ia habiskan untuk memberikan pijatan ringan pada kaki Isabelle setiap malam.
Namun, di sudut lain dari harmoni itu, sebuah riak kecil mulai muncul.
Khadijah, sang permaisuri yang selama ini menjadi pusat semesta Adam, mulai merasakan gesekan di hatinya. Ia adalah wanita yang mulia, ia yang meminta Adam menikahi Isabelle, namun ia tetaplah manusia biasa. Melihat Adam yang begitu "tercurah" pada Isabelle—sesuatu yang dulu hanya miliknya—menimbulkan rasa sepi yang dingin di dadanya.
Dulu, saat Khadijah hamil anak-anak mereka, Adam memang perhatian. Namun saat itu Adam masih berjuang membangun bisnis, ia jarang ada di rumah. Kini, saat Adam sudah mapan dan memiliki segalanya, Isabelle mendapatkan "versi terbaik" dari perhatian Adam. Khadijah seringkali mendapati dirinya menatap jendela saat Adam dan Isabelle tertawa kecil di taman rumah sakit membahas nama bayi.
Malam itu, di kediaman Menteng setelah Isabelle diperbolehkan pulang, suasana terasa agak kaku. Adam sedang menyuapi Isabelle vitamin tambahan di ruang tengah.
"Ayo, sedikit lagi, Sayang. Ini demi si kecil," bujuk Adam dengan suara yang begitu lembut, suara yang dulu selalu membuat Khadijah merasa paling dicintai.
Khadijah, yang sedang dibantu oleh perawat untuk pindah ke tempat tidur, melihat pemandangan itu. Ia merasa seperti bayangan di rumahnya sendiri. Ia merindukan tangan besar Adam yang membelai pipinya, ia merindukan tatapan Adam yang hanya tertuju padanya. Rasa cemburu itu datang tanpa diundang, menyerang di saat fisiknya sedang tidak berdaya.
"Mas Adam," panggil Khadijah pelan.
Adam menoleh, namun tangannya masih memegang gelas untuk Isabelle. "Iya, Dijah? Ada yang kurang? Butuh sesuatu?"
"Tidak... hanya ingin bertanya, apakah besok kita tetap jadi ke Bandung untuk menengok pesantren Zahra?" tanya Khadijah. Suaranya sedikit bergetar, namun ia mencoba tegar.
Adam nampak ragu. Ia menoleh ke arah Isabelle. "Ehm, Dijah... aku rasa besok terlalu berisiko bagi Isabelle untuk perjalanan jauh. Dokter bilang trimester pertama ini sangat krusial. Mungkin aku akan kirim Reza saja ke Bandung, atau mungkin kita tunda sampai bulan depan?"
Hati Khadijah seperti tertusuk duri kecil. Perjalanan ke Bandung adalah rencana yang sudah mereka sepakati bersama untuk memberi ketenangan pada Zahra. Namun kini, rencana itu dibatalkan hanya karena Isabelle.
"Oh... begitu ya. Baiklah kalau begitu," Khadijah memalingkan wajahnya. Air mata yang coba ia tahan hampir jatuh.
Isabelle, yang memiliki kepekaan tinggi, menyadari perubahan raut wajah Khadijah. Ia merasa bersalah. "Mas, tidak apa-apa. Aku bisa ikut kalau pelan-pelan. Aku tidak ingin merusak rencana kalian dengan Kak Khadijah."
"Tidak, Isabelle. Kesehatanmu dan bayi kita nomor satu," tegas Adam tanpa sadar bahwa kalimat "bayi kita" itu terdengar sangat eksklusif di telinga Khadijah.
Zahra, yang masih berada di Jakarta untuk membantu transisi, melihat ketegangan ini dari balik pintu dapur. Ia merasa prihatin. Ia melihat Khadijah yang biasanya tenang kini sering melamun. Sebagai wanita yang paham agama, Zahra tahu bahwa poligami bukan hanya soal membagi waktu, tapi membagi rasa yang adil di tengah dinamika emosi yang kompleks.
Keesokan paginya, Zahra memberanikan diri menemui Adam di ruang kerjanya. Adam sedang sibuk melihat foto-foto perlengkapan bayi di laptopnya.
"Pak Adam," sapa Zahra lembut.
Adam mendongak, tersenyum. "Eh, Zahra. Ada apa? Sudah siap kembali ke Bandung?"
"Pak... saya ingin bicara sedikit," Zahra duduk dengan sopan. "Ibu Khadijah... beliau sangat mencintai Bapak. Beliau yang membuka jalan untuk semua ini. Namun, saat ini beliau sedang sakit dan merasa posisinya mulai bergeser. Mohon jangan biarkan kegembiraan atas kehadiran bayi ini membuat Ibu Khadijah merasa kehilangan suaminya."
Adam terdiam. Penjelasan Zahra seperti siraman air dingin yang menyadarkannya. Ia terlalu larut dalam euforia kehamilan Isabelle hingga lupa bahwa Khadijah sedang dalam masa pemulihan yang butuh dukungan psikis besar.
"Astagfirullah..." gumam Adam. Ia meremas rambutnya yang tebal. "Terima kasih, Zahra. Aku benar-benar tidak sadar telah melukainya."
Malam itu, Adam masuk ke kamar Khadijah. Ia melihat istrinya sedang membaca Al-Qur'an dengan mata sembab. Adam duduk di tepi ranjang, lalu perlahan ia memindahkan Al-Qur'an itu dan meletakkan kepala Khadijah di dadanya yang bidang.
"Maafkan aku, Dijah," bisik Adam. "Aku terlalu bodoh. Aku terlalu senang hingga lupa bahwa kau adalah nafasku. Tanpa keikhlasanmu, tidak akan ada bayi ini, tidak akan ada Isabelle di sini. Maafkan suamimu yang kurang peka ini."
Khadijah akhirnya tumpah dalam tangisan di pelukan Adam. "Aku hanya takut, Mas... aku takut aku tidak lagi berguna bagimu karena aku sakit, sementara dia memberimu keturunan lagi."
Adam mencium kening Khadijah dengan penuh gairah yang tulus—gairah seorang suami yang menghormati pengorbanan istrinya. "Kau adalah pondasiku, Dijah. Sampai kapan pun. Anak yang di rahim Isabelle adalah anakmu juga. Kita akan membesarkannya bersama."
Di luar kamar, Isabelle yang berdiri di balik pintu, tersenyum lega sambil mengelus perutnya. Ia tidak ingin menjadi penghalang. Ia berjanji akan selalu mengingatkan Adam bahwa Khadijah adalah yang utama.
Dilema di Menteng mulai mencair. Kehamilan Isabelle yang tadinya memicu api cemburu, kini justru menjadi pengikat baru bagi mereka. Adam menyadari bahwa kehebatannya sebagai pria bukan hanya saat menaklukkan musuh bisnis, tapi saat ia mampu menyeimbangkan hati wanita-wanita yang mencintainya.