NovelToon NovelToon
Dewa Kematian Dan Hantu Pedang : Menantang Takdir

Dewa Kematian Dan Hantu Pedang : Menantang Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Fantasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:117.7k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Takdir memang gemar memainkan jalannya sendiri, mempertemukan hal-hal yang tampak mustahil dalam satu waktu yang sama. Di masa ini, takdir mempertemukan dua arus waktu yang saling berlawanan. Seseorang dari masa depan yang kembali ke masa lalunya, dan seseorang yang bangkit dari masa lalunya untuk menapaki kembali jalan yang pernah ia lalui.

Apa yang akan terjadi pada takdir keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang Tak Terduga

Langit hutan pecah oleh tekanan dua binatang suci. Naga hijau melesat dari sisi kiri, tubuhnya berputar seperti badai zamrud yang membelah awan. Pada saat yang sama, naga merah muda menukik dari atas, sisiknya berkilau seperti fajar berdarah yang jatuh dari langit. Dua tekanan binatang suci menyatu dalam satu titik, Sha Nuo.

Sha Nuo tidak mundur. Aura kematian di tubuhnya melonjak, berputar liar seperti pusaran neraka yang baru dibuka. Jubah hitamnya berkibar keras saat ia mengangkat kedua tangannya ke pinggang.

Dua kilatan hitam muncul. Sha Nuo menarik kedua pedang hitamnya. Bilah itu gelap pekat, seolah ditempa dari bayangan malam tanpa bulan. Tidak memantulkan cahaya. Tidak memancarkan aura. Namun setiap helai kegelapan di sekitarnya tampak tunduk pada keberadaan pedang itu.

Tanah di bawahnya retak. Lalu ia menghilang. Ledakan udara terdengar saat tubuh Sha Nuo melesat ke langit, bertemu dua naga yang turun menyerang. Dalam satu detik, tiga sosok itu telah meninggalkan tanah, naik ke atas hutan, lalu lebih tinggi lagi… hingga hanya bayangan tekanan energi mereka yang terlihat dari bawah. Langit menjadi medan perang.

Benturan pertama akhirnya terjadi. Cakar naga hijau bertemu pedang kiri Sha Nuo. Percikan energi hijau dan hitam meledak, menciptakan gelombang tekanan yang menyapu awan. Hampir bersamaan, ekor naga merah muda menyapu dari sisi lain, namun pedang kanan Sha Nuo sudah menahan.

Boommm!!!!!

Gelombang kejut turun ke hutan, membuat pepohonan bergoyang keras. Ribuan siluman di bawah mendongak dengan mata melebar. Di langit, pertarungan langsung berubah sengit.

Naga hijau bergerak seperti badai tua, setiap ayunan cakarnya membawa tekanan alam. Naga merah muda lebih cepat, lebih luwes, tubuhnya melingkar seperti pita kematian yang tak pernah berhenti bergerak.

Di tengah keduanya, Sha Nuo menari. Dua pedang hitamnya berputar, membentuk garis silang yang memotong langit. Setiap benturan menciptakan kilatan gelap. Setiap gerakan kakinya meninggalkan jejak kabut kematian yang memudar perlahan.

Clang!

Boom!

Slash!

Serangan datang bertubi-tubi. Cakar. Ekor. Tubuh naga yang berputar seperti pusaran. Nafas naga yang menyapu ruang.

Sha Nuo menahan, menghindar dan membalas. Kadang tubuhnya terdorong puluhan meter ke belakang oleh benturan naga hijau. Jubahnya berkibar liar, kabut kematian nampak pekat. Namun sebelum momentum itu habis, ia sudah menendang udara dan melesat kembali.

Kadang justru naga merah muda yang terdorong saat pedang Sha Nuo memotong lintasan geraknya, membuat tubuh panjangnya bergeser dari jalur serangan.

Pertarungan itu bukan lagi benturan kekuatan semata. Itu adalah perebutan dominasi ruang. Satu detik naga menguasai langit. Detik berikutnya Sha Nuo yang berdiri di pusatnya.

Cakar naga hijau kembali turun. Sha Nuo menahan dengan kedua pedangnya menyilang. Ledakan energi membuat ruang bergetar.

Naga hijau tidak menarik cakarnya. Matanya menatap Sha Nuo dari jarak sangat dekat.

“Menyerahlah.”

Suaranya bergema di langit, terdengar berat.

“Kau mungkin mampu bertahan melawan kami.”

Tekanan pada cakar itu bertambah.

“Namun rekanmu di bawah… berada dalam bahaya.”

Sha Nuo menatap balik. Kabut hitam mengalir dari matanya seperti asap tipis. Lalu ia tersenyum. Senyum santai. Hampir malas.

“Aku tidak takut.”

Jawabannya pendek. Namun justru karena itulah… kedua naga itu sedikit terdiam. Naga merah muda yang sedang berputar untuk serangan berikutnya memperlambat gerakannya. Mata merah pucatnya menatap Sha Nuo dengan kebingungan yang jelas.

Tidak takut? Di bawah sana ada ribuan siluman. Empat raja siluman dan manusia yang mereka anggap lemah. Mengapa manusia ini bisa mengatakan itu dengan begitu santai?

Namun pertarungan tidak memberi ruang untuk berpikir lama. Naga merah muda kembali menyerang. Tubuhnya melingkar seperti tombak hidup, kedua cakarnya menyapu bersamaan ke arah Sha Nuo. Pada saat yang sama, naga hijau menarik cakarnya lalu menghantam lagi dari sisi lain.

Serangan silang. Sha Nuo berputar di udara. Pedang kanan menahan naga merah muda. Pedang kiri membelokkan naga hijau. Benturan terjadi bersamaan, menciptakan gelombang kejut berbentuk cincin yang menyapu awan.

Sha Nuo terdorong mundur. Tubuhnya meluncur puluhan meter, kakinya seperti menginjak udara kosong sebelum akhirnya berhenti. Kabut kematian berputar liar di sekelilingnya.

Namun detik berikutnya, ia menghilang. Muncul di atas kepala naga hijau. Pedang hitamnya turun.

Naga hijau memutar tubuhnya cepat, sisik zamrudnya memantulkan benturan itu. Suara seperti dua gunung bertabrakan menggema. Kali ini naga hijau yang terdorong.

Naga merah muda langsung menyusul dari belakang. Cakar menyambar. Sha Nuo menoleh, memblok, lalu memutar tubuhnya dan menendang moncong naga itu. Ledakan udara memekakkan. Naga merah muda terhenti sepersekian detik di udara.

Pertarungan terus bergulir. Kadang Sha Nuo yang terdorong. Kadang naga hijau yang bergeser. Kadang naga merah muda yang terpental.

Langit menjadi medan tarik-menarik kekuatan. Dari bawah, semua siluman hanya bisa menatap. Tiga sosok di langit itu seperti tiga bintang jatuh yang saling bertabrakan tanpa henti.

...********...

Sementara itu, jauh di bawah. Lingkaran pengepungan di sekitar Boqin Changing masih membeku. Tubuh siluman yang barusan  terbelah perlahan berubah menjadi asap hitam yang menghilang. Tidak ada suara. Tidak ada perlawanan. Itu adalah rekan mereka, siluman kelelawar.

Ribuan siluman menatap pemuda itu. Pedang masih di tangannya. Senyum tipis masih di wajahnya. Untuk pertama kalinya… beberapa siluman mulai merasa bahwa mungkin… yang paling berbahaya di medan ini bukanlah manusia yang sedang bertarung melawan dua naga di langit. Melainkan pemuda yang berdiri diam di tanah.

Hutan yang sebelumnya riuh oleh benturan langit kini justru terasa sunyi di tanah. Hanya suara napas berat para siluman yang terdengar, bercampur desir angin yang menyelinap di sela pepohonan yang bergoyang akibat tekanan pertempuran di atas.

Boqin Changing menatap mereka. Tatapannya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang dikepung oleh lautan musuh.

Matanya bergerak perlahan, menyapu satu per satu wajah siluman di sekelilingnya. Siluman serigala dengan taring panjang. Siluman harimau dengan otot bergelombang. Siluman ular yang tubuhnya meliuk di tanah. Siluman burung yang sayapnya masih setengah terbuka. Semua menatapnya.

Sebagian dengan amarah. Sebagian dengan kewaspadaan. Sebagian… dengan ketakutan yang mulai merayap tanpa mereka sadari.

Boqin Changing menarik napas pelan. Di tangannya, Pedang Penguasa telah ia genggam.

Bilah itu kini berwarna gelap, sederhana, hampir tanpa hiasan. Namun ruang di sekitarnya tampak sedikit bergetar, seolah dunia sendiri tidak sepenuhnya nyaman berada terlalu dekat dengan keberadaan pedang itu.

Angin hutan berhenti. Daun-daun yang jatuh dari langit tertahan di udara sepersekian detik. Lalu Boqin Changing mengangkat pedangnya sedikit.

“Baiklah…”

Suaranya lembut. Hampir seperti bisikan yang tertiup angin. Namun ribuan siluman mendengarnya.

“Kalian ingin jumlah yang adil.”

Sudut bibirnya terangkat.

“Mari kita buat seimbang.”

“Badai Tanpa Batas.”

Energi di tubuhnya berputar. Bukan ledakan aura besar. Bukan tekanan yang menekan dada. Melainkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan, ketiadaan fluktuasi. Tenang dan kosong. Seperti permukaan laut sebelum badai yang siap menelan kapal.

Detik berikutnya, Boqin Changing melangkah dan dunia… kehilangan dirinya. Ia hilang. Tidak ada bayangan pergerakan. Tidak ada jejak angin terbelah. Tidak ada suara pijakan. Ia benar-benar menghilang dari tempatnya berdiri.

Seekor siluman serigala di barisan depan mengerutkan dahi.

Slash.

Kepalanya terlepas sebelum kalimatnya selesai. Tubuhnya masih berdiri satu detik… sebelum roboh.

Jeritan pertama pecah. Namun jeritan itu tidak sempat menyebar.

Slash.

Siluman burung di sisi kanan terpotong dari bahu hingga pinggang.

Slash.

Siluman ular yang melata di tanah tiba-tiba terbelah menjadi dua bagian.

Slash.

Slash.

Slash.

Jeritan mulai memenuhi hutan. Namun tidak ada musuh yang terlihat.

Para siluman berputar, mengayunkan senjata, memanggil teknik, memekik memberi peringatan. Namun mereka tidak menemukan apa pun.

Yang mereka lihat hanya satu hal. Rekan mereka… jatuh. Satu per satu. Tanpa pola. Tanpa arah. Tanpa peringatan.

Bilah tak terlihat menari di tengah lautan siluman. Itulah Jurus Badai Tanpa Batas milik Boqin Changing.

Boqin Changing tidak sekadar bergerak cepat. Ia bergerak di luar ritme persepsi. Setiap langkahnya muncul di celah kesadaran musuh. Setiap ayunan pedangnya lahir di titik di mana mata belum sempat fokus.

Seekor siluman seribu tahun mengaum keras, menghantam tanah dengan tombaknya, menciptakan gelombang kejut melingkar. Gelombang itu menyapu pepohonan.

Namun di dalam lingkaran gelombang,

Slash.

Tombak siluman itu terpotong.

Slash.

Lengan kanannya jatuh ke tanah.

Mata siluman itu melebar. Tubuhnya masih berdiri saat sebuah suara tenang terdengar di belakang telinganya.

“Terlalu lambat.”

Slash.

Tubuh raksasanya roboh.

Di kejauhan, ratusan siluman mulai panik. Beberapa mencoba terbang. Beberapa mundur. Beberapa menyerang membabi buta ke udara kosong. Namun semua sia-sia.

Badai itu tidak memiliki pusat. Tidak memiliki arah. Tidak memiliki jeda.

Di antara pepohonan, hanya satu fenomena yang dapat diamati. Tubuh para siluman jatuh. Darah menyembur. Jeritan terputus. Kematian yang berpindah tempat seperti bayangan yang hidup.

Langit di atas masih bergetar oleh pertarungan Sha Nuo dan dua naga. Namun di bawah… terjadi pembantaian sunyi.

Seekor siluman rubah bergetar, matanya liar menatap ke segala arah. Ia tidak melihat musuh. Ia tidak merasakan aura. Ia tidak mendengar langkah. Lalu sesuatu menyentuh tengkuknya. Dingin.

Ia menoleh perlahan. Tidak ada siapa pun. Hanya suara lembut.

“Di sini.”

Slash.

Tubuhnya jatuh.

Beberapa detik berlalu. Puluhan. Lalu ratusan.

Hutan yang sebelumnya dipenuhi lautan siluman kini berubah menjadi ladang tubuh siluman. Di tengah ruang kosong yang terbentuk dari ketakutan massal itu, Boqin Changing muncul kembali. Seolah ia memang selalu berada di sana. Pedang Penguasa masih di tangannya. Tidak ada darah menempel pada bilahnya. Hanya angin hutan yang kembali berhembus perlahan.

Di hadapannya, sisa siluman mundur tanpa sadar. Mata mereka penuh teror. Karena untuk pertama kalinya dalam hidup mereka… Mereka menghadapi musuh yang bahkan tidak bisa mereka lihat saat membunuh.

Boqin Changing memiringkan kepalanya sedikit. Menatap mereka. Senyumnya tipis.

“Ah, masih ada rupanya?”

1
Iqbal Zein
pokokee joss..
Eka Haslinda
sebelum bola pemanggil datang.. Boqin Changing dah merekrut kembali pasukan nya
Rinaldi Sigar
lnjut
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Waooow pendekar langit 🌽🔥
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
angin kelana
lanjuuuuuttt
Akhmad Baihaki
😍😍😍
Ahmad Ridwan
yok yok besok sudah 5 tahun . waktu nya berngkat ke alam yng lebih tinggi🤣
Raju
meng ngemeng !!
udh lulus mesin scanning NT g thor ??
rate novel mu udh Top 3 besar di fiksi pria...
Raju
walaupon si bogin prnh breinkarnasi...
tpi mencapai ranah pendekar langit di usia semuda itu...!!
itu WAAAAH pakai BANGET.,...
tariii
👍👍👍👍👍
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Akhirnya Paman Nuo berhasil duluan
Zainal Arifin
joooooooosssss 🤲🤲🤲
yayat
mungkinkah boqin akan mendapatkn semua bola2 yg ada terutama bola pemanggil untuk mengumpulkn semua pasukan lamanya dikehidupn pertamanya
syarif ibrahim: kayaknya tidak, karena diambil kaisar xin.... 🙏
total 1 replies
Eko
selamat paman Nuo sudah jadi pendekar langit 👍👍😄😄😄
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Mantap 👍👍 semangat Thor 💪💪
andi widya
oke lanjutkan
hanim ahmad
katanya sudah berada di ranah bumi puncak,swlangkah ke ranah lpendakar lagi,loh kok Masih naiki ranah bumi puncak...gimana thor?
Pandeka Garang: iya pernah di beberapa chapter sebelumnya bahwa boqin changing sudah di pendekar bumi puncak setengah langkah menuju pendekar langit
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!