⚠️Area yang khusus orang besar. ^_^ nak kecil hus hus...
Kisah cinta slow-burn antara siswi petakilan dengan guru muda PJOK yang terlalu cool untuk jadi nyata. Isinya 30% latihan fisik, 70% adu mekanik perasaan.
Mulai dari drama salah kirim stiker WhatsApp ke grup kelas, sampai momen panas di gudang sekolah yang hampir bikin profesionalitas Pak Radit runtuh.
Ini cerita tentang masa transisi jadi dewasa, di mana batas antara guru dan murid cuma sebatas "status" yang siap dihapus setelah hari kelulusan.
"Pak, lari keliling lapangan saya sanggup. Asal finish-nya di pelaminan kita." — Gia, 18 tahun, pejuang remedial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 (Part 2)
Gia menatap Sheila dengan tatapan yang tadinya sedih jadi penuh amarah. "Lo sakit, Sheil. Lo butuh bantuan."
"Gue nggak butuh bantuan! Gue cuma butuh lo pergi!" Sheila jarinya udah siap menekan tombol share.
"Oke, silakan," kata Gia tiba-tiba tenang. Dia melangkah maju. "Kirim aja. Hancurin Pak Radit. Tapi lo tau nggak? Kalau lo lakuin itu, Pak Radit bakal makin benci sama lo. Dia bakal tau siapa yang hancurin hidupnya. Dan dia nggak bakal pernah, seumur hidupnya, liat lo sebagai perempuan. Lo cuma bakal jadi sampah di matanya."
Sheila ragu. Tangannya bergetar.
"Tapi kalau lo kasih HP itu ke gue sekarang," lanjut Gia, "Gue janji nggak bakal aduin lo. Gue bakal bilang ke Pak Radit kalau ada orang asing yang naruh kamera itu. Kita bisa selesaiin ini baik-baik."
"Lo bohong! Lo pasti mau laporin gue!"
"Gue nggak sejahat itu, Sheil. Gue tau rasanya suka sama orang sampai gila. Tapi ini salah."
Tiba-tiba, suara langkah kaki cepat terdengar dari tangga. Pak Radit muncul di sana, napasnya memburu. Dia kayaknya dapet info dari Caca soal keberadaan Gia.
"Gia! Sheila! Ngapain kalian di sini?!" teriak Pak Radit.
Sheila panik. Dia langsung mundur ke tepian atap.
Atap gedung lama itu nggak punya pagar pembatas yang kuat. "Pak Radit! Jangan deket! Kalau Bapak deket, saya kirim video ini ke Bapaknya Revan!"
Pak Radit berhenti. Dia melihat situasi yang sangat berbahaya. Sheila ada di pinggir jurang, dan Gia kelihatan sangat tertekan.
"Sheila, tenang. Turunkan HP kamu. Kita bicara," kata Pak Radit dengan suara yang sangat lembut, suara yang biasanya dia pakai kalau lagi nenangin murid yang cedera.
"Bapak nggak tau kan seberapa besar saya suka sama Bapak?!" tangis Sheila pecah. "Tapi Bapak cuma liat Gia! Gia yang nakal! Gia yang nggak pernah serius!"
"Sheila, dengerin saya," Pak Radit melangkah perlahan, tangannya terbuka ke depan. "Setiap murid saya spesial. Termasuk kamu. Kamu pinter, catatan kamu selalu rapi, kamu disiplin. Saya perhatiin itu semua. Tapi perasaan nggak bisa dipaksakan, Sheila. Dan cara kamu ini salah."
Sheila mulai terisak hebat. "Saya... saya cuma mau Bapak liat saya..."
"Saya liat kamu sekarang, Sheila. Kamu murid saya yang baik. Jangan hancurin masa depan kamu cuma gara-gara ini. Sini, kasih HP-nya ke saya."
Sheila melihat ke arah Pak Radit, lalu ke arah Gia. Di saat itulah, kaki Sheila terpeleset karena lantai yang berlumut.
"SHEILA!" teriak Gia.
Pak Radit dengan refleks atletnya langsung lari dan melompat, menangkap tangan Sheila tepat sebelum cewek itu jatuh ke bawah. Tubuh Pak Radit tertahan di pinggir beton, tangannya mencengkeram erat pergelangan tangan Sheila.
"Pegang yang kuat, Sheil!" teriak Pak Radit. Otot lengannya menegang hebat.
Gia lari membantu, dia ikut memegang lengan Pak Radit buat nambah beban. Mereka berdua berusaha sekuat tenaga menarik Sheila kembali ke atas. Dengan usaha yang sangat melelahkan, Sheila berhasil ditarik ke area yang aman.
Sheila jatuh terduduk, menangis sejadi-jadinya. HP-nya? Jatuh ke bawah dan hancur berkeping-keping di aspal lantai bawah.
...
Pak Radit duduk di lantai atap, napasnya masih nggak beraturan. Dia melihat ke arah Sheila, lalu ke arah Gia.
"HP-nya hancur," bisik Gia. "Videonya hilang."
Pak Radit mengangguk pelan. Dia mendekati Sheila, menepuk bahunya pelan. "Pulanglah, Sheila. Tenangkan diri kamu. Saya nggak akan adukan ini ke sekolah. Anggap ini rahasia kita bertiga. Tapi janji sama saya, cari hobi lain selain ngintipin orang, oke?"
Sheila cuma bisa mengangguk sambil menunduk malu. Dia langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
Kini tinggal Gia dan Pak Radit di atas atap. Sinar matahari senja menyinari mereka, menciptakan suasana yang sangat melancholic tapi lega.
"Bapak... nggak apa-apa?" tanya Gia pelan. Dia melihat tangan Pak Radit yang lecet karena gesekan beton.
Pak Radit narik Gia ke dalam pelukannya. Erat banget. Gia bisa ngerasain jantung Pak Radit yang masih berdegup kencang karena adrenalin.
"Saya hampir kehilangan segalanya hari ini, Gia," bisik Pak Radit di rambut Gia. "Karier saya, reputasi saya... tapi yang paling bikin saya takut adalah kalau sesuatu terjadi sama kamu."
Gia melepaskan pelukannya sebentar, menatap mata Pak Radit. "Jadi... Bapak beneran sayang sama saya? Bukan cuma karena 'tanggung jawab khusus'?"
Pak Radit tersenyum—senyum paling tulus yang pernah Gia liat. Dia mendekatkan wajahnya, mencium kening Gia lama banget. "Kamu itu bukan tanggung jawab lagi, Gia. Kamu itu... masalah yang paling menyenangkan dalam hidup saya."
"Tapi Pak Baskoro gimana? Bapak dipanggil kan tadi?"
Pak Radit terkekeh. "Biarkan saja dia nunggu video yang nggak akan pernah dateng. Besok saya bakal bilang kalau videonya itu cuma hoaks. Dan soal Revan... biarin dia belajar kalau jadi anak bos nggak selalu dapet apa yang dia mau."
Gia tersenyum nakal. "Terus, sekarang kita apa nih? Backstreet? Atau Bapak mau lamar saya pas kelulusan nanti?"
"Jangan ngaco," kata Pak Radit sambil menjitak pelan kening Gia. "Kita fokus belajar dulu. Saya bakal tetep jadi guru yang galak buat kamu di lapangan. Jangan harap dapet nilai A cuma-cuma."
"Dih, dasar kaku!"
Mereka berdua berdiri di pinggir atap, melihat pemandangan kota Jakarta yang mulai menyala lampunya.
Tapi untuk sore ini, di atas gedung lama yang berdebu, Gia ngerasa dia adalah cewek paling bahagia di seluruh SMA Garuda Bangsa.
"Pak," panggil Gia.
"Apa?"
"Besok latihan basketnya jangan jam 3 sore ya. Saya mau kencan sama Bapak."
"Gia!"
"Hehe, canda Daddy!"
.
.
.
[To be continued ke Episode Selanjutnya ]
Thor bikin Gia jangan ngejar2 nih guru lagi,Bikin gia cuekin nih guru biar tau rasa dia..