Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Generasi Penerus
Tiga tahun setelah kekalahan Aliansi Suci.
Hyun kini berusia sembilan tahun, seorang pemuda kecil dengan postur tegap dan mata tajam. Setiap pagi, dia berlatih pedang dengan Hyerin selama dua jam. Setiap sore, dia duduk di bengkel bersamaku, belajar tentang mesiu, logam, dan mesin.
Dia mewarisi bakat ibunya dalam bertarung. Di usianya yang masih belia, dia sudah bisa mengalahkan prajurit dewasa dalam latihan. Tapi dia juga mewarisi rasa ingin tahu ayahnya. Dia tidak pernah puas dengan jawaban sederhana.
"Ayah, kenapa mesiu bisa meledak?" "Ayah, bagaimana cara kerja senapan?" "Ayah, bisakah kita membuat mesin terbang seperti di cerita Ayah?"
Pertanyaan terakhir membuatku tersenyum. Mesin terbang? Mungkin tidak dalam waktu dekat. Tapi siapa tahu?
Jin Bi, delapan tahun, berbeda total.
Dia lebih suka buku daripada pedang. Di usianya, dia sudah membaca semua buku di perpustakaanku—termasuk catatan-catatan teknis yang sangat rumit. Dia bisa menjelaskan prinsip dasar kimia dan fisika dengan kata-katanya sendiri.
Tapi yang paling mengejutkan, dia punya bakat diplomasi. Dalam pertemuan dengan utusan klan lain, dia bisa duduk diam, memperhatikan, lalu setelahnya memberi komentar yang tajam.
"Paman Jin-wook," katanya suatu hari, "utusan Klan Song itu bohong. Matanya bergerak ke kiri setiap kali bilang mereka tidak punya masalah dengan kita."
Jin-wook tercengang. "Kau tahu itu dari mana?"
"Dari buku Ayah tentang bahasa tubuh."
Aku dan Hyerin hanya bisa geleng-geleng kepala.
---
Suatu sore, saat Hyun sedang berlatih di halaman, sebuah insiden terjadi.
Dia berlatih dengan salah satu prajurit senior—pria besar bernama Janggut Merah, yang terkenal dengan kekuatannya. Dalam satu serangan balik, Janggut Merah terlalu keras, hampir melukai Hyun.
Semua orang tegang. Tapi Hyun tidak marah. Dia berdiri, menepuk debu dari bajunya, lalu berkata, "Latihan bagus. Lain kali, kumohon jangan terlalu keras. Aku belum siap."
Janggut Merah terkejut. Biasanya, anak bangsawan akan marah atau menangis. Tapi Hyun malah memuji dan meminta dengan sopan.
Hyerin, yang menyaksikan dari jauh, berbisik padaku, "Dia seperti kau, Oppa. Tenang, selalu berpikir."
"Aku tidak tahu itu pujian atau hinaan."
Dia tertawa.
---
Malam harinya, saat Hyun dan Bi tidur, Jin-wook datang berkunjung.
Wajahnya serius—berarti ada masalah.
"Kabar dari utara," katanya. "Kang Dae-sung minta bantuan."
Aku mengerutkan kening. "Apa yang terjadi?"
"Faksi konservatif di Utara bangkit lagi. Mereka tuduh Dae-sung terlalu dekat dengan kita. Mereka ingin memutuskan hubungan dan mengusir semua pengaruh asing—termasuk teknologimu."
Ini berita buruk. Dae-sung adalah sekutu penting. Tanpa dia, pengaruh kita di utara bisa runtuh.
"Seberapa serius?"
"Mereka sudah kuasai dua wilayah perbatasan. Dae-sung masih punya pasukan, tapi kalah jumlah. Dia minta kita kirim bantuan—pasukan, senjata, atau setidaknya penasihat."
Aku diam, memikirkan.
"Kirim Jin-wook dengan seratus pasukan elite. Bawa senapan dan meriam portabel. Tapi jangan terlibat langsung dalam pertempuran—cukup bantu pertahanan."
Jin-wook mengangguk. "Aku berangkat besok."
---
Dua minggu kemudian, kabar dari utara.
Jin-wook berhasil. Pasukan elite kami, dengan senjata modern, mampu menahan serangan faksi konservatif di dua pertempuran penting. Moral pasukan Dae-sung melonjak. Beberapa faksi yang tadinya netral mulai mendukungnya.
Tapi kemenangan ini tidak gratis. Tujuh prajurit kami tewas. Dua belas luka-luka. Jin-wook sendiri terluka ringan di lengan.
Saat dia kembali, aku menjemputnya di gerbang.
"Terima kasih, Jin-wook. Kau selamatkan sekutu kita."
Dia tersenyum lelah. "Itu tugasku, Tae-kyung. Tapi ada satu hal..."
"Apa?"
"Dae-sung ingin bertemu langsung denganmu. Ada rencana besar yang ingin dia bicarakan."
---
Pertemuan dengan Kang Dae-sung diadakan sebulan kemudian.
Dia datang sendiri ke markas kami—tanpa pengawal, hanya dengan dua ajudan. Tanda kepercayaan besar.
Di ruang kerjaku, kami duduk berhadapan. Hyerin di sampingku, Jin-wook di sisi lain.
Dae-sung, meskipun masih muda—dua puluh tiga tahun—tampak lebih tua dari usianya. Beban memimpin klan di tengah konflik internal membuatnya cepat dewasa.
"Jin Tae-kyung," sapanya. "Kakakku dulu sering cerita tentangmu. Katanya kau seperti saudara sendiri."
"Aku juga menganggapnya saudara." Aku menatapnya. "Ada apa?"
Dia menghela napas. "Aku ingin... menyatukan kembali Utara. Tapi aku tidak bisa melakukannya sendiri. Para tetua terlalu kuat, terlalu berpengaruh. Mereka punya pendukung di setiap wilayah."
"Kau mau aku bantu?"
"Aku mau kau jadi penasihat utamaku. Pindah ke Utara, bantu aku memerintah."
Diam.
Hyerin meremas tanganku di bawah meja. Ini tawaran besar—tapi juga risiko besar.
"Kau tahu aku punya keluarga di sini," kataku. "Klan sendiri, istri, anak-anak."
"Aku tahu. Bawa mereka semua. Di Utara, kau akan dapat wilayah sendiri. Istana sendiri. Kekuasaan lebih besar."
"Tapi di sini, aku sudah punya semuanya."
Dae-sung menatapku lama. Lalu berkata, "Kau benar. Maaf, aku terlalu memaksa." Dia berdiri. "Tapi setidaknya, pertimbangkan. Tawaran ini tetap berlaku."
---
Setelah dia pergi, Hyerin bertanya.
"Oppa, kau tidak mau?"
"Apa kau mau pergi dari sini? Dari markas yang kita bangun bersama? Dari desa ini?"
Dia diam. Lalu menjawab, "Tidak. Ini rumahku."
"Rumahku juga." Aku meraih tangannya. "Kita tetap di sini. Tapi kita bantu Dae-sung dari jauh. Dengan senjata, pelatihan, intelijen."
Dia tersenyum. "Itu keputusan bijak."
---
Malam itu, saat makan malam bersama keluarga, Hyun bertanya.
"Ayah, kenapa Paman Dae-sung mengajak kita pindah?"
Aku terkejut. "Kau tahu tentang itu?"
"Bi dengar lalu cerita padaku."
Aku menatap Bi yang cuma tersenyum polos. Anak ini...
"Karena dia butuh bantuan. Tapi Ayah memilih tetap di sini."
"Kenapa?"
"Karena ini rumah kita. Tempat kita punya teman, keluarga, dan kenangan. Tidak mudah meninggalkan semua itu."
Hyun mengangguk, meskipun mungkin belum sepenuhnya mengerti.
Bi berkata, "Tapi kalau di Utara, kita bisa punya istana lebih besar."
Aku tertawa. "Istana besar tidak selalu berarti bahagia, Nak. Yang penting isi istananya, bukan besarnya."
Dia mengerutkan kening, berpikir. Lalu tersenyum. "Aku mengerti. Yang penting keluarga."
"Pintar."
---
Tahun-tahun berikutnya dijalani dengan damai.
Hyun terus berkembang. Di usia dua belas, dia sudah bisa mengimbangi Hyerin dalam latihan pedang—meskipun masih kalah, tapi selisihnya menipis. Dia juga mulai tertarik pada strategi perang, sering ikut dalam pertemuan dengan Jin-wook.
Bi, di usia sebelas, sudah menjadi asistenku dalam urusan administrasi. Dia bisa membaca laporan keuangan, menulis surat diplomatik, dan bahkan memberi saran dalam negosiasi. Kadang aku lupa dia masih anak-anak.
Suatu hari, saat sedang mengajar Bi tentang kimia, dia bertanya.
"Ayah, kenapa Ayah tidak pernah cerita tentang dunianya dulu?"
Aku berhenti. "Ayah sering cerita."
"Tapi tidak semuanya. Ayah selalu bilang 'di duniaku dulu' tanpa detail. Kenapa?"
Pertanyaan yang sulit.
"Karena... kadang rasanya seperti mimpi. Seperti bukan bagian dari diriku yang sekarang."
Dia menatapku dengan mata besar. "Tapi Ayah tetap Ayah. Mau dari dunia mana pun."
Aku tersentuh. "Kau benar, Nak. Ayah tetap Ayah."
---
Suatu malam, saat Hyun dan Bi tidur, Hyerin berkata.
"Oppa, mereka sudah besar. Sebentar lagi mereka dewasa."
"Aku tahu."
"Kita harus siapkan mereka. Untuk jadi pemimpin."
Aku menghela napas. "Aku sudah siapkan. Hyun untuk militer, Bi untuk pemerintahan. Tapi pada akhirnya, mereka yang pilih jalannya sendiri."
Dia tersenyum. "Kau ayah yang baik, Oppa."
"Kau ibu yang lebih baik."
Dia tertawa, lalu mencium pipiku.
---
Di luar, bulan purnama bersinar. Di dalam, keluarga kecilku tidur nyenyak.
Aku memandangi mereka—Hyerin di sampingku, Hyun dan Bi di kamar masing-masing—dan merasakan syukur yang dalam.
Dua puluh tahun sudah aku di dunia ini. Dua puluh tahun sejak insinyur Kang Purnama mati di jembatan Kalimantan dan terlahir sebagai Jin Tae-kyung.
Banyak yang telah kulalui. Perang, intrik, kematian sahabat, kelahiran anak. Tapi di sinilah aku. Bertahan. Berjuang. Bahagia.
Besok mungkin akan ada masalah baru. Ancaman baru. Tapi malam ini, hanya ada kedamaian.
Aku memejamkan mata, tersenyum.
---
[Bersambung ke Bab 34]