Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Tunas Baru di Tengah Badai
Musim semi tiba lebih awal tahun itu.
Salju terakhir mencair di pegunungan, mengalir ke sungai-sungai yang membelah wilayah Klan Gong. Bunga-bunga liar bermekaran di lereng bukit, seolah ingin menutupi luka-luka perang yang masih membekas di tanah.
Tapi di paviliun kami, ada kehangatan yang tak terkalahkan musim dingin mana pun.
Perut Hyerin mulai membesar.
Setiap pagi, aku bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapannya—bubur hangat dengan madu dan telur, seperti resep dari Nyonya Baek. Setiap malam, aku mengelus perutnya yang kencang sambil bercerita tentang dunia asalku. Tentang gedung pencakar langit, tentang kendaraan tanpa kuda, tentang kotak ajaib yang bisa menampilkan gambar bergerak.
"Oppa, kau pasti rindu duniamu," katanya suatu malam.
Aku diam sejenak. "Dulu iya. Sekarang... tidak."
"Benarkah?"
"Di sana, aku sendiri. Tidak punya siapa-siapa. Di sini, aku punya kau. Punya anak ini. Punya desa yang terus tumbuh." Aku mengelus perutnya. "Ini rumahku sekarang."
Dia tersenyum, lalu tiba-tiba meringis.
"Ada apa?"
"Dia... bergerak." Hyerin meraih tanganku, menempelkannya di perut. "Rasakan."
Dan di sanalah, untuk pertama kalinya, aku merasakan tendangan kecil dari dalam rahim.
Sebuah kehidupan. Daging dari dagingku. Darah dari darahku.
Aku hampir menangis.
---
Tapi badai tidak pernah menjauh terlalu lama.
Suatu sore, Gong Jin-wook datang dengan wajah serius. Sepupu Hyerin itu sudah menjadi andalan baru dalam pertahanan markas. Dia cerdas, cepat belajar, dan punya bakat alami dalam strategi.
"Tae-kyung, ada kabar dari utara."
Aku menegang. "Dae-ho?"
"Bukan. Dari klan-klan kecil di perbatasan. Mereka mulai resah. Konon, Klan Selatan sedang mengumpulkan pasukan lagi. Bukan untuk menyerang langsung, tapi untuk... tekanan."
"Tekanan?"
"Mereka kirim utusan ke klan-klan kecil, menawarkan 'perlindungan'. Tapi semua tahu itu ancaman terselubung. Gabung dengan mereka, atau hancur."
Aku mengerutkan kening. Ini taktik klasik—mengisolasi musuh dengan merebut sekutu potensial.
"Kita harus kirim utusan juga. Tawarkan aliansi."
"Sudah kulakukan. Tapi klan-klan itu takut. Mereka lihat kita masih lemah, markas baru setengah jadi."
Dia benar. Klan Gong sekarang seperti burung yang baru sembuh dari luka—bisa terbang, tapi tidak sekuat dulu.
---
Malam itu, aku mengadakan pertemuan dengan para pemimpin.
Hyerin ikut, meskipun aku semula ingin dia istirahat. Tapi dia bersikeras.
"Aku masih pemimpin klan ini," katanya tegas. "Aku harus tahu."
Jin-wook memaparkan situasi. Song Hwa melaporkan produksi senjata. Baek Dongsu menjelaskan kondisi pasukan.
Angkanya tidak bagus.
Pasukan tetap: 400 orang. Tapi hanya 200 yang benar-benar terlatih. Sisanya rekrutan baru.
Persediaan mesiu: cukup untuk 3 bulan produksi normal. Tapi kalau perang besar, bisa habis dalam 2 minggu.
Sekutu: Klan Utara sedang bermasalah internal, tidak bisa diandalkan. Klan Timur masih netral, belum mau memihak. Klan-klan kecil kebanyakan takut pada Selatan.
"Kita sendiri," simpul Jin-wook. "Melawan Selatan yang punya ribuan pasukan dan sekutu puluhan."
Suasana hening.
Lalu Hyerin angkat bicara. "Kita bukan sendiri."
Semua menatapnya.
"Kita punya desa-desa yang setia. Kita punya rakyat yang mau berkorban. Kita punya senjata yang tidak mereka miliki." Dia menatapku. "Dan kita punya Tae-kyung."
Aku tersentuh. Tapi juga terbebani.
---
Pertemuan usai tanpa keputusan besar. Hanya kesepakatan untuk meningkatkan kewaspadaan dan produksi.
Malam itu, di paviliun, Hyerin bertanya.
"Oppa, kau takut?"
"Takut mati? Tidak. Sudah kubilang, aku sudah mati sekali." Aku meraih tangannya. "Takut kehilangan kalian? Iya. Setiap hari."
Dia menyandarkan kepala di dadaku. "Aku juga. Tapi kalau harus memilih antara mati dan hidup tanpa kau... aku pilih mati."
"Aku tidak akan biarkan itu terjadi."
"Kau tidak bisa janji. Perang, penyakit, kecelakaan... banyak hal di luar kendali."
Aku diam. Dia benar. Tapi—
"Kalau begitu, kita buat yang bisa kita kendalikan sekuat mungkin. Benteng, senjata, pasukan, persediaan. Dan sisanya..." aku mencium keningnya, "...kita serahkan pada takdir."
---
Bulan berikutnya menjadi yang tersibuk.
Setiap hari, dari pagi hingga malam, aku di bengkel. Merancang senjata baru, menyempurnakan yang lama, melatih para pekerja.
Salah satu inovasiku adalah "ranjau darat"—bom yang dikubur di tanah, meledak saat terinjak. Sederhana, tapi efektif untuk menghambat pasukan musuh.
Juga "meriam putar"—meriam kecil yang bisa diputar ke segala arah, dipasang di atas tembok.
Dan yang paling membanggakan: "senapan berulang". Bukan senapan mesin—teknologi belum memungkinkan. Tapi senapan yang bisa menembak tiga kali berturut-turut tanpa diisi ulang, berkat magasin putar sederhana.
Song Hwa tercengang saat melihat uji coba pertama.
"Ini... ini seperti sihir, Tuan."
"Bukan sihir. Mekanika." Aku tersenyum. "Roda gigi, pegas, dan sedikit kreativitas."
---
Sementara itu, Hyerin menjalani perannya sebagai pemimpin dan calon ibu.
Setiap pagi, dia memimpin apel pasukan. Setiap siang, dia menerima laporan dari berbagai divisi. Setiap sore, dia berjalan keliling markas, menyapa penduduk, memastikan semua baik-baik saja.
Para wanita di desa memujanya. "Nona Hyerin kuat sekali," kata mereka. "Hamill besar begini masih aktif."
Tapi aku tahu itu topeng. Malam hari, di paviliun, dia sering mengeluh pegal, capek, kadang menangis tanpa sebab.
"Oppa, aku tidak kuat," katanya suatu malam.
"Kau sudah sangat kuat. Lebih dari yang kau sadari."
"Tapi aku takut. Takut tidak bisa jadi ibu yang baik. Takut tidak bisa pimpin klan. Takut kau... kau menyesal memilihku."
Aku memeluknya erat. "Dengar. Aku tidak pernah menyesal. Tidak sedetik pun. Dan kau akan jadi ibu yang hebat. Karena kau punya hati yang besar."
Dia terisak di dadaku. Lalu tertidur, lelah.
---
Bulan ke-7 kehamilan, kabar buruk datang.
Klan Selatan resmi menyatakan perang.
Bukan perang besar—mereka terlalu pintar untuk itu. Tapi perang gerilya. Serangan kilat ke desa-desa bawahan, pembakaran ladang, peracunan sumur. Tujuannya jelas: melemahkan kita dari dalam, membuat rakyat takut, memicu pengungsian massal.
Jin-wook melapor dengan wajah tegang.
"Tiga desa sudah diserang minggu ini. Dua belas tewas, puluhan luka-luka. Penduduk mulai panik. Beberapa ingin mengungsi ke klan lain."
Aku mengepal. "Pasukan kita?"
"Sudah kita kerahkan. Tapi mereka bergerak cepat, menyerang lalu kabur. Sulit dikejar."
"Gunakan pengintai. Pasang jebakan di desa-desa yang belum diserang. Buat mereka berpikir dua kali sebelum mendekat."
Jin-wook mengangguk, lalu pergi.
Hyerin di sampingku diam. Tangannya memegang perut.
"Oppa, ini baru awal."
"Aku tahu."
"Dan aku tidak bisa bertarung."
Aku menatapnya. "Kau tidak perlu. Kau sudah lakukan lebih dari cukup dengan memimpin."
Tapi di matanya, aku lihat frustrasi. Seorang pendekar level tinggi yang terpaksa diam di belakang saat klannya diserang.
---
Malam itu, aku memanggil Baek Dongsu dan Song Hwa.
"Kita butuh strategi baru. Bukan hanya bertahan, tapi juga menyerang."
"Maksud Tuan?" tanya Baek Dongsu.
"Kita kirim tim kecil ke wilayah Selatan. Bukan untuk merebut, tapi untuk mengacau. Bakar gudang persediaan mereka. Bunuh komandan-komandan kecil. Buat mereka sibuk memadamkan api di dalam."
"Ini berbahaya, Tuan. Mereka pasti punya pertahanan."
"Tapi mereka tidak punya mesiu. Dan mereka tidak tahu kita punya senapan."
Song Hwa berpikir. "Kalau begitu, kita butuh sukarelawan. Orang-orang yang bisa bergerak cepat, menyusup, dan bertarung dalam gelap."
"Aku punya beberapa," kata Baek Dongsu. "Mantan pengintai, pemburu, pencuri. Mereka lihai."
"Latih mereka. Dalam sebulan, mereka harus siap."
---
Bulan ke-8 kehamilan Hyerin, operasi pertama diluncurkan.
Tim kecil—sepuluh orang—menyusup ke wilayah Selatan di malam tanpa bulan. Target: gudang persediaan di kota perbatasan.
Dua hari kemudian, kabar datang. Sukses.
Gudang itu terbakar habis. Tiga puluh ribu gantang padi ludes. Ratusan prajurit Selatan kelaparan selama berminggu-minggu.
Hyerin membaca laporan itu dengan mata berbinar.
"Ini baru awal, Oppa."
"Baru awal. Kita buat mereka merasakan apa yang kita rasakan."
---
Tapi kemenangan kecil tidak mengubah fakta bahwa kita masih terdesak.
Klan-klan kecil mulai banyak yang memihak Selatan. Yang netral makin sedikit. Yang mendukung kita hampir tidak ada.
Suatu hari, seorang utusan datang dari klan yang dulu bersekutu dengan Gong. Bukan untuk membantu—untuk memutuskan hubungan.
"Maaf, Tuan Jin. Kami tidak bisa melawan Selatan. Mereka terlalu kuat. Demi rakyat kami, kami harus memilih bertahan."
Aku menerima berita itu dengan pasrah. Ini sudah kuduga.
Tapi Hyerin marah.
"PENGKHIANAT!" teriaknya setelah utusan pergi. "Dulu mereka sumpah setia pada ayahku! Sekarang mereka lari saat kita butuh!"
Aku memeluknya. "Marah tidak akan mengubah keadaan. Kita harus terima dan lanjutkan."
"Tapi Oppa..."
"Aku tahu. Aku tahu rasanya dikhianati." Aku mengelus punggungnya. "Tapi lihat sisi baiknya—setidaknya kita tahu siapa kawan sejati. Lebih baik sedikit kawan setia daripada banyak kawan palsu."
---
Bulan ke-9.
Hyerin sudah tidak bisa banyak bergerak. Perutnya besar, langkahnya lambat. Tapi dia masih memaksa datang ke ruang pertemuan setiap hari.
Para tabib bilang, "Nona harus istirahat total. Kalau tidak..."
Mereka tidak melanjutkan, tapi aku tahu risikonya.
Suatu malam, di paviliun, dia berkata, "Oppa, kalau terjadi apa-apa padaku, kau harus janji..."
"JANGAN BICARA BEGITU!"
"Tapi Oppa..."
"TIDAK ADA TAPI!" Aku memeluknya erat. "Kau akan selamat. Anak kita akan selamat. Kita akan hidup bersama, membesarkannya, melihatnya tumbuh. Itu bukan pilihan—itu keharusan."
Dia tersenyum lemah. "Kau keras kepala."
"Iya. Dan kau menyukaiku karena itu."
Dia tertawa. Tawa pertama dalam berminggu-minggu.
---
Malam itu, kontraksi pertama datang.
Hyerin terbangun dengan erangan. Aku langsung bangun, melihat wajahnya pucat.
"Oppa... sepertinya... dia mau keluar..."
PANIK!
Aku berlari keluar, berteriak memanggil tabib. Dalam hitungan menit, paviliun kami penuh orang—tabib, dukun beranak, para wanita desa yang berpengalaman.
Aku diusir keluar.
"Dilarang masuk, Tuan! Ini urusan wanita!"
Aku hanya bisa mondar-mandir di luar, mendengar teriakannya dari dalam.
Satu jam. Dua jam. Tiga jam.
Terus-menerus.
Aku tidak pernah merasa setakut ini dalam hidupku. Bahkan saat menghadapi kematian di jembatan dulu, tidak sebanding.
Tolong... tolong selamatkan dia...
Aku tidak tahu berdoa pada siapa. Di dunia ini, dewa-dewi persilatan tidak pernah menjawab doaku.
Tapi aku tetap berdoa.
---
Fajar menyingsing.
Terakhir Hyerin terdengar lemah. Lalu—
Tangisan bayi.
NGEAAA... NGEAAA...
Suara paling indah yang pernah kudengar.
Pintu terbuka. Seorang tabib keluar dengan senyum lebar.
"Selamat, Tuan! Nona Hyerin selamat! Bayinya laki-laki, sehat!"
Aku hampir roboh. Kakiku lemas, tapi aku paksa masuk.
Di dalam, Hyerin terbaring lemas, basah kuyup keringat. Tapi matanya terbuka, menatapku dengan senyum lelah.
Di dadanya, terbaring bayi mungil merah, menangis keras.
"Oppa... lihat... anak kita..."
Aku berlutut di sampingnya, menatap bayi itu. Mungil. Rapuh. Sempurna.
"Jin Hyun," bisikku. "Selamat datang di dunia, Nak."
---
[Bersambung ke Bab 28]