"Meiji....!" Teriaknya memeluk jenazah putranya.
Pada akhir hidupnya Lily menyadari, semua orang yang ada di sekitarnya adalah pengkhianat. Cinta mereka palsu!
Berakhir dengan kematian tragis.
Karena itu kala mengulangi waktu, dendam seorang ibu yang kehilangan putranya, membuatnya tertawa arogan dan berucap...
"Bukan kamu, tapi aku yang membuangmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan
Lisa menghela napas melihat keadaan putranya. Rini masih terisak di tempat tidur, sedangkan Dilan menggunakan pakaiannya dengan cepat, tubuhnya terlihat setengah kering. Setelah sempat disiram menggunakan air oleh Faro.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Lisa pada akhirnya."Kenapa kamu bisa tidur dengan Rini?"
"Tidak tau, saat aku di ruang ganti, seperti biasanya Silvia membawakan makanan dan minuman cepat saji. Setelah itu Silvia pergi karena ada yang menghubunginya. Ibu, aku benar-benar tidak bermaksud---" Dilan menghela napas kasar, menunduk. Memikirkan bagaimana caranya menghadapi kemarahan kakeknya nanti.
"Rini, apa yang sebenarnya terjadi!?" Tanya Lisa setengah membentak.
Rini menghapus air matanya berusaha menenangkan diri."Saat itu aku pergi ke ruang ganti. Dilan mengeluh sakit kepala. Lalu aku mengantarnya ke kamar yang dibooking Silvia. Lalu tiba-tiba...Dilan...." Rini kembali menangis, benar-benar terisak-isak seperti wanita yang tersakiti."Aku sudah bilang jangan, karena Dilan hari ini harus menikah dengan Lily. Tapi tenaga Dilan lebih besar..."
"Apa benar?" Tanya Lisa pada putranya.
Dilan menghela napas mencoba mengingat-ingat. Rini memang mendorong dan tidak ingin melakukan dengannya. Karena waktu pernikahan telah tiba. Tidak ada yang salah dengan kata-kata Rini.
"Benar..." Pada akhirnya itulah yang diucapkan oleh Dilan.
Lisa menghela napas berusaha untuk bersabar. Tidak terbersit sedikitpun dalam otak ibu dan anak ini bahwa ini adalah ulah Rini sendiri. Rini yang mengendalikan permainan. Benar-benar hal yang tidak terduga bukan?
Tapi dibalik dari itu, pemegang pengendali boneka sebenarnya adalah Neiji dan Lily. Apa mereka akan mengetahuinya?
"Dilan...apa ini ulah Silvia?" Tanya Lisa pada akhirnya.
"Aku tidak tau ..." Bahkan Dilan sendiri kini ragu pada cinta pertamanya.
Rini tersenyum diam-diam apa yang dikatakan oleh Dinda benar, dirinya menggunakan trik yang sama. Membuat saingan cinta terberat dibenci dan menjadi kambing hitam. Sedangkan dirinya menikmati hasil.
"Hubungi Silvia sekarang!" Perintah Lisa memijit pelipisnya sendiri. Segalanya menjadi begitu rumit. Pernikahan sudah pasti dibatalkan. Lalu harus mencari cara meminta maaf dan memberikan penjelasan pada Lily.
Pada akhirnya Dilan menghubungi Silvia. Hanya beberapa detik panggilannya diangkat.
"Sayang...kamu dimana?" Tanyanya.
"Aku tiba-tiba mendapatkan tawaran pekerjaan sebagai model produk. Kenapa?" Wanita itu bertanya balik.
"Kembali sekarang! Tidak! Ada yang mau aku bicarakan di rumahku. Kamu harus pergi ke rumahku dalam 30 menit." Perintahnya, mematikan panggilan emosional.
Sementara di tempat lain Silvia tidak mengerti sama sekali. Meletakkan handphonenya, apa maunya pemuda ini? Dirinya bahkan rela menjadi simpanan asalkan cuan lancar. Tapi tidak apa-apa, harus tetap tenang. Nanti tinggal berpura-pura menangis dan teraniaya agar dirinya tetap dicintai.
Putar balik menyetir mobilnya yang sudah hampir sampai luar kota. Menghela napas berpikir positif. Hanya pemikiran positif, mungkin saja Dilan terlalu jenuh menghabiskan malam pertama dengan si jelek. Hingga menyuruh dirinya bersenang-senang dengan Dilan.
Sungguh indah... istri sah jelek, mana ada suami yang betah. Dirinya akan jadi istri kedua, setelah istri sah disingkirkan maka dirinya akan menjadi nyonya rumah.
Menyanyikan lagu penuh semangat kegembiraan. Tanpa ada duka di hatinya. Hingga pada akhirnya mobilnya berhenti, perlahan pintu gerbang otomatis terbuka.
Ada beberapa mobil yang juga terparkir di tempat ini. Tapi kenapa? Bukankah semuanya sibuk di ballroom hotel?
Silvia sama sekali tidak memiliki pemikiran buruk. Yang ada di otaknya hanya Dilan tercinta yang paling tampan dan kaya.
Kala memasuki rumah, dirinya dibimbing oleh pelayan untuk memasuki ruang keluarga.
Melewati koridor dengan tanaman anggur di atasnya. Tempat ini begitu indah. Dirinya akan menjadi nyonya rumah dari.
Kala pintu ruang keluarga terbuka maka...
"Dilan sayang---" Kalimatnya terhenti menyadari begitu banyak orang di tempat ini.
Ditambah Lily yang masih menggunakan gaun pengantin menangis terisak, ditenangkan oleh Braja. Dilan yang biasanya hangat menatap acuh padanya.
Rini? Wanita sial itu menunduk gemetar.
Ada juga beberapa orang termasuk pelayan yang dimintai tolong olehnya meletakkan makanan dan minuman cepat saji untuk Dilan ke piring.
Ada yang aneh! Ada yang salah! Itu pasti!
Benar saja.
Plak!
"Kenapa kamu menghancurkan hidup putraku!" Teriak Lisa murka kepada dirinya. Menamparnya begitu keras, sangat sakit. Apa orang ini tidak tau biaya perawatan kulitnya mencapai belasan juta per bulan?
"Tante.... kenapa?" Tanya Silvia berlutut, air matanya mengalir berpura-pura dalam ketakutan. Padahal aslinya penuh tanda tanya. Yang penting mengalah dulu, untuk memahami situasi.
Botol obat dilempar ke lantai oleh Dilan hingga isinya tumpah berceceran.
"Mereka akan saling membunuh, saling menyalahkan..." Itulah yang tersimpan dalam benak Lily yang masih berpura-pura menangis terisak. Menonton pertunjukkan ini? Inilah awal dari segalanya.
"Kenapa kamu melakukan semua ini! Sudah aku katakan, walaupun aku menikah dengan Lily perasaanku hanya ada padamu!" Suara bentakan Dilan menggema, membuat telinganya terasa sakit.
Untuk pertama kalinya Dilan semarah ini padanya. Tapi intinya dirinya belum menemukan apapun. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Dilan melempar sebotol obat di atas lantai.
"Ke... kenapa?" Tanyanya tidak mengerti.
"Jangan berpura-pura polos lagi kamu yang menghancurkan pernikahan kakakku bukan? Pelayan itu sudah mengaku!" Teriak Rini masih menangis terisak. Berpura-pura berbicara untuk Lily.
"Me... merusak?" Perlahan Silvia bangkit.
"Katakan apa yang terjadi!" Perintah Braja pada sang pelayan.
Pelayan hotel itu masih menunduk, kemudian menunjuk ke arah Silvia."Nona itu yang menyuruh saya menaburkan obat pada makanan. Kemudian mengantar tuan Dilan ke kamar. Katanya dia ingin meniduri mempelai pria, agar tidak melangsungkan pernikahan." Dusta sang pelayan yang sudah pasti dibayar oleh Rini.
Setan hanya menghasut, tapi manusia yang penuh napsu akan bertindak. Mata Lily melirik ke arah suaminya. Pemuda yang merapikan letak kacamatanya sendiri.
Mereka yang membayar Dinda untuk menghasut, memberikan ide dan gagasan untuk Rini. Sementara inti dari rencana ini adalah kesediaan Rini untuk melakukannya. Rencana yang bersih... menghancurkan tanpa menyentuh.
Rio masih duduk memakan keripik kentang menyaksikan hal yang menarik baginya.
"Aku cuma menyuruhmu mengantarkan makanan ke pacarku! Lagipula jika aku yang menyuruhmu, untuk apa aku pergi!?" Bentak Silvia tidak merasa melakukan apapun. Sial! Ini ulah siapa sebenarnya? Apa ulah Lily? Tapi Lily tidak mendapatkan keuntungan apapun.
Sudah diduga oleh Rini, orang ini akan menanyakannya. Syukurlah dirinya sudah memberikan arahan pada pelayan yang dibayar olehnya.
"Nona ini mengangkat telpon, mengatakan akan pergi. Dan menyuruh saya mengantar Dilan ke kamar jika terlihat sakit." Kembali sang pelayan menunjuk pada Silvia.
Hal yang membuat Silvia tidak dapat membela diri. Sama sekali tidak dapat berkata-kata.
"Setelahnya nona Rini datang dan mengantar tuan Dilan ke kamar. Saya benar-benar tidak tau..." Sang pelayan menunduk ketakutan.
"A...aku tidak pernah..." Di saat itu juga Silvia menyadari ini perbuatan siapa."Ini ulah mu kan!? Kamu ingin merebut posisi nyonya. Wanita bayaran!" Teriaknya hendak menyerang Rini.
"Wah...Nyi Pelet lawan Mak Lampir..." Gumam Rio dengan suara kecil.
masa baktinya udah selesai saat kau melukai Lily
selamat menikmati hari hari sedih mu yaa
jadi bayangin lagi muka nelangsa nya
kasiaaan 😜🤣🤣
lepaskan lah...yg harus dilepaskan 😜🤣🤣