NovelToon NovelToon
Sistem Dua Kekasih

Sistem Dua Kekasih

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Teen School/College / Sistem
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yapari

Saat Jepang berada diambang kepunahan karena krisis populasi, cinta bukan lagi pilihan, melainkan tugas negara yang menekan. Pemerintah membuat ulang kurikulum SMA bernama Sistem Dua Kekasih. Semua murid dipaksa berpasangan dengan lawan jenis, duduk berdampingan, tinggal bersama, dan semuanya dihitung berdasarkan poin.

Cerita berfokus pada Naruse Takashi, seorang remaja tanpa tujuan hidup yang hanya ingin mengabdi kepada seorang gadis biasa, yang dia percaya sebagai belahan jiwanya.

Kira-kira, siapakah yang akan menjadi belahan jiwa Naruse?

Genre: Drama, Psychological, Romance, School, System.

Catatan:
1. Cerita ini fiktif belaka.
2. Update satu Minggu 3-5 Kali.
3. Ada BAB Spesial tiap 20 BAB.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yapari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 — Duel Part 2 —

[Elena Miyazaki vs Sera Nanashi]

[Skor Sementara (Menang/Imbang/Kalah):

- Elena Miyazaki (2/0/0)

- Sera Nanashi (0/0/2)]

Elena hanya perlu menang satu babak lagi, tapi dia tampak tertekan sekarang. Tangannya gemetar hanya untuk menjalankan bidak hitam saat merespons langkah awal Sera Nanashi.

Ini gawat. Aku tidak bisa mengulur waktu dengan benar yang berakibat pada tekanan mental Elena. Dia jelas butuh waktu untuk menenangkan diri.

"Miyazaki-san, ini saatnya kalau kau ingin menyerah. Ponsel yang kugunakan terhubung dengan salah satu master di sekolah ini."

Sera Nanashi berucap dengan penuh ekspresi kemenangan, tatapannya lurus ke arah Elena.

Dia mengikuti instruksi yang ada di ponsel, dan sialnya itu tidak melanggar aturan duel sama sekali. Pandai juga dia sampai berhasil menemukan celah di baliknya.

Satu-satunya hal yang kupikirkan sekarang adalah dari mana gadis itu mendapatkan ponsel?

Saat berbelanja di Mall sebelumnya... aku dan Elena memang sempat menemukan perangkat elektronik, tapi harganya sangat mahal. Diperlukan 5.000 Poin untuk membelinya.

Aku sangat yakin kalau mereka tidak mungkin bisa mendapat poin sebanyak itu selama menjadi murid baru.

Namun, aku tidak bisa memikirkannya lebih lanjut karena ada sesuatu yang lebih penting.

Perasaanku begitu gelisah, apalagi Elena beberapa kali tertahan untuk menjalankan bidaknya. Padahal sebelumnya dia bisa melangkah dengan lancar tanpa keraguan.

Aku tidak peduli dengan langkah apa yang mereka gunakan. Otakku tidak bisa fokus ke permainan lagi, dan mataku hanya terus melirik Elena.

Seandainya apa yang dikatakan gadis itu benar, maka Elena hampir tidak punya kesempatan lagi untuk menang. Tentu saja itu terbukti saat ini.

Beberapa langkah terasa sangat berbeda dengan gaya permainan Sera Nanashi sebelumnya. Bahkan, aku sendiri akan terdiam lama untuk berpikir dan merespons langkahnya.

"Skak!"

Tak butuh waktu lama, permainan telah berakhir.

Akibat langkah yang terasa tidak wajar itu, Elena jadi kalah telak. Kepalanya tertunduk, dan tangannya mengepal erat.

Dia memang masih punya dua nyawa tersisa, tapi mentalnya sudah goyah. Terlebih lagi, permainan ketiga ini berakhir begitu cepat dengan dominasi penuh Sera Nanashi.

"Bagaimana, Miyazaki-san? Siap menerima pembalasanku?"

Gadis itu tersenyum puas saat melihat kondisi Elena yang tidak sedang baik-baik saja. Sementara itu, pasangannya juga ikut memasang seringai penuh kemenangan.

Elena hanya bisa diam ketika mendengarnya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Memang agak disayangkan, semuanya jelas tergantung pada dirinya sendiri.

Apakah dia bisa bangkit dalam waktu singkat atau tidak?

Ada begitu banyak hal yang ingin kukatakan. Sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini, tapi waktu terus berjalan.

Baiklah, ini saatnya bagiku menenangkan diri. Aku harus percaya pada pasanganku. Dia pasti bisa, lagipula semuanya belum berakhir.

Babak ke-empat hampir dimulai, dan sebelum mereka benar-benar memulainya... aku kepikiran untuk mengintervensi sedikit.

"Ehem..."

Aku berdeham keras, membuat semua perhatian teralihkan kepadaku termasuk Elena.

Kepalanya yang sebelumnya tertunduk kini kembali terangkat, meski belum sepenuhnya tegak.

"Sebelum kalian mulai, bolehkah aku mengatakan sesuatu pada para peserta duel?"

Mataku beralih ke seorang gadis kepang dua yang menjadi wasit ini.

Gadis itu berbalik menatapku. Dahinya mengerut. Dia tampak keheranan dengan maksud perkataanku.

"Akan lebih baik kalau kau diam saja!"

Nada bicaranya terdengar sinis ketika merespons perkataanku.

"Apa itu melanggar aturan? Harusnya tidak, kan?"

Dia terdiam cukup lama, sampai akhirnya suara helaan napasnya terdengar. Lalu disusul oleh decakan lidahnya.

"Cih, cepat katakan!"

Baguslah, aku sudah mendapat izin.

Ini hanya bantuan kecil dariku. Kuharap Elena tidak terlalu memikirkannya, apalagi sampai merendahkan dirinya sendiri.

Pertama-tama, aku menatap Sera Nanashi. Tatapannya langsung beralih menghadapiku.

"Ada apa, Takashi-kun? Mau protes tentang ponsel ini?"

Sembari menggoyangkan ponsel di tangannya, suaranya keluar dengan nada angkuh.

"Tidak, aku tidak akan protes. Katanya itu tidak melanggar aturan, kan?"

"Lalu, kenapa kau seperti ingin menghakimiku?"

"Itu karena kau begitu meremehkan pasanganku."

"Kau berharap apa dari gadis bodoh ini? Andai saja aturan untuk bertukar pasangan tidak rumit, aku sudah pasti bisa mendapatkanmu."

"Sudah kubilang, kau terlalu meremehkannya. Asal kau tahu, Elena mendapat ajaran dari murid peringkat S."

"Hah?! Apa katamu?"

Mendengar responsku, bahunya sempat tersentak sebelum kembali ke keadaan semula. Kurasa itu sudah cukup.

Sekarang tatapanku beralih ke Elena.

Astaga, matanya sedikit berkaca. Dia menatapku dengan wajah memelas. Pergi ke mana rasa percaya dirinya kemarin?

"Na-naruse-kun..."

Dia memanggilku, nadanya terdengar lirih. Bahkan tatapannya tidak mengarah tepat ke mataku. Jelas sekali dia ingin menghindariku.

"Elena, bisa tatap mataku sebentar?"

Berkat suaraku yang lumayan tegas, akhirnya dia mulai memberanikan diri untuk menatapku.

Begitu mata kami saling bertemu, aku langsung membuka mulut untuk mengatakan sesuatu.

"Apa pun hasilnya, aku tidak akan meninggalkanmu. Maksudku kau tidak perlu menang, tapi tolong jangan kalah!"

Hanya itu yang ingin kukatakan. Tidak peduli sebutannya kata-kata penyemangat atau apa, yang paling penting adalah suasana hati Elena bisa berubah meski sedikit.

Mendengar kata-kataku, dia mulai mengusap wajahnya. Pandangannya kembali fokus ke papan catur.

Sepertinya usahaku tidak sia-sia. Dan babak ke-empat pun dimulai.

Pertandingan berjalan seperti babak ketiga, hanya saja yang membedakan adalah kondisi Elena. Dia tidak lagi tertekan, malahan dia semakin santai.

Aku tidak menyangka kalau kata-kataku tadi lumayan bisa memengaruhi mereka. Sera Nanashi tidak terlalu mendominasi lagi, dan Elena tampak lebih baik saat merespons langkah lawannya.

Langkah demi langkah berlalu. Elena yang memegang bidak putih bermain secara defensif, sementara lawannya yang memainkan bidak hitam terus menyerang.

Aku bisa melihat wajah frustasi Sera Nanashi. Dia unggul, tapi Elena bisa mengimbangi. Sampai akhirnya...

"Stalemate!"

Suara Elena yang datar terdengar, mengisi kesunyian ruang klub permainan.

Walau posisi rajanya tidak sedang diserang, tapi tidak ada langkah yang bisa dijalankan lagi oleh bidak putih. Artinya, Sera Nanashi terjebak taktik Elena dan membuat hasilnya jadi remis.

Tentu saja, hal itu mengejutkan seisi ruangan termasuk aku sendiri. Bagaimana tidak, Elena benar-benar menerapkan apa yang aku katakan tadi.

Jika dia tidak bisa menang melawan master, maka jangan kalah. Dan hasil remis pun terjadi.

"Ba-bagaimana bisa?! Padahal aku sudah mengikuti instruksinya dengan benar!"

Suara Sera Nanashi terdengar setelahnya. Dia seperti sedang menahan rasa frustasi meski itu terpampang jelas di wajahnya.

Dia lalu menatap ke gadis kepang dua yang menjadi wasit dengan tatapan menghakimi.

Sudah kuduga, mereka sekongkol. Tapi mereka tidak menyangka kalau hasilnya akan remis.

Sera Nanashi jadi tidak punya pilihan selain menang, karena kalau tidak, dia akan kalah dalam duel ini.

"Nanashi-san, kenapa kau diam? Kita harus mulai babak kelima!"

Aku menatap Elena sekilas. Wajahnya mengeluarkan senyum tipis. Meski tatapannya mengarah ke lawannya, dia seolah juga mengatakan padaku untuk jangan khawatir.

1
Ftomic
rill 3 season ga ni?
Yapari Napa: semoga/Bye-Bye/
total 1 replies
Apa Cuba
makan nih jejak
🦊 Ara Aurora 🦊
Eh nggak jadi deh mau jam tangan kek gitu /Frown/ ribet menurutku aturan jam tangan nya terlalu banyak aturannya /Sob//Sob/
🦊 Ara Aurora 🦊
Jam tangan yg unik itu thor gue juga mau jam tangan kek gitu donc thor❓😭 /Grievance/thor balik mampir di ceritaku yg berjudul: Lampu Ajaib & Cinta Albino 🙏
🦊 Ara Aurora 🦊
kok seperti ribet itu yah... Masa di tempatkan Zona Transisi tdk ada tempat tidur pribadi... suhu di kontrol pada 16°C ... Pencahayaan tdk dimatikan penuh... Total Kapasitas 150 murid dalam satu ruangan gitu maksudnya? 🤔 aish ribetnya terdengar sulit 🙃😭
🦊 Ara Aurora 🦊: Waduh... wkwkwk 😂😂
total 3 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Mmm.. Aish belum ada sih bisa di koment bagian ini thor... Gue udah mampir yah thor 🙏
🦊 Ara Aurora 🦊: Sama2 kak 😊
total 2 replies
Ftomic
Very interesting. Sistemnya di dunia nyata dan realistis, trus premisnya oke. Keep it up bro!
Yapari Napa: wah makasih ya reviewnya/Smirk/
total 1 replies
Apa Cuba
alurnya kek classroom of the elite ni cuma versi tinggal bareng cewek
Ftomic: mana pacingnya sama lagi agak lambat
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!