NovelToon NovelToon
Istri Bar-Bar Ustadz Hanan

Istri Bar-Bar Ustadz Hanan

Status: tamat
Genre:Keluarga & Kasih Sayang / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:746.7k
Nilai: 4.8
Nama Author: Mommy_Ar

“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Kayla menatap kursi belakang sekilas, lalu kembali melirik jok depan. Dadanya terasa aneh oleh rasa sungkan yang tak biasa.

“Fatim, aku di belakang aja deh,” katanya pelan, sambil meraih gagang pintu belakang.

Fatim yang sudah setengah rebah justru menggeleng sambil memejamkan mata.

“Udah, aku capek banget, Mbak. Aku pengen santai di belakang,” gumamnya, suaranya lelah tapi manja. Kayla menghela napas kecil.

“Kita di belakang berdua aja,” katanya lagi, bersikeras. Tangannya sudah hendak menutup pintu depan.

Namun Fatim mendadak membuka mata, bangkit sedikit, lalu berbisik cepat, “Nanti Mas Hanan ngerasa jadi sopir doang. Dia orangnya gampang sakit hati, loh, Mbak.”

Kalimat itu membuat Kayla terdiam. Refleks, pandangannya beralih ke arah Hanan.

Laki-laki itu masih duduk tegak di balik kemudi. Tangannya mantap di setir, pandangannya lurus ke depan. Wajahnya tampak biasa saja, tenang, sopan, ramah dengan caranya sendiri, tapi sekaligus dingin.

Seperti dinding yang rapi, bersih, tapi sulit ditembus. Tidak ada tanda-tanda keberatan, tidak juga terlihat santai. Hanan selalu berada di tengah-tengah itu, tidak menjauh, tapi juga tidak mendekat.

Kayla menelan ludah.

Akhirnya, dengan perasaan yang tak karuan, ia menutup pintu belakang dan masuk ke kursi depan. Duduk dengan tubuh sedikit kaku, seolah jok itu terlalu panas atau terlalu sempit.

“Maaf, Mas,” ucapnya lirih, penuh sungkan.

“Hemm,” jawab Hanan singkat. Tidak dingin, tapi juga tidak hangat.

Mobil pun melaju.

Tak butuh waktu lama sampai Fatim benar-benar terlelap di kursi belakang. Nafasnya teratur, kepalanya sedikit miring ke samping. Dunia kecilnya seakan terlepas begitu saja, meninggalkan Kayla dan Hanan dalam ruang yang terasa semakin sempit.

Hanan sempat melirik ke kaca spion, memastikan adiknya tertidur. Setelah itu, ia menghela napas Panjang, napas yang berat, seolah menahan sesuatu yang sejak tadi mengganjal.

Kayla mendengarnya.

Dan justru napas itu membuatnya semakin gugup. Perjalanan terasa sangat lama. Padahal jarak tempuhnya tidak seberapa. Lampu-lampu jalan berderet, kendaraan lalu-lalang, tapi di dalam mobil hanya ada keheningan yang tebal.

Tidak ada musik.

Tidak ada percakapan.

Kayla menatap ke luar jendela, pura-pura tertarik pada lampu toko dan bayangan pepohonan. Sesekali ia menggeser posisi duduk, mencoba mencari nyaman. Tapi semakin ia berusaha, semakin canggung rasanya.

Kenapa sih gue jadi kikuk gini… batinnya kesal. Biasanya juga gue cuek duduk sama cowok mana pun.

Namun Hanan bukan “cowok mana pun”.

Ada sesuatu dari laki-laki itu, sikapnya, diamnya, caranya menjaga jarak yang membuat Kayla merasa seolah dirinya terlalu berisik, terlalu terang, terlalu… berantakan.

Sementara Hanan… terlalu rapi.

Akhirnya mobil memasuki kawasan kompleks perumahan. Gerbang dijaga satpam, lampu-lampu rumah menyala temaram. Jalanan lebih sepi, lebih tertib.

Barulah Hanan bersuara.

“Nomor berapa?” tanyanya singkat, matanya tetap fokus ke jalan.

‘’Hah, itu,” Kayla sedikit tersentak, lalu cepat menjawab, “Nomor tujuh.”

Hanan mengangguk. Setir diputar perlahan, mobil melaju menyusuri deretan rumah. Kayla mulai mengenali tikungan kecil dan pohon mangga di ujung jalan.

“Itu… yang pagar hitam,” katanya pelan sambil menunjuk.

Mobil berhenti tepat di depan rumah nomor tujuh.

Kayla terdiam beberapa detik. tapi hatinya terasa aneh seperti ada sesuatu yang belum selesai, padahal tidak tahu apa.

“Terima kasih ya, Mas,” ucapnya akhirnya. Kali ini lebih pelan, lebih tulus.

Hanan menoleh. Tidak lama. Tapi cukup.

“Sama-sama,” jawabnya.

Kayla membuka pintu, turun dari mobil. Udara malam menyentuh kulitnya, membuatnya sedikit menggigil. Ia menutup pintu, lalu berdiri sebentar di pinggir jalan.

Hanan belum langsung pergi.

Kayla menoleh lagi. “Mas…”

“Iya?”

“Maaf… kalau lagi lagi udah ngerepotin !’’

Hanan terdiam. Beberapa detik. Wajahnya tampak tenang, tapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang sulit diterjemahkan.

“Gapapa,” katanya akhirnya. “Saya hanya sedang belajar… menjaga diri.”

‘’Hah, maksudnya?’’

‘’Tidak apa, saya langsung pamit, Fatim sudah tidur. Assalamualaikum,”

‘’Walaikumsalam,”

**

“Menjaga diri?” Kayla mengulang kalimat itu sambil membuka pintu rumah. Alisnya berkerut, bibirnya manyun.

“Menjaga diri dari apa coba? Emang gue demit jadi dai menjaga diri biar gak kesurupan?” gumamnya kesal, nyaris mendengus.

‘’Sumpah aneh banget!’’

Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi pelan. Rumah terasa sunyi sunyi yang sudah sangat akrab dengannya. Lampu ruang tamu redup, hanya satu yang menyala. Kayla berdiri beberapa detik di tengah ruangan, seperti orang yang lupa mau ngapain.

Biasanya, setelah malam yang melelahkan, ia akan langsung menyalakan musik keras, atau membuka kulkas, mengambil minuman dingin. Tapi malam ini… tidak.

Kayla malah melangkah ke kamar, duduk di tepi ranjang, lalu menjatuhkan tubuhnya terlentang. Pandangannya menatap langit-langit putih, kosong.

“Dasar cowok aneh,” gumamnya lagi, tapi kali ini suaranya tidak sekesal tadi. Lebih… bingung.

‘’Mentang mentang ganteng, Sholeh. jadi sok misterius! Ckckckck!’’

Ia memejamkan mata. Namun yang muncul justru wajah Hanan tatapan singkatnya, caranya menunduk, kalimatnya yang tenang tapi menusuk.

‘Saya hanya sedang belajar menjaga diri.’

“AStaga kenapa mukanya muncul terus sihhhh!’’ Kayla menghela napas, lalu bangkit duduk. Tangannya mengacak rambut ungunya sendiri.

‘’Au ah ! Lama lama gue yang kesurupan dia!’’

1
nënġ dïthä
tau gitu mending sama ustats zaki 🤣😄
juwita
mampir
nënġ dïthä
anjiirr ngena bnget ceritanya 😭😭
nënġ dïthä
lagian oon bnget ..
nënġ dïthä
hadewww gak masuk logika
Ratna Sumaroh
nah yang jadi pertanyaan Fatimah dan Arash dimana 📍❓
Asih S Yekti
ceritanya bagus walaupun tokoh utamanya meninggal
Asih S Yekti
itu bonus diatas musibah istadz 😄
Nuage Laboratoire
ddwztc
Ray
yg terlihat baik dimata manusia, dimata Allah belum tentu, Allah akan beri apa yg dibutuhkan hambanya bukan yg diinginkan, sebab terkadang keinginan itu dibarengi oleh nafsu 🙏
Ass Yfa
ya ampun maaf mom..saking lamanya ..nggk tahu ada notif..meski telat
Trie Heartie
kan kan bia...
Trie Heartie
Bianca... bia????


jeng jeng jeng
Trie Heartie
apakah Kevin temannya Zivanna?
Trie Heartie
anehnya kenapa dipondok kok tidak ada penjaga nya di pintu/ gerbang depan
bibuk Hannan & Afnan
rumah sakiy 😄😄😄typo mom rumah sakit ✓
bibuk Hannan & Afnan
meski seuprit tp asli mom bikin merinding
bibuk Hannan & Afnan
kok umi Salmah mom? bukannya umi Anisa ya
bibuk Hannan & Afnan
gajul=gagal typo nih mom
bibuk Hannan & Afnan
lemur=lembur typo nih mom
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!