NovelToon NovelToon
BABY-NYA OM GALAK

BABY-NYA OM GALAK

Status: tamat
Genre:Lari Saat Hamil / Sugar daddy / Cinta Seiring Waktu / Duda / Konflik etika / Tamat
Popularitas:72.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Ketika gadis SMA memilih kerja sampingan sebagai seorang sugar baby.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang

Tas itu sudah menunggu di depan pintu.

Yuna baru saja menutup pintu pagar ketika matanya menangkap siluet Nek Rasmi yang berdiri di teras dengan tas koper kecil berwarna cokelat, tas yang sudah menemani nenek itu ke mana-mana sejak Yuna masih kecil. Punggung nenek itu sedikit membungkuk, tangannya menggenggam gagang koper dengan erat seperti sedang bersiap menghadapi sesuatu yang berat.

"Nek?" Yuna mempercepat langkahnya. "Mau ke mana?"

Nek Rasmi menoleh. Wajah tuanya... keriput yang Yuna hafal satu per satu tampak lelah, tapi matanya masih jernih. Masih hangat. Selalu hangat untuk Yuna.

"Yu, kamu baru sampai?" Nenek itu tersenyum tipis, tapi senyumnya tidak sampai ke mata. "Nek mau pulang."

"Pulang?" Yuna berhenti tepat di depannya. "Kenapa tiba-tiba? Bukannya rencananya masih..."

"Mbok Sari meninggal tadi pagi." Suara Nek Rasmi tenang, tapi ada sesuatu yang patah di baliknya. Seperti kayu tua yang retak dari dalam. "Sahabat Nenek dari kecil. Nenek harus pulang, nduk. Harus ada di sana."

Yuna terdiam.

Mbok Sari. Nama itu tidak asing. Berkali-kali ia mendengar Nek Rasmi bercerita tentang perempuan itu... tentang masa kecil mereka di kampung yang sama, tentang bagaimana mereka tumbuh bersama, menikah di tahun yang berdekatan, mengubur suami di tanah yang sama.

Yuna menelan keras. Ia mendekat dan memeluk nenek itu pelan. Tubuh Nek Rasmi terasa lebih kecil dari yang ia ingat. Atau mungkin Yuna yang terlalu lama tidak benar-benar memeluknya.

"Maaf, Nek," bisiknya.

Nek Rasmi menepuk punggung Yuna. Pelan. Berulang. Seperti dulu ketika Yuna menangis karena mimpi buruk.

"Sudah. Kamu tidak perlu ikut sedih." Nenek itu melepaskan pelukan dan menatap Yuna dengan serius. "Tapi Nek mau bicara dulu sebelum pergi."

---

Mereka tidak sempat bicara panjang.

Mala muncul dari dalam rumah dengan rambut yang sudah ditata rapi meski waktunya mepet, diikuti Edo yang seperti biasa... hadir di tempat yang seharusnya bukan urusannya. Pria itu mengenakan kemeja abu-abu yang terlalu pas di badannya, senyum terlalu lebar di wajahnya, dan tatapan yang terlalu lama hinggap di Yuna sebelum berpindah ke tempat lain.

Yuna memalingkan muka.

"Ibu mau berangkat sekarang?" Mala bertanya sambil mengecek ponselnya. Nadanya seperti orang yang sedang mengurus jadwal, bukan mengantar ibu yang berduka.

"Iya. Semakin cepat semakin baik."

"Edo bisa antar, kan?" Mala melirik ke arah pria itu.

"Tentu saja." Edo tersenyum. Lagi-lagi matanya menyapu ke arah Yuna sebentar. Sebentar yang sudah cukup membuat Yuna ingin memuntahkan makan siangnya.

---

Perjalanan ke stasiun terasa seperti duduk di dalam kaleng sarden yang dialiri listrik tegangan rendah.

Yuna memilih duduk di bangku belakang bersama Nek Rasmi, membiarkan Mala dan Edo mengobrol di depan. Sesekali Nek Rasmi menggenggam tangannya. Tidak bicara. Hanya menggenggam. Dan entah kenapa itu lebih menenangkan dari semua kalimat yang mungkin bisa diucapkan.

Di cermin depan, Yuna menangkap Edo melirik ke belakang untuk ketiga kalinya.

Ia pura-pura tidak melihat.

Stasiun ramai seperti biasa. Kerumunan, pengumuman kereta dari pengeras suara, bau khas campuran makanan dan pelumas dan keringat manusia yang sudah terlalu lama menunggu. Nek Rasmi berjalan pelan, dan Yuna yang menggandeng lengannya.

Di depan pintu masuk peron, nenek itu berhenti dan membalikkan badan.

Pertama, ia menatap Mala. Lama. Dengan ekspresi yang Yuna tidak bisa sepenuhnya baca... campuran antara lelah dan sesuatu yang terasa seperti doa.

"Jaga dirimu, La."

Mala mengangguk cepat. "Iya, By. Ibu hati-hati di jalan."

Lalu Nek Rasmi beralih ke Yuna. Tangannya mengangkat dan menjepit lembut pipi Yuna, persis seperti yang selalu ia lakukan sejak dulu.

"Kamu baik-baik saja, nduk?"

Yuna tersenyum. Senyum yang ia latih agar terlihat meyakinkan. "Baik, Nek."

Nenek itu menatapnya lebih lama. Seolah sedang membaca sesuatu di balik senyum itu. Lalu menghela napas pelan.

"Pilih yang membuatmu merasa aman. Bukan yang membuatmu merasa perlu." Suaranya rendah, hanya cukup untuk telinga Yuna. "Nenek tidak akan selalu ada untuk mengingatkan kamu itu."

Kereta mengumumkan keberangkatan.

Yuna hanya bisa mengangguk. Tenggorokannya terlalu sempit untuk bicara.

Mereka menonton kereta itu pergi sampai benar-benar hilang di tikungan rel.

Yuna menarik napas. Mengeluarkannya pelan. Lalu mulai berbalik dan mengambil ponselnya untuk memesan taksi online.

"Mau ke mana?"

Suara Mala.

Yuna tidak menoleh. "Pulang ke apartemen."

"Apartemen siapa?"

Kali ini Yuna menoleh. Ibunya berdiri dengan tangan terlipat di dada, dagu terangkat sedikit, postur yang Yuna kenali sebagai pertanda bahwa percakapan ini tidak akan singkat dan tidak akan menyenangkan.

"Apartemenku," jawab Yuna datar.

"Kamu tidak punya apartemen." Mala melangkah mendekat. "Kamu punya kamar di rumah. Rumah yang sudah kami siapkan untuk kamu."

"Kami." Yuna hampir tertawa mendengar kata itu.

"Ma." Yuna menyimpan ponselnya. "Nenek sudah pulang. Tidak ada alasan lagi untukku menginap di sana."

"Ada." Mala tidak berkedip. "Masih banyak yang perlu kita bicarakan. Kamu dan Edo..."

"Tidak ada aku dan Edo." Yuna memotong dengan suara yang lebih tajam dari yang ia rencanakan. "Sudah selesai. Sudah lama selesai."

Edo yang sedari tadi diam akhirnya bergerak maju. Satu langkah. Tangannya dimasukkan ke saku celana, kepalanya sedikit miring, gaya yang mungkin ia pikir terlihat santai dan tidak mengancam.

"Yuna." Suaranya lembut. Terlalu lembut. "Tidak ada yang perlu dipermasalahkan, kan? Kita bisa duduk dulu, ngobrol..."

"Tidak."

"Hanya ngobrol..."

"Tidak."

Mala menghela napas frustrasi. "Kamu keras kepala sekali. Kamu pikir kami tidak sayang sama kamu? Kami hanya mau.."

"Mau apa, Ma?" Yuna akhirnya memandang ibunya langsung. Benar-benar langsung. "Mau apa?"

Mala membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Yuna tertawa.

Tawa yang keluar bukan karena lucu. Tawa yang keluar karena kalau tidak tertawa, ia mungkin akan menangis di depan umum, di stasiun yang penuh orang, dan itu adalah satu hal yang tidak akan ia biarkan terjadi.

Ia tertawa karena kasihan pada dirinya sendiri. Karena dari sekian banyak skenario hidup yang mungkin, ia mendapatkan skenario ini... ibu yang berdiri di samping mantan kekasihnya, di depan peron kereta yang masih berbau asap, memintanya untuk kembali. Untuk menerima. Untuk pura-pura semuanya normal.

Betapa luar biasa.

"Aku kasihan sama diriku sendiri, Ma," kata Yuna akhirnya, masih dengan sisa tawa yang sudah kehilangan nadanya. "Sungguh. Karena ternyata aku bisa punya ibu yang se..." Ia berhenti. Memilih kata dengan hati-hati. "Yang seperti ini."

Mala memucat. "Yuna..."

"Aku pergi."

Yuna berbalik.

Edo bergerak cepat, tangannya hampir menyentuh lengan Yuna...

"Jangan." Satu kata dari Yuna. Diucapkan dengan nada yang tidak keras, tidak histeris, tapi memiliki kualitas tertentu yang membuat Edo menarik tangannya kembali seolah terkena sengatan.

Yuna tidak menoleh lagi.

Ia berjalan keluar dari stasiun, memesan taksi, dan duduk di bangku besi kecil di trotoar sambil menunggu. Matanya mengikuti lalu lalang orang yang tidak ia kenal, pasangan yang menggandeng koper, ibu yang menggendong anak, seorang lelaki tua yang tertidur di bangku dengan topi menutupi wajahnya.

Semua orang punya hidupnya masing-masing.

Dan hidupnya ada di tempat lain.

---

Taksi berhenti di depan gedung apartemen ketika malam menjelang. Lampu-lampu mulai menyala, dan lobi gedung memantulkan cahaya kuning hangat ke trotoar basah bekas hujan siang tadi.

Yuna masuk. Lift. Lantai dua belas. Koridor yang ia hafal meski matanya terpejam.

Ia mengetuk pintu apartemen 1204.

Hening sebentar. Lalu suara langkah. Lalu pintu terbuka.

Bastian berdiri di sana dengan kaos putih dan rambut yang sedikit berantakan, ekspresi di wajahnya adalah gabungan antara terkejut dan... kalau Yuna membacanya dengan benar, senang yang ia usahakan untuk terlihat biasa-biasa saja.

"Kamu?" Alisnya naik. "Bukannya baru beberapa jam yang lalu..."

"Nenek sudah pulang." Yuna melangkah masuk tanpa diundang... tapi memang tidak perlu diundang, karena ini juga rumahnya sekarang. "Sahabatnya meninggal. Jadi dia balik ke kampung."

Bastian menutup pintu. Masih menatapnya. "Kamu baik-baik saja?"

Yuna meletakkan tasnya di sofa. Melepas sepatu. Meluruskan punggung yang terasa tegang sejak tadi.

"Aku baik." Ia menoleh ke arahnya. "Jadi... aku bisa kembali ke sini. Kalau Om tidak keberatan."

Sudut bibir Bastian naik. Bukan senyum yang dibuat-buat. Senyum yang keluar karena memang ada sesuatu yang menyenangkan di baliknya.

"Keberatan?" Ia melangkah mendekat. Tangannya mengangkat dagu Yuna dengan satu jari, pelan, seperti sedang memeriksa apakah gadis itu benar-benar ada di sana atau hanya bayangan yang bisa menghilang kapan saja. "Aku justru bertanya-tanya kapan kamu akan menyadari bahwa kamu tidak perlu pergi ke sana sejak awal."

Yuna menatapnya.

Ada kalimat panjang yang ingin ia ucapkan.

Tapi kalimat itu tidak jadi keluar.

Sebagai gantinya, ia meraih kerah kaos Bastian dan menariknya turun ke arahnya.

"Aku menginginkanmu!" bukan Yuna yang bicara tetapi Bastian.

Pria itu menggendong Yuna. Kembali membawa tubuh gadisnya ke pembaringan. Pembaringan yang baru saja kosong beberapa saat. Tapi kini, kembali terdengar suara peraduan dua kulit bercampur desahan yang saling bersahutan.

1
Siti M Akil
siram air cabe
meimei
makin mendekati ending,kata katanya sangant mendalam,, kerenn👍👍👍
meimei
suka kata2 nya, deep vanget
Al_nindra
suka banget 😭😭😭😭😭
Bunda SB: terima kasih
total 1 replies
Sulainiothman Sulainiothman
/Drool/
Dew666
🌹🌹🌹
♉ᴶᴬnjiku ᴷᴬᴿena 𝐂𝐢𝐧ᵀᴬ
ya ampun ngga tempat apa
Dew666
💎💎💎
Ufiyyyy
jgan bilang mala tertarik sm bastian🤭🤭
Dew666
💐💐💐
Dew666
👄👄👄
Dew666
🌼🌼🌼
vita
suka sm ceritanya
Ufiyyyy
ahirnya bastian bnr2 mnyadari prasaanya..
Dew666
💜💜💜
Khodijah Ijah
iiih knapa sich harusbersambung
Ira Janah Zaenal
Alhamdulillah ... perjuangan om bastia. tidak sia-sia😍💪
Khodijah Ijah
knapa ngk minta tolonh sm bastian aja y
Rani Saraswaty
kalimat2 dr penulis menggambarkan keadaan hati...agak rumit smua😄
Hana Astuti
semoga cepet ketemu sma Yuna, jgn lama2 y Thor pisah nya 😄🥰👍💪💪, semangat up selanjutnya Thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!