Di dunia yang dikendalikan elite global, Rafael Alkava tumbuh sebagai anak buangan yang seharusnya tidak pernah hidup. Tanpa mengetahui asal-usulnya, ia bangkit dari kemiskinan, menaklukkan dunia trading, dan berangkat ke Amerika demi mencari kebenaran tentang dirinya.
Namun langkahnya justru menyeret Rafael ke dalam konflik mafia internasional, konspirasi negara, dan organisasi bayangan yang menguasai dunia dari kegelapan. Perlahan, ia menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari perang lama yang belum pernah berakhir.
Ketika semua rahasia terbuka, satu pertarungan mematikan mengubah segalanya.
Rafael Alkava dinyatakan mati.
Tapi di balik kematian itu, sesuatu justru mulai terbangun—
dan dunia akan segera tahu bahwa kesalahan terbesar mereka adalah membiarkannya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Chitholl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan
Pagi datang dengan cahaya yang lebih cerah dari biasanya.
Rafael berdiri di depan jendela besar, menatap langit yang mulai berubah dari ungu gelap menjadi biru terang.
Suara pintu terbuka membuat dia menoleh—Kimberly masuk dengan tas besar di kedua tangannya, senyum tipis menghiasi wajahnya.
"Pagi," sapanya sambil meletakkan tas di meja.
"Gue bawa sesuatu buat lo."
Rafael berjalan mendekat. Kimberly membuka tas pertama—di dalamnya berjejer botol-botol suplemen protein, vitamin kompleks, buah-buahan segar yang masih dingin dari kulkas, dan beberapa shake protein dalam kemasan premium.
"Lo harus minum ini setiap hari," kata Kimberly sambil mengeluarkan satu per satu.
"Protein untuk membangun otot, vitamin untuk mempercepat pemulihan, dan buah-buahan untuk nutrisi alami."
Lalu dia membuka tas kedua. Rafael melihat alat cukur rambut listrik yang terlihat mahal, gunting profesional, sisir, dan cermin tangan yang cukup besar.
"Dan hari ini," Kimberly menatap rambut Rafael yang sudah cukup panjang menutupi telinga,
"Gue akan cukur rambut lo."
Rafael tersenyum. "Emang lo bisa?"
"Jangan remehin gue," jawab Kimberly sambil menarik kursi ke tengah ruangan.
"Duduk."
Rafael mengikuti perintah—duduk di kursi dengan postur tegap. Kimberly mengambil handuk dari tas, melingkarkannya di leher Rafael, lalu mulai menyalakan alat cukur.
Bunyi dengungan halus memenuhi ruangan. Tangan Kimberly bergerak dengan hati-hati—memotong rambut Rafael bagian samping dan belakang dengan gerakan yang terlatih. Sesekali dia mundur sedikit, menilai hasil kerjanya, lalu melanjutkan lagi.
"Lo pernah belajar ini?" tanya Rafael.
"Nggak," jawab Kimberly sambil fokus pada bagian atas kepala Rafael.
"Tapi gue pernah menonton tutorial. Dan gue perfeksionis. Jadi hasilnya pasti bagus."
Rafael hanya bisa pasrah. Tapi sebenarnya dia menikmati ini—sentuhan tangan Kimberly di kepalanya, perhatian kecil yang dia berikan, ketenangan yang datang dari kehadiran seseorang yang peduli.
Dua puluh menit kemudian, Kimberly selesai. Dia mengambil cermin, menunjukkannya ke Rafael.
"Gimana hasilnya?" tanyanya dengan nada bangga.
Rafael menatap pantulannya. Rambut yang tadinya berantakan dan panjang sekarang rapi—dipotong pendek di bagian samping, sedikit lebih panjang di atas. Style yang simpel tapi terlihat sharp.
"Sempurna," kata Rafael.
Kimberly tersenyum lebar—senyum yang jarang dia tunjukkan, senyum yang membuat wajahnya terlihat lebih muda, lebih hidup.
***
Lantai 15 – Elysium Medical Institute – Laboratorium Neurologi.
Sementara Rafael dan Kimberly menghabiskan waktu bersama, di lantai yang jauh lebih bawah, Daniel sibuk dengan sesuatu yang jauh lebih kompleks.
Laboratorium neurologi Elysium adalah ruangan yang steril dan dingin—dinding putih bersih, lantai keramik yang memantulkan cahaya fluorescent, deretan peralatan medis canggih yang berjejer rapi.
Di tengah ruangan, beberapa monitor besar menampilkan scan otak manusia dalam berbagai sudut—gambar 3D yang berputar, menunjukkan setiap detail struktur neural.
Daniel berdiri di depan salah satu monitor, mengenakan jas lab putih, kacamata pelindung, dan sarung tangan steril.
Di sampingnya, empat dokter lain—semua spesialis di bidangnya masing-masing.
Dr. Helena Wang, ahli neurologi dengan pengalaman dua puluh tahun menangani cedera otak traumatik. Wajahnya serius, matanya tajam di balik kacamata berbingkai emas.
Dr. Marcus Hale, ahli bedah saraf yang terkenal dengan tangan-tangannya yang steady seperti robot. Pria berusia empat puluh tahun dengan rambut mulai beruban di pelipis.
Dr. Sophia Laurent, peneliti biokimia yang fokus pada regenerasi sel saraf. Wanita muda dengan rambut dikuncir ketat, selalu membawa tablet untuk mencatat setiap detail observasi.
Dr. Kenji Yamamoto, ahli farmakologi yang pernah mengembangkan beberapa obat neurotropik yang revolusioner. Pria kurus dengan mata yang selalu terlihat lelah tapi pikirannya selalu tajam.
Mereka semua berkumpul di sini untuk satu tujuan—menemukan cara menyembuhkan Traumatic Diffuse Axonal Injury.
"Pasien kedua menunjukkan respons minimal terhadap terapi sel punca," kata Helena sambil menunjuk grafik di monitor.
"Aktivitas neural meningkat hanya 3% setelah dua minggu perawatan intensif."
Daniel menatap grafik itu dengan dahi berkerut. "Dosisnya sudah maksimal?"
"Sudah," jawab Sophia sambil memeriksa data di tabletnya.
"Jika kami tingkatkan lagi, risiko penolakan tubuh akan meningkat drastis."
Marcus menggelengkan kepala. "Sel punca saja tidak cukup. Kita perlu kombinasi dengan stimulasi elektromagnetik. Memaksa neuron yang rusak untuk membentuk koneksi baru."
"Itu berisiko," kata Kenji.
"Stimulasi yang terlalu kuat bisa menyebabkan kejang atau bahkan kerusakan lebih lanjut."
"Tapi tanpa risiko, kita tidak akan pernah menemukan terobosan," jawab Daniel dengan tegas.
Matanya menatap ke layar yang menampilkan scan otak pasien—area abu-abu yang menunjukkan kerusakan luas di white matter otak.
Ini adalah bulan pertama penelitian mereka. Satu bulan penuh trial and error, eksperimen yang gagal, harapan yang pupus dan bangkit lagi.
Daniel belum menemukan obat untuk DAI. Tapi dia tidak menyerah.
Tidak akan pernah menyerah.
Karena ini bukan hanya tentang Rafael. Ini tentang mengubah paradigma dunia medis.
Tentang membuktikan bahwa yang dianggap impossible bisa menjadi possible.
"Kita lanjutkan dengan protokol baru," kata Daniel akhirnya.
"Kombinasi terapi sel punca, stimulasi transkranial, dan obat neurotropik yang Kenji kembangkan. Aku akan ambil tanggung jawab penuh jika ada yang salah."
Dokter-dokter lainnya menatap Daniel dengan campuran kagum dan khawatir. Tapi mereka mengangguk—karena mereka semua tahu, jika ada yang bisa melakukan ini, itu adalah Alexander Daniel Benjamin.
***
Lantai 30 – Elysium Medical Institute – Ruang Isolasi Rafael.
Satu bulan berlalu seperti air yang mengalir—cepat tapi meninggalkan jejak.
Ruangan Rafael berubah total. Di sudut yang tadinya kosong, sekarang berdiri deretan alat olahraga—treadmill dengan layar digital canggih, cross trainer yang bisa diatur resistensinya, leg press machine dengan beban yang bisa disesuaikan, dumbell dengan berbagai ukuran, dan matras yoga yang digulung rapi.
Daniel memastikan Rafael punya semua yang dia butuhkan untuk pemulihan fisik.
Setiap pagi, Rafael bangun pukul enam.
Pemanasan ringan, lalu naik ke treadmill—mulai dengan jogging pelan, lalu meningkat ke sprint.
Keringat mengalir, otot-otot kakinya yang tadinya kaku mulai lentur, nafasnya yang tadinya cepat tersengal sekarang lebih terkontrol.
Lalu cross trainer—gerakan yang melibatkan seluruh tubuh, membakar kalori, melatih koordinasi. Tiga puluh menit tanpa henti.
Leg press—menambah kekuatan kaki, membangun otot quadriceps dan hamstring. Beban yang dia angkat meningkat setiap minggu.
Dan yang terakhir—weight training dengan dumbell. Bicep curl, shoulder press, chest fly. Gerakan-gerakan yang membangun massa otot yang hilang selama tiga bulan berbaring.
Hasilnya terlihat jelas. Tubuh Rafael yang tadinya kurus kering sekarang mulai terbentuk.
Otot-ototnya tidak terlalu besar—tapi padat, terdefinisi dengan jelas di bawah kulit.
Lemak yang sempat menumpuk selama masa pemulihan awal terbakar habis.
Dan yang paling penting—Rafael merasa hidup lagi.
Merasa kuat lagi.
Merasa seperti dirinya yang dulu.
Kimberly datang hampir setiap hari. Terkadang dia ikut berolahraga bersama Rafael—naik treadmill di sebelahnya, berlari dengan kecepatan yang kompetitif, tertawa saat Rafael mencoba menyalipnya.
Terkadang dia mengajarkan Rafael yoga—gerakan-gerakan yang fokus pada fleksibilitas dan keseimbangan.
Rafael yang tadinya skeptis akhirnya mengakui bahwa yoga ternyata lebih sulit dari yang dia kira.
"Lo terlalu kaku," kata Kimberly sambil membantu Rafael melakukan downward dog pose.
"Rileks. Biarkan tubuh lo mengalir."
"Gue nggak bisa rileks saat posisi seperti ini," jawab Rafael dengan nafas terengah.
Kimberly tertawa—tawa yang tulus, yang membuat ruangan terasa lebih hangat.
***
BERSAMBUNG...
cerita tak monoton seperti novel bertemakan mafia atau CEO sama Y/N gituhhhh 😜, dan terima kasih buat Mimin yg bikin novel ini, guehh suka nya kebangetan Ama ni novel ,Semangat terus bang.