NovelToon NovelToon
In Your Smile, I Find Warmth

In Your Smile, I Find Warmth

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Anak Genius / CEO Amnesia / Tamat
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.

Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.

Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 Arka Menyebut "Ayah"

Rabu sore, tiga hari setelah Reyhan mulai rutin mengantar dan menjemput Arka, sesuatu yang tak terduga terjadi.

Alya sedang menyiapkan makan malam di dapur ketika mendengar suara mobil Reyhan masuk garasi lebih awal dari biasanya. Baru pukul empat sore, padahal biasanya Rey baru pulang setelah jam lima. Pintu depan terbuka dengan agak keras, tidak seperti biasanya yang tenang dan terkendali.

“Alya!” panggil Reyhan dengan nada panik yang langsung membuat Alya was-was.

Ia buru-buru keluar dari dapur, jantungnya berdegup kencang. “Ada apa?”

Reyhan masuk dengan Arka digendong di tangannya. Hal yang jarang sekali terjadi, karena Arka sudah jarang mau digendong sejak usia empat tahun. Wajah anak itu pucat, matanya sembab seperti habis menangis lama, dan ada plester kecil di lutut kanannya.

“Arka kenapa?!” Alya langsung menghampiri dengan panik.

“Dia jatuh di sekolah. Lututnya lecet, tapi yang bikin aku khawatir… dia nangis terus dari tadi. Arka kan jarang nangis,” jelas Reyhan sambil menurunkan Arka perlahan ke sofa.

Alya berlutut di depan anaknya, memeriksa luka di lututnya. Lecet biasa, tidak terlalu parah, sudah dibersihkan dan diplester oleh pihak sekolah.

“Sayang, ini nggak apa-apa. Cuma lecet kecil kok,” hibur Alya sambil mengusap rambut Arka dengan lembut.

Tapi Arka menggeleng, air matanya masih mengalir pelan. “Bukan… bukan itu, Ma.”

Alya menatapnya bingung. “Terus kenapa?”

Arka menunduk, tangannya meremas ujung bajunya tanda ia sedang sangat tidak nyaman. Reyhan duduk di sampingnya, tangannya mengusap punggung anak itu dengan lembut.

“Arka, cerita sama Papa. Papa nggak akan marah. Janji,” kata Reyhan pelan.

Arka diam lama. Sangat lama. Lalu dengan suara kecil yang bergetar, ia berkata, “Tadi… temen-temen aku bilang… aku anak nggak punya bapak.”

Hati Alya langsung remuk mendengar kata-kata itu.

Reyhan membeku, tangannya berhenti mengusap punggung Arka.

“Mereka bilang,” lanjut Arka dengan isak yang mulai pecah, “Papa aku… Papa aku itu bukan Papa beneran. Soalnya… aku nggak mirip sama Papa. Terus mereka bilang… aku anak yang… yang nggak ada bapaknya.”

Air mata Arka mengalir deras tangisan yang jarang sekali keluar dari anak yang biasanya sangat logis dan terkontrol.

Alya merasakan dadanya sesak. Ia memeluk Arka erat, tangannya gemetar. “Sayang…”

“Tapi itu nggak bener kan, Ma?” Arka menatap ibunya dengan mata merah penuh harap. “Papa itu… Papa beneran kan? Papa sayang sama aku kan? Papa nggak akan pergi kan?”

Alya tak sanggup menjawab. Tenggorokannya tersumbat oleh tangisan yang ia tahan.

Reyhan terdiam lama, menatap Arka dengan tatapan yang penuh emosi. Lalu perlahan ia menarik Arka dari pelukan Alya dan memeluk anak itu erat sangat erat, seperti takut Arka akan hilang.

“Dengar baik-baik, Arka,” bisik Reyhan dengan suara bergetar tapi tegas. “Papa adalah Papa kamu yang beneran. Papa sayang kamu. Sangat sayang. Dan Papa nggak akan ke mana-mana. Papa janji.”

Arka menangis di pelukan Reyhan tangisan keras yang penuh luka dan ketakutan yang selama ini ia pendam.

“Tapi… tapi aku nggak mirip sama Papa,” isaknya. “Temen-temen bilang aku nggak mirip…”

“Kamu mirip,” potong Reyhan tegas. “Kamu sangat mirip sama Papa. Kamu pinter kayak Papa. Kamu suka sains kayak Papa. Kamu suka mikir logis kayak Papa. Dan yang paling penting…” Reyhan melepaskan pelukan sedikit, menatap mata Arka dengan serius, “kamu adalah anak Papa. Darah daging Papa. Papa yang bikin kamu ada di dunia ini.”

Arka berhenti menangis sejenak, matanya membulat. “B-beneran?”

Reyhan mengangguk. Ia melirik Alya, meminta persetujuan lewat tatapan.

Alya terdiam sebentar, lalu mengangguk pelan air matanya mengalir deras.

Reyhan menarik napas dalam, lalu berkata dengan jelas, “Arka… Papa adalah ayah kandung kamu. Bukan ayah tiri. Bukan ayah angkat. Papa sama Mama… dulu pernah bersama sebelum kamu lahir. Terus Papa… pergi. Dan itu salah Papa. Papa ninggalin Mama dan kamu. Tapi sekarang Papa balik. Dan Papa nggak akan pergi lagi. Papa janji.”

Hening sejenak.

Arka menatap Reyhan dengan tatapan campur terkejut, bingung, dan… lega. “Jadi… Papa… ayah kandung aku?” tanyanya pelan, seperti takut jawabannya akan berubah.

“Iya, Nak. Papa adalah ayah kandung kamu.”

“Berarti… aku bukan anak nggak punya bapak?”

“Bukan. Kamu anak yang punya ayah. Punya Papa yang sayang sama kamu.”

Arka terdiam lama. Lalu tiba-tiba ia memeluk Reyhan erat sekali, tangisannya pecah lagi. “Aku… aku sayang Papa! Aku sayang Ayah!” serunya di tengah isak. “Jangan pergi lagi! Kumohon jangan pergi lagi!”

Reyhan merasakan dadanya remuk mendengar panggilan “Ayah” bukan lagi Papa, tapi Ayah. Kata yang lebih dalam, lebih nyata.

Ia memeluk Arka lebih erat, wajahnya terbenam di rambut anak itu, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. “Ayah nggak akan pergi lagi, Nak. Ayah janji. Ayah akan selalu ada buat kamu. Selalu.”

Alya duduk di lantai, menangis dalam diam menangis untuk semua luka yang akhirnya mulai sembuh, untuk semua ketakutan yang sirna, dan untuk kebahagiaan yang akhirnya datang.

Mereka bertiga saling memeluk di sofa, pelukan penuh air mata, tapi juga penuh cinta. Cinta yang terlambat, tapi akhirnya tiba.

Satu jam kemudian

Arka akhirnya tertidur di sofa, lelah setelah menangis dan meluapkan semua emosinya. Wajahnya kini damai, tangannya masih menggenggam tangan Reyhan bahkan dalam tidur.

Reyhan duduk di sampingnya, tak berani bergerak takut membangunkan anaknya. Alya duduk di sisi lain, menatap Arka dengan senyum lega.

“Terima kasih,” bisik Alya pelan. “Terima kasih udah bilang kebenaran ke dia.”

Reyhan menatap Alya dengan tatapan serius. “Aku harusnya bilang dari awal. Aku cuma… takut dia nggak siap.”

“Dia siap. Bahkan lebih siap dari yang kita kira.” Alya mengusap rambut Arka lembut. “Selama ini dia… menderita karena nggak punya ayah. Aku lihat dia sering sedih waktu lihat teman-temannya dijemput ayahnya. Tapi dia nggak pernah ngeluh. Cuma diam dan terima.”

Reyhan merasakan dadanya sesak lagi. “Aku… menyesal. Sangat menyesal.”

“Aku tahu.” Alya menatapnya lembut. “Tapi Rey… penyesalan nggak akan ubah masa lalu. Yang bisa kamu lakukan sekarang adalah… jadi ayah yang baik mulai hari ini.”

Reyhan mengangguk. “Aku akan jadi ayah terbaik buat dia. Aku janji.”

“Aku percaya.”

Mereka duduk dalam keheningan nyaman, menatap Arka yang tidur damai di antara mereka.

Lalu Reyhan bertanya pelan, “Alya… kamu pernah menyesal… menikah sama aku?”

Alya terdiam lama. Lalu ia menjawab jujur, “Awalnya… iya. Aku pikir ini cuma perpanjangan kesalahan masa lalu. Tapi sekarang…” Ia menatap Reyhan dengan senyum lembut, “sekarang aku bersyukur. Karena Arka akhirnya punya ayah. Dan aku… punya suami yang berusaha.”

Reyhan merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. “Kamu… nganggap aku suami?”

“Kamu… mau aku anggap kamu apa?”

Reyhan menatap Alya lama, lalu berkata dengan nada serius, “Aku mau kamu anggap aku… suami yang beneran. Bukan suami kontrak. Bukan suami pura-pura. Tapi suami yang… sayang sama kamu.”

Jantung Alya seperti berhenti sejenak.

“Rey…”

“Aku tahu ini terlalu cepat,” potong Reyhan cepat. “Aku tahu kita baru beberapa minggu jadi keluarga beneran. Tapi… Alya, aku nggak bisa bohong lagi. Aku… mulai punya perasaan buat kamu. Perasaan yang lebih dari sekadar tanggung jawab.”

Alya merasakan air matanya menggenang lagi. “Rey… kamu serius?”

“Sangat serius.” Reyhan mengulurkan tangannya yang bebas, memegang tangan Alya dengan lembut. “Aku nggak minta kamu balas perasaan aku sekarang. Aku cuma… pengen kamu tahu. Pengen kamu nggak ragu lagi kalau aku… peduli sama kamu.”

Alya menatap tangan mereka yang bertaut hangat, erat, penuh janji.

Lalu ia berbisik, “Aku… juga punya perasaan buat kamu, Rey. Aku cuma… takut. Takut kamu pergi lagi.”

“Aku nggak akan pergi lagi,” bisik Reyhan tegas. “Aku janji, Alya. Aku nggak akan ninggalin kamu dan Arka lagi. Kalian adalah keluarga aku. Dan aku akan jaga kalian sampai akhir hayat aku.”

Air mata Alya jatuh, tapi kali ini air mata bahagia.

Ia mengangguk pelan. “Oke. Aku… percaya sama kamu.”

Reyhan tersenyum lebar, senyum yang membuat wajahnya terlihat jauh lebih muda.

Mereka duduk seperti itu Arka tertidur di antara mereka, tangan Reyhan dan Alya bertaut di atas tubuh anak mereka sebagai keluarga yang utuh.

Malam hari

Setelah memindahkan Arka ke kamarnya dengan hati-hati, Reyhan dan Alya turun kembali ke ruang keluarga.

Alya membuat dua cangkir teh hangat, lalu duduk di sofa bersama Reyhan. Kali ini jarak mereka tak ada lagi. Bahu mereka bersentuhan, kehangatan tubuh masing-masing terasa nyata.

“Hari ini… hari yang berat,” gumam Alya sambil menyeruput tehnya.

“Tapi hari yang penting,” balas Reyhan. “Arka akhirnya tahu kebenaran. Dan dia… nerima aku.”

“Dia lebih dari sekadar nerima. Dia… mencintaimu.” Alya tersenyum. “Kamu dengar kan? Dia manggil kamu Ayah.”

Reyhan mengangguk, senyum tipis di bibirnya. “Aku nggak akan lupa momen itu seumur hidup.”

Mereka terdiam sejenak, menikmati keheningan yang nyaman.

Lalu Reyhan bertanya, “Alya… boleh aku tanya sesuatu?”

“Tanya apa?”

“Waktu kamu hamil Arka… waktu kamu melahirkan sendirian… apa yang kamu rasain?”

Alya terdiam lama. Lalu ia menarik napas dalam, memutuskan untuk jujur. “Aku… takut. Sangat takut. Aku nggak tahu harus gimana. Aku nggak punya uang cukup. Aku nggak punya keluarga yang bisa dimintai tolong. Aku cuma… bertahan. Setiap hari aku bangun dan bilang ke diri sendiri: aku harus kuat buat anak ini.”

Reyhan merasakan dadanya sesak. “Aku… minta maaf.”

“Kamu udah minta maaf berkali-kali, Rey.”

“Tapi aku merasa nggak akan pernah cukup. Berapa kali pun aku minta maaf, itu nggak akan ganti rasa sakit yang kamu alamin.”

Alya menatapnya lembut. “Kamu benar. Permintaan maaf nggak akan ganti masa lalu. Tapi… kehadiran kamu sekarang, usaha kamu sekarang… itu lebih berharga dari seribu permintaan maaf.”

Reyhan menatap Alya dengan tatapan penuh emosi. Lalu perlahan ia mengangkat tangan dan mengusap pipi Alya dengan lembut—gerakan yang sangat intim, sangat personal.

“Alya… boleh aku… peluk kamu?”

Alya terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.

Reyhan menariknya ke dalam pelukan pelukan pertama mereka sebagai suami-istri yang saling peduli, bukan sekadar kontrak.

Alya membenamkan wajahnya di dada Reyhan, mendengar detak jantung pria itu yang stabil dan menenangkan.

“Terima kasih,” bisik Reyhan di rambutnya. “Terima kasih udah bertahan. Terima kasih udah jaga Arka. Terima kasih udah… kasih aku kesempatan kedua.”

Alya tak menjawab. Ia hanya mengeratkan pelukannya, membiarkan kehangatan Reyhan menyelimutinya.

Dan malam itu, di ruang keluarga yang tenang dengan cahaya lampu redup, dua orang yang pernah terpisah oleh kesalahan masa lalu akhirnya menemukan jalan kembali satu sama lain.

Bukan dengan kata-kata besar atau janji muluk.

Tapi dengan pelukan sederhana yang penuh cinta.

1
tia
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!