NovelToon NovelToon
Bahu Yang Memikul Langit Prau

Bahu Yang Memikul Langit Prau

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Mengubah Takdir / Keluarga
Popularitas:880
Nilai: 5
Nama Author: Nonaniiss

Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hadiah di Balik Sindiran Tajam

Sore itu, suasana rumah terasa sedikit lebih cerah. Beberapa waktu telah berlalu sejak suara Ibu menyapa lewat ponsel Nokia milik tetangga. Sejak Ibu pergi, aku memang sengaja menahan diri untuk tidak merengek minta pergi ke rumah Nenek. Aku tahu betul, setiap langkah Ayah menuju ke sana adalah beban tambahan bagi kakinya yang sudah menempuh kiloan meter naik-turun lereng Gunung Prau demi mencari kayu. Aku tak ingin menjadi beban yang lebih berat dari seikat kayu bakar.

Namun, sore itu Ayah menghampiriku dengan binar mata yang berbeda. "Ayo, ikut Ayah. Kakak juga ikut, kita ke rumah Nenek sekarang," ajaknya penuh semangat.

Aku yang saat itu sedang duduk diam hanya menurut, mengekor di belakang langkah Ayah yang tampak lebih ringan. Sesampainya di sana, Nenek menyambut kami di ambang pintu dengan senyum lebar, sementara Kakek langsung menyambar tubuhku dan menggendongku tinggi-tinggi.

"Lihat itu, ada apa di atas kursi," tunjuk Nenek.

Mataku seketika membelalak. Di atas kursi kayu panjang, tepat di depan televisi yang biasanya kami tonton, duduk sebuah boneka berwarna putih bersih dengan sedikit warna pink yang masih terbungkus plastik bening. Di sampingnya, sebuah kardus besar berdiri gagah, memamerkan isinya yang penuh sesak.

"Ini boneka dari Ibumu. Paketnya baru datang tadi siang. Lucu, kan? Suka tidak? Itu camilannya juga banyak sekali di dalam kardus," ujar Nenek riang.

Kakek menurunkanku, dan aku langsung menghambur memeluk boneka itu. Rasanya empuk dan harum toko, sangat kontras dengan Pipit yang sudah mulai kusam. Kakak pun mendekat, kami mulai memilah-milah camilan bermerek yang jarang sekali kami cicipi. Untuk sejenak, aku merasa sangat bahagia. Aku merasa Ibu benar-benar ada di dekat kami melalui benda-benda ini.

Namun, kebahagiaan itu hanya berumur pendek. Di tengah obrolan ringan antara Ayah, Kakek, dan Nenek, sebuah kalimat meluncur begitu saja dari mulut Kakek dengan nada yang sangat tenang, seolah-olah itu hanyalah gurauan biasa.

"Ya... sebenarnya harusnya suami yang kerja kan? Masa suami di rumah saja dan membiarkan istrinya yang kerja jauh," ucap Kakek sambil menyeruput kopinya.

Nenek menyahut sambil tertawa kecil, nada yang menurutnya bercanda tapi terasa seperti sembilu bagiku. "Hahaha, iya. Malah enak ya mantu, di rumah saja mengurusi anak sambil terima kiriman uang."

Jreg.

Rasanya seperti ada benda tajam yang menghunjam tepat di ulu hatiku. Aku berhenti mengobrak-abrik kardus camilan. Tanganku yang memegang boneka kelinci putih itu mendadak lemas. Aku melirik ke arah Ayah. Ia duduk di kursi kayu yang lebih rendah, menatap lantai dengan posisi punggung yang sedikit membungkuk.

"Aku sudah mencegah dia berkali-kali supaya tidak pergi, tapi dia keras kepala. Jadi, ya sudah, mau bagaimana lagi," sahut Ayah lirih, mencoba membela diri namun suaranya terdengar sangat rapuh di hadapan mertuanya.

Melihat senyum pahit di wajah Ayah, dadaku terasa sesak. Aku tahu Ayah sedang berusaha menipuku dengan wajah tenang itu, seolah kata-kata mereka tidak menyakitinya. Tapi aku tahu kebenarannya. Aku tahu tentang luka lecet di bahunya karena kayu bakar. Aku tahu tentang nyanyian "Tak Gendong" di subuh yang dingin. Aku tahu Ayah bekerja sekuat tenaga, meski hasilnya memang tak seberapa dibanding gaji Ibu di kota.

"Ayah, ayo pulang," rengekku tiba-tiba, menarik-narik ujung baju Ayah. "Aku mau kenalkan boneka baru ini sama Pipit. Ayo pulang sekarang."

Ayah menatapku, seolah tahu bahwa aku ingin menyelamatkannya dari percakapan beracun itu. Kami pun berpamitan. Di sepanjang jalan pulang, aku tidak lagi bersemangat membicarakan camilan atau boneka baruku. Aku berjalan diam di samping Ayah, memeluk boneka pink itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam erat jemari Ayah yang kasar.

Dalam hati, aku membuat janji yang sangat besar. Aku tidak ingin lagi sering-sering ke rumah Nenek jika itu artinya Ayah harus dihina. Aku mungkin masih kecil, aku mungkin belum bisa mengangkat alu lesung yang berat itu, tapi aku punya tekad yang membara.

Tunggu saja, bisikku dalam hati sambil menatap punggung Ayah yang berjalan di depanku. Suatu hari nanti, aku akan membuktikan pada mereka semua bahwa Ayah bukan orang yang gagal. Aku akan membalas semua perkataan pahit itu dengan keberhasilanku, agar tak ada lagi yang berani merendahkan bahu Ayah yang hebat ini.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Zanahhan226: terima kasih, Kak..
🥰🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!