Hanie, seorang gadis blasteran Indo-Melayu, yang menjadi koban ego para siswa di masa sekolahnya. Baginya, Devian Azka adalah sebuah mimpi ngeri.Orang yang memiliki mata cokelat indah, tetapi kepribadiannya menyebalkan, dan seorang pengecut yang rela menindas demi memuaskan egonya, telah menyakiti Hanie
Namun, itu hanya kisah silam dan takdir tidak pernah salah.
Tiga tahun kemudian, di tempat kuliah yang sama mereka bertemu lagi.Dengan sifat Hanie yang mulai dingin dan Devian Azka yang memohon maaf atas dosa-dosanya dulu.Devian Azka yang berdiri di depan Nur sekarang itu bukanlah lagi anak berandalan yang brengsek seperti dulu.Dia kini adalah pria dewasa yang bisa membesarkan salah dan benar. Baginya hanya Hanie jiwa nya.
Apakah bisa Hanie memaafkannya atau kebencian dan kekecewaan lebih besar di hatinya?
Nantikan kisah lanjutnya di "Our Hurt Story"
Selamat membaca dan mohon dimaafkan atas segala kekurangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zaniera99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25 : Mencari ku lagi
Kesunyian di kamar asrama yang dingin terasa seolah-olah menghimpit dadaku. Begitu pintu tertutup rapat dan terkunci, aku langsung menghempaskan tubuh ke atas tempat tidur, membiarkan kasur tipis itu menyerap sisa-sisa tenaga yang masih tersisa.Kuambil bantal di sebelahku lalu kutekankan kuat-kuat ke wajah, mencoba menghapus bayangan sepasang mata hazel yang menatapku di aula kuliah tadi.
"Kenapa kamu harus muncul lagi, Azka? Kenapa sekarang?" suaraku pecah, tenggelam di balik bantal yang mulai lembap dibasahi air mataku.
Dunia ini terlalu luas bagi dia untuk memilih universitas yang sama, fakultas yang sama, bahkan jurusan yang sama denganku. Apakah ini sebuah kebetulan yang kejam, ataukah takdir sedang sengaja mempermainkan luka lama yang baru saja ingin kulupakan? Memori masa SMA yang menakutkan saat kami masih di kelas satu menyeruak masuk di ingatanku tanpa diundang.
Dan setiap kali ku mengingatnya rasa sesak selalu menghimpit ku.
Aku teringat betapa hinanya rasa diejek di depan kelas. Aku ingat bagaimana dia merampas kotak pensil kesayanganku, melemparkannya hingga pecah, dan membiarkan isinya berserakan di lantai sementara aku hanya bisa menangis tersedu-sedu di bawah meja. Bagi Azka, itu mungkin sekadar candaan yang mengundang tawanya dan itu normal bagi remaja seperti dia. Berbalik denganku itu perlakuan bodoh untuk menghancurkan orang yang sudah rapuh.Dan menjadi trauma yang menghilangkan rasa percaya diriku dan membuatku selalu merasa kecil di hadapan semua orang.
Keesokan paginya, aku terbangun dengan perasaan berat. Alarm ponsel berbunyi tepat pukul 06.30 pagi, namun aku sengaja memasukkan diriku di dalam selimut. Rasa kantuk ini membuat ku malas sekali rasanya.Terlebih lagi saat aku tahu Devian Azka juga akan ada di sana.Otakku mulai membayangkan kemungkinan terburuk.Bagaiman jika bertemu dengannya di kafetaria atau berpapasan di jalur pejalan kaki. Pikiran itu saja sudah cukup untuk membuat semangatku untuk kuliah mati seketika.Aku muak bertemu dengan lelaki itu.
___
Aku melangkah masuk ke ruang kuliah lima menit setelah profesor mulai berbicara. Dengan kepala tertunduk dan langkah kaki yang diusahakan seringan mungkin, aku menyelinap masuk ke barisan paling pinggir, jauh di sudut gelap yang jarang diperhatikan orang. Aku hanya ingin menjadi bayangan hari ini.
Namun, naluriku berkata lain. Ada sepasang mata yang sedang mengamatiku sejak aku melewati pintu. Aku memberanikan diri melirik ke arah tengah ruangan. Di sana, di bawah siraman cahaya lampu neon yang terang, Azka duduk dengan gaya tenang yang menjengkelkan.
Saat mata kami bertemu, dia tidak mengalihkan pandangan. Ada sesuatu yang berbeda pada binar matanya bahkan sejak pertama kali ku bertemunya di fakulti ini.Tatapan itu,tatapan yang bukan seperti dulu yang melihat ku jijik ,nakal yang penuh hinaan seperti dulu, melainkan sesuatu yang lebih dalam, lebih redup, dan tampak... sayu? Aku cepat-cepat membuang muka ke arah papan tulis, berpura-pura sangat sibuk mencari alat tulis di dalam tas.
Kepanikan mulai menyerang saat jari-jariku hanya menyentuh ruang kosong di dasar tas. Aku menggeledah setiap sudut, mencari kotak pensil yang biasanya selalu ada di sana. Kosong. Sial. Aku teringat sekarang!karena terlalu terburu-buru kerana telah akibat melayan kantukku.Aku tanpa sengaja meninggalkan kotak pensilku di atas meja belajar di kamar. Bahkan, satu-satunya pulpen hitam yang kuselipkan di sela buku ternyata sudah kehabisan tinta.
"Bodoh sekali kamu, Hanie,ini nih akibat mengiyakan rasa ngantuk.Tinggal kan semuanya!" rutukku dalam hati sambil menekan kening ke meja.
Aku hanya bisa duduk kaku selama dua jam ke depan. Di sebelah kiriku ada seorang mahasiswa laki-laki yang sangat tekun mencatat, sementara di sebelah kananku kosong. Aku terlalu malu dan gengsi untuk meminjam pada orang asing, apalagi di hari-hari awal kuliah seperti ini. Alhasil, aku hanya menjadi pendengar setia yang buntu. Aku mencoba menghafal setiap istilah yang disebut dosen tentang teori ekonomi, namun pikiranku sering melayang, meratapi betapa malangnya nasibku hari ini.
Segera setelah dosen menutup sesi kuliah, aku tidak menunggu sedetik pun. Aku menyambar tas dan langsung memacu langkah keluar tanpa mempedulikan sekeliling. Aku tidak menoleh ke belakang, takut jika sosok tinggi dengan mata hazel itu sedang membuntutiku. Destinasiku adalah perpustakaan pusat—satu-satunya tempat di mana aku bisa mendapatkan ketenangan dan mencoba menulis kembali poin-poin yang masih tersisa di ingatanku sebelum semuanya menguap.
Dua jam berlalu dalam kesunyian perpustakaan yang dingin. Aku baru saja hendak mengemas buku-bukuku ketika menyadari sesuatu yang asing. Di atas tas ranselku, terletak sebuah map plastik transparan yang terlihat baru dan rapi. Aku tertegun. Aku yakin seratus persen map itu tidak ada di sana saat aku duduk tadi.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku membuka kancing map tersebut. Jantungku serasa berhenti berdetak sesaat. Di dalamnya terdapat sebuah pulpen hitam bermerek mahal yang masih tersegel, satu set alat tulis lengkap dalam kotak besi, dan yang paling menggetarkan jiwa... beberapa lembar kertas yang dipenuhi catatan kuliah dari sesi pagi tadi.
Tulisan itu... aku mengenalnya dengan sangat baik. Meskipun sudah bertahun-tahun berlalu, gaya tulisan yang tegak, sangat rapi, dan teratur itu sulit untuk dilupakan. Di pojok halaman pertama, selembar catatan kuning tertempel tepat di atas meja ku.
"Aku melihatmu tidak menulis tadi. Aku tebak barang-barangmu tertinggal di asrama. Pakailah pulpen ini, catatan ini pun sengaja kubuatkan untukmu. Aku tidak ada niat lain, aku hanya tidak ingin kamu ketinggalan pelajaran hanya karena hal sepele. -D.A"
D.A. Devian Azka.
Aku segera berdiri dan memandang ke seluruh penjuru perpustakaan. Jantungku berdegup kencang seolah-olah baru saja berlari maraton sejauh sepuluh kilometer. Apakah dia ada di sini? Bersembunyi di balik rak buku sejarah atau mengintip dari sudut meja komputer? Namun, perpustakaan itu sepi, hanya ada beberapa mahasiswa yang tertidur di atas buku mereka.
Dia sudah pergi. Dia tahu benar tabiatku.Setiap kali dia menyerahkan apapun langsung padaku, aku pasti akan melemparkannya ke lantai atau bahkan ke tempat sampah tanpa berpikir dua kali. Dia memilih cara aman dengan memberiku diam-diam.
"Kamu pikir aku akan luluh dengan cara murahan seperti ini, Azka?" aku merutuk sendirian dengan suara berbisik, mencoba membangun kembali tembok pertahanan yang mulai goyah. "Kamu pikir hanya dengan ini bisa meluluhkan ku?Tentu kamu salah besar!"umpatku dalam hati.
Namun, saat aku meneliti catatan tersebut, egoku mulai retak sedikit demi sedikit. Dia mencatat setiap poin penting yang disampaikan dosen, bahkan menyertakan diagram-diagram yang digambar dengan bantuan penggaris. Ada catatan kaki tambahan yang menjelaskan istilah-istilah sulit yang sebenarnya aku sendiri tidak paham saat di kelas tadi. Dia tahu benar bahwa aku selalu kesulitan dalam subjek yang melibatkan angka dan kurva.
Aku menggigit bibir bawahku dengan keras. Rasa benci itu masih ada, masih membara di lubuk hati terdalam, namun rasa berutang budi mulai menyelinap masuk tanpa izin. Akhirnya, dengan perasaan yang sangat terpaksa, aku menyimpan ringkasan materi itu ke dalam tas.
"Ini hanya untuk belajar, Hanie. Hanya untuk belajar. Bukan karena kamu memaafkannya," bisikku pada diriku sendiri, sebuah kebohongan kecil untuk menenangkan hati yang berkecamuk.
Malam itu, di dalam kesunyian kamar asrama, aku duduk terpaku di depan cermin meja rias. Aku memperhatikan pantulan wajahku sendiri—gadis yang pernah dia rundung habis-habisan hingga kehilangan binar di wajahnya. Aku menyentuh lesung pipit di pipi kananku. Aku teringat, dulu dia pernah berkata dengan nada menghina bahwa lesung pipit ini terlihat "jelek" saat aku menangis. Kata-kata itu adalah parut yang tidak pernah benar-benar sembuh.
"Kamu ingin menebus dosamu dengan sebatang pulpen dan beberapa lembar kertas, Azka? Murah sekali maaf yang kamu cari," bisikku pada bayangan diriku sendiri di cermin. Suaraku terdengar dingin, namun mataku mulai berkaca-kaca.
Pada saat yang bersamaan,tanpa pengetahuan Hanie ,sebuah motor hitam sedang terparkir diam di bawah lampu jalan yang temaram, tidak jauh dari gerbang blok kediamanku. Azka duduk di atas motornya, helm diletakkan di atas tangki bensin. Matanya tidak beralih sedikit pun dari menatap satu jendela di lantai tiga yang masih memancarkan cahaya lampu putih.Kamar Hanie.
Dia sadar sepenuhnya bahwa kehadirannya saat ini adalah pengganggu bagi ketenangan Hanie. Dia hanya ingin memastikan satu hal.Hanie aman. Dan lampu itu tetap menyala sampai benar-benar siap untuk beristirahat.
Azka menghela napas panjang, kepulan uap dingin keluar dari mulutnya di tengah udara malam yang dingin menusuk kulit. Dia tahu perjalanannya masih sangat jauh. Luka yang dia goreskan selama tiga tahun di masa SMA tidak mungkin sembuh hanya dengan permintaan maaf yang dibungkus dalam bentuk alat tulis dalam waktu semalam.
Bagi Azka, memenangkan kembali kepercayaan dan hati Nur Hanie adalah sebuah perjuangan yang bererti. Dia sudah bersumpah pada dirinya sendiri untuk terus menagih kemaafan daripada Hanie, memberikan dukungan dari bayang-bayang untuk memastikan dia sentiasa aman.Biarpun Hanie terus-menerus memintanya untuk pergi atau bahkan memaksanya untuk berhenti.
Dia akan menunggu, selama mana pun itu yang harus dia tempuh untuk mendapatkan kemaafan dan mengembalikan kembali senyuman tulus dari gadis di balik jendela itu.